LEGENDA RAJAWALI API

LEGENDA RAJAWALI API
154. Benang merah sang kakak


__ADS_3

Tubuh Shun land bagaikan di keliling serang Ki Rangga Wisesa. Tapi lagi-lagi Shun land dapat lolos dengan mudah.


Ki Rangga Wisesa berdiri sambil mengatur napas yang tidak teratur mengeluarkan jurus Bayang air tingkat enam banyak menguras tenaga dalam.


"Sungguh tidak di sangka setelah setua ini baru bisa menyaksikan jurus melegenda tapak harimau kumbang dan ilmu saipi angin yang sangat jarang orang menguasainya, apa hubungan mu dengan si tua Bangka Srengga di ujung kulon". Ki Rangga Wisesa bertanya dengan penasaran.


"Dia guru ku terima kasih sepuh telah memberikan petunjuk ilmu pada saya" Shun land berkata dengan jujur dia berpendapat orang-orang yang mengenal gurunya adalah orang itu bukan orang sembarangan.


"Mari duduk kita bicara di panggung sambil ngeteh". Ki Rangga Wisesa mengajak Shun land bicara sambil duduk santai.


Yang melihat pertarungan itu semua menyangka hasilnya imbang, berbeda dengan Ki Rangga Wisesa yang mengalami dia merasa bukan tandingan Shun land walau dia berlatih sepuluh tahun lagi belum tentu bisa mengalahkan pendekar muda murid Ki Srengga.


"Ki Srengga adalah sahabat ku waktu muda ketika itu usia ku seperti nak mas ini, dan usia Ki Srengga sudah sekitar 50an, aku tidak menyangka Ki Srengga masih hidup dan mempunyai murid yang luar biasa nak mas sudah sempurna menguasai jurus saipi angin hingga bisa menebak pola serangan-serangan ku dengan mudah, boleh saya tahu nama nak mas ini".


Ki Rangga Wisesa menceritakan hubungannya dengan Ki Srengga dan mengakhiri dengan pertanyaan.


"Namaku Satria Nusa kencana asal saya dari daratan luas Kalimantan tujuan saya ingin menimba pengalaman bertarung di daratan luas Dwipa ini, dan ingin mengikuti kompetisi pendekar muda persilatan di perguruan Gelap ngampar dan dia adalah Ayu Sondari dari perguruan Singa perbangsa Pedukuhan Caravan(karawang), kami bertemu di tengah perjalan". Shun land menjawab panjang lebar.


Ayu Sondari bertanya, "sepuh ada apa sebenarnya dengan perkampungan ini hingga tidak ada para penduduk yang berani keluar".


"Akhir-akhir ini banyak pendekar yang hilir mudik di jalan ini yang tujuannya Pelabuhan Cilamaya banyak dari mereka yang mampir dan membuat onar, yang kedua sejak aku menolak bergabung dengan perguruan gelap ngampar para warga sering di teror dengan kehilangan anak muda dan para gadis".


Ki Rangga Wisesa menerangkan keadaan pedukuhan Cikampek.


"Perguruan paman di mana" Shun Land bertanya.


"Perguruan ku sedikit kedalam hutan dari sini kira-kira 40 langkah, Nak Satria ada yang ingin aku tanyakan pada nak mas tapi sebaiknya kita bicara kediaman ku". Ki Rangga Wisesa meminta Shun land untuk singgah di perguruan Cimaya miliknya.


"Baik sepuh, Ayu mau ikut apa tetap di sini".

__ADS_1


"Ikut" Ayu Sondari langsung berdiri.


Mereka bertiga pergi dengan menunggang kuda, Shun land dan Ayu Sondari satu kuda sedangkan kuda Shun land di tunggangi Ki Rangga Wisesa.


Dua murid Ki Rangga Wisesa Purawa dan Kurnia mengikuti dari belakang, sebelum pergi Shun land memberikan beberapa keping uang emas kepada ibu Icih pak Odang.


Tidak berapa lama mereka mendapati tiga rumah berjejer satu yang di tengah lebih besar dan ada pendopo cukup besar.


Rumah tersebut di keliling hutan lebat dan di sebelah selatan barat ada perbukitan.


"Nayi buatkan air hangat dan rebusan singkong ada tamu istimewa datang" Ki Rangga Wisesa menyuruh istrinya.


