
Kemarin pagi menurut pak Sarkim ada 17 orang, tapi sekarang pak Sarkim belum laporan lagi, Aim tolong panggil pak Sarkim suruh datang kemari", pak Kasjan menjawab dan di akhiri memerintah Caim anak laki-lakinya.
"Adik Yanti apakah benar adik sudah benar-benar sembuh", pangeran Shun land bertanya ingin menyakinkan
"Benar saya sudah sembuh malah saya juga tidak merasa lapar dan haus lagi, Badan saya sangat segar tenaga saya juga pulih seketika setelah meminum air dari kendi yang kakak Satria berikan, ini buktinya", Yanti memegang jari-jemari pangeran Shun land dan meremasnya agak kuat.
Pangeran Shun land segera menarik tangannya, "Tapi bagian mana cara mengobati orang sebanyak itu, sedangkan kendi manik astagina ini kecil bisa-bisa airnya kehabisan".
Pangeran Shun land sedikit ragu-ragu air yang keluar dari pusaka kendi manik astagina akan habis airnya bila di minum orang sebanyak itu.
Pak Sarkim datang dengan Caim di belakangnya, melihat Yanti yang duduk dengan seorang pemuda, dan tidak ada tanda-tanda masih sakit.
Pak Sarkim menuding saking senengnya kearah Yanti, "Yanti sudah sembuh". Yanti hanya mengangguk.
"Bagai mana ini bisa, syukur pada yang maha kuasa semoga semua mulai membaik".
Pak Sarkim mempunyai tebakan Yanti di sembuhkan oleh obat yang di berikan Dukun pedukuhan itu.
"Duduklah dulu Sarkim, dan berapa sekarang yang terkena wabah ini untuk saat ini". Pak Kasjan memerintahkan Sartim untuk duduk dan memberikan jumlah yang terkena wabah.
Sartim duduk di sebelah pak Kasjan, lalu bicara, "Menurut laporan keamanan sekarang bertambah empat yang terkena wabah, jadi jumlah keseluruhan ada dua puluh satu, perempuan tujuh laki-laki sembilan dan anak-anak ada lima".
Sarkim menjelaskan dengan jelas dan teliti.
"Sarkim kenalkan ini pendekar Satria, waduh aku lupa kepanjangannya nama nak Satria, siapa nama kepanjangannya nak Satria". Pak Kasjan menanyakan nama kepanjangannya pangeran Shun land.
"Memang saya belum memberi tahu nama lengkap saya, nama lengkap saya Satria Nusa kencana pak Kasjan". Pangeran Shun land menjawab dengan singkat.
"Sarkim nak Satria Nusa kencana ini yang telah menyembuhkan Yanti, tapi kamu rahasiakan dulu kesembuhan Yanti, karena aku curiga dengan dukun Cidra, kecurigaan ku berdasarkan mengapa semua terkena wabah tapi keluarga dia tidak ada yang terkena". Pak Kasjan mencurigai dukun Cidra biang dari musibah ini untuk memeras dan ingin membuat nama baiknya sebagai kepala Pedukuhan tercoreng.
Perlu di ketahui bahwa dukun Cidra adalah lawan dari pak Kasjan pada waktu penunjukan jadi kepala Pedukuhan ini.
__ADS_1
Sarkim mengiyakan dengan menganggukkan kepalanya.
"Pak Kasjan saya sedikit bingung bagai mana dapat memberikan air kendi ini kepada sebanyak itu, karena kendi manik astagina ini kecil saya takut kehabisan", pangeran Shun land meminta pendapat.
Semua tertunduk sambil berpikir bagai mana caranya bisa menolong dengan air kendi yang kecil itu.
Tapi di saat semua orang diam hingga suasana menjadi hening.
Caim anak usia 13 tahun ini berbicara, "kakak Satria bagai mana kalau air kendi itu di campur air minum biasa biar airnya banyak".
Mendengar usulan Caim pangeran Shun land langsung ingin mencobanya, agar dia tidak selalu mengeluarkan pusaka itu, jadi keberadaan kendi manik astagina tidