LEGENDA RAJAWALI API

LEGENDA RAJAWALI API
136. pelabuhan Cilamaya


__ADS_3

Setelah bicara hal-hal yang penting lainnya Ki Bajul pakel pamitan dia kembali ke kamarnya.


Malam berlalu dengan cepat pangeran Shun land belum keluar dari kamarnya dia bermeditasi untuk meningkatkan tenaga dalamnya.


Di sebuah pelabuhan sebelah timur pelabuhan Tarumanagara, tepatnya di muara sungai Cilamaya, sungai purba itu meliuk-liuk bagaikan ular raksasa bila di lihat dari atas.


(Konon menurut salah satu budayawan Betawi, di muara sungai Cilamaya ini asal dari suku Betawi, tidak jauh dari sini masih ada beberapa desa yang mengunakan dialek Betawi sampai sekarang).


Satu bangunan megah terbuat dari kayu jati purba berdiri megah, bangunan itu pusat kontrol pelabuhan sebagai keamanan atau pun penitipan barang dagangan dari para niaga lintas samudera.


Di samping bangunan itu ada sebuah bangunan penginapan berlantai dua dan berlantai tiga.


Di ujung Jalan pelabuhan ada sebuah Rumah besar di antara rumah rumah penduduk pelabuhan, rumah itu sedikit menonjol karena bangunan itu atapnya seperti perahu dan runcing di kedua sisinya.


Di ruangan utama ada beberapa orang yang sedang membicarakan sesuatu yang penting dan sangat rahasia.


Satu orang keturunan daratan luas Swarna bumi, sedang memberikan laporan bisnis dan keadaan pelabuhan.


"Tuan Niraya Sura bisnis kita di sini sudah berkembang pesat, pelabuhan yang kita kuasai dan kita bangun sekarang sudah banyak para pedagang dan nelayan yang melelang ikan di sini. Kerugian kita di daratan luas Kalimantan sudah tertutupi, kita pun telah merekrut banyak pengikut, markas besar yang kita bangun di bukit Guha Pawon yang di kepalai Anak saya Maasiak semakin berkembang. Markas itu saya samarkan menjadi padepokan bernama gelap ngampar, Maasiak telah berhasil merayu tokoh persilatan di sana bergabung dengan kita".


Juragan pasar tuan Upiak arai berhenti sebentar Lalu meneruskan bicara.


Ki saron telah terperdaya oleh gelimang koin koin emas yang kita berikan, tapi ada satu berita yang penting yang harus saya sampaikan tuan Niraya Sura".


Niraya Sura segera berkata.


"Cepat kau katakan berita apa Upiak".


"Tuan sekarang ini samudera Sunda besar semakin aman, para bajak laut Karimun yang kita gunakan untuk menguasai perairan samudera Sunda besar hilang bagai di telan samudera, hanya beberapa bajak laut Karimun beroperasi itu juga bukan bajak laut utama, itu yang saya ketahui". Tuan Upiak arai mengakhiri bicaranya.


"Itu bukan masalah penting, yang terpenting adalah berita pangeran Shun land yang telah memperluas wilayah kerajaan Kutai khal sampai di daratan luas Kalimantan, sekarang separuh daratan Kalimantan sudah bergabung dengan kerajaan Kutai khal yang di pimpinnya, sebarkan orang-orang kita, susun kembali jaringan informan kita, kita telah kehilangan informan yang paling penting, kelompok Dewi kematian yang telah berbalik ke pihak musuh".

__ADS_1


Tuan Upiak arai manggut-manggut tanda mengerti.


"Tuan Niraya Sura apa kemunculan pendekar Legenda Rajawali Api ada hubungannya dengan Raja muda itu". Tuan Upiak arai bertanya.


"Itu yang ingin aku selidik, kakang Kama Deva yang pergi ke sana juga belum memberikan keterangan, yang jelas kita harus hati-hati menghadapi Satria Nusa kencana yang bergelar pendekar Legenda Rajawali api karna dia berpihak pada musuh kita". Jawab Niraya Sura


"Tuan Niraya Sura saya akan mengutus beberapa orang untuk meminta laporan kepada Dewi Kamalia pemilik rumah makan kembang Tanjung di pelabuhan Tarumanagara semoga saja dia belum mengikuti kakaknya Dewi lerna yang belot ke pangeran Shun land".


