
Pangeran Sanjaya triloka dan Pramuja berusa bangkit dengan dada yang berlumuran darah dari mulutnya. "Tenaga dalamnya sebanding dengan kita tetapi tongkat emas itu melindunginya, walaupun tongkat emas itu tidak menyerang tetapi pantulan serangan kita menghantam diri kita sendiri, kita ulur waktu kakang yakin tuan Jaya sedang dalam perjalanan kembali, mata batinnya akan melihat apa yang terjadi sekarang dengan keadaan istrinya dan keadaan kita yang sedang kesulitan".
Pangeran Sanjaya triloka berdiri lalu tertawa terbahak-bahak. "Hahahaha..... Kau merasa sudah menang itu mustahil karena tanpa tongkat emas kau bukan apa, aku jadi geli sendiri, kau merasa hebat tatapi mengontrol senjata sendiri tidak mampu, suruh tongkat sakti mu untuk menyerang ku hahahaha dasar pendekar uyeeees".
Pangeran Sanjaya triloka berjalan ke arah kiri dan Pramuja berjalan ke arah kanan untuk memecah konsentrasi si tongkat emas.
"Entah apa yang kalian lakukan yang jelas kalian hanya dua tupai yang bicara seperti harimau pincang kalian akan mampus di tangan ku". Si tongkat emas menjejakkan kakinya tubuhnya melenting ke atas tongkat di tangannya di ayunkan ke arah pangeran Sanjaya. Memang benar apa yang di ucapkan pangeran Sanjaya triloka tongkat itu seperti menolak untuk menyerang hingga kekuatannya menghilang menjadi tongkat biasa.
Pangeran Sanjaya triloka menghindar dengan mudah sambil meledek. "Serangan seperti ini seperti serangan anak anak memukul anak sapi hahahaha" bersamaan pangeran Sanjaya triloka Pramuja menyerang dari arah yang berlawanan kearah si tongkat emas.
Tapak panca braja melesat bagaikan kilat dengan kekuatan penuh, tapi bukan suatu kebetulan tongkat emas itu melindungi pemiliknya dengan melilit tubuh pemegangnya hingga pukulan jurus panca braja membentur tongkat sakti tersebut.
Paramuja terpental oleh serangan sendiri hingga mendapatkan luka dalam yang cukup serius, ini terlihat jelas olah pangeran Sanjaya triloka semakin yakin bahwa si tongkat emas tidak mempunyai kendali dengan puasanya, hanya saja pusaka tongkat emas tidak mau pemiliknya terluka hingga melindunginya dari semua serangan yang membahayakan nyawanya.
Sementara itu Anggada, Antakusuma dan Kedua lainnya masih bertarung seimbang melawan bawahan si tongkat emas, masing-masing dari mereka sudah nampak goresan-goresan pedang di tubuh mereka. Saat ini mereka bersiap dengan jurus-jurus andalan mereka untuk mengakhiri pertarungan.
Sesaat kemudian entah apa sebabnya udara di sekitar pertarungan menjadi dingin udara terasa berhenti di susul semilir angin pelan membuat bulu kuduk berdiri suasana menjadi mencekam seketika.
Lasmini seketika meloncat keluar dari persembunyiannya lantas bicara keras. "Kalian akan merasakan akibatnya telah menyerang juragan dagang utusan keadilan Dewi Lasmini sebentar lagi kalian akan merangkak meminta pengampunan pada suamiku yang gagah dan tampan". Lasmini menamakan dirinya dengan tambahan Dewi, Lasmini sangat mengenal aura dingin ini seperti yang ada di dalam dirinya dan ini adalah milik suaminya walaupun belum terlihat tubuh suaminya.
__ADS_1
Dari atas turun perlahan sosok yang sangat mereka kenal, si tongkat emas dan ke 4 anak buahnya terkesima kedatangan sosok Shun Land yang datang bagaikan malaikat turun dari langit untuk menghukum manusia durhaka.
Tubuh Shun Land mengambang di atas kepala mereka lantas keluar suara penuh wibawa dan intimidasi kepada si Tongkat emas dan empat anak buahnya.
"Tongkat emas segeralah menyerah aku akan memberikan kematian yang cepat padamu". Suara Shun Land menggema kemana-mana. Ke empat anak buah si Tongkat emas terduduk karena intimidasi dari Shun Land berbeda dengan Si tongkat emas yang tubuhnya tiba-tiba di selimuti sinar kemuning melindungi dari intimidasi Shun Land, sinar kekuningan ini berasal dari tongkat emas.
"Hahahaha...... Kau tidak akan bisa membunuh ku kecuali kau bisa merebut tongkat sakti ini anak muda kau seperti katak dalam sumur hahahaha". Si tongkat emas merasa di atas angin.
Tubuh Shun Land melesat bagaikan menghilang menyerang Si Tongkat emas tetapi kali serangan Shun Land membentur tongkat emas yang melindunginya. Dua benturan berkekuatan dahsyat beradu membuahkan debu dan kerikil kecil berterbangan.
