
"Mohon izin bergabung di meja Nyai biarkan saya yang membayar tagihan Nyai pendekar"
Shun land bicara dengan sopan.
"Silahkan ki sanak" pendekar wanita berbaju serba merah menjawab tanpa expresi.
Shun land duduk di ikuti Ayu Sondari di sampingnya. Shun land berbisik pada Ayu Sondari. "Kau jangan jauh-jauh dari ku pertarungan bisa kapan saja meledak".
Ayu Sondari walau sering berbuat sesuka hati kali ini dia memperhatikan ucapan Shun land dengan serius, dia tahu pemuda yang di sampingnya bukan pria biasa dia bisa seperti monster bila ada yang mengusiknya.
Pendekar macan putih berserta kedua muridnya memasuki kedai makan dan menempati meja bekas Shun land dan Ayu Sondari.
"Ada pendekar golok Ciomas, salam tuan Mahisa Taka". Pendekar Macan putih Wirantaka memberi hormat.
Wirantaka mengenal Mahisa Taka pada waktu penyelidikan pembantai perguruan di daratan luas Dwipa 30 tahun yang lalu.
Ki Mahisa Taka menangkupkan tangan di depan dada sambil berdiri lalu duduk kembali.
Tidak lama pendekar pedang setan Dewi Andita masuk di ikuti ke empat muridnya.
Mendapati kursi kurang satu Dewi Andita menarik kursi yang di duduki Santaka murid pendekar macan putih, andai tidak spontan berdiri Santaka mesti terjatuh.
Ki Wirantaka berdiri mukanya merah padam. "Kau sungguh keterlaluan apakah kau tidak menghargai pendekar golok Ciomas". Ki Wirantaka sengaja menyeret Ki Mahisa Taka untuk menghadapi pendekar pedang setan.
"Oooh ternyata kau sudah merencanakan untuk menyudutkan ku, kau bersekongkol dengan pendekar golok Ciomas untuk melenyapkan ku". Dewi Andita menyeringai tidak sedikitpun menunjukan rasa takut.
"Pedang setan jangan ikut campurkan diri ku dengan permusuhan mu Dangan Wirantaka, aku sampai kesini untuk menghadiri undangan kompetisi pendekar muda persilatan di guha pawon". Ki Mahisa Taka menyangkal tidak mau terseret konflik mereka berdua.
Ki Wirantaka tersenyum dalam hati siasat untuk menarik Mahisa taka membuahkan hasil.
Di saat situasi semakin panas datang empat pendekar dengan tiga di antara mereka pendekar muda satu pendekar tua dengan pengawakan tinggi besar.
"Dewi pedang setan ternyata kau sudah mendahului ku tidak menyangka akan bertemu di sini" pendekar tua tinggi besar itu menyapa Pendekar pedang setan.
__ADS_1
"Badak liar bagai mana kabarmu ku kira kau sudah mati lihat Wirantaka dan Mahisataka ingin mencari gara-gara seperti 30 tahun yang lalu, dulu kita tidak bisa berbuat apa-apa karena si tua Bangka Srengga membela mereka". Pendekar pedang setan langsung menghasut.
"Wirantaka sebaiknya kita selesaikan urusan kita yang tertunda 30 tahun yang lalu". Pendekar badak liar langsung mengeluarkan Aura membunuh.
Semua yang di bawah kekuatan di bawah Lima belas ribu lingkaran tenaga dalam sulit bernapas.
Pendekar macan putih melindungi Kedua muridnya dengan mengeluarkan aura membunuhnya.
Kampak besar terbang ke arah leher Wirantaka, dengan cepat Wirantaka menghindar dengan menundukkan kepala dan menepis Kampak besar dengan tangannya yang di bungkus oleh sapu tangan perak membelokan arah sapu tangan itu hingga menghantam bilik kedai makan itu.
Serangan Badak liar Arya Suteja kepada Wirantaka membuat tempat makan hancur bagian depannya.
Pendekar Macan putih Wirantaka loncat keluar di ikuti kedua muridnya ke halaman depan kedai makan.
Mahisataka dan kedua muridnya keluar dan berdiri di belakang Wirantaka.
"Badak liar aku rasa cukup kau yang meladeni pendekar macan ompong tua". Pendekar pedang setan Dewi Andita berjalan dengan tenang ke samping Badak liar yang sudah memegang kembali senjata Kampak mautnya.