Niraya Sura setelah kehilangan banyak pengikutnya dia tidak banyak bergerak dia kembali ke daratan luas Dwiva mengontrol semua bisnis dan wilayah kekuasaannya.


Telah banyak jawara pesilat yang tergiur harta berlimpah menjadi antek-antek Niraya Sura, mereka di beri wewenang penuh di daerahnya berbuat sekehendak hatinya.


Seminggu telah berlalu pangeran Shun land belum keluar dari kamarnya masih bermeditasi.


Di lautan empat kapal besar mulai memasuki pelabuhan Tarumanagara kapal tersebut berbendera putih di tengahnya bergambar burung Rajawali bersayap api.


Di bagian depan kepala burung Rajawali dengan sayap yang mengembang, di lambung kapal kiri dan kanan terukir naga biru.


Empat orang keluar meloncat pinggir dermaga, pakaian mereka seragam tentara.


Satu orang yang berpakaian paling megah dengan ikat kepala hitam terselip tiga bulu burung berwarna merah di depan.


Dia melompat ke kapal bajak laut Karimun hitam, dengan ringan menandakan besarnya tenaga dalam yang dia miliki, setelah kakinya mendatar, Dia berteriak.


"Tarpa keluar..... Kau tidak menyambut kakak mu ini".


Dari dalam kapal bajak laut Karimun hitam keluar empat orang diantaranya Tarpa kapten kapal tersebut.


"Kakang kembar ku gagah sekali baju kebesaran mu". Tarpa langsung menghampiri dan memeluk saudara kembarnya Sarpa panglima armada laut kerajaan Kutai khal.


"Maaf kan aku tidak langsung pergi ke perairan Makkasar, setelah aku mendapatkan pesan dari kakang, aku juga dapat informasi dari anak buah ku bahwa ada kapal mewah bersandar di pelabuhan ini, tapi setelah sampai di sini salah satu pendekar dari kapal itu memberikan pesan dari kakang bahwa aku harus menunggu kakang di sini, ternyata pendekar muda itu tidak bohong".

__ADS_1


Tarpa bicara asal mula dia berada di sana.


"Di mana Rombongan kapal mewah pinis itu sekarang, aku harus memberikan laporan padanya". panglima armada laut Sarpa bertanya.


"Apa hubungan kakang dengan pendekar Satria Nusa kencana" Tarpa balik bertanya.


"Sudah jangan banyak bertanya nanti kau tahu sendiri antara aku ke sana". Sarpa memerintah.


"Mereka menginap di penginapan Kembang Tanjung". Tarpa menjawab.


Tanpa banyak bicara Panglima Armada laut Sarpa langsung meloncat ke dermaga, di ikuti oleh Tarpa dan anak buahnya.


Empat puluh pasukan keluar dari kapal mengikuti panglima mereka berjalan menuju penginapan Kembang Tanjung.


Para nelayan dan penduduk pelabuhan merasa ketakutan tapi penasaran karena baru kali ini melihat orang yang berpakaian serupa nampak gagah dan menakutkan.


Sesampainya di depan penginapan dua orang pelayan laki-laki menghapiri langsung bertanya dengan sopan, "Apa yang bisa saya bantu tuan"


"Pelayan saya ingin menemui bangsawan Boma dan pendekar Satria Nusa kencana". Sarpa langsung pada keperluannya.


Salah satu pelayan segera berlari ke dalam penginapan, tidak berselang lama pelayan itu kembali.


Boma berjalan di depan di sebelahnya pangeran Shun land dan sebelah lagi pangeran Makkamaru dan putri Dian Prameswari dwibuana.


Setelah dekat Panglima armada laut Sarpa berlutut di ikuti oleh anak buahnya, Tarpa pun mengikuti walau dia masih bingung apa yang terjadi.


"Salam hormat dan sembah bakti kepada paduka Raja". Boma yang paling depan berakting lagi.


"Bangunlah kita akan bicara di rumah makan kembang tanjung, suruh seluruh pasukanmu untuk kesana" Boma sambil bicara menoleh pada pangeran Shun land, pangeran Shun Land hanya mengangguk.


Rombongan pangeran Shun land berjalan menuju rumah makan kembang Tanjung.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2