
Anak buah pendekar cebol yang berwajah brewok berperawakan tinggi besar beranjak dari duduknya berjalan mendekati mejanya Shun land dan rekannya.
Tangan Brewok menjulur akan mengambil kantong uang di atas meja sebelum menyentuh kantong uang itu tubuh Brewok kaku tak bergerak.
Melihat anak buahnya mematung pendekar cebol berteriak keras.
"Pemuda tengik kau apakan anak buah ku".
"Aku bilang kau yang mengambilnya kenapa kau suruh anak buah mu salah mu sendiri". Shun land bicara santai sambil mengambil buah anggur dan memakannya.
Para pengunjung kedai di lantai dua semuanya berkeringat dingin ketakutan, mereka takut terkena imbas keributan, tetapi mereka tidak bisa keluar karena posisi pendekar dan anak buahnya dekat dengan anak tangga.
Shun land berdiri dan tiba-tiba berdiri di samping pendekar Cebol.
"Kau menginginkan uang ini" Shun land menyodorkan kantong uang tersebut di depan muka pendekar Cebol.
"Kau harus bekerja kalau menginginkan uang bukan meminta kepada wanita yang lemah ilmu Kanuragan mu lumayan tinggi tapi sayang kau pergunakan untuk menindas yang lemah akan ku musnahkan ilmu Kanuragan mu".
Bersamaan dengan selesainya Shun land bicara tubuh pendekar Cebol ambruk ke lantai, musnah sudah ilmu Kanuragan pendekar Cebol.
Kedua anak buahnya yang masih duduk tidak berani berbuat apa-apa mereka berdua menyadari pendekar di hadapannya bukan lawan mereka.
Shun land menghampiri nyai Iseng, "bangunlah nyai mereka sudah kehilangan taringnya, ambillah ini untuk membayar para pekerja kedai ini mereka mungkin sangat membutuhkan untuk biaya hidup keluarga mereka".
Shun land memberikan dua kantong koin emas kepada nyai Iseng.
"Tuan pendekar ini akan lebih bahaya ketua mereka akan menuntut balas anak buahnya telah di buat menderita". Nyai Iseng berkata terbata-bata.
"Tenang nyai saya akan bertanggung jawab atas perbuatan saya". Shun land menenangkan Nyai Iseng.
Shun land membebaskan totokan Brewok dan berkata penuh penekanan.
"Bawa ketua mu untuk melapor pada tuannya aku menunggu di sini".
__ADS_1
Brewok dan si muka kembar segera memapah pendekar Cebol dengan tergesa-gesa takut sang pendekar sakti berubah pikiran.
Para pengunjung lain segera keluar dari kedai Saloka mereka tidak ingin terbawa urusan yang bisa kehilangan nyawa mereka.
Pelabuhan kalianda sore itu menjadi ramai dengan berita pendekar Cebol yang menjadi momok pemerasan yang tidak perikemanusiaan.
Shun land dan putri Serindang bulan beserta kedua pengawalnya akhirnya menginap di kedai tersebut.
Mereka pun di bawa ke sebuah ruangan pribadi Nyai Iseng berbagai makanan di hidangkan oleh Nyai Iseng sebagai rasa terima kasih.
"Maaf Nona Serindang bulan nona jadi terbawa masalah ini". Shun land berkata apa adanya.
"Tidak apa-apa tuan Satria kami pun akan bertindak hal yang sama bila kekuatan kami seperti tuan pendekar, kami pun sangat membenci orang-orang yang arogan dan menindas rakyat kecil". Putri Serindang bulan menjawab dengan sorot mata penuh kebencian.
"Nyai Iseng bolehkah saya bertanya asal usul Nyai yang sepertinya bukan berasal dari negeri ini". Shun land akhirnya menanyakan hal yang mengganjal di hatinya, dalam pemikiran Shun land mungkin saja Nyai Iseng ini ada berhubungan dengan istrinya.
"Benar yang tuan pendekar katakan saya memang bukan berasal dari daratan Swarnabumi ini saya berasal dari negeri Tirai Bambu". Nyai Iseng menjawab dengan jujur.
"Ceritakan lah bagi mana Nyai Iseng sampai daratan luas Swarnabumi itu pun bila nyai tak keberatan, kalau nyai merasa keberatan nyai boleh tak menceritakan pada kami". Shun land bertambah penasaran dengan Nyai Iseng yang wajah dan perangainya sangat mirip dengan sang istri.
