LEGENDA RAJAWALI API

LEGENDA RAJAWALI API
52.Maasiak dan Niraya sura 2


__ADS_3

Tiga pendekar itu berjalan menuju kedai makan, di tengah jalan di sambut Maasiak dan Antang serta Badrowi.


"Selamat datang juragan di dataran kecil Kalimantan, semoga tuan betah dan membawa barang yang saya pesan" Maasiak memberi sambutan dengan nada seperti antar pedagang.


Pendekar Niraya Sura membungkuk hormat dan membalas sapaan Maasiak


"Terima kasih tuan Maasiak, saya pastikan barang pesanan tuan Maasiak, dengan kualitas terbaik"


"Tuan Maasiak sebaiknya anak buah buah tuan, menemui kapten kapal Rhony black, untuk memeriksa barang dagangan yang tuan pesan" Niraya Sura memberikan saran pada Maasiak.


Antang dan Badrowi menghampiri para ABK kapal, yang sedang menurunkan barang dagangan.


Maasiak dan ketiga tamunya menuju kedai makan pohon besi.


Sesampainya di sana Maasiak menghampiri, penjaga kedai dan memesan kelas 4, seraya memberikan sekantong uang.


Untuk masuk ke lantai 4, pengunjung harus memberikan uang jaminan, sebesar 50 persen, dari harga biaya keseluruhan, andai menginap 2 hari 2 malam, maka harus membayar 1 hari 1 malam di muka.


Maasiak memesan layanan 2 hari 2 malam, untuk menunggu semua barang dagang, bisa di muat oleh kereta yang sudah di siapkan.


Maasiak dan Niraya sura dan dua lainnya, naik ke lantai 4.


Lima ruangan mewah tersedia, lengkap dengan meja makan yang besar serta satu kamar istirahat yang di lengkapi, tempat mandi air hangat. Ruangan itu cukup untuk sampai 6 orang.


"Tuan Niraya Sura dan rekan-rekan, silahkan kalian beristirahat dan membersihkan diri"


Maasiak berkata dan menepuk tangan tangan memanggil pelayan


Tidak berapa lama datanglah satu pelayan wanita setengah baya.


"Apa yang bisa saya bantu tuan"


Sambil memberi hormat pelayan itu menanyakan keperluan Maasiak


" Saya ingin pelayan yang bisa melayani segala hal 4 orang yang muda dan cantik, bisakah bibi menyediakan nya, masalah bayaran jangn khawatir"


"Aah tuan ini, seperti bukan pelanggan di sini saja, tenang semua bisa di atur" bibi Sukarti pemilik kedai makan, mempercayai Maasiak sepenuh hati, karna dia sudah terkenal juragan pasar yang sangat kaya raya, dan salah satu pelanggan Utama kedai makanan itu.


(Biasa di luar rumah makan, di belang tempat makan burung-burung berkicau)


Tak berapa lama 4 gadis sekitar usia Dua puluh lima tahunan, datang dengan pakaian, yang menjuntai sampai ke mata kaki, tapi belahannya hampir sapi ke pangkal paha, dengan dandanan yang membuat mata pria melupakan masakan sang istri di rumah.


Pendekar Niraya Sura, murka dewa dan asur Pati keluar sehabis membersihkan diri.

__ADS_1


Mereka Melihat sebuah meja yang penuh dengan hidangan yang lekat, dan di sisi kursi ada wanita cantik cantik siap melayani, keperluan mereka


Dengan senyum sangat puas dengan sambutan Maasiak, mereka duduk dengan tenang.


"Terima kasih tuan Maasiak saya sangat puas dengan cara anda menyambut kami"


"Ini tidak seberapa dengan jasa yang tuan berikan kepada keluarga besar kami" Maasiak menjawab seadanya


"Tuan Maasiak, tentang permintaan tuan untuk, mengeksekusi penguasa, itu sangat beresiko..,


Kami di beri petunjuk oleh junjungan, untuk saat ini itu tidak perlu di lakukan....


karena takut mengganggu rencana pokok junjungan, junjungan juga memberikan perintah, untuk memasukan orang-orang kita kedalam istana.


Itulah yang harus kita lakukan sekarang ini, suap pejabat kerajaan yang suka kemewahan.


Tempat ini sangat bagus untuk menguasai perdagangan, mengapa kau tak berusaha, menguasainya"


Tetua Niraya Sura bicara panjang lebar, langsung ke pokok bahasan, dia tidak ingin membuat gerakan sebelum mempunyai peta kekuatan lawan.


Niraya Sura mempunyai pertimbangan, lebih baik menggembosi dari dalam dulu, setelah itu baru kudeta kekuasaan.


Niraya Sura sangat terobsesi dengan kerajaan baru ini, hingga dia turun langsung, karena dulu pernah menggunakan keluarga Ma, untuk menguasai daerah ini tapi gagal, dan keluarga Ma sendiri tidak pernah muncul lagi memberi laporan.


