LEGENDA RAJAWALI API

LEGENDA RAJAWALI API
294. Jaya Sempurna 27. Memilih kapal


__ADS_3

"Pangeran sebenarnya kemarin ada apa pendekar yang mirip dengan menantu bibi di panggil ke istana ?". Nyai Iseng berbisik ke pangeran Sanjaya triloka.


"Nanti juga bibi tahu sendiri". Pangeran Sanjaya triloka menjawab pelan.


"Kuping ku terasa panas sepertinya ada yang membicarakan tentang ku di belakang". Terdengar suara Shun Land dari arah tangga, Shun Land keluar dari kamarnya sendirian Lasmini tidak ikut karena ingin istirahat seluruh tubuhnya masih terasa kelelahan efek dari penyesuaian kekuatan dari mustika air panca warna.


"Tidak tuan pendekar bibi hanya penasaran kemarin pendekar Jaya di undang ke istana". Nyai Iseng berkata cepat tidak ingin terjadi kesalahpahaman.


"Hahahaha bibi tidak ada yang istimewa saya di undang ke istana hanya di suruh menggantikan menantu bibi menjadi raja selingan yaaah beginilah keberuntungan mempunyai rupa mirip raja besar, tapi bibi tolong jangan bilang siapa-siapa yaaa". Shun Land bicara di akhiri dengan menempelkan telunjuknya ke bibirnya.


"Baik tuan pendekar" nyai Iseng sedikit mempunyai rasa takut karena perangai pendekar yang mirip dengan menantunya sangat arogan dan kasar tutur bahasanya juga kasar.


"Tuan pendekar Jaya Sempurna ini sejumlah koin emas untuk perbaikan kapal, sekarang saya perwakilan Permaisuri untuk mengantar tuan memilih kapal yang tuan sukai di dermaga kerajaan". Pangeran Sanjaya triloka berkata dengan hati-hati takut menyinggung, sambil menuntun kuda yang membawa dua peti koin emas yang luma besar.


"Bibi Iseng bisa kah bibi membantu saya untuk mencarikan peti yang ukurannya kecil untuk mengganti peti ini yang terlalu besar, jadikan satu peti ini menjadi sepuluh peti kecil dan simpan di dalam kamar saya jangan khawatir nanti saya juga akan memberikan upah yang pantas.


"Baik tuan pendekar Jaya itu masalah mudah jangan khawatir uang tuan pendekar sepeserpun tidak akan hilang". Nyai Iseng menyanggupi dan memberikan jaminan uang itu utuh.


"Terima kasih nyai, pangeran dan putri mari kita ke dermaga". Shun Land meloncat ke kudanya yang telah di persiapkan oleh pelayan penginapan.


Tiga kuda berjalan ke dermaga tempat kapal-kapal kerajaan di simpan di paling ujung dermaga berbaris puluhan kapal yang yang sudah tidak terpakai lagi karena berbagai alasan.


Shun Land dan pangeran Sanjaya triloka serta putri Dian Prameswari dwibuana berdiri di tepi dermaga, Shun Land larak-lirik ke kanan-kiri berpura-pura mencari kapal yang cocok.

__ADS_1


"Tuan pendekar Jaya saya menyarankan lebih baik tuan memilih kapal yang masih layak pakai bekas atau kapal yang masih di pakai hingga tuan tidak repot-repot untuk memperbaikinya". Pangeran Sanjaya triloka memberikan saran.


"Terima kasih pangeran, tetapi saya ingin kapal yang tua karena kapal tua memiliki kayu yang lebih bagus kedua saya ingin merombak kapal tersebut menjadi seperti keinginan saya untuk hadiah istri saya yang ingin berkeliling seluruh daratan Sunda Ageng ini" Shun Land me jawab dengan tegas.


"Sepertinya saya menemukan kapal yang menarik dan masih utuh". Shun Land menghentakkan kakinya meluncur ke tiga kapal yang mempunyai bentuk dan hiasan yang sama.


Di antara ketiganya yang di tengah yang lebih besar dan masih utuh, di depan kapal di hiasi kepala Naga berwarna hitam di lambung kapal ada ukiran yang sama sebuah Naga berwarna hitam.


Shun Land mendarat di kapal yang paling besar, "pangeran dan putri ini pilihan saya sepertinya kapal ini sangat kokoh dan paling besar". Shun Land berkata dengan nada sangat senang seperti baru melihat kapal.


Sebenarnya semalam Shun Land keluar untuk memindahkan kontak-kontak koin emas ke kapal yang paling besar, kotak-kotak yang ada di ketiga kapal tersebut di simpan di satu kapal yang sekarang di pilihnya.


"Tuan pendekar Jaya sangat teliti dan pintar memilih kapal, ini kapal yang sangat kuat dulu milik salah satu bawahan Mara Deva bernama Niraya Sura yang kalah bertarung dan terbunuh olah paduka raja Shun Land, tetapi paduka raja Shun Land melarang untuk di gunakan lagi dengan alasan takut mempunyai dampak yang tidak baik pada armada Naga biru milik kerajaan".


Pangeran Sanjaya triloka memberikan pujian dan menerangkan asal usul kapal tersebut, padahal orang yang di kasih tahu orang yang melarang mengunakannya andai pangeran Sanjaya triloka mengetahui pasti malu sendiri.


"Pangeran dan putri bisakah kalian menolong saya mempertemukan dengan pengrajin kapal untuk merombak kapal tersebut”.


"Itu mudah tuan pendekar Jaya, bagai mana kalau kita langsung ke tempatnya dan kita ngobrol sambil minum teh saya ingin menanyakan sesuatu tentang kitab yang tuan berikan". Pangeran Sanjaya langsung menjawab.


"Baik tidak masalah, silahkan pangeran dan putri jalan di depan saya akan mengikuti".


Putri Dian Prameswari dwibuana tidak bicara sepatah kata pun semenjak berada di penginapan tetapi dia selalu memperhatikan setiap inchi kelakuan, ucapan, atau gerak gerik Shun Land secara tersembunyi.

__ADS_1


Shun Land membiarkannya berpura-pura tidak tahu dan bersikap biasa saja.


Mereka bertiga sampai di suatu rumah yang di halamannya terdapat beberapa kapal yang belum jadi ada juga kapal yang baru di daratkan semuanya kapal-besar, puluhan pegawai sibuk ada yang memotong kayu ada yang menghaluskan kayu ada juga yang memeriksa kapal dan mengukurnya, semuanya sibuk di antara mereka ada satu orang yang mengatur beberapa orang dan menjelaskan yang harus dilakukan.


Orang tersebut melihat pangeran Sanjaya triloka dan putri Dian Prameswari dwibuana segera menghampiri tergopoh-gopoh lalu menyapanya.


"Maaf pangeran dan putri saya tidak melihat ada pejabat penting kerajaan datang jadi tidak menyambut kalian dengan layak". Orang tua paruh baya itu berkata sambil membungkukkan badannya tanda hormat.


"Tidak apa-apa paman saya ke sini mengantar paduka raja untuk meminta bantuan paman, nanti paduka sendiri yang akan menjelaskannya". Pangeran Sanjaya triloka mengenal Shun Land sebagai raja Shun Land yang telah kembali.


Pangeran Sanjaya triloka berkata demikian karena di sana banyak para pendatang dari luar kota Sundapura sedang melihat kapalnya yang sedang di perbaiki, ini suatu kesempatan memberitahu bahwa Raja Tarumanegara telah kembali.


Pemilik perbaikan kapal langsung berlutut dan berkata. "Salam hormat dan bakti mohon di terima paduka raja mohon maaf tidak menyambut paduka dengan hormat".


Yang berada di sekitar langsung mendekat dan berlutut memberikan hormat. Bagi mereka ini suatu kesempatan bisa melihat langsung dari dekat raja mereka.


"Hahahaha asiiik juga menjadi raja terima kasih untuk kalian semua silahkan kalian kembali bekerja, pangeran cepat cari tempat untuk kita berbicara". Shun Land berlagak seolah pertama kali di perlakukan demikian.


"Paman bisakah paman menyediakan ruang untuk paduka bicara menjelaskan kepentingannya, yang tidak di ganggu orang lain". Pangeran Sanjaya triloka berkata pada paman pemilik bengkel kapal.


"Ada pangeran silahkan paduka raja dan pangeran serta putri mengikuti saya, saya mempunyai satu tempat istirahat yang enak dan sejuk untuk berbicara menurut saya sangat nyaman".


Mereka bertiga mengikuti paman pemilik bengkel kapal sampailah di ujung bengkel berdiri sebuah rumah bertingkat satu menghadap pantai sangat eksotis terlihat dari bawah.

__ADS_1


Paman pemilik bengkel kapal mengajak mereka bertiga ke lantai atas di sana ada beberapa kursi menghadap pantai dan sebuah meja yang indah berbentuk papan tebal tanpa di hias terlihat seperti kayu yang tergeletak.


Shun Land berdiri di sisi balkon menghadap ke pantai angin pantai menerpa wajahnya, Nafas Shun Land terasa berat terkenang masa-masa indah dengan ketiga permaisurinya.


__ADS_2