LEGENDA RAJAWALI API

LEGENDA RAJAWALI API
107. Hukuman buat sang pembunuh 2


__ADS_3

"Dan setelah selesai mengadili pendekar tapak Geni, aku segera akan pergi ke daratan luas Dwipa, memburu Maasiak otak dari pembunuhan ini". pangeran Shun Land mengakhiri bicaranya, sambil mengeratkan rahangnya menahan amarahnya bila menyebut nama Maasiak.


"untuk malam ini bagai mana kalau kita semua menemani suami di sini". permaisuri Dewi sumayi membuat usulan.


"terima kasih atas perhatian kalian semua, tapi untuk malam ini aku ingin bermeditasi, apa kalian tidak bosan melihat ku duduk bersila di kamar". Pangeran Shun Land menjawab dan mengungkapkan keinginannya.


"tidak masalah.....!!!


Ketiganya menjawab serentak.


Pangeran Shun Land pergi ke dalam, untuk membersihkan diri, sedangkan ketiga istrinya menunggu di luar, walau pun mereka menawarkan diri untuk melayani sewaktu mandi tapi di tolak oleh pangeran Shun Land.


Kepribadian pangeran Shun Land yang terbiasa sendiri tidak berubah walau pun mempunyai tiga istri yang sangat cantik-cantik.


Di kediaman sang raja muda Shun land, ada salah satu ruangan khusus untuk bermeditasi dengan ukuran yang cukup luas antara dua depa kali dua depa di sisi tempat tidurnya.


Pangeran Shun Land duduk bersila dengan tenang, tangannya di letakan di bawah perutnya dengan telapak tangan yang terbuka dan bertumpuk.


Matanya mulai terpejam, tarikan nafas mulai teratur.


Mata batin pangeran Shun land, terbuka terlihat wilayah kerajaan yang mulai meluas, dalam pemikirannya bertanya mampukah aku memberikan keadilan dan kemakmuran rakyat ku yang banyak ini.


fokus meditasi pangeran Shun Land terganggu akan keadaan wilayah kerajaan yang semakin luas.


Hati paling dalam Pangeran Shun land menerima sebuah bisikan yang tidak di ketahui dari mana datangnya.


"Mengapa hati dan pemikiran mu gelisah, kau telah terlena ambisi mu, untuk memberikan keadilan dan kemakmuran rakyat mu, apa kau sudah merasa besar dan kuat, hingga melupakan siapa yang membuat mu kuat,....


"kau hanya sebutir debu yang ada di dunia ini, kegelisahan mu karena seakan-akan yang membuat keadilan adalah engkau, ingat kau hanya penyambung tangan yang maha kuasa, ketentuan takdir akan rakyat mu tetap dia yang memiliki, kau hanya wajib melaksanakan sekuat yang bisa, aku akan mengajarkan sesuatu padamu.


Dengan berakhirnya suara itu pangeran Shun Land seakan di sedot ke satu lorong tanpa bisa melawan.


Setelah beberapa saat kaki pangeran Shun Land merasa berdiri di atas pasir, perlahan matanya terbuka keadaan tubuhnya nyaris telanjang.

__ADS_1


pangeran Shun Land tidak mengenali tempat itu, dia berada di sebuah pantai yang panjang tidak berujung, di depannya lautan luas dengan air yang biru, menengok kebelakang hutan lebat.


Disana tidak terlihat matahari tapi tidak gelap, hingga sulit menentukan barat dan timur.


pangeran Shun Land ingin berlari mengunakan ilmu saipi angin tapi betapa kagetnya dia, larinya seperti orang biasa, pangeran Shun Land berhenti berlari, dia mencoba mengalirkan tenaga dalamnya ternyata tenaga dalamnya tidak tersisa walau pun hanya satu lingkaran.


setelah berpikir sejenak, pangeran Shun Land mulai sadar bahwa semua ilmu olah kanuragannya telah hilang, sekarang dia hanya orang biasa.


Dia pun duduk untuk bermeditasi tapi dia pun tak bisa melakukannya, tehnik meditasinya hilang.


Akhirnya pangeran Shun Land memutuskan untuk berjalan mencari jalan pulang, dengan harapan akan bertemu seseorang dan menanyakan jalan ke istana kerajaan.


setelah sekian lama berjalan, pangeran Shun Land merasa bahwa dia sepertinya telah berjalan sehari penuh tapi tidak ada tanda-tanda akan datang sore hari.


Dia mendongakkan kepalanya ke atas, mengamati dengan teliti ternyata di sana tidak ada matahari, yang ada hanya langit berwarna biru tua.


Pangeran Shun Land memutuskan untuk berjalan lagi, dia terus berjalan tanpa lelah dan letih ingin kembali ke istana.


Kalau di hitung dengan waktu di dunia nyata pangeran Shun Land telah berjalan lebih dari tiga hari.


Dia pun berhenti duduk dengan kaki di selonjoran, lalu badannya di rebahkan di atas pasir menatap langit yang warnanya sama.


pangeran Shun merasa walaupun sudah sekian lama berjalan tetapi tempat yang sekarang ini berada tetap seperti tempat pertama dia datang.


Perutnya lapar, tenggorokannya haus dia ingin bangkit lagi untuk berjalan tapi badannya tidak mau menuruti perintahnya.


Dia melirik ke arah kanan ada sebuah batu cukup besar untuk bersandar, pangeran Shun Land merangkak mendekati batu itu, setelah sampai dengan susah payah di duduk dan bersandar.


Dia ingin tidur tapi walau pun matanya di pejamkan tetap tidak bisa tidur.


Perlahan air matanya keluar, dia ingin pulang tapi tak bisa pulang, perlahan bayangan orang terdekatnya melintas, ibu Kameng ibunda ratu ayahanda permaisuri May lien, permaisuri Sari Tungga Dewi, permaisuri Dewi sumayi, Boma, lalu bayangan semua pejabat kerajaan, bayangan seluruh rakyat yang di pimpinnya.


Hatinya terasa hancur dia merasa sangat lemah dan mengecewakan mereka, hidupnya harus berakhir tanpa daya dan upaya untuk mencari jalan pulang, dia sangat menyesal semua ilmunya telah hilang.

__ADS_1


Hatinya mulai memanggil orang-orang yang di cintai nya satu persatu.


pangeran Shun Land menangis sesenggukan sampai badannya terguncang, dia menangis bagaikan anak kecil yang mainan kesayangan hilangnya.


Sementara itu ketiga istrinya yang menjaga dengan setia sangat kaget lalu mendekati sang suami, setelah dekat semakin jelas pangeran Shun sedang menangis air matanya mengucur badannya terguncang.


permaisuri May lien mengguncang-guncang tubuh pangeran Shun Land tapi tetap saja tidak tersadar dari meditasinya.


Permaisuri May lien pun sama di sebelah kanan memangil pangeran Shun Land untuk segera sadar, tapi tubuh pangeran Shun Land bagai sepotong kayu yang akarnya menancap ke bumi.


permaisuri Sari Tungga Dewi mencoba mengalirkan tenaga dalamnya untuk menyadarkan pangeran Shun Land.


Baru saja tangannya menempel ke punggung pangeran Shun Land, dia terpental ada tenaga dalam yang keluar dari tubuh pangeran Shun Land dengan kuat.


Dalam tangisan kesedihan pangeran Shun land terucap permintaan tolong kepada sang maha Pencipta,..


"Sang maha agung segala kekuatan ada di tangan mu aku tidak mempunyai apa-apa tolonglah hamba mu tunjukkanlah kekuasan mu".


Hati pangeran Shun Land terus menjerit kepada sang maha Pencipta, di saat harapan mulai menipis, tapi jiwa dan hatinya tumbuh suatu keyakinan bahwa yang maha kuasa akan menolongnya.


Di tepian air laut terdengar suara seorang kakek sedang bertanya jawab dengan seorang bocah berumur sepuluh tahun.


"Kakek apa benar jiwa yang kuat akan cinta kasih bisa tersesat dan tidak tau jalan pulang ?". sang bocah bertanya kepada sang kakek.


Sang kakek tersenyum penuh cinta dan aura yang menyejukkan jiwa, dia segera menjawab.


...****************...


Like dan support serta komentar kalian sangat membantu tulisan ini.


terima kasih sahabat NOVELTOON yang telah mendukung tulisan ini yang jauh dari kata bagus.


Berkah dan sehat selalu Aamiiin buat kalian

__ADS_1


SALAM NUSANTARA


SALAM GARUDA PERKASA


__ADS_2