
Semua anak buah Sarpa di layani dengan baik. Bila kedai tidak tutup tamu yang datang tidak akan mendapatkan pelayanan yang baik, itu bisa membuat nama kedai mawar merah menjadi buruk.
Sarpa memacu kudanya menuju istana kerajaan Kutai khal di antar Dewi lerna, tidak ada halangan dalam perjalan.
Sesampainya di gerbang kota mereka turun dari kudanya masing-masing, para penjaga gerbang meminta tanda pengenal, Dewi lerna yang telah di beri tanda pengenal khusus dari pengeran Shun land menunjukkan tanda pengenal tersebut.
Kedua penjaga gerbang yang memeriksa segera meminta maaf, mereka hapal tanda pengenal khusus yang di berikan Raja mempunyai otoritas yang tinggi di kerajaan.
Mereka berdua memasuki kota Nusa kencana Dewi lerna tidak lama memasuki pasar pusat di ibu kota, Dewi lerna tidak mampir di kedai yang di kelolanya, tetapi langsung menuju istana kerajaan.
Tidak butuh waktu lama mereka sampai ke gerbang istana kerajaan, para prajurit yang sudah mengenal Dewi lerna membukakan gerbang istana luar, mereka mempersilahkan masuk sambil membungkuk hormat.
Di depan pintu istana Sunda ageng dua penjaga menghampiri yang satu membawa kuda Dewi lerna dan kuda Ketua bajak laut Karimun Sarpa, yang satu lagi mengantar mereka memasuki istana kerajaan.
Sesampainya di dalam istana permaisuri Sari Tungga Dewi di dampingi pangeran panglima perang Sanjaya triloka mengantikan pangeran Khal Shugal yang sedang bertugas di luar ibu kota. Ada juga pangeran Nanjan adik ipar pangeran Sanjaya triloka.
Kedua berlutut di hadapan permaisuri Sari Tungga Dewi yang menjadi pimpinan pemerintahan menggantikan sang Raja Shun land suami tercintanya.
"Salam hormat dan sembah bakti kepada permaisuri dan panglima beserta pejabat tinggi kerajaan lainnya". Dewi Lerna menghaturkan salam hormat.
"Bangunlah dan duduklah kalian berdua, ada apa bibi lerna menghadap sambil apa ada hal penting yang di perlu bibi sampaikan" permaisuri Sari Tungga Dewi meneliksik.
"Betul sekali permaisuri saja kesini mendapatkan titah paduka raja untuk Mengantarkan saudara Sarpa untuk menghapal paduka". Dewi Lerna mengutarakan maksudnya.
"Tuan Sarpa silahkan tuan bicara tentang keperluan tuan menemui saya". Permaisuri Sari Tungga Dewi tidak banyak bicara.
Sebelum bicara Sarpa ketua bajak laut Karimun menarik nafas dalam-dalam.
"Begini paduka...... , Sarpa lalu menceritakan semua yang di katakan Pangeran Shun Land kepadanya tanpa di kurangi atau pun di lebihkan.
Begitulah paduka maksud saya". Sarpa mengakhiri bicaranya sambil memberikan kain pemberian pangeran Shun land kepada permaisuri Sari Tungga Dewi.
__ADS_1
Kain itu di buka permaisuri Sari Tungga Dewi mengenal betul simbol tersebut dan hapal tulisan Satria Nusa kencana, itu memang tulisan suaminya.
Dua pelayan datang membawa minuman dan makanan, keduanya di persilahkan menikmati hidang istana.
"Paman Sarpa sebaiknya paman beristirahat dulu besok kita adakan pembicaraan ini, bibi lerna jangan pulang dulu saya butuh pendapat dan pemikiran bibi lerna". Permaisuri Sari Tungga Dewi memberi kepuasan.
Permaisuri Sari Tungga Dewi tidak langsung membahas hal-hal yang besar dengan sembrono.
Ketua bajak laut Karimun Sarpa di antara pelayan dan dua prajurit menuju ruang tamu kerajaan yang dulunya di gunakan tabib istana Lau lien dan permaisuri May lien.
Sedangkan Dewi lerna menolak tinggal di istana dia memilih tinggal di markas Bhayangkara-1 yang di pimpinnya.
Markas Bhayangkara-1 pasukan khusus senyap memang tidak jauh dari istana kerajaan.
Dewi Lerna berpamitan besok pagi dia akan datang lagi ikut memusyawarahkan pelaksanaan titah Raja muda Shun Land.
Sedangkan Ratu SHI khal dan maha Patih Jhasun sudah mengundurkan diri tidak ikut campur Masalah politik kerajaan dan segala urusan kenegaraan.
"Bagai mana pendapat kakang Sanjaya triloka dengan tinta paduka raja". Permaisuri Sari Tungga Dewi meminta pendapat
Pangeran Sanjaya triloka langsung menjawab, "kakak Sari paduka raja ingin mengarahkan paman Sarpa menjadi orang baik, paduka raja juga tidak ingin kelompok bajak laut Karimun yang sudah besar ini hancur menjadi kepingan bajak laut kecil-kecil". Pangeran Sanjaya triloka berhenti bicara dia minum menghilangkan keringnya tenggorokannya.
"Paduka ingin para bajak laut ini menjadi bagian pasukan lautnya. Cuma kita mempunyai problem dari mana kita mendapatkan kapal kapal besar untuk armada laut ini". Pangeran Sanjaya triloka menambah pedapatnya.
"Masalah ini kita bisa minta paman Labusa dari Bangsawan Bugis untuk membuatkan armada yang kuat". Permaisuri Sari Tungga Dewi bicara membuat solusi.
"Adik Sari kita sudah memesan kapal yang kuat dan kokoh untuk armada laut Kita yang sudah jadi satu di bawa berlayar paduka raja, sedangkan yang empat lagi hanya Beru setengah jadi sekitar 4 sampai 5 bulan lagi sampai bisa berlayar". Pangeran Sanjaya triloka mengulas Masalah pesanan kapal.
Akhirnya pembicaraan mereka tidak mempunyai hasil apapun untuk rencana pembahasan besok.
Pagi itu matahari bersinar tertutup sedikit mendung di musim penghujan. Burung indah bersuara merdu saling bersahutan mereka tidak perduli apapun yang terjadi di bumi ini.
__ADS_1
Di istana kerajaan telah hadir permaisuri Sari Tungga Dewi di dampingi permaisuri Dewi sumayi dan Dewi lerna, pangeran Sanjaya triloka beserta istri putri Sanja ada juga pangeran Nanjan, pangeran imogi adik pangeran Makkamaru yang sengaja di panggil untuk mengikuti musyawarah tentang membangun armada laut kerajaan Kutai khal.
Sarpa yang di tunjuk oleh pangeran Shun land menjadi panglima perang angkatan laut telah hadir begitu juga dengan Dewi lerna telah duduk di kursi yang telah di sediakan.
Permaisuri Sari Tungga Dewi membuka rapat. "Sebelum kita mengemukakan pendapat lebih baik kita mendengar dulu paman Sarpa yang lebih berpengalaman berperang di tengah samudera Sunda besar, paman silahkan kemukakan pendapat paman, dan usulan-usulan paman, sebagai orang yang di tunjuk paduka untuk memimpin armada perang kita".
"Terima kasih paduka permaisuri dan para pejabat tinggi lainnya, sebelum saya mengatakan apa saya rencanakan dan yang saya butuhkan, saya ingin bertanya apa saya bebas bicara dengan cara saya seorang pelaut yang tidak sebaik tuan-tuan semua". Ketua bajak laut Karimun Sarpa memulai bicara dengan pertanyaan.
Permaisuri Sari Tungga Dewi segera menjawab dengan tegas, "silahkan paman".
"Seluruh anak buah saya keseluruhan sekitar 300 orang semuanya ahli berperan di lautan, sedangkan anak buah utama ada 130 orang. Armada kapal saya ada 23 kapal besar dan 50 lebih perahu besar dan kecil...
Anak buah saya menyebar dari selat Makassar sampai perairan barat Malaka hanya perairan selat Krakatau yang tidak kami kuasai, ke timur sampai perairan Bali dam Madura.....
(Perairan Krakatau maksudnya selat Sunda, author beri nama perairan Krakatau biar tidak tumpang tindih dengan penyebutan laut Jawa yang author ganti samudra Sunda besar).
Kemungkinan besok para pengikut saya mungkin akan segera berdatangan, saya mohon panglima perang bisa mengamankan. Bagai mana pun mereka di kenal dengan bajak laut saya takut banyak yang salah sangka mereka datang akan menyerang pelabuhan.....
Setelah sampai armada saya di pelabuhan, seperti titah paduka raja untuk membuat simbol Rajawali di depan kapal dan ukiran naga berwarna biru di sisi kiri dan kanan secara cepat, karena kami di titahkan segera menyusul beliau ke pelabuhan Tarumanagara di dataran luas Dwipa....
Saya hanya butuh lima kapal dan membawa 200 orang anak buah utama saya yang ilmu olah Kanuragannya cukup tinggi...
Permaisuri juga harus membawa beberapa kereta untuk mengangkut harta benda hasil merompak kami ada tiga kapal penuh dengan emas permata dan sebagainya....
Untuk di simpan menurut titah paduka raja harta tersebut tidak boleh ada yang berani menyentuhnya atau menggunakannya sebelum beliau kembali...
Yang terakhir buatkan kami seragam prajurit dan tameng, hanya itu yang ingin saya sampaikan selebihnya percayakan pada kami".
Kepala bajak laut Karimun Sarpa mengakhiri bicaranya.
...****************...
__ADS_1