
"Sudah Kama Deva tapi sayang guru besar Ki Mahisa taka tidak ada di tempat kami memusnahkan seluruh perguruan itu tanpa sisa". Jawab Ki Tapak sakti.
"Bagus Ki Tapak sakti, selanjutnya kau pelajari perguruan gajah Mungkur di kaki Pulo sari musnahkan perguruan itu, setelah itu kita bertemu lagi di sini setengah peredaran bulan(15hari). Aku akan menemui junjungan agung Mara Deva dan Deva Putta di istana lembah hitam."
Setelah bicara Kama Deva segera pergi ke pelabuhan Labuan di ikuti tangan kanannya Kayan.
---------------*****------------
Shun land duduk di punggung sang Rajawali Api di ikuti oleh sang Naga bumi Sabui terbang menuju Air terjun tujuh Dewi-Dewi, yang berada bagian timur dataran luas Dwipa.
Tidak butuh waktu lama mereka sampai pada air terjun yang sangat dingin, sang Rajawali Api masuk ke balik air terjun bersama dengan Naga bumi Sabui.
Mata Shun land memandang goresan goresan pedang pada dinding batu dia sangat takjub dengan kekuatan pembuat peta tersebut, batu yang sangat keras bisa di ukir sedemikian rupa membentuk sebuah peta.
Mata Shun land tertuju pada dua titik berdekatan di sebuah gambar persegi panjang.
Dia pun mundur ingin melihat keseluruhan peta yang tertulis di dinding tersebut.
"Aku mengerti ini adalah gambar dataran luas Sunda ageng, dan dua titik ini berada di dataran luas Dwipa". Shun land bergumam.
Lalu dia mendekati satu titik lagi di bawahnya yang berada di gambar dataran luas Kalimantan.
Shun land lalu berkata pada Naga bumi Sabui, "Naga bumi Sabui semburkan air pada titik ini".
Naga bumi Sabui menurut tanpa banyak bertanya, Shun land mengosok-gosok gambar titik tersebut dengan tangannya dan menyuruh Naga bumi Sabui menyemburkan air lagi.
Ternyata gambar titik tersebut di hiasi garis-garis kecil halus mengelilingi titik tersebut.
"Ini gambar matahari." gumam Shun land
Shun land lalu menyuruh Naga bumi Sabui untuk menyemburkan air ke kedua titik yang di atasnya lalu di gosok gosok pakai tangan stelah itu Naga bumi Sabui menyemburkan air lagi ke kedua titik tersebut.
Mata Shun land menatap titik tersebut ternyata bukan sebuah titik tetapi gambar bulan sabit yang kecil.
__ADS_1
Shun land lalu berkata pada naga bumi Sabui.
"Naga bumi Sabui coba kau dekatkan kepalamu pada ku," Naga bumi Sabui menyodorkan kepalanya sambil sedikit menunduk.
Shun land melihat kepala Naga bumi Sabui. "di kepala mu juga ada simbol bulan sabit."
"Jelas saja dia kan keturunan Dewi bulan yang dingin dan sejuk karena memiliki kekuatan air, tapi aku heran kenapa dia tidak cerdas seperti Leluhurnya." Sang Rajawali Api berkata sambil memalingkan kepalanya ke samping.
"Aku mengerti gambar ini tertuju padamu naga bumi Sabui dan gambar matahari ini tertuju pada Rajawali api, tugas utama Naga bumi Sabui menjaga batu mustika air panca warna di sumur Kahuripan jiwa di rawa Batu jaya, tugas sang Rajawali api menjaga batu mustika api merah delima."
Shun land bicara sendiri lalu diam sambil menatap gambar tersebut.
"Ini gua di bawah gunung di sumur lahar, dan ini Sumur Kahuripan jiwa, tapi ini di mana," Shun land berpikir keras.
"Rajawali kau bilang pedang Naga bergola di simpan di bawah reruntuhan istana dan apa lagi yang kau ingat." Shun land bertanya pada sang Rajawali Api.
"Yang aku ingat tentang pedang naga bergola di simpan di celah gua di bawah reruntuhan istana oleh Hyang Triloka, selain itu hyang Triloka berkata pada ku 'terbanglah lurus' hanya itu yang aku ingat," jawab sang Rajawali Api tidak berani bercanda.
Shun land memandang gambar tersebut lalu mengangguk-anggukan kepala tanda mengerti lalu berkata dengan tegas.
Tanpa banyak bertanya sang Rajawali Api terbang di ikuti sang Naga bumi Sabui menuju ke sumur Kahuripan jiwa di Rawa Batu jaya dekat pelabuhan Tarumanagara.
Hanya butuh waktu satu setengah waktu menanak nasi sang Rajawali Api dan Naga bumi Sabui sampai ke sumur Kahuripan jiwa di rawa Batu jaya.
Setelah di atas sumur Kahuripan jiwa di rawa Batujaya Shun land menyuruh sang Rajawali Api.
"Rajawali jangan turun kita terbang rendah lurus ke selatan jangan cepat-cepat."
Sang Rajawali Api menuruti apa yang di inginkan tuannya, sampailah di atas punden berundak di gunung Padang.
Serta Merta Shun land berkata dengan gembira. "Kita telah menemukannya kita turun ke bawah di bagian selatan yang ada pertigaan sungai."
Sang Rajawali Api meluncur cepat ke selatan lalu berbalik ke Utara dan meluncur ke bawah hinggap di tepian tebing tepat di pertigaan sungai.
__ADS_1
Shun land berjalan mendekati tebing itu lalu menyibakkan rumput menjalar setelah tidak ada rumput terlihat ada celah kecil tapi cukup untuk masuk dengan jalan memiringkan badan.
Shun land tanpa pikir panjang lagi masuk ke celah tebing tersebut setelah lima langkah masuk celah itu semakin besar dan tinggi.
Lebih ke dalam lebih lebar celah itu seperti gua sekitar satu depa lebarnya dan tinggi dua depa, langit-langit gua di topang pilar batu membentuk segitiga.
Setelah melangkah sekitar lima belas langkah mata Shun land terbelalak sebuah gagang pedang berwarna putih seperti gading tapi ini lebih putih berbentuk kepala naga dengan mata terbuat dari dua batu intan yang satu berwarna merah dan satunya lagi berwarna biru.
Di bawah gagang pedang ada dua baris ukiran aksara yang berbunyi.
"Setinggi-tingginya langit masih ada langit di atasnya."
Di baris yang kedua berbunyi.
"Bersikaplah seperti padi semakin berisi semakin menunduk."
Shun land memandang tulisan itu sambil memahami makna yang terkandung dalam kalimat tersebut.
Di bawah gagang pedang tersebut ada batu besar setinggi lutut atasnya rata cukup lebar untuk duduk bersila, gagang pedang tersebut pas di hadapannya.
Dengan gemetar Shun land mendekati gagang pedang tersebut ternyata pedang tersebut bukan menancap tetapi di himpit dua buah batu besar setengah badan pedang.
Shun land memegang bagian warangka atas lalu mencoba menarik pedang tersebut tapi sayang pedang tersebut sangat kuat menancap di sela-sela dua batu tersebut.
Shun land tidak patah semangat dia mengeluarkan sedikit tenaga dalamnya lalu mencoba menarik lagi pedang tersebut, tapi tetap saja pedang tersebut tidak bergerak sedikit pun.
Shun land mengeluarkan seluruh tenaga dalam menarik lagi pedang tersebut tapi lagi-lagi tidak ada hasil.
Shun land berdiri tegak dia mencoba mengeluarkan kekuatan api abadinya di gabungkan dengan seluruh tenaga dalamnya.
Dengan hati-hati memegang seperti yang pertama lalu mencabut sekuat tenaga tetapi tetap tidak ada hasil.
Shun land tidak menyerah mencoba sampai habis separuh tenaga dalamnya.
__ADS_1
Akhirnya Shun land berhenti mencoba menarik pedang tersebut dengan nafas memburu lalu duduk di tepi batu besar yang berada di depan pedang tersebut.
------------------*****-------------------