
Lasmini sibuk dengan segala pertanyaan yang tidak bisa iya jawab.
Sang legenda Rajawali Api terbang kembali ke angkasa dia berkata ingin mengunjungi sang sahabat lama Naga bumi Sabui di sumur jiwa cibuaya.
Shun Land memberikan penjelasan kepada sang sahabat Rajawali Api walaupun lahiriahnya terlihat memprihatinkan tetapi keadaan hatinya sangat tentram dan damai.
Lasmini memejamkan matanya kembali melihat sang suami berjalan ke arahnya. Shun Land merebahkan tubuhnya di tempat semula.
Tanpa malu lagi Lasmini memeluk tubuh Shun Land sang suami tercinta mengurangi rasa dingin angin malam tengah hutan.
Malam berlalu pagi menghampiri sang Surya menampakan wajahnya dengan kelembutan sinar menyinari Marcapada terbukti kelembutan dengan tanpa panas yang menyengat.
Lasmini sudah membersihkan diri sedangkan Shun Land mempersiapkan kedua kudanya untuk melanjutkan perjalanan.
Pada waktu itu dataran luas Sunda Dwiva masih hutan belantara mungkin hanya 20 sampai 30 persen yang sudah berpenghuni.
"Kakang Jaya sebenarnya kemana arah tujuan kita sekarang" Lasmini mencoba memberanikan diri bertanya.
"Untuk sekarang ini kakang ingin mengunjungi pelabuhan Cilamaya tapi sebelum itu kakang ingin melihat ibu kota Sundapura yang konon kabarnya indah dan megah.
Lasmini mendengar jawaban Shun Land keyakinan bahwa Shun Land pendekar Rajawali Api sedikit berubah, tetapi di bagian pemikiran lain tidak ada pendekar yang lainnya yang memiliki burung besar kecuali pendekar legenda Rajawali Api di perkuat dugaannya dengan tanda terbakarnya dedaunan dan ranting pohon yang di lalui burung besar.
"Biarlah suami ku pendekar legenda Rajawali Api atau bukan yang penting sekarang aku berusaha menjadi istri yang baik dan berusaha suami ku untuk mencintai ku, dari pada pusing pikiran ku". Hati Lasmini bergumam.
"Mengapa terbengong kau keberatan dengan tujuan kita". Shun Land membuyarkan lamunan Lasmini.
Lasmini hanya tersenyum "kakang jangankan ke ibu kota Sundapura ke ujung dunia Lasmini akan selalu berada di sisi kakang". Lasmini lalu naik ke kudanya.
Mereka berdua pun berangkat meneruskan perjalanan, Lasmini di depan memacu kudanya berlari sedikit kencang Shun Land mengikuti di belakangnya.
Hampir satu hari mereka berdua memacu kudanya hanya istirahat di waktu tengah hari untuk makan tidak terasa sudah dekat dengan pedukuhan Tarikolot yang di sana berdiri perguruan Cimande milik guru besar Aria Natanagara.
Memang sengaja Shun Land melalui jalur itu ingin melihat perkembangan perguruan Cimande, tetapi sebelum sampai hanya seperempat hari lagi keluar dari jalan setapak di hutan belantara mereka di hadang tiga orang berpakaian serba hitam.
__ADS_1
"Hahahaha sekian lama kita menunggu akhirnya ada yang datang mengantarkan kekayaan kudanya pun kualitas baik". Salah seorang penyamun berkata sambil melirik ke kedua temannya.
Shun Land dan Lasmini menghentikan kudanya seketika melihat ada tiga orang yang melompat dari atas pohon menghadang jalannya.
"Ada apa kisanak menghadang perjalanan kami". Shun Land berusaha sopan. Tetapi ketiga penyamun malah tertawa geli.
nereka tidak tau siapa yang di hadapinya andaikan mereka tahu yang di hadapinya adalah orang nomor satu di dunia persilatan niscaya mereka tidak akan berani jangankan untuk menghadang melihat bayangannya pun akan lari terkencing-kencing.
"Jangan berpura-pura pilon cepat serahkan kuda kalian dan harta benda kalian jika ingin se......". Belum selesai bicara sudah di timpali oleh temannya.
"Kang Bendul jangan cuma kuda dan hartanya saja gadis manisnya lebih penting hahaha".
"Kau lebih teliti kalau melihat yang mulus mulus dasar pecinta pantat hitam". Yang di panggil Bendul menimpali.
Shun Land turun dari kudanya dengan tenang sambil tersenyum kecil menjawab.
