LEGENDA RAJAWALI API

LEGENDA RAJAWALI API
86. Memburu pendekar tapak Geni sang pembunuh


__ADS_3

Siapa yang kuat menahan air mata, baru satu Minggu menikah harus berpisah.


Lodaya sang harimau besar, menggesek-gesekan kepalanya di perut pangeran Shun Land, dia seakan tahu dirinya akan di tinggalkan oleh sang tuannya.


Pangeran Shun Land memeluk leher Lodaya sang harimau besar dan berujar.


"Kau harus tinggal disini jaga putri May lien dan istriku yang lainnya, aku tidak akan melupakan dirimu dan jasamu"


Pangeran Shun Land masih teringat waktu pertama dia mempelajari ilmu teknik mediasi dan penempaan tulang jasa Lodaya sang harimau besar ini sangat besar.


Lodaya sang harimau besar ini yang membuka jalan dia bisa mempelajari memahami tentang ilmu tenaga dalam ilmu Saiful angin dan ilmu meditasi.


Ditunjukkannya dia, di mana telur raga Rajawali api, dan serpihan jiwa Rajawali api yang tersegel di dalam batu altar kristal.


Itulah awal perjalanan pangeran Shun land sampai sejauh ini.


Jasa Lodaya sang harimau besar pula lah pangeran Shun Land, mengerti anugerah agung tubuh 4 lintang kelima pancer, mempunyai berbagai kelebihan yang luar biasa, dan tanggung jawab besar yang ditanggung di pundaknya.


Lodaya sang harimau besar menggelengkan kepalanya, mengisyaratkan dia ingin ikut.


Pangeran Shun Land tidak berkata apa-apa dia tau keinginan keinginan Lodaya sang harimau besar, karena jiwanya tersambung, dia pun memberi tahu bahwa putri may lien mempunyai hewan peliharaan tanggung sang ular hijau, penguasa danau biru.


"Tidak Lodaya kau harus tetap di sini, menjaga istri-istri ku dan orang-orang yang ku cintai"


Mendengar ini harimau besar itu pergi dengan langkah lesu dan wajah yang menunduk.


 


Di suatu lereng gunung di daratan luas Dwiva, di ujung barat, sebuah pondok sederhana berdiri kokoh terbuat dari kayu jati purba, yang tak rapuh di makan jaman.


Seseorang berpakaian serba putih dengan kepala pun di lilit kain putih, duduk di bale di depan pendopo.


Di depannya tiga murid duduk bersila, yang dua laki-laki dan yang satunya perempuan.


Ki Srengga sengaja mengundang tiga muridnya untuk berkumpul, paling kanan Ki Bajul pakel, di tengah Ki Kusuma dan yang paling kiri ada Nyai Larasati.


Tujuan ki Srengga mengumpulkan tiga muridnya ingin memberitahukan, bahwa manusia pilihan yang memiliki tubuh empat lintang kelima pancer, telah menemukan mustika api merah delima, dengan sendirinya dia pun akan mencari keberadaan mustika air pancawarna, karena kedua mustika itu berpasangan dan saling berhubungan.

__ADS_1


"Aku telah memeriksa tempat di mana keberadaan mustika air pancawarna, di sana ada aura yang sangat lemah tersambung ke penjaga batu tersebut ini membuktikan pasangan batu ini, mustika api merah delima, telah bersemayam di tubuh seseorang....


Aku mempunyai keyakinan bahwa peta yang aku kirim telah sampai ke tangan yang tepat, tapi sayang saudara sepergulungan kalian Nyai sariti tewas di tangan kelompok Niraya sura....


"Getaran-getaran kecil Krakatau terjadi, ini menandakan naga api hitam telah bangun, menurut guruku apabila pertanda naga api hitam telah muncul, maka kita harus bersiap-siap menuju perang besar, iblis yang bersemayam di tubuh manusia telah lahir, siap tak siap kita harus memeranginya dengan cara membantu, bocah pilihan yang telah lahir, ketiga saudara seperguruan ku telah memberiku tanda bahwa iblis itu sudah semakin kuat....


"Untuk sekarang ini kalian harus bersiap-siap, Bajul pakel kau harus menjemput bocah terpilih itu, di pelabuhan Tarumanagara, bocah terpilih itu sudah memulai perjalanan besarnya menumpas musuh utama seluruh manusia, dan kau Kusuma dan Larasati kau pergilah ke tatar Sunda, aku mendengar di daerah selatan telah muncul seorang pendekar muda, dia telah memulai memerangi anak buah Niraya sura, bergabunglah tapi jangan menampakan terlalu menonjol.....


"Aku pun masih menunggu kabar dari Narpatmaja yang ku tugaskan untuk mengawasi di daratan Swarnabumi"


Ki Srengga membagi tugas ketiga muridnya.


 


Di sisi lain nyai Kunti Devanti sedang Memberikan tugas dan wejangan ke seluruh muridnya.