"Suatu ketika kami sekeluarga mendapat tugas untuk berlayar ke negri yang sangat jauh, Suami ku dan sepuluh temannya yang berprofesi sebagai tabib istana di kerajaan kami di tugaskan untuk mencari berbagai bahan obat di negeri Nusa kencana, tetapi di tengah samudra kapal kami di terjang badai besar kapal kami terbelah menjadi beberapa bagian".
Iseng berhenti bicara matanya nanar memandang kedepan butiran air mata menetes bersamaan pelupuk mata yang terpejam.
Shun land jantungnya semakin berdebar mendengar cerita Nyai Iseng pikirannya jadi menjadi menduga-duga jangan-jangan Nyai Iseng ini ibunda sang istri.
Semua mata mengapa Nyai iseng ingin segera mendengar kelanjutan cerita Nyai iseng bisa selamat dari badai di tengah samudra,
Nyai Iseng meneruskan ceritanya setelah menguasai perasaannya.
"Maaf tuan pendekar dan tuan putri saya terbawa perasaan yang memasang sangat pahit di sepanjang hidup saya, ketika itu saya tak sadarkan diri ketika sadar saya berada di sebuah kapal nelayan ikan, saya ingin mencari yang lainnya tapi tubuh saya susah di gerakkan, tidak lama datang seorang nelayan menjelaskan bahwa dia menemukan saya terombang-ambing ombak di sebuah tong air, Akhirnya saya mendarat di pelabuhan Saloka dan memulai usaha makanan sampai sekarang". Nyai Iseng mengakhiri ceritanya.
Shun land menarik nafas panjang apa yang ingin dia ketahui tidak di dapat akhirnya Shun land memberanikan bertanya lebih lanjut.
__ADS_1
"Nyai..!!! apakah Nyai berlayar bersama suami dan anak ???".
"Benar tuan pendekar saya berlayar bersama suami dan seorang anak gadis berusia tujuh tahun, tapi sayang saya tidak mengetahui apakah selamat atau tidak, mungkin bila dia selamat akan sebesar tuan putri". Nyai Iseng menjawab tanpa curiga.
"Nyai apa nama asli nyai, dan suami Nyai dan putri nyai ???". Shun land bertanya lebih teliti bertambah penasaran.
Nyai Iseng tidak langsung menjawab dia menangkap bahwa Shun land sedang menyelidiki dirinya, tatapi nyai Iseng memutuskan untuk berkata jujur karena pertimbangan pendekar di sebelahnya adalah orang baik tidak perlu menutupi siapa dirinya.
"Nama asli saya Lien seng, suami saya Lau Lien dan anak gadis saya bernama May Lien". Shun land bagai di sambar halilintar saking gembiranya, matanya menatap ke arah Nyai Iseng tak berkedip.
"Keluar kau pemuda tengik yang ikut campur urusan orang bila tidak kedai ini akan aku rayakan dengan tanah".
Terdengar suara yang di lambari tenaga dalam menggetarkan kedai Saloka dan sekitarnya.
Para nelayan yang sedang menikmati indah sinar rembulan malam itu menengok asal suara itu, para penduduk pelabuhan menutup rapat pintu mereka tetapi mereka mengintip dari celah-celah pintu.
Mereka semua menyayangkan pendekar muda itu yang harus berakhir di tangan kepala wilayah itu.
Shun land mengenal suara itu, orang yang akan dia bunuh di daratan luas Nusa kencana.
(Nusa kencana adalah nama Kalimantan menurut kitab jaya baya).
"Tapak sakti". Shun land bergumam cukup keras.
"Semuanya jangan keluar sebelum aku memerintahkan keluar". Shun land berpesan sebelum pergi keluar.
Tubuh Shun land melayang dari lantai dua ke pelataran pelabuhan.
"Tapak sakti kita bertemu lagi kali ini aku tidak akan melepaskan mu, bila perlu kau minta bantuan pada Kama Deva tuan mu itu hahahaha".
Suara Shun Land lebih menggelegar dari suara tapak sakti, menciutkan keberanian anak buah pendekar Tapak Sakti yang berbaris di belakang tubuh tapak sakti.
Brewok yang sudah tahu kecepatan Shun Land mundur ke belakang di ikuti si muka kembar.
__ADS_1
---------------*****--------------