"Tuan Niraya Sura, saya pernah bernegosiasi, dengan pemilik kedai ini, Nyai Sukarti tapi menolak, saya pun selalu mencoba merayu untuk membelinya, di setiap kesempatan dengan harga sangat tinggi, tapi nyai Sukarti, selalu menolaknya, alasannya ini usaha dari leluhurnya"


Tetua Niraya Sura manggut-manggut mengerti, lantas melanjutkan bicara.


"Kalau begitu biar aku yang akan menyelesaikannya, murka dewa panggil pemimpin Tiga Dewi kematian" murka dewa segera pergi ke kapal.


Tidak lama menunggu murka dewa kembali bersama satu wanita berusia sekitar tiga puluhan tahun, wajahnya penuh dengan hiasan berbeda, tapi tidak menghilangkan kecantikannya, postur tubuh nya tinggi sintal berisi, berkulit putih susu, memakai selendang warna ungu. Pakaian bagian bawahnya, hanya kain tipis yang di ikat dengan selendang, bila berjalan terlihat bagian kakinya yang jenjang sampai keatas.


Sorot mata, pelayan menggambarkan rasa iri.


"Dewi lerna, coba kau bernegosiasi dengan pemilik kedai ini, aku menginginkan jadi milikku, bayar berapapun yang dia minta"


"Baik tetua" jawab Dewi lerna


Maasiak meminta pelayan untuk mengantar Dewi Lerna, ke tempat pribadi pemilik kedai nyai Sukarti


Satu orang pelayan, dengan sopan mempersilahkan, Dewi Lerna untuk mengikutinya.


Ternyata ruang pribadi pemilik kedai makan, ada di ruang bawah tanah, dengan ruang pentilasi udara sedemikian rupa, hingga ruangan itu sangat nyaman.

__ADS_1


Dewi Lerna masuk keruangan itu, sedang pelayan di suruh kembali.


Dewi lerna melihat nyai Sukarti, sedang berbaring santai, melihat dirinya masuk sangat kaget.


Dewi lerna mendekati, berjalan eksotis, dan menatap lekat ke arah nyai Sukarti, bagai terkena hipnotis, nyai Sukarti hanya diam, malah membalas tatapan Dewi lerna dengan sayu.


Tangan Dewi lerna mendorong bahu nyai Sukarti dengan lembut, tangan kirinya meraba paha nyai Sukarti, wajahnya di dekatkan.


Tidak lama kemudian terdengar, ******* dan jeritan kecil nyai Sukarti dengan liar.


Dewi lerna mempunyai ilmu gendam pemikat, tingkat tinggi, siapapun yang terkena ilmu gendam pemikat ini akan bertekuk lutut pria atau wanita, mereka akan tunduk asal mendapatkan gairah biologisnya terpenuhi oleh Dewi lerna.


Maasiak tidak mengerti dengan taktik apa Dewi lerna bernegosiasi, tetapi Tetua Niraya Sura sepertinya sangat yakin, dengan kemampuan Dewi lerna bisa mengatasi kebuntuan negosiasi dirinya dengan nyai Sukarti.


Tapi itu tidak di pertanyaan lebih lanjut, takut menyinggung tetua Niraya Sura.


"Terima kasih tuan Niraya Sura, mau turun langsung, membatu saya mengatasi masalah di sini" Maasiak mengucapkan terima kasih.


"Tidak apa-apa tuan Maasiak, malah saya yang berterima kasih....


Tuan beserta keluarga besar juragan Upiak arai, telah rela menjadi bagian dari kami....


Satu lagi tuan Maasiak, perluas lagi tempat tempat hiburan malam, Rangkul sebanyak-banyaknya pengikut, iming-imingi para gadis dengan kehidupan mewah...


Jangan ragu untuk menyuap pejabat kerajaan. Jadikan dia tameng bila perlu, buat seolah-olah pemilik tempat hiburan itu miliknya.


Masalah koin emas jangan pikirkan, di dalam kotak-kotak barang dagang, ku selipkan lima puluh kotak penuh dengan koin emas, capnya sudah seperti koin emas kerajaan ini"


Tetua Niraya Sura memberikan masukan.


Melihat ini semua sebenarnya kerajaan Kutai khal, sedang mengalami ancaman yang lebih berbahaya dari penyerangan langsung secara terbuka.


Dengan begini musuh kerajaan tidak terlihat dan bisa mengetahui kekuatan sejati pasukan kerajaan.


...****************...


like end support nya


saran dan masukannya di tunggu di kolom komentar


jangan lupa jaga kesehatan, sakit itu mahal, lebih baik jaga kesehatan dengan pola hidup sehat.


bay bay 🙏🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2