
Seluruh penduduk yang sudah pasrah bahwa pendekar penolongnya harus di tikam dari belakang, melongo karena sesat kemudian melihat bukannya pendekar penolongnya yang terjatuh tapi tubuh Dukun Cidra yang mematung tak bisa bergerak.
"Aku sebenarnya sudah lama mencari mu, Dewi kematian Dewi lerna telah melacak mu, tapi kau sungguh pandai Mein petak umpet, hingga sulit di temukan, kau adalah orang yang memberikan racun Gangsa pada pengeran Khal Shugal untuk membunuh putra mahkota kerajaan yang sah". Pangeran bicara sambil berjalan mengelilingi Dukun Cidra.
Dukun Cidra yang bernama asli pendekar racun kematian bawahan tiga Dewi kematian.
Kaki tangan Niraya Sura yang telah meninggalkan daratan kecil Kalimantan yang berada di selat Makassar.
Semua penduduk pedukuhan tidak menyangka dukun Cidra yang datang dua tahun yang lalu adalah salah satu buronan besar kerajaan.
Setelah pangeran Khal Shugal gagal membunuh putra mahkota pangeran Shun land, dukun Cidra alias pendekar racun kematian. Langsung bersembunyi dan mengganti namanya dengan Dukun Cidra menghindari kejaran telik sandi kerajaan.
(Telik sandi itu kalau jaman sekarang seperti CIA USA, atau badan intelijen negara, kira-kira begitu).
"Bagai mana saudara-saudara semua kalau dukun penghianat kerajaan dan penghianat kalian semua ini kita adili di sini tidak harus di istana kerajaan, aku Satria Nusa kencana sebagai wakil raja Shun land, apa kalian semua setuju".
Para penduduk pedukuhan Tanjung berseru penuh semangat dan merasa gembira bahwa raja mereka sangat peduli kerakyatannya mau mengutus seorang pendekar untuk mengakhiri penderita mereka.
Para korban keganasan perbuatan dukun Cidra, setelah tahu dukun tersebut telah di lumpuhkan pendekar Satria Nusa kencana mereka berduyun-duyun beserta keluarga mereka mendatangi kediaman dukun Cidra.
Mereka berseru dengan keras.
"hukum matiiii...hukum matiii...hukum matiiii...."
Pangeran Shun land mengangkat tangan mengisyaratkan para penduduk untuk tenang lalu bicara dengan tegas.
"Bagai mana kalau biang kejahatan dan Angkara murkaan ini kita hukum dengan racunnya sendiri agar merasakan bagai mana yang kalian rasakan, kalian setuju?".
Mereka serentak menjawab dengan keras.
"Setujuuuu......."
__ADS_1
"Pendekar Moni ambil racun Gangsa milik dukun ini dan masukan kedalam tubuhnya dengan dosis dua kali lipat yang di berikan kepada penduduk pedukuhan Tanjung ini".
Pangeran Shun land memerintahkan pendekar Moni bekas asisten Dukun Cidra pendekar racun kematian.
Pendekar Moni segera mendekati dukun Cidra pendekar racun kematian, lalu merogoh ke balik baju dukun Cidra, satu botol sebesar jempol kaki di keluarkan dari balik baju dukun Cidra.
Lalu membuka tutup botol tersebut, tanpa ragu-ragu Moni membuka mulut dukun Cidra dan menuangkan isi botol tersebut.
Mata dukun Cidra melotot memandang pendekar Moni penuh kebencian.
Setelah menuangkan isi botol tersebut pendekar Moni mengambil air dan meminumkan pada dukun Cidra, agar bubuk racun tersebut masuk semuanya ke perut dukun Cidra.
Setelah beberapa saat kemudian pangeran Shun land melepaskan totokan dukun Cidra, di beberapa bagian tubuhnya, tapi di bagian tangan pangeran Shun land membutnya lebih parah.
Semua penduduk pedukuhan Tanjung mengumpat dukun Cidra tersebut. Dengan berbagai ucapan sumpah serapah.
Keputusan pangeran Shun land langsung memberi hukuman karena kejahatan dukun Cidra telah melampaui perikemanusiaan.
Untuk hal ini pangeran Shun land tidak akan memberikan toleransi sedikit pun.
Wajah dukun Cidra merah membara keringat dingin bercucuran tubuhnya kejang-kejang, tidak lama setelah itu dukun Cidra terjatuh dengan bola mata keatas.
Tapi sayang penderita dukun cabul belum berakhir karena racun Gangsa tidak langsung membunuh korbannya, tapi racun ini membunuh perlahan-lahan.
Tubuh dukun Cidra di biarkan di pendopo kediaman nya sendiri agar setiap orang bisa melihatnya, agar menjadi suatu bahan pelajaran bagi warga pedukuhan Tanjung.
Pendekar Darja menghadap ke pangeran Shun land, dia segera berlutut dan menghaturkan salam hormat kepada utusan kerajaan Satria Nusa kencana.
Pendekar Moni pun mengikuti tindakan pendekar Darja, dia langsung berlutut di hadapan pangeran Shun land, pertimbangan pendekar Moni adalah, pendekar Darja yang lebih Ilmunya lebih tinggi tunduk apalagi dia.
Pak Kasjan kepala pedukuhan Tanjung datang membawa dua pendekar yang tadi malam hendak meracuni keluarganya sekeluarga.
__ADS_1
Tadi setelah hukuman kepada dukun Cidra di lakukan pangeran Shun land memerintahkan pak Kasjan untuk menggiring pendekar suruhan dukun Cidra.
Dukun Cidra yang masih sadar melihat kedua anak buahnya yang tertangkap dia sangat mengutuk mereka.
Semua pengikut dukun Cidra di kumpulkan di ruang pendopo menunggu keputusan pangeran Shun land.
Sawut dan Kisut duduk menghadap pangeran Shun land berlutut bersama pendekar Darja.
"Darja dan kau, kau, aku memiliki dua pilihan untuk kalian, pilihan pertama kau bergabung ke kerajaan dan bersumpah darah ke Bumi, kedua kau menghadapi pengadilan kerajaan di istana kerajaan". Pangeran Shun land ingin memanfaatkan ketiganya untuk keperluan kerajaan sangat di sayangkan ilmu Kanuragan mereka bila tidak di gunakan pada hal-hal yang baik.
Darja menjawab untuk dirinya dan mewakili dua temannya.
"Tuan pendekar Satria Nusa kencana kami memilih bergabung dengan kerajaan, kami akan melakukan sumpah darah ke bumi". Tanpa pikir panjang lagi ketiganya melakukan ikrar janji dan sumpah darah di depan Pangeran Shun Land dan seluruh penduduk pedukuhan Tanjung.
"Kalian setelah masalah selesai pergilah ke kedai bunga melati temui Dewi kematian Dewi lerna katakan kalian utusan Satria Nusa kencana, dan berikan ini padanya". Pangeran Shun land menggambar kepala Rajawali dan simbul api dengan kekuatan apinya di secarik kain, lalu memberikannya kepada pendekar Darja.
Pendekar Darja dan kedua temannya mundur. Pendekar Moni masih berlutut. "Bagai mana dengan mu pendekar Moni?".
Pendekar Moni mengikuti jejak pendekar Darja dan temannya.
Giliran para pelayan wanita tanda kutip, mereka pun memilih jejak pendekar Darja dan pendekar Moni.
Pangeran Shun land mengumumkan bahwa rumah dukun Cidra dan seluruh kekayaannya di sita oleh kerajaan, Darja yang tahu ruang rahasia menunjukkan pada pangeran Shun land.
Di sana terdapat 30 peti koin emas, setelah di periksa dengan teliti ternya itu adalah harta peninggalan Niraya Sura yang di tinggalkan begitu saja.
Setelah di keluarkan pangeran Shun Land memberikan dua peti keping emas untuk di bagikan kepada 21 orang yang jadi korban racun Gangsa milik dukun Cidra.
2 kotak di berikan kepada pak Kasjan sebagai ganti kerugian harta yang habis untuk membatu penduduk pedukuhan tersebut.
Dan empat lagi di berikan kepada pak Kasjan kepala pedukuhan Tanjung untuk keperluan pedukuhan Tanjung kediaman dukun Cidra, di resmikan sebagai tempat pusat kegiatan pedukuhan Tanjung.
__ADS_1
...****************...