Pendekar macan putih Wirantaka menghindar dan sesekali menghalau Kampak maut Badak liar dengan telapak tangan yang terbungkus sarung tangan peraknya,
Sarung tangan perak adalah sebuah senjata kelas Bumi tingkat tinggi yang terbuat dari baja putih menyerupai sapu tangan.
Mereka seimbang dan segala hal tapi badak liar mempunyai kelebihan tenaga dalam lebih tinggi beberapa ribu lingkaran.
Wirantaka memiliki tujuh belas ribu lingkaran sedangkan pendekar Badak liar hampir dua puluh ribu lingkaran.
Semakin lama Pendekar macan putih terdesak dan semakin terpojok, ketika Kampak maut akan mengenai lengan kiri pendekar macan putih sebuah selendang menghantam kampak maut membuat kapal itu terpental dan kembali ke tangan Badak liar.
Sontak saja pendekar pedang setan Dewi Andita loncat ketengah pertarungan. "Kau lawan ku bulan merah".
"Hahahaha pedang setan rupanya kau masih mempunyai hati pada badak liar". Ternyata pendekar wanita berpakaian serba merah adalah pendekar Bulan merah dari wilayah timut daratan Dwiva.
Sedangkan pendekar Golok Ciomas Mahisataka masih diam tidak berani bertindak gegabah.
__ADS_1
Shun land memperhatikan dengan teliti hatinya mulai terusik ketika nama gurunya di sebut si tua Bangka oleh Dewi pedang setan Dewi Andita.
"Apa pun kejadiannya kau jangan ikut campur diam di sini kau mengerti". Shun land berkata sambil memandang ayu Sondari dengan serius.
Lalu dengan sekali hentakan sudah berada di samping Dewi bulan merah.
"Ooh ada korban lagi rayuan cinta Dewi bulan merah, anak muda engkau telah telah terperdaya oleh nenek tua ini lebih baik kau berpihak kepada ku tiga murid ku lebih cantik dari nenek tua berpenampilan muda ini hiiiihiiihiiii". Pendekar pedang setan berkata di akhiri dengan tawa mengerikan.
"Maaf nyai pedang setan aku di sini ingin membantu menyelesaikan perselisihan kalian agar tidak ada pertarungan yang sia-sia, aku ada solusi buat kalian". Shun land menjawab dengan tenang.
"Anak muda kau pandai sekali merangkai kata-kata cepat katakan solusi apa yang kau tawarkan". Dewi pedang setan terpancing.
Pendekar Badak liar ikut memperhatikan ke arah Shun land sedikit penasaran. "Katakan anak muda bila kau membual kau akan mati dengan Kampak maut ku ini".
Pendekar Macan putih Wirantaka dan Pendekar Golok Ciomas Mahisataka tidak menyangka murid dari Ki Srengga dari perguruan ujung kulon akan ikut campur yang masih muda ini.
"Aku tahu kalian berdua Dewi pedang setan dan Pendekar Gajah liar mengikuti kompetisi ini ingin mendapatkan salinan ilmu saipi angin, Aku akan memberikan salinan ilmu tersebut dengan syarat kalian bisa mengalahkan ku dalam lima jurus, apa bila dalam tiga jurus kalian tidak bisa mengalahkan ku, kalian harus mengakhiri Pertarungan ini kita lanjutkan pertarungan ke kompetisi bagi pendekar lebih muda bagai mana kalian setuju ???". Shun lan menjelas solusinya.
Mendengar ini hati Dewi pedang setan sedikit terusik dan bertanya-tanya siapa pemuda ini tahu maksud intinya mengikuti kompetisi pendekar muda persilatan ini, tapi pemikirannya sedikit tidak percaya dari mana pemuda ini mendapatkan kitab ilmu persilatan tingkat tinggi.
"Hahahaha anak muda kau terlalu sombong aku ragu kau memiliki kitab itu, aku akan mengalahkan mu dalam tiga jurus". Dewi pedang setan berkata dengan pongahnya.
"Bagai mana dengan kau pendekar badak liar apa kau akan mencoba juga" Shun land melirik kearah Arya teja pendekar Badak liar.
"Pedang setan biarkan aku dulu yang menghajar pemuda ini". Badak liar di pikirannya ingin mengalahkan lebih dulu dan mendapatkan kitab ilmu saipi angin lebih dul.
"Bibi bulan merah Ki Wirantaka mundur lah biar yang muda yang mencoba maju duluan".
Sambil bicara Shun land menghaturkan hormat.
Pendekar macan putih dan Dewi bulan merah mundur kebelakang bergabung dengan pendekar golok Ciomas Mahisa Taka.
...****************...
__ADS_1