LEGENDA RAJAWALI API

LEGENDA RAJAWALI API
172. Pertemuan dengan kakak seperguruannya Kusuma Wijaya dan Nyai Larasati.


__ADS_3

Sang Rajawali api diam dia segera mengetahui kesalahannya.


Tidak lama akhirnya Shun land loncat dari punggung sang Rajawali Api menginjakkan kaki tepat di belakang penginapan dekat istal(kandang kuda).


Shun land berjalan santai masuk penginapan langsung menuju ke kamarnya.


Setelah membersihkan diri Shun land keluar untuk menemui Dewi bulan merah, Ki Mahisa taka, dan Ki Wirantaka.


Mereka bertiga berkumpul di ruangan makan Kusuma murid Ki Mahisa taka memesan makan dan minum ke lantai bawah.


"Ibu Sri Tanjung maaf Ayu Sondari tidak ikut bersama saya dia ikut ke daratan luas Kalimantan bersama kakak saya dan kak Boma, dia ingin melihat daratan luas Kalimantan begitu alasannya, tapi sepertinya Ayu Sondari menyukai kakak saya semoga mereka berjodoh". Shun land mengawali pembicaraan.


Ketika Shun land akan melanjutkan bicaranya datang sepasang pendekar laki-laki dan perempuan.


Dari gerakan dan auranya kedua pendekar ini berilmu tinggi, kedua pendekar ini membukukan badannya tanda menghormat ketika melewati meja Shun Land.


Mereka berdua duduk di meja sebelah meja Shun land dan rombongan.


Tidak lama datang tiga pelayan membawa pesanan yang satu menuju ke meja kedu pendekar yang baru datang dan yang dua ke meja Shun land membawa pesanan.


Mereka memulai makan tanpa ada yang bicara setelah makan Ki Mahisa taka bicara.


"Apa ada yang ingin nak mas Satria sampaikan kepada kami hingga nak mas mengundang makan bersama".


"Iya paman saya ingin menyampaikan beberapa hal kepada paman dan ibu Sri mengenai ke adaan dunia persilatan dan rencana kedepannya". Shun land menjawab dengan cepat.


"Katakan nak mas Satria jangan ragu kami sudah sepakat akan bergabung dengan kerajaan Tarumanagara dan mengikuti apa yang nak mas Satria putuskan". Ki Wirantaka berkata penasaran.


"Saya memutuskan untuk mengundang para guru besar seluruh perguruan yang berada di dataran luas Dwipa ini untuk membahas bagai mana caranya menghadapi pasukan Mara Deva". Shun land berhenti untuk minum lalu melanjutkan bicaranya.


"Saya juga telah memerintahkan paman Antaka untuk menyebarkan telik sandi untuk mengetahui masih berapa perguruan lagi yang bisa bertahan setelah peristiwa pembantaian yang paman ceritakan, saya juga mengutus paman Bajul pakel untuk menemui guru di ujung kulon meminta pendapat pertemuan ini di laksanakan". Shun land bicara panjang lebar.

__ADS_1


Salah satu pendekar di sebelah meja Shun land berdiri lalu menghampiri Shun land lalu berkata. "Ki sanak maaf saya tadi ikut mendengarkan pembicaraan Ki sanak apa hubungan Ki sanak dengan guru besar perguruan ujung kulon Ki Srengga".


Shun land yang sudah merasakan Aura pendekar ini langsung menjawab tanpa ragu-ragu. "Saya adalah muridnya walau pun saya berguru pada beliau tidak lama, kalau boleh tahu siapakah pendekar ini mempertanyakan hubungan saya dengan perguruan ujung kulon".


"Perkenalkan saya Kusuma tepatnya Kusuma Wijaya dan itu Nyai Larasati adik seperguruan, saya adalah murid ke tiga dan ke empat Ki Srengga, salam jumpa adik seperguruan, saya dan nyai Larasati di tugaskan untuk membantu Jaka lelana dan Rhaka prawira menumpas gerombolan gerombolan di tatar pantai ratu dan sekitarnya, Bolehkah saya tahu nama adik seperguruan ini". Ki Kusuma Wijaya mengenalkan diri dan balik bertanya.


Shun land langsung berdiri di ikuti Dewi bulan merah dan dua lainnya membungkukkan badan sambil menangkupkan kedua tangan di depan dada atas memberikan hormat pada Ki Kusuma Wijaya.


"Silahkan paman Kusuma Wijaya gabung dengan kami kebetulan kami sedang membicarakan tentang masalah dunia persilatan yang kurang kondusif saat ini". Shun land memohon Ki Kusuma dan Nyai Larasati untuk duduk satu meja.


Ki Kusuma Wijaya dan nyai Larasati duduk bergabung Kusuma murid Ki Mahisa taka mengolah pindah duduknya memberikan ruang untuk Ki Kusuma Wijaya dan nyai Larasati.


