
Semua takjub dengan kehebatan Boma bisa mengalahkan pendekar mabuk itu tanpa bergerak sedikitpun.
Jelas saja gaya Boma menjadi-jadi.
"Baik aku akan mengampuni mu, tapi kau harus sumpah darah, setia, dan patuh kepada ku" ucap Boma sambil menengadahkan wajah ke atas.
"Baik aku akan melakukan, tapi sembuhkan kaki ku yang mati rasa"
Sontak saja Boma kebingungan, lalu melirik ke pangeran Shun Land, sambil mengedipkan mata.
Bukan Namanya Boma kalau tidak lepas dari masalah yang sepele ini.
"Untuk masalah ini ku serahkan pada pengawal ku, satria Nusa kencana, kau urus si bikin onar ini, aku tak ada waktu mengurus hal sepele ini"
Boma menunjuk ke pangeran Shun Land dan pergi keluar.
Pangeran Makkamaru, pangeran Sanjaya, putri Dian Prameswari dwibuana, dan Dewi lerna, mereka hanya melongo, pintarnya Boma bermain kata-kata dan bergaya, bak bangsawan besar, berani menyuruh tuannya pangeran Shun Land dengan gaya pongah.
Mereka berempat serempak melirik ke arah pangeran Shun Land, tapi pangeran Shun Land tersenyum kelakuan saudara angkatnya ini, tak di sangka dia terjebak kepintaran Boma.
Pangeran Shun Land, mendekati pendekar mabuk itu, "maaf tuan ini sedikit sakit"
"Cepat lakukan pelayan bodoh" pendekar mabuk itu malah menghardik.
Pangeran Shun Land tidak membalas seolah-olah benar-benar seorang pelayan, bangsawan Boma.
Pangeran segera mengalirkan tenaga dalamnya mencabut tulang kecil yang tertancap di lutut bagian belang.
Sesaat kemudian kaki yang mati rasa kembali ke sedia kala.
Pendekar mabuk itu lantas bersumpah darah, akan setia dan patuh kepada pangeran gadungan Boma.
Boma yang sedang merayu pelayanan Dasem, mendengar sumpah darah pendekar mabuk hatinya tertawa puas.
"Pelayanan Dasem kau dengar pangeran tampan ini sudah mempunyai pendekar pelindung yang baru"
Pelayanan Dasem yang sudah tau siapa Boma ini, pura-pura mengiyakan saja.
"Tuan kepala pengawal istana Djata, maaf kami tak cepat menyambut tuan" ucap pelayan Djata dengan roman serius.
Boma sontak saja menengok ke belakang, yang sebenarnya tidak ada siapa-siapa.
__ADS_1
"Kau tak asiiiiiik pelayan Dasem" balas Boma sambil merenggut, dan masuk kedalam Kedai.
"Sekarang kau ku tugaskan untuk menjaga keamanan kedai ini dengan sepenuh hati, Bibi lerna senang kan bertambah satu petugas keamanan" Boma berkata seolah-olah benar-benar jadi bangsawan.
Dewi lerna hanya mengangguk tersenyum lucu atas tingkah Boma.
Pendekar mabuk pun pergi keluar dan duduk di pintu masuk, sambil merenungkan nasibnya, seorang pembunuh bayaran kelas tiga banyak yang di takuti berakhir jadi penjaga keamanan sebuah kedai.
"Nak Satria Nusa kencana apa yang bibi harus persiapkan untuk keberangkatan nak Satria" Dewi lerna meminta perintah.
"Bibi Dewi lerna cukup mempersiapkan beberapa ribu keping emas untuk bekal perjalan nanti" bukan pangeran Shun Land yang menjawab tapi Boma mendahului bicara.
Dewi lerna memanggil kedua adiknya duo Tuti Baniah dan Tuti ulwiyah.
Tidak berapa lama, mereka berdua membawa dua kantong besar berisi keping emas.
"Ini ada seratus ribu koin keping emas, saya rasa cukup untuk beberapa bulan tuan bangsawan Boma tidak akan kurus" Dewi lerna bicara di akhiri dengan tertawa.
"Apa tidak kurang pangeran" duo Tuti bertanya, yang tidak tahu bahwa pangeran Shun Land, sudah berganti nama untuk penyamarannya.
"Sudah itu lebih dari cukup, pangeran Boma saya rasa bila tuan terlalu rakus dan memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan, tuan kepala pengawal istana Djata akan segera membawa prajurit menangkap orang-orang rakus" pangeran Shun Land memperingatkan, roman wajah pangeran Shun Land tetap serius.