Di pendopo depan kediaman nyai Kunti Devanti, semuanya telah berkumpul.


"sang pangeran Shun Land anak terpilih itu, telah keluar dari kerajaan, maka dari itu aku menugaskan Di Antara kalian masuk ke dalam istana, dan atur dua orang untuk menjaga di pelabuhan, awasi setiap kapal yang datang kita harus mencegah, Niraya Sura dan kaki tangannya masuk lagi di wilayah kerajaan ini....


apa kalian mengerti.....".


 


Di pelabuhan kerajaan Kutai khal, di salah satu kapal baru, yang besar dan gagah.


Empat orang sedang duduk di geladak depan memandang hamparan air laut yang biru.


"Pangeran Makkamaru apakah anak buah kapal ini benar-benar sudah berpengalaman, ini adalah perjalanan penting Raja muda Shun land yang menentukan masa depan negeri ini" pangeran Sanjaya triloka bertanya tentang kru kapal tersebut.


"Tenang Pangeran Sanjaya, saya telah dibayar mahal oleh pihak kerajaan Kutai ini.....


Tidak mungkin saya mengkhianati kepercayaan dari sang ratu dan Mahapatih....


Bagaimana pun pangeran Shun Land adalah harapan kita untuk membangun wilayah yang besar ini menjadi suatu tatanan peradaban yang adil dan beradab, saya percaya dia bisa memimpin negeri ini, dengan adil dan beradab.....


Serta bisa memakmurkan seluruh rakyat di kepulauan Sunda besar, dan kepulauan Sunda kecil ini"

__ADS_1


Jawab pangeran Makkamaru dengan percaya diri, menyakinkan pangeran Sanjaya triloka dan putri Dian Prameswari dwibuana.


"Pangeran bagai mana kalau kita turun dulu sembari menunggu pengeran Shun land datang, kabarnya ada satu kedai makan yang enak dan pelayanan yang sangat bagus, sebagai acara perpisahan kita, kakak Dian harus ikut makan bersama".


Pangeran Sanjaya mengajak pangeran Makkamaru untuk makan bersama sebagai acara perpisahan, dia tidak tahu kapan lagi bisa bertemu.


"Baiklah, kita pun tidak akan tau kapan kita bisa bertemu lagi, walau di hati kecilku ingin berkunjung ke daratan luas Dwipa"


Mereka bertiga pun turun dari kapal dan berjalan menuju kedai bunga mawar merah, yang sebenarnya kedai tersebut adalah milik pangeran Shun Land, yang dikelola Dewi kematian.


Ketiganya sampai di depan kedai makan sekaligus kedai hiburan untuk para pelaut untuk menghilangkan stres.


Berbulan-bulan bahkan ada yang bertahun lamanya berada di tengah laut.


Pelayanan Dasem yang kebetulan bertugas menyambut para tamu bangsawan, menghampiri dan berkata dengan lemah lembut.


"Tuan-tuan dan nyonya silahkan masuk, selamat datang di kedai bunga mawar merah ini, kami siap melayani tuan-tuan dan nyonya" pelayan Dasem memberi sambutan selamat datang.


Mereka pun mendekati pintu masuk, pelayan Dasem memberi pilihan.


"Tuan-tuan dan nyonya apakah akan makan dan minum di sini apa di kelas VIP, kalau di kelas VIP tuan-tuan harus membayar uang masuk satu koin emas untuk satu orang, maaf ini sudah peraturan kedai kami untuk kenyamanan tuan-tuan dan nyonya"


Pangeran Sanjaya merogoh saku kantongnya untuk membayar, tapi tiba-tiba datang seorang berpakaian bangsawan dengan badan sedikit gemuk dan pemuda berpakaian biasa seperti pembantunya, seraya berkata.


"Pelayanan biarkan mereka masuk, biar semuanya aku yang bayar" pemuda berpakaian bangsawan kerajaan, mengeluarkan uang lima koin emas dan dua puluh koin perak, dengan lagak dan gaya sedikit pongah.


Tapi ketika pelayan Dasem melihat ke pemuda yang berpakaian biasa, dia tidak memperdulikan bangsawan gendut itu.


Pelayanan Dasem segera menghampiri dan berlutut dengan gemetar.


"Hamba menghaturkan hormat dan sembah bakti kepada paduka Raja muda, mohon ampunan karena tidak menyambut dengan hormat, hamba akan segera memberitahukan nyonya Dewi ketua kedai bunga mawar merah ini"


Pangeran Makkamaru, pangeran Sanjaya triloka, putri Dian Prameswari dwibuana, setelah melihat dengan teliti, ketiganya langsung berlutut dan memberi hormat dan sembah bakti.


...****************...


like and support serta kritik dan saran, di tunggu di kolom komentar

__ADS_1


🙏🙏🙏🙏🙏🙏


 


__ADS_2