LEGENDA RAJAWALI API

LEGENDA RAJAWALI API
148. Pedukuhan Caravan.


__ADS_3

Pangeran Shun land membubarkan pertemuan lalu pergi ke tempat peristirahatan yang telah di bangun secara sederhana.


Esok harinya pangeran Shun land menemui Ki Bajul pakel dan Antaka pendekar syair kematian serta Boma di pusat pelatihan prajurit kerajaan.


"Paman Antaka paman Bajul pakel, saya ingin merubah rencana yang tadinya ingin pergi ke perguruan Gelap ngampar di guha pawon bertiga, setelah saya mendengar cerita Boma, saya akan pergi sendiri ke sana sambil mencari dan mengejar Asma Sangkuni yang menurut Boma dia Maasiak...


Paman Bajul pakel segera ke barat selidiki perguruan Badak liar, saya merasa mendapat firasat tidak enak entah perasaan ku sendiri apa karena suatu sebab".


Pangeran Shun land memerintahkan Ki Bajul pakel dan menceritakan kegelisahan hatinya yang tanpa sebab.


Sedangkan pimpinan tertinggi pasukan khusus senyap Antaka di tugaskan membantu panglima Armada laut Naga biru untuk menguasai pelabuhan Cilamaya.


Boma sendiri di tugaskan membantu Putri Dian Prameswari dwibuana mengurus Kerajaan yang baru merintis.


Pangeran Shun land memilih untuk menunggang kuda menuju perguruan Gelap ngampar di guha pawon.


Sang Rajawali Api di tugaskan untuk melihat istana di kerajaan Kutai khal di daratan luas Kalimantan, dia juga di tugaskan melihat kota Santui yang menjadi pusat pemerintahan perwakilan kerajaan Kutai khal.


Dalam perjalanan sampailah di pedukuhan Caravan di sana ada perguruan bernama perguruan singa perbangsa yang di pimpin oleh Aria Wirasaba.


(Carapan kalau sekarang daerah Karawang)


Di sekitar pedukuhan Caravan ada Perkampungan yang berdekatan kampung jambe dan kampung pura.


Seorang murid berlari menuju kediaman guru besar Aria Wirasaba, dia melintas di depan Pangeran Shun Land, dua temannya mengikuti dengan tubuh bersimbah darah.


Dengan cepat pangeran Shun land meraih salah seorang dari mereka yang akan terjatuh.


"Ada apa ki sanak dan siapa yang melakukan pembantai seperti ini" pangeran Shun land bertanya sambil memapah orang tersebut ke pinggir jalan.


"Ki sanak lebih baik menyingkir dari tempat ini, di pedukuhan Jambe ada empat pendekar sedang merampok penduduk dan membantai penduduk dengan keji".


Murid itu menunjuk ke arah barat, setelah sampai di pinggir jalan pangeran Shun land berkata. "Ki Sanak masih bisa menunggang kuda".


Murid itu cuma mengangguk, pangeran mengeluarkan kendi manik astagina dan meminumkannya.


Pangeran Shun land menaikan murid tersebut. "Segera laporkan ke guru Ki sanak kejadian ini". Pangeran Shun land lalu menepuk pinggul kuda, kuda itu berlari dengan cepat.


Pangeran Shun land berlari bagaikan kilat menuju kearah yang di tunjuk oleh murid perguruan singa perbangsa.


Seorang yang berpakaian hitam sedang duduk di depan kedai teh di pinggir jalan tengah pedukuhan. Di sudut kedai seorang laki-laki tua duduk menyandar tak berdaya di sampingnya seorang perempuan setengah baya yang mengendong anak 3 tahun yang sedang menangis.

__ADS_1


Laki-laki itu penuh luka lebam, darah mengucur di sudut bibirnya yang pecah terkena pukulan.


"Kepala kampung katakan di mana kau sembunyikan hartamu". Sambil bicara pendekat itu menendang kursi panjang, ujung kursi itu mengenai dada laki-laki tua.


"Aduuuh... ampun pendekar saya tidak mempunyai harta apapun sawah kami musim ini gagal di serang hama tikus".


Saat itu pangeran Shun land masuk perkampungan itu di lihatnya ada beberapa mayat tergeletak di pinggir jalan di tangisi anak kecil, ada juga yang di tangisi wanita tua.


Banyak rumah yang terbakar dan roboh mayat bergelimpangan di mana mana.


"Nak kau cucu ku satu satunya nenek sudah berkata jangan melawan perampok gila itu tapi kau tetap melawan" wanita itu bicara di sela-sela tangisnya sambil memeluk cucu laki-lakinya usia 14 tahunan.


Pangeran Shun land mendekati wanita tua itu dan berkata sambil menahan sesak di dadanya. "Apa yang ingin ibu lakukan bila pembunuh itu tertangkap"


Sang ibu berkata dengan geram tanpa menoleh, "Aku ingin dia mati lalu di potong jadi empat".


Saat sang ibu menoleh pemuda itu sudah tak berada di sana.


Sementara pangeran Shun land berdiri di halaman rumah salah satu warga melihat, seorang berbaju serba hitam menyeret seorang gadis sambil tertawa.


"Ini yang sangat menyenangkan... Manis jangan meronta aku akan memberimu sebuah kenangan terindah hahahaha".


"Oooh begini kelakuan yang menyebut golongan utusan tuhan membuat onar dan kekejaman di mana-mana, mulai hari ini pesta mu dan golongan mu sudah berakhir".


Semua mata terbelalak entah kapan pemuda gagah dan tampan melakukannya mereka hanya melihat tangan bajingan yang menyebut utusan tuhan telah putus.


Sang Gadis yang lepas dari tangan perampok berlari kearah ibu bapaknya.


"Bang*** apa yang kau lakukan pada tangan ku ini aduuuuh". Perampok memegang tangannya yang terputus.


Dengan cepat pangeran bergerak melempar perampok itu ke tengah jalan.


"Ketuaaa tolong". Perampok itu memberitahu pimpinannya.


Pimpinan perampok yang sedang menyiksa kepala kampung berdiri mendengar teriakkan anak buahnya.


"Dasar pendekar kelas teri mengatasi warga kampung tidak becus" dia menggerutu.


"Mana ketua mu itu panggil yang keras karena hari ini akhir dari kelompok mu".


Pangeran Shun land melampiaskan amarahnya yang tak terbendung. Dengan membiarkan penderitaan perampok sadis itu.

__ADS_1


"Ooooh ada pahlawan kesiangan beraninya pada anak kecil kau tidak tau si brewok dari Rawa marta atau kau sudah bosan hidup".


Pemimpin perampok berjalan dengan pongah mendekati anak buahnya yang kehilangan tangan.


"Ketua tolong aku bunuh pemuda itu yang telah memotong tanganku".


Brewok menendang anak buahnya yang meratap, "dasar tidak berguna".


Pangeran Shun land tidak berkata sepatah pun hanya tatapan tajam bagai tatapan Elang tertuju pada mangsanya.


"Aku harus bertindak cepat sebelum rombongan perguruan datang". Pangeran bergumam dalam hati.


Setelah itu pangeran Shun land bagaikan berpindah tempat menotok pimpinan perampok.


"Cepat keluar kalian berdua aku tidak banyak waktu mengurus kalian".


Satu anggota perampok mendekati sambil membuang golok panjangnya, tetapi yang satu lagi lari ke arah gerbang perkampungan.


Pangeran Shun land menempelkan Sumpit raja neraka ke bibirnya.


Sebuah sinar kekuningan membentuk anak sumpit memburu anggota perampok, Sumpit mengenai badan belakang sampai tembus ke ulu hati.


Perampok itu jatuh tepat di hadapan sang ibu yang sedang menangisi cucunya.


Melihat perampok yang membunuh cucunya sang wanita tua itu bangkit dan mengambil sebuah golok, tanpa ragu-ragu memotong kepala perampok yang sudah tak bernya.


"Ini untuk suamiku".


Dia pun mengangkat golok tersebut ke pangkal paha perampok itu, "ini untuk cucu ku". Wanita tua itu bagai kesetanan memotong-motong tubuh perampok itu.


Setelah puas dengan wanita itu menghampiri pangeran Shun land dan berlutut, "terima kasih pendekar muda".


"Apa yang ibu inginkan dengan kepala perampok katakan jangan ragu". Pangeran Shun land bertanya.


"Dia harus mati dengan perlahan" terdengar suara perempuan paruh baya dari samping dia istri kepala kampung yang di siksa oleh ketua perampok kelompok utusan tuhan.


"Benar dia harus mati dengan perlahan biar merasakan penderitaan kami" wanita tua itu menimpali.


Para warga keluar dari persembunyiannya.


Pangeran Shun land menyabetkan Sumpit raja neraka ke pergelangan tangan pimpinan perampok, darah mengalir dengan pelan.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2