Mendengar ucapan pangeran Shun Land, Boma hanya nengok kanan kiri, dan diam bagai kerbau di cucuk hidungnya.
"Bibi Dewi lerna, saya nitip kuda saya, karena tidak mungkin saya bawa, nanti bibi bisa menyuruh seseorang untuk mengembalikan ke istana"
Pangeran Shun Land menitipkan Ampong kuda hitam kesayangannya, dan kuda tunggangan Boma.
Pelayan Dasem datang dengan dua orang pria, Satu berkulit hitam berbadan tinggi besar, yang satunya lagi agak pendek badan kekar berisi.
Dua pria itu langsung memberi hormat pada Boma yang berpenampilan seorang bangsawan.
Keduanya berlutut di samping kursi Boma yang di sangka pangeran Shun Land.
"Salam hormat pangeran Shun Land. Nama saya Lemo-lemo, saya yang di tunjuk langsung oleh pangeran Makkamaru untuk menahkodai kapal pinisi pangeran Shun land" pria yang sedikit pendek memperkenalkan diri.
"Jangan panggil aku pangeran Shun Land, tapi panggil aku pangeran Boma, apa kita sudah siap untuk berlayar kapten lemo-lemo, bukan begitu Sahabat Satria Nusa kencana"
Boma menjawab dengan menyakinkan.
"Baik pangeran Boma, kapal sudah siap berlayar", kapten kapal pinisi menjawab.
__ADS_1
"Tuan Boma menurut saya kita berangkat nanti setelah matahari tenggelam" pangeran Shun Land memberi perintah.
"Kau memang pengikut ku yang cerdas Satria Nusa kencana, kapten kita berangkat setelah matahari tenggelam. Sebaiknya kau dan wakil mu bersenang-senang dulu...
Pelayan Dasem tolong bawa mereka ke ruang kelas vip, untuk bersenang-senang, tapi ingat jangan sampai kau mabuk berat"
Keduanya di antar oleh pelayan Dasem ke ruangan kelas vip.
Hari telah berganti malam, sang Surya kembali keperaduannya, di gantikan sang rembulan yang tersenyu malu-malu.
Para awak kapal membawa perbekalan pangeran Shun Land, pangeran Sanjaya triloka, putri Dian Prameswari dwibuana dan Boma.
Pangeran Sanjaya triloka dan putri Dian Prameswari dwibuana, naik lebih dulu.
Kapal besar ini di hiasi dengan tujuh tiang pancang yang tinggi.
Tiga lantai lengkap dengan kamarnya. Lantai dasar di buat untuk berbagai bahan makanan, dan peralatan lainnya, dan tempat tidur awak kapal.
Lantai dua di buat untuk lantai utama, ada 5 buah kamar dan satu yang paling besar berada paling di depan bisa melihat anjungan kapal dan hamparan laut biru, samudera Nusantara.
Ada 8 awak kapal di kepalai oleh kapten kapal lemo-lemo dan wakil kapal tana Beru.
Awak kapal lainya, Bira, Ara, dan empat lainnya.
Pangeran Shun Land naik dan mempati kamar yang paling besar, di susul kamar Boma yang berhadapan dengan kemar pangeran Sanjaya triloka, di samping kamar Sanjaya triloka kamar putri Dian Prameswari dwibuana. Dan satu kamar di biarkan kosong.
Memang kapal ini tidak sebesar kapal angkut barang dagangan, karena pangeran Shun Land, sengaja membuat kapal yang yang lebih kecil hingga kapal ini cepat dan gesit, keputusan ini sudah di pertimbangkan dan di diskusikan dengan pangeran Makkamaru sebagai kepala pemborong dari bangsawan Bugis, daratan besar Sula.
Kapal pelan-pelan mulai melaju setelah layar di turunkan, dari kejauhan terdengar suara Sang Rajawali api. Tidak lama sang Rajawali api hinggap di depan anjungan kapal.
Pangeran Shun Land langsung keluar, menghampiri sang sahabat sejatinya.
"Apa naga bumi Sabui telah keluar Rajawali api" pangeran Shun Land bicara melalui telepati.
"Dia akan mengikuti setelah kita jauh dari pantai, tubuh besar dan panjang si naga bau itu akan jadi sorotan bila banyak yang melihat" jawab sang Rajawali api.
...****************...
like dan support dan komentar di tunggu, untuk pertumbuhan tulisan ini.
Terima kasih sahabat-sahabat NOVELTOON, yang telah mendukung LEGENDA RAJAWALI API 🙏🙏🙏
__ADS_1
SALAM NUSANTARA
SALAM GARUDA PERKASA