LEGENDA RAJAWALI API

LEGENDA RAJAWALI API
160. Perguruan Pagar ruyung di kaki gunung hijau


__ADS_3

Mereka bertujuh meninggalkan kedai makan menuju penyebrangan dengan menuntun kuda mereka masing-masing.


Kuda di pacu tidak begitu kencang setelah matahari mulai gelap mereka sampai di hutan hijau mereka berhenti.


Dewi bulan merah yang mengetahui daerah itu bicara "Di depan di kaki gunung hijau ada Pedukuhan sebaiknya kita memacu kuda kita sedikit cepat".


Dewi bulan merah memacu kudanya dengan sedikit cepat di ikuti Shun land dan yang lainnya.


Di kaki gunung hijau sebuah gerbang perkampungan yang terbuat dari kayu yang di tancapkan pada tanah, sampingnya pagar dari bambu setinggi pinggang menyatu dengan tiang kayu tersebut.


Dewi bulan merah memimpin di depan terlihat rumah penduduk yang tidak begitu banyak hanya sekitar dua puluhan.


Di tengah jejeran rumah yang terbuat dari bambu ada tiga rumah yang sedikit lebih besar dari yang lainnya.


Di antara tiga rumah yang di tengah ada ada pendoponya, rumah tersebut terbuat dari kayu yang Kokok, rumah panggung ciri khas daerah pegunungan Parahiyangan.


Sayang rumah tersebut tidak di urus kebersihannya tapi tidak menghilangkan kekokohan struktur bangunan tersebut.


Dewi bulan merah berhenti di rumah tersebut, dan turun dari kudanya serta mengisyaratkan pada yang lainnya untuk turun dari kuda.


"Sampurasun kang Sobarna, kang Sobarna.... Ini Sri Tanjung". Dewi bulan merah yang mempunyai nama asli Sri Tanjung putri dari Bangsawan Osing Lembu mirunda.


"Rampes.... tunggu sebentar", dari dalam rumah terdengar suara perempuan peruh baya.


Tidak lama keluar seorang wanita seumuran Dewi bulan merah. "Sri tanjung lama tidak bertemu masuuuk". Dengan tergopoh-gopoh Nyai Darsiati menyongsong dan mereka berpelukan erat.


"Siapa yang kau bawa Sri suruh kuda mereka di tambatkan di samping pendopo". Nyai Darsiati memberitahukan.


Murid Ki Wirantaka dan murid Mahisataka mereka berempat menambatkan kuda kuda mereka ke samping pendopo yang di sana ada istal (kandang kuda).


Nyai Darsiati mengajak mereka untuk Dewi bulan merah untuk masuk ke pendopo Shun land, Ayu Sondari dan yang lainnya masuk ke pendopo.


Mereka semua naik ke panggung pendopo yang terbuat dari papan yang kuat.

__ADS_1


"Kang Sobarna ke mana Nyai kok tidak kelihatan sudah sore begini". Dewi bulan merah bertanya pada Nyai Darsiati.


"Si Abah sedang memeriksa balong di Lebak sebentar lagi juga pulang, panjang umur tuh orangnya datang". Nyai Darsiti bicara sambil menunjuk ke depan pendopo.


"Waduuuh ada tamu agung dari timur, Nyai bikin meminum atuh jangan di anggurin". Suami Nyai Darsiati bicara sambil menghaturkan hormat menangkupkan kedua telapak tangan di depan dada.


"Abah jangan dekat-dekat bau sana mandi dulu". Nyai Darsiati mengusir suaminya.


"Saya tinggal dulu neng dan Aden semua". Ki Sobarna pamitan untuk kebelakang.


"Sri mandi dulu sekalian ajak semuanya mandi ke belakang". Nyai Darsiati memberi saran.


Dewi bulan merah dan Ayu Sondari pergi membersihkan diri, di susul Shun land dan yang lainnya.


Waktu itu sinar lembayung telah muncul menandakan sang malam akan mengganti kekuasaan sang Surya.


Pendopo Rumah Ki Sobarna cukup besar di topang empat tiang tengah yang kokoh, separuh ruangan di buat panggung setinggi lutut menyatu dengan panggung rumah.


Mereka semua duduk dengan santai menikmati sinar kemerahan lembayung senja, tidak lama Nyai Darsiati keluar membawa kendi besar dan gelas yang terbuat dari tanah liat yang di bakar dan umbi-umbian.


"Boleh saya membantu nyai" Ayu Sondari menawarkan bantuan.


"Kalau neng tak keberatan silahkan, siapa ini Sri" nyai Darsiati mempersilahkan dan bertanya pada Dewi bulan merah.


"Dia Ayu Sondari anak angkat saya nyai" Dewi bulan merah menjawab.


"Lagian kamu maunya menyendiri terus". Timpal nyai Darsiati sambil melirik ke Guru besar perguruan golok Ciomas Ki Mahisataka.


Mungkin diantara Dewi bulan merah dengan Mahisa taka ada hubungan spesial hingga mereka berdua masih melajang walau pun usia mereka sudah tidak muda lagi.


Dewi bulan merah memalingkan wajahnya mendapatkan sindiran dari Nyai Darsiati sedangkan Mahisa taka tertunduk sepertinya dia menyesali sesuatu perbuatan.


Nyai Darsiati dan Ayu Sondari pergi kebelakang mereka berdua berpapasan di pintu dengan Ki Sobarna yang keluar dengan pakaian rapi.

__ADS_1


"Maaf Sri Tanjung, Aden(sebutan buat yang lebih muda Sunda) dan para sepuh baru bisa menemui". Setelah duduk Ki Sobarna berkata memulai obrolan.


"Tidak apa-apa tuan malah saya yang harus meminta maaf karena menganggu dan merepotkan tuan". Shun land menjawab.


"Kang Sobarna ingat pada waktu pembantaian 30an tahun yang lalu, setelah kejadian itu kita ke tatar ujung kulon meminta bantuan pada sepuh Ki Srengga". Dewi bulan merah menimpali.


"Ya masih ingat atuh, aden jangan panggil tuan panggil saja Abah saja". Ki Sobarna menjawab.


"Dia itu murid terakhir sepuh Ki Srengga namanya Satria Nusa kencana dari daratan luas Kalimantan". Dewi bulan merah menerangkan pada Ki Sobarna.


Sontak saja Ki Sobarna memegang bahu Shun land dan menggelengkan kepala lalu berkata.


"Tidak menyangka Abah di beri kesempatan untuk berjumpa pemuda yang memiliki tubuh spesial, Saya haturkan salam hormat dan sembah bakti pada Aden Satria Nusa kencana mohon maaf Abah ini tak bisa menghormat Aden yang agung ini".


Sambil berkata Ki Sobarna duduk sedeku dan menangkupkan kedua telapak tangan di depan wajah dan menunduk tiga kali.


Dewi bulan merah, Ki Mahisataka dan kedua muridnya merasa heran dengan sikap Ki Sobarna hanya Ki Mahisa taka yang biasa saja seperti sudah mengerti maksud Ki Sobarna.


"Sudah Abah jangan membesar-besarkan saya sama dengan yang lainya cuma di beri kelebihan oleh sang maha Pencipta yang belum tentu bisa menggunakan dengan benar". Shun land menimpali.


"Mahisataka apa kau tidak memberi tahu ke Dewi bulan merah dan ke Wirantaka". Ki Sobarna menatap tajam Mahisataka.


"Tidak aku takut ada yang membocorkan ini kepada aliran hitam kita tahu Wirantaka dari dulu sikapnya tidak pasti". Mahisa Taka berkata sambil melirik ke Wirantaka penuh curiga.


"Kau ini dari muda sampai sekarang masih saja mencurigai ku, sudah ku katakan aku bersikap netral karena di sekelilingku dari golongan hitam semua, baik lah aku akan melakukan ikrar janji dan sumpah darah ke bumi biar kau tidak mencurigai ku selalu".


Tanpa pikir panjang lagi Ki Wirantaka bangkit dan turun dari pang pendopo. Lalu berlutut sambil meneteskan darah ke bumi tiga tetesan, "aku ikrar janji dan sumpah darah ke bumi bahwa aku akan setia pada kebenaran dan golongan putih menegakkan keadilan dan menumpas kejahatan".


Setelah itu Ki Wirantaka berjalan dan duduk lagi ke tempatnya.


"Dari dulu kau lakukan ini aku tak mencurigai mu dan percaya padamu" Ki Mahisa Taka berkata.


Shun land diam saja dia tidak ingin ikut campur persoalan para pendekar sepuh.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2