Nyai Geuntis melihat Shun Land di bawah lampu cempor cukup terang untuk melihat wajah seseorang, melongo tak berkedip lalu memeluk tanpa banyak bicara.


"Kamu ini tidak bilang yang datang Anak kita, gimana nak kamu tambah dewasa saja ibu kangen sekali". Nyai Geuntis tidak memperdulikan Shun land yang planga-plongo kaget dia sangka anak oleh Nyai Geuntis.


"Sudah Nyai beri dia untuk bernafas". Ki Rangga Wisesa menasehati Nyai Geuntis istrinya.


Setelah duduk Ki Rangga Wisesa bicara.


"Dulu empat tahun silam anak kami pamit untuk pergi ke pelabuhan Ratu di pesisir selatan sampai sekarang belum kembali".


"Sepuh mengapa Nyai menganggap saya putra kalian". Shun land menimpali.


"Wajah kalian sangat mirip sekali hingga tadi saya ingin menjajal ilmu nak mas, ingin memastikan nak mas ini anak kami atau bukan, tapi setelah bertarung saya malah mengenali jurus nak mas Satria". Ki Rangga Wisesa menerangkan agar Shun land mengerti kenapa dirinya di sangka anaknya.


Ingatan Shun land seperti di ungkit pada kesedihan puluhan silam, akan kehilangan kakak tercintanya pangeran Shan land yang sangat mirip dirinya.


Dengan penasaran Shun land memberanikan bertanya tentang anak Ki Rangga Wisesa.

__ADS_1


"Sepuh kalau boleh tahu siapakah nama anak laki-laki yang mirip dengan saya".


"Nama anak saya Jaya lelana usianya paling lebih tua 2 atau 3 tahun dari nak mas Satria". Ki Rangga Wisesa menjawab tapi seperti ada yang di sembunyikan di lihat dari mimik wajahnya.


"Apa dia anak kandung sepuh". Shun land penasaran.


Sebelum menjawab pertanyaan Ki Rangga Wisesa menarik nafas dalam-dalam seakan ingin membuang rasa sedihnya.


"Sebenarnya Jaya lelana bukan anak kandung ku kami mengasuhnya sekitar tiga belas tahun yang lalu, pada saat itu......


Sore itu Ki Rangga Wisesa sedang melatih ke lima muridnya tiba-tiba langit menghitam di sertai badai topan dari arah Utara, untung saja pusat angin tidak menghantam langsung perguruan Cimaya dan Pedukuhan Cikampek tetapi lebih ke barat kedalam hutan.


Esoknya Ki Rangga Wisesa dan lima muridnya pergi ke hutan ingin melihat kerusakan hutan. Setelah cukup masuk lebih ke dalam hutan banyak pohon yang tumbang.


Ketika Ki Rangga Wisesa dan kelima muridnya melewati sebuah pohon yang tumbang, dari atas pohon besar yang masih berdiri terdengar suara rintihan anak laki-laki dari atas.


Ki Rangga Wisesa langsung meloncat ke dahan asal suara itu, terlihat anak laki-laki menyangkut di antara dua cabang pohon tubuhnya penuh luka-luka goresan.


Langsung saja anak itu di bawa ke rumah, Nyai Geuntis yang mendambakan anak sangat gembira merawatnya penuh kasih sayang.


Setelah tiga hari anak itu mulai membaik dan ketika di tanya dia bisa menjawab selama sebulan anak itu bagai tidak mempunyai ingatan akhirnya Ki Rangga Wisesa memberi nama Jaka lelana.


Setelah enam bulan anak itu mulai normal bisa bicara dan bermain dengan anak sebayanya tapi sampai sekarang kami berdua tidak berani bertanya tentang nama dan asal usulnya takut mengungkit luka jiwa Jaya lelana anak kami"...


Ki Rangga Wisesa mengakhiri ceritanya.


Shun Land menjatuhkan air mata saking gembiranya, tapi dia cepat menutupinya, dalam hatinya berkata "terima kasih sang maha Pencipta kau telah menyelematkan kakak Shan".


"Nak mas Satria mengapa nak mas menitikkan air mata". Ki Rangga Wisesa penasaran.

__ADS_1


"Tidak sepuh saya merasa sangat ikut gembira anak Ki sepuh bisa normal kembali". Shun land berkelakar.


__ADS_2