(Kusuma murid Ki Mahisa taka, sedangkan murid Ki Srengga Kusuma Wijaya kakak seperguruan Shun land, atau adik seperguruan Ki Bajul pakel dan Antaka pendekar syair kematian).


"Maaf paman Kusuma bibi Larasati tadi tidak menyambut paman dan Bibi karena saya belum mengenal paman dan bibi, guru juga tidak pernah bicara tentang paman dan bibi, perkenalkan nama saya Satria Nusa kencana atau Shun land dari kerajaan Kutai khal atau kerajaan Tarumanagara".


Shun land memperkenalkan diri pada Ki Kusuma Wijaya dan nyai Larasati.


(Baca chapter 86 Leluhur Ki Srengga mengutus Ki Kusuma Wijaya dan nyai Larasati).


"Sebelum kita membicarakan hal-hal lainnya sebaiknya kita makan dulu sebelum dingin ayo silahkan". Shun land mempersilahkan makan.


Mereka makan dengan lahap setelah makan Dewi bulan merah bicara. "Apa tidak sebaiknya kita bicara di tempat yang lebih aman saya takut di sini ada orang-orang dari musuh karena ini adalah tempat umum".


"Ada yang punya tempat yang lebih diantara kita di kota Guha Pawon ini". Ki Wirantaka menyahuti.


Nyai Larasati menjawab. "Kami ada rumah di pinggir hutan tempat kami bersembunyi dari khalayak ramai".


"Bagai mana nak mas Satria". Ki Mahisa taka bertanya pada Shun land.


"Baiklah itu lebih bagus kita berangkat di bagi dua ibu Sri bersama paman Kusuma dan sepuh Wirantaka, saya bersama sepuh Mahisa taka dan paman Kusuma Wijaya sebagai petunjuk jalan". Shun land membagi rombongan.

__ADS_1


Mereka berenam menjadi dua rombongan pertama berangkat Dewi Bulan merah dan dua lainnya tidak berselang lama shun Land dan yang lainnya dengan rute jalan yang berbeda.


Tiga bayangan saling berkejaran dan berhenti di sebuah pondok panggung terbuat dari kayu yang di kelilingi oleh pohon-pohon besar.


Di depan pondok ada sebuah Paseban cukup luas untuk kumpul bersama sepuh orang lebih yang menyatu dengan panggung pondok tersebut.


Mereka adalah Ki Kusuma Wijaya, Dewi bulan merah dan Ki Wirantaka, sampai di pondok persembunyian Ki Kusuma Wijaya.


Tidak lama kemudian nyai Larasati, Shun land dan Ki Mahisa taka datang. Mereka berenam duduk melingkar.


Nyai Larasati memulai bicara. "Silahkan paduka raja untuk bicara rancara paduka pada kami kami akan sekuat jiwa dan raga kami akan melaksanakan titik paduka demi keadilan dan kebenaran membela kau yang tertindas".


Nyai Larasati yang di beritahu oleh Ki Mahisa taka di perjalan tentang jati diri Shun land, begitu pula Ki Kusuma Wijaya mengetahui jati diri Shun land di beritahu oleh Dewi bulan merah.


Shun land menarik nafas panjang lalu bicara tentang rencananya ingin membuat kualisi dengan perguruan yang tersisa dari pembunuhan tiga puluhan tahun yang silam.


Shun land ingin ke lima pendekar menghubungi perguruan yang mereka kenal untuk mengajak duduk bersama bersiap menghadapi pasukan Mara Deva yang berpusat di dataran luas Swarnabumi.


Begitulan paman dan bibi semua rencana saya nanti setelah duduk bersama kita akan menyepakati di mana wilayah yang cocok menjadi pusat kekuatan kita di tempatkan".


Shun land mengakhiri bicaranya.


Semuanya diam sesaat lalu Ki Kusuma bicara. "Kalau di daerah tatar pantai pelabuhan ratu dan daerah sini saya dan nyai Larasati yang akan menghubungi".


Dewi bulan merah pun ikut bicara. "Kalau di daerah timur dan pulau garam (Madura) dan pulau Dewata(Bali) biar biar ibu yang menghubungi nya, tapi kapan waktunya dan di mana tempat untuk berkumpulnya".


Ki Wirantaka dari perguruan macan putih pun ikut memberikan kesanggupan. "Untuk daerah tengah biar aku dan murid-murid ku yang menghubungi mereka, bagai mana daerah barat apa Ki Mahisa taka siap".


"Baik aku daerah barat biar aku yang menghubungi". Ki Mahisa taka berkata dengan tegas.


"Terima kasih untuk paman dan bibi semua yang telah memberikan sumbangsihnya waktunya sebulan dari sekarang tempatnya lebih baik di istana kerajaan Tarumanagara biar saya lebih leluasa memberikan pasilitas dan jamuan untuk saudara-saudara kita yang mau bergabung memerangi kejahatan di muka bumi kepulauan Sunda besar ini".

__ADS_1


Shun land memberi tahukan tempat dan waktunya.


-----------------*****------------------


__ADS_2