"Duuuaaaaarrr. ..... Suara benturan memekakkan telinga semuanya menahan Nafas ingin segera mengetahui akibat dari benturan itu, mereka tidak bisa melihat kedua orang yang sedang mengadu kekuatan dahsyat.
"Duuuaaaaarrr..... Duuuaaaaarrr...."
Shun Land merasa heran hampir setengah kekuatannya di kerahkan deng. Jurus Tapak harimau kumbang tingkat akhir tetapi tetap saja tidak bisa menerobos pertahanan si Tongkat emas yang di lindungi tongkat sakti.
Shun Land mencabut pedang Naga Bergola begitu pedang keluar dari sarungnya terdengar di batin Shun Land Naga Bergola menguap tetapi tidak lanjut membuka mulutnya malam menutupi mulutnya dengan kedua tangannya.
"Oooh sang maha Pencipta terima kasih saya telah di pertemukan dengan saudara ku dari keturunan Ras Naga istana Dasar Sagara Ruyi Jingu Bang keluar kau, kau telah ingkar dari ajaran pencipta mu, ajaran kitab Perubahan I Ching/Yijing Raja Agung Wen Ji Chang benar-benar memalukan Dinasti Zhou" Naga Bergola berteriak keras memanggil Nama yang sangat asing di telinga Shun Land.
__ADS_1
"Hehehehe Naga Bergola senang bertemu dengan mu aku sangat kaget karena ada getaran yang mirip dengan majikan ku yang belum juga muncul, Aku bosan ribut tahun berdiam diri di dasar lautan menunggu sang Kultivator sejati muncul yang bernama Laozi yang akan menuntun ku ke tuan ku, dia juga yang akan merubah peradaban dunia dengan ajaran Tao nya yang murni dari kitab perubahan Raja Agung Wen Ji Chang, aku terpaksa berada orang yang tak beradab ini Karena menunggu mu dan tuan mu untuk menyaksikan bangkitnya peradaban baru di Daratan Sunda Ageng ini". Roh tongkat sakti bernama Ruyi Jingu Bang berkata tetapi di potong oleh Naga Bergola.
"Sudah diam keluar kau dari mahluk keji itu tidak pantas kau berada bersamanya memalukan Ras bangsa Naga yang menciptakan mu". Naga Bergola berkata dengan tegas.
"Baik lah aku sementara akan bersama tuan mu, apa dia bisa menerima ku sebelum lahirnya tuan junjungan ku". Roh Tongkat sakti Ruyi Jingu Bang berkata.
"Tidak masalah asal kau jangan ikut campur urusan ku". Shun Land menjawab singkat. Sebenarnya Shun Land masih belum mengerti apa yang di bicarakan Naga Bergola dengan Roh Ruyi Jingu Bang.
Tiba-tiba tongkat emas sakti lepas dari tangan si Tongkat emas dan memukul keningnya dengan pelan lalu tongkat itu mengecil dan melayang ke hadapan Shun Land setelah berada di atas telapak tangan Shun Land tongkat emas sakti menghilang.
Bersamaan menghilangnya tongkat emas sakti terdengar di batin Shun Land suara roh Ruyi Jingu Bang. "Naga Bergola tukang pamer aku meminjam sedikit ruang di gagang pedang mu" setelah itu tidak ada suara lagi.
Pendekar Tongkat emas setelah di tinggal tiba-tiba oleh Tongkat emas Saktinya terduduk tak berdaya hatinya hancur harapan ingin menguasai Daratan luas Sunda Dwiva punah senjata andalannya telah menghilang.
Shun Land turun perlahan di depan si tongkat emas dengan tatapan tajam memandang si tongkat emas yang bernama Patayan, dengan menghiba Patayan berkata memohon.
"Tuan pengelana maafkan saya karena di butakan oleh kesaktian Tongkat emas saya jadi gelap mata berbuat perbuatan yang merugikan sesama tetapi tuan percayalah saya tidak pernah membunuh orang yang tidak pantas di bunuh tuan bisa cari tahu sendiri kebenaran dari pedukuhan Prawata sampai alas Purwo tidak pernah terjadi pembuahan". Patayan berkata apa adanya.
Shun Land langsung meletakan telunjuknya dan mengalirkan api abadinya memeriksa kebenaran ucapan Patayan si tongkat emas. Shun Land tidak merasakan iblis hati di dalam jiwa Patayan.
__ADS_1
Shun Land lalu melepaskan tangannya dari Cakra mahkota Patayan si tongkat emas dan berkata. "Baiklah aku akan mengampuni mu tetapi kau harus menceritakan sejarah mendapatkan tongkat emas sakti itu dengan jujur dan kau harus sumpah darah tidak akan mengulangi merugikan orang lain apapun alasannya apabila ingkar jantung mu akan meledak aku telah menanam kekuatan ku di jantung mu".
"Baik tuan akan saya tunduk dan patuh apapun perintah tuan dengan sekuat jiwa dan raga saya". Setelah itu Patayan memanggil ke 4 anak buahnya untuk melakukan ikrar sumpah darah.