
Ki Kala Durga dan kedua wanitanya menyebrang sungai Cilamaya ketiga kudanya di jual kerena tidak di butuhkan lagi.
Mereka menuju kediaman juragan Tarman ingin melapor dan mengambil hadiah setelah mengeksekusi target.
Memang tugas ini sebenarnya sangat mudah bagi pendekar sekelas Ki Kala Durga, Dewi angin-angin dan Putri Malu yang tingkat ilmu olah Kanuragannya sejajar dengan Ki Srengga.
Dua pelayan laki-laki mengantar Ki Kala Durga dan kedua wanitanya menemui juragan Bangor.
"Selamat datang Ki Kala Durga, nyai Dewi Sukma dan Nyai Dewi angin-angin apa kalian ingin menikmati hidangan laut dulu apa ingin langsung bertemu tuan Asvaghosa".
Juragan Tarman menyambut mereka bertiga dengan ramah pada saat itu Juragan Bangor juga berada di sana untuk mendapatkan instruksi selanjutnya dari Asvaghosa.
"Tuan Kala Durga nyai Dewi Dewi kebetulan sekali kita bertemu bagai mana kalau malam nanti kita berpesta di rumah saya". Juragan Bangor menawarkan kebaikan pada Ki Kala Durga dan kedua wanitanya.
Dewi angin-angin berjalan mendekati juragan Bangor dan membisikan sesuatu di samping telinga juragan Bangor.
"Juragan Bangor rupanya menyukai goyangan nenek tua ini, saya akan membuat kamu melupakan segalanya dengan syarat kau harus menyediakan 3 wanita yang masih perawan bagai mana".
"Itu masalah mudah jangan lupa janjimu". Juragan Bangor menjawab dengan santai.
Juragan Tarman mengajak ke empatnya untuk menemui Asvaghosa di ruang bawah tanah.
"Tidak di sangka tuan Kala Durga dan kedua Dewi-Dewi dengan sangat cepat melaksanakan tugas dengan hasil yang sangat sempurna". Asvaghosa menyambut Ki Kala Durga dalam hati Asvaghosa mengagumi keberhasilan Ki Kala Durga.
"Tuan Asvaghosa kami tidak suka basa-basi kami kesini ingin mengambil hadiah kami, ini bukti bahwa panglima Antaka saya yang mengeksekusi". Ki Kala Durga berkata sambil melempar tanda pengenal kerajaan yang di ambil dari kantong panglima Antaka.
Asvaghosa yang ingin mengajak berbicara terpaksa segera mengambil dua kotak koin emas dan menyodorkan pada Ki Kala Durga.
__ADS_1
Walau ilmu olah Kanuragan Asvaghosa lebih unggul sedikit dari Kala Durga tetapi bila bertarung satu lawan tiga akan sangat mudah bagi Ki Kala Durga dan kedua wanitanya untuk mengalahkannya.
Asvaghosa menyabarkan hatinya menghadapi ketiga pembunuh bayaran tingkat tinggi ini.
"Bagai mana apa tawaran untuk mengeksekusi guru panglima Antaka masih berlaku", Ki Kala Durga ingin memastikan Ucapan Asvaghosa waktu perjanjian pertama.
Tapi sebelum menjawab terdengar suara di dalam ruang itu walau tanpa wujudnya.
"Kala Durga jangan terlalu serakah tugas ini bagian ku". Dengan bersamaan hilangnya suara telah duduk di ujung meja seorang pendekar yang menutupi wajahnya dengan besi hitam hanya bagian mata dan bagian mulut yang berlubang.
"Topeng hitam cukup sensitif juga telinga mu kalau mengenai soal uang tapi di mana kembaran mu Karto si Tanpa wujud biasanya bagai piring dan dan sendok".
Ki Kala Durga berkata tanpa sopan santun. Pendekar Topeng hitam mempunyai kembaran bernama Ki Karto dengan julukan pendekar Tanpa wujud karena dia benar-benar mempunyai ilmu ilusi yang bisa memanipulasi dirinya seperti tanpa wujud.
Sedangkan pendekar Topeng hitam mempunyai nama Ki Karta mereka berdua mempunyai julukan si Iblis kembar dari lembah Dieng Ki Karta dan Karto.
