LEGENDA RAJAWALI API

LEGENDA RAJAWALI API
339. Jaya Sempurna 72. Bangsa asli lembah Begawan Solo.


__ADS_3

Acara makan bersama di pedukuhan Prawata berjalan dengan lancar penuh kegembiraan dan rasa bahagia. Para penduduk perasaannya di penuhi rasa syukur merasa mempunyai pelindung dan panutan Nama Dewi Lasmini seketika jadi Ikon pedukuhan Prawata.


Selain itu penduduk juga merasa gembira kelompok Danau emas yang biasanya meminta jatah upeti tiap bulan purnama sekarang telah baik ini kabar yang sangat membuat penduduk pedukuhan Prawata berterima kasih pada juragan dagang utusan keadilan Dewi Lasmini membuat pedukuhan Prawata merasa aman.


Tekad Pataya semakin menyakinkan para penduduk dengan adanya penggantian kompetensi pada mereka walaupun jumlah itu tidak senilai dengan kerugian para penduduk pedukuhan Prawata secara materi atau pun mental.


Keesokan harinya warga penduduk pedukuhan Prawata semenjak pagi-pagi sudah berkerumun di halaman rumah kepala pedukuhan Ki Bantara, pangeran Sanjaya triloka yang di kebagian memimpin membagikan Darma bakti sesama berkerja sama dengan menantu Ki Bantara Taruno dan Caksono menghitung penduduk untuk menentukan jumlah bantuan yang akan di bagikan.


Dalam hal ini pangeran Sanjaya triloka membagi dua kelompok 1. Kelompok biasa dan 2. Kelompok kaum tua dan yatim piatu. Kelompok biasa mendapatkan 5 keping koin emas dan kelompok kaum tua dan anak yatim piatu mendapatkan 10 keping koin emas. Selain itu semuanya mendapatkan tambahan 20 keping koin emas dari Pataya ketua kelompok Danau emas yang di bagikan langsung Pataya.


Ini adalah gagasan pangeran Sanjaya triloka agar Pataya ikut membagikan keping koin emas kepada para penduduk, tujuannya setidaknya sedikit mengikis kebencian dan dendam para penduduk kepada Pataya dan anak buahnya berkurang.


Setelah selesai pembagian Darma bakti sesama, Shun Land duduk berkumpul dengan kepala pedukuhan Ki Bantara dan pengurus pedukuhan juga warga yang meluangkan waktu masih belum pulang.


Dalam kesempatan itu Shun Land memberikan 1500 keping koin emas kepada ketua pedukuhan Ki Bantara, 500 keping koin emas untuk pribadi Ki Pataya dan keluarga yang terlihat miskin hartanya habis untuk membantu warganya. Sedangkan yang 1000 koin emas untuk membantu warga yang tidak mempunyai tempat tinggal dan keperluan alat mencari ikan sebagai mata pencaharian sebagai besar para penduduk Prawata.


Acara perpisahan pun akhirnya terjadi para penduduk berjejer memberikan salam perpisahan mereka sangat mengelukan juragan dagang utusan keadilan Dewi Lasmini yang menjadi aikon kebaikan mereka tidak mengetahui yang sebenarnya Shun Land yang menjadi pemimpin.


Seorang bocah laki-laki berumur 2 tahun berlari dan memegangi kaki Lasmini dengan erat dari mulutnya yang mungil berkata dengan wajah yang memelas dan air mata berderai. "Bibi jangan pergi Catrik janji tidak nakal lagi".

__ADS_1


Shun Land melihat ini hatinya sedikit terenyuh karena menyadari sepenuhnya bahwa dia tidak akan bisa memberikan seorang pun putra atau putri kepada para istrinya sebagai ganti keistimewaan tubuh 4 lintang ke5 pancer yang bisa melebur dengan 4 kekuatan pokok yang ada di alam semesta.


Lasmini yang sudah mengangkat sebelah kakinya untuk naik ke kereta menurunkan kembali lalu berjongkok dan berkata pada Catrik Cucu Ki Bantara.


"Catrik jangan menangis anak baik tak boleh menangis, bibi Lasmini suatu waktu akan berjumpa lagi dengan Catrik". Lasmini menyeka air mata Carrick lalu menggendongnya dan memberikan Catrik pada Mangaling ibunya yang menghampiri.


Suasana perpisahan sangat haru bisa di bayangkan penduduk akan melihat punggung-punggung malaikat penolongnya meninggalkannya entah kapan mereka bisa berjumpa pagi mungkin tiada akan ada kesempatan kedua kali untuk melihat malaikat penolong mereka.


Perjalan kali ini tidak ada hambatan sama sekali dalam perjalanan Shun Land menjumpai beberapa rumah penduduk yang bergerombol tidak banyak yang terlihat sangat memprihatikan.


Kesempatan itu Shun Land singgah sebentar dan membagikan keping koin emas untuk membantu mereka, perjalanan berlanjut hingga memasuki kawasan hutan yang sangat lebat hutan yang mungkin usianya sudah ribuan tahun hingga para penjelajah atau pun penghuni di sekitar menamai dengan sebutan Purwa/o atau Purba.


Hari mulai gelap Shun Land menghentikan Rombongan untuk mencari tempat yang luas untuk mendirikan tenda, pada saat itu pangeran Sanjaya triloka dan Pramuja tidak ikut mencari hanya berdiam diri di atas punggung kuda.


Sementara Lamsijam dan yang lainnya menyebar di sekitar situ, Pataya yang sedikit banyak sering masuk ke hutan itu, dan kembali ke rombongan, "Tuan jaya di depan sekitar kurang lebih seratus Depa ada lapangan cukup lebar cukup untuk mendirikan tenda dan kita beristirahat".


Shun Land dan lainya menuju tempat yang di tunjukan Pataya, setelah beberapa saat berjalan di depan terlihat halaman luas di kelilingi pohon yang cukup besar. Satu hal yang menjadi pertanyaan di dalam hutan lebat ada halama yang bersih dan rapih ini sesuatu hal aneh tetapi mereka tidak menyadarinya.


Lamsijam dan Delay juga anak buahnya mendirikan tenda, Pramuja dan adik seperguruannya berburu hewan di sekitar hanya butuh beberapa waktu saja Pramuja memanggul dua kijang ukuran besar mereka pun langsung mengulitinya.

__ADS_1


Para perempuan membuat perapian memasak nasi Pataya seperti biasa mencari kayu bakar dan air bersih, di kejauhan 4 pasang mata besar memperhatikan dengan seksama mereka hanya melihat tidak melakukan tindakan apa-apa.


Tubuh mereka memiliki tinggi dan besar melebihi manusia pada umumnya tingginya hampir dua kali lipat manusia biasa. Salah satu yang paling besar berkata.


"Di antara mereka hanya satu yang memiliki kekuatan yang tinggi sisanya hanya kroco di lawan anak-anak kita juga kalah kita melapor pada pimpinan karena ada manusia kerdil yang berani memakai tempat pertemuan kita tanpa izin".


Mereka adalah Manusia asli dari lembah begawan Solo memilih mengalah masuk ke kedalam hutan agar tidak bentrok dengan manusia kerdil menurut mereka, dalam perangai sehari-hari manusia raksasa ini lebih kasar tetapi dalam perangai batin raksasa ini lebih tajam dan lebih halus.


Sementara itu selain pangeran Sanjaya triloka semuanya bersuka cita karena akan memakan daging rusa dua ekor yang gemuk. Mereka tidak menyadari ada 4 pasang mata besar memperhatikan mereka.


Pangeran Sanjaya triloka memhanpiri Shun Land yang sedang duduk santai di bawah pohon rindang memperhatikan berbagai burung yang bermain di ranting pohon dengan memperdengarkan berbagai suara yang indah. "Sungguh sangat kaya dan dan indah isi dari hutan ini, sungguh besar kekuasaan sang maha Pencipta tidak ada satupun yang menyamainya". Hati Shun Land bergumam.


Pangeran Sanjaya triloka duduk di sebelah Shun Land lalu berkata. "Tuan Jaya ada yang ingin saya bicarakan tentang hutan purba ini".


"Silahkan pangeran saya akan mendengarkan" Shun Land bicara singkat. Pangeran Sanjaya triloka lalu menerus bicaranya.


"Tuan jaya di sini ada manusia besar yang jumlahnya sangat banyak mereka semua sangat kuat dalam berbagai hal terutama dalam bertarung saya rasa kita telah mengusiknya karena tempat penting bagi mereka telah kita gunakan untuk bermalam".


Shun Land mendengarkan dengan seksama dan manggut-manggut.

__ADS_1


****************


__ADS_2