"Kebetulan sekali istri ku ingin di hibur badut kalian datang yuuu kita bermain". Bicara Shun Land dengan mimik datar tidak ada rasa ketakutan atau kemarahan.
Dari mereka yang tidak ikut bicara mendengar dirinya di samakan dengan badut tanpa bicara lagi langsung menyerang dengan tinjunya.
Penyamun itu tidak bisa bangun atau pun berbuat apa-apa di duduki Shun Land seperti di timpa gunung.
"Lihat neng akang punya kebo hus hus cek-cek cek-cek". Shun Land menduduki penyamun seperti anak-anak bermain kebo-keboan.
Lasmini melihat gaya bicara dan tingkah laku Shun Land tertawa terbahak-bahak.
"Bocah sinting orang di buat seperti kebo". Bendul ketua dari ketiga penyamun mengumpat.
"Haaaiii Namaku bukan bocah edan tapi Jaya Sempurna yang tampan". Shun Land menjawab dengan bergaya.
"uuuh... Uuuuh.... Uuuuh". Penyamun yang di duduki Shun Land bersuara.
Shun Land bicara pada Lasmini. "neng cari ranting pohon kebonya tidak mau eeeh sekarang bersuara katanya ingin makan sambil bawa rumput yaaaa".
__ADS_1
"tidak mau takut kebo yang duanya marah". Lasmini menjawab sambil menunjuk ke arah Bendul dan rekannya.
Bendul di tunjuk jidat, dan di sebut kebo oleh Lasmini mengeraskan rahangnya amarahnya meluap dirinya merasa di permainan kedua bocah angon.
"Kalian berdua telah mengusik ulat berbisa terimalah bisa yang akan mengakhiri hidup kalian berdua". Setelah bicara dengan nada tinggi Bendul mengeluarkan senjata pusaka Trisula dan bersiap menyerang.
"Kau jangan berubah sudah ku atur kau jadi kebo malah ingin jadi ular berbisa emang kau bisa menari ular". Shun Land berkata sambil memunggungi seolah tidak ada musuh yang sedang memperagakan pembuka jurus untuk menyerang.
Sesaat sebelum Bendul menyerang Shun Land bergerak bagai berpindah tempat, merebut trisula dan menghantam punggung Bendul hingga tersungkur.
Dengan mengeluarkan sedikit kekuatan apinya Shun Land membuat trisula itu membara. Dengan tanpa ragu-ragu Shun Land mempersiapkan trisula itu pada pantat Bendul.
"Menurut tukang angon, kebo itu harus di kasih tanda biar tidak tertukar dengan kebo lainnya, eeeh iya harus Kakan kiri".
Shun Land setelah menempel pantat bagian kanan terus berpindah ke sebelah kiri terang saja Bendul meraung-raung kepanasan inginnya sih berlari sekencang kencangnya tapi apa daya Bendul serasa tubuhnya seperti bertulang.
"Neng Lasmini turun sini aku mempunyai kebo yang sudah di kasih tanda pengenal tidak akan tertukar". Shun Land melambaikan tangan ke arah Lasmini yang masih berada di atas kuda.
"Tidak mau aah tandanya di pantat yang bau terasi basi". Lasmini menjawab.
Teman Bendul yang satunya melihat kakak seperguruannya tidak berdaya di hadapan Shun Land langsung berlutut dan membenturkan kepalanya ketanah. Seraya meminta ampunan
"Tuan pendekar ampuni apapun akan saya lakukan".
"Ada kebo yang bisa bersujud". Shun Land sambil bicara melangkah mendekati setelah dekat Shun Land menepuk punggungnya lalu berjalan mendekati kudanya.
"Neng Lasmini kita lanjutkan perjalan sudah tidak asik bermain kebo-keboannya". Setelah bicara Shun Land melompat keatas kuda.
Lasmini tanpa banyak bertanya langsung menggebrak kudanya untuk berjalan mereka berdua memacu kudanya sedikit kencang agar tidak bermalam di hutan.
Sementara Bendul dan kedua rekannya di biarkan tergeletak di jalanan mereka semua merintih kesakitan.
Di perjalan Lasmini menanyakan mengapa penyamun itu di tinggalkan begitu saja. Shun Land menjelaskan bahwa mereka semua telah di hancurkan ilmu Kanuragannya hingga di kemudian hari mereka tidak bisa merugikan orang lain lagi.
__ADS_1
Berbarengan matahari tenggelam di sebelah barat Shun Land dan Lasmini sampai di perbatasan pedukuhan Tarikolot.
-----------&&&&----------