"Kau sepertinya merindukan ku Kala Durga". Tiba-tiba di sebelah Juragan Bangor duduk seorang berwajah cukup tampan memainkan tongkat kecil ujungnya mempunyai bulu hitam seperti bulu buntut kuda.
Karena bila memberikan pada salah satu pihak bisa jadi di luar sana akan saling bunuh atau saling memanfaatkan.
"Kala Durga sebaiknya kau mengalah karena telah mendapatkan target cukup besar, sedangkan kami berdua sudah sudah beberapa Minggu hanya dapat target ikan teri dan tugas hanya mengacau saja". Pendekar Topeng hitam berkata seolah-olah seperti meminta baik-baik padahal ini adalah ucapan palsu yang aslinya suatu ancaman.
"Begini saja target kali ini bisa di bilang salah satu tokoh dunia persilatan sangat penting yang bila berhasil akan mendapatkan respon yang tidak sedikit terutama beberapa muridnya, terutama Raja Shun Land dan panglima Kumbang dari Swarnabumi untuk mengecoh mereka saya putuskan target ini saya berikan untuk kalian berlima, kalau salah satu dari kalian menolaknya lebih baik target ini ku berikan pada yang lain". Asvaghosa melerai mereka berlima.
Si Topeng hitam, Ki karto pendekar Tanpa wujud berpikir keduanya memiliki pemikiran yang sama lebih baik menerima dari pada tidak karena imbalannya sangat besar bila di bagi dua pun masih cukup untuk bersenang dua atau tiga tahun tidak akan habis.
Ki Kala Durga mengerutkan keningnya tetapi membenarkan ucapan Asvaghosa, jadi bila nanti ada yang mengusut akan melimpahkan kesalahan pada mereka berdua.
__ADS_1
"Bagai mana apa sudah di putuskan". Asvaghosa bertanya lebih lanjut.
"Setujuuuuu". Ketiganya berkata hampir berbarengan.
Asvaghosa mengambil satu kotak koin emas lalu berkata. "ini sebagai uang muka kalian, pembagian terserah kalian aku tidak ikut campur".
"Pembagian satu orang mendapatkan satu bagian bila di bagi dua kami yang bertiga merasa di rugikan atau kita batal bekerja sama". Dewi angin-angin berkata pada Topeng hitam dan Ki Karto.
Topeng hitam dan Ki Karto saling pandang dan menganggukkan kepala tanda setuju.
"Baik kita setuju dan siapa target kita dan apa ada persyaratan". Topeng hitam menyetujui dan bertanya lebih lanjut.
"Tidak ada syarat khusus hanya jangan ada jejak sedikit itu saja". Asvaghosa menjawab dengan singkat.
Akhirnya mereka berlima pergi bagaikan setan tahu-tahu sudah lenyap dari tempat duduknya.
Tinggalkan juragan Tarman dan juragan Bangor duduk di dekat Asvaghosa.
"Kalian berdua jangan terlalu dekat dengan mereka itu sangat beresiko, dan untuk kau juragan Bangor hentikan membuat kerusuhan jangan ada gerakan sedikit pun tunggu perintah selanjutnya".
Asvaghosa memberikan petunjuk kepada kedua anaknya yang setia.
Sementara itu Junjungan Mara Deva telah mendapatkan laporan dari Deva Putta untuk segera berangkat ke daratan luas Sula tepatnya ke teluk Bone melalui pelabuhan begawan solo.
Segala sesuatu di siapkan Nyai Andita pendekar Pedang setan yang di perintahkan ikut serta.
Seluruh murid utama yang berjumlah hampir 50 orang berangkat menjadi beberapa kelompok, kelompok Kama Deva bersama sepuluh murid di berangkatkan lebih dulu untuk menjaga keselamatan mereka.
__ADS_1
Sebenarnya Junjungan Mara Deva bisa saja berangkat mendahului dengan menunggang Naga Api Hitam tetapi tidak di lakukan karena menurut Pancasiksa aura Naga api hitam bisa di ketahui oleh Naga Bumi Sabui.
____*****____