
Shun Land hanyut dalam meditasinya satu hari tidak mendapatkan apa-apa dua hari, sampai tiga hari hingga satu Minggu. Hari pun berlalu dengan cepat.
Di malam ke 41 hari kesadaran Shun Land seakan ada yang menarik dengan kuat, pada waktu itu kesadaran Shun Land di paksa oleh sesuatu kekuatan yang sangat besar hingga tidak bisa Shun Land tidak bisa berbuat apa pada klimaksnya Shun Land sampai di sebuah hutan lebat, Shun Land berdiri melihat sekeliling yang terlihat hanya pohon-pohon besar menjulang tinggi.
"Di mana aku sekarang ini". Shun Land bergumam sendiri, Shun Land akhirnya menelusuri hutan tersebut, di suatu tempat telinga Shun Land yang sensitif mendengar beberapa orang berlari ke arahnya.
Beberapa orang membawa tombak terbuat dari kayu yang ujungnya di buat runcing berlari menghampirinya, pakaian mereka terbuat dari kulit binatang tubuh merekapun sedikit lebih besar dan tinggi,
Mereka melintas ke hadapan Shun Land mereka hanya memandang sekilas ke arah wajah Shun Land lantas terus berlalu tanpa memperdulikan Shun Land.
Shun Land dengan penasaran ikut berlari di belakang mereka, orang-orang tersebut sampailah di mulut sebuah gua dan masuk ke sana, Shun Land meneliti mulut gua tersebut betapa terperanjatnya Shun Land setelah menyadari bahwa mulut gua tersebut adalah mulut gua Leang Tedongnge di mana dirinya bermeditasi.
Sedang dalam kebingungan terasa pundak Shun Land ada yang menepuk begitu menoleh Shun Land langsung berlutut kepada orang tersebut.
"Maafkan murid sembah hormat dan bakti saya haturkan pada guru". Dari mulut Shun Land terucap. Sosok tersebut adalah Guru Batiniah Shun Land Sanghyang Triloka. Dari bibirnya tersungging senyuman lembut penuh welas asih.
"Berdirilah kita akan lihat apa yang terjadi di dalam gua tapi kita tidak boleh berkata dan bertindak apa-apa hanya melihatnya saja, karena tindakan kita sekecil apapun akan merubah tatanan kejadian di masa depan". Sanghyang Triloka berkata.
Shun Land mengikuti langkah Sanghyang Triloka yang masuk ke dalam gua, begitu sampai di dalam gua terlihat mereka sedang berkumpul di tengah tengah ada sebuah api yang di atasnya seekor Babi di panggang. Salah satu dari mereka berdiri di sisi dinding gua tangannya yang penuh dengan pewarna melukis di dinding gua tersebut.
__ADS_1
Mereka hanya menatap ke arah Shun Land dan Sanghyang Triloka sebentar setelah itu mereka tidak memperdulikannya seakan mereka tidak melihat Shun Land dan Sanghyang Triloka.
Sanghyang Triloka lalu mengisyaratkan pada Shun Land untuk keluar dari gua tersebut, tanpa menolak Shun Land mengikutinya, walaupun dalam benak Shun Land banyak yang di pertanyakan pada kelompok manusia itu.
Shun Land di bawa oleh Sanghyang Triloka pada tempat yang sedik terbuka, di sebuah batu yang cukup besar dan permukaan batu tersebut rata, cukup untuk mereka berdua duduk dengan nyaman sambil memandangi pepohonan yang ada di sekitar.
"Guru apa yang sebenarnya saya ambil dari warisan dalam peta yang di buat dari Sanghyang Tunggal untuk saya, murid sangat tidak mengerti". Shun Land setelah duduk di hadapan sang guru Batiniahnya langsung bertanya pada pokok bahasan.
Dalam pemikiran Shun Land ada ketakutan dirinya tidak sempat mempertanyakan hal penting ini karena dirinya tidak bisa menemui sang guru Batiniahnya Sanghyang Triloka dengan sesuka hatinya.
Sanghyang Triloka tersenyum seakan mengerti kekhawatiran yang ada dalam hati Shun Land, lalu dengan nada santai dan penuh kasih sayang menjawab.
"Sanghyang tunggal adalah guru ku dan sekaligus ayah ku, di suatu ketika aku di ajaknya naik ke punggung sang Legenda Rajawali Api dan sampailah di tempat ini, Sanghyang Tunggal lalu membuat peta tersebut dan memberikannya padaku dan berpesan agar peta tersebut untuk di wariskan kepada keturunan ku untuk di berikan pada salah satu keturunannya yang terpilih menjadi pemimpin negeri ini,.....
"Menurut Sanghyang Tunggal lukisan tersebut di buat beberapa ribu tahun dari jamannya mereka adalah Leluhur kita yang tersebar di setiap wilayah negeri Sundaland ini, Sanghyang Tunggal pun berpesan pada ku bahwa lukisan ini agar di jaga karena lukisan ini adalah warisan dari leluhur kita sekaligus sebagai bukti di masa mendatang bahwa Bangsa kita telah ada, ini juga menegaskan bahwa Bangsa kita adalah pribumi asli daratan luas Sundaland ini,.....
"Kita bukan dari mana-mana tapi kita adalah asli pribumi mendiami negri Sundaland dari awal adanya peradaban, Sanghyang Tunggal mengatakan bahwa lukisan leluhur kita ini di jaga oleh kekuatan tidak terlihat hingga gua gua seperti ini akan selamat dari berbagai bencana hingga puluhan ribu tahun mendatang". Sanghyang Triloka berhenti bicara matanya menatap langit dirinya terkenang di mana saat masih bersama sang Ayah sekaligus sang guru Sanghyang Tunggal.
Shun Land tidak berani berkata sepatah katapun hanya diam menunggu keterangan selanjutnya dari sang guru Batiniahnya Sanghyang Triloka. Setelah beberapa saat kemudian Sanghyang Triloka melanjutkan bicaranya.
__ADS_1
"Murid ku yang di maksud warisan itu adalah lukisan yang ada di dinding gua tersebut, itulah warisan leluhur yang tidak ada bandingannya dengan harta benda, karena dengan warisan lukisan dari leluhur, kita bisa menunjukkan pada dunia bahwa Bangsa kita bangsa Sundaland ada sejak awal peradaban di dunia,....
"Dengan bukti Lukisan ini pula kita bisa berkata dengan lantang pada dunia bahwa kita adalah bangsa yang besar yang ada sejak peradaban manusia itu ada, dengan warisan lukisan dari leluhur ini kita juga bisa membantah mereka yang mengatan bahwa kita adalah kaum pendatang dari negeri Sundaland kita sendiri, itulah arti warisan peta dari Sanghyang Tunggal cucuku". Sanghyang Tunggal guru Batiniahnya Shun Land mengakhiri bicaranya.
"Guru terus apa yang ada di lukisan kedua yang di sini tertera ada di daratan luas Nusa kencana". Shun Land setelah mengerti apa makna dari peta warisan dari Sanghyang Tunggal melanjutkan bertanya.
"Peta itu adalah sama menunjukkan lukisan leluhur kita yang ada di daratan luas Nusa kencana, ini juga menjadi bukti bahwa daratan luas Sunda besar dan Sunda kecil mempunyai ikatan sangat erat dengan leluhur Daratan luas Sunda kecil,....
"Peta itu berada di wilayah Sangkulirang-Mangkalihat daratan luas Nusa kencana bagian timur, cucuku waktu ku, aku rasa sudah cukup keterangan inti dari peta warisan dari Sanghyang Tunggal dan aku telah sampai untuk mengembalikan mu pada meditasi mu". Dengan terdengarnya kalimat terakhir Shun Land seperti di hisap ke dalam sebuah lorong dengan sangat cepat.
Kesadaran Shun Land kembali ke dalam raga wadagnya perlahan Shun Land membuka kedua matanya, Shun Land mengerakan tubuhnya tubuhnya perlahan yang terasa kaku, dengan mengalikan tenaga dalamnya ke seluruh tubuhnya Shun Land merasa tubuhnya pulih kembali kilatan-kilatan api abadi yang menjaga tubuh Shun Land telah hilang bersamaan kesadaran Shun Land pulih sepenuhnya.
_________*****________
(NB; sedikit Catatan. Lubang Jeriji Saleh adalah sebuah gua batu kapur yang terletak di wilayah Karst Sangkulirang-Mangkalihat, provinsi Kalimantan Timur, Indonesia yang memiliki seni figuratif yang dipercaya tertua di dunia.
Lukisan figuratif tertua: penggambaran banteng yang ditemukan di Lubang Jeriji Saleh dengan penanggalan lebih dari 40.000 (mungkin setua 52,000) tahun.
Lubang Jeriji Saleh berisi banyak lukisan gua. Yang tertua dari lukisan-lukisan ini, diciptakan lebih dari 40.000 (mungkin setua 52,000) tahun yang lalu,[2][3][4] dan dipercaya merupakan gambar banteng.[5] Banteng tersebut selebar sekitar 5 kaki (1,5 meter),[6] dan tergambar dari oker jingga kemerahan di dinding gua batu kapur.[7]
__ADS_1
Ada tiga "fase" teridentifikasi dalam lukisan gua. Yang pertama berisi gambar banteng dan stensil tangan oker. Yang kedua berisi lebih banyak stensil dengan "warna murbei" bersama dengan penggambaran manusia. Tahap ketiga menggambarkan manusia, perahu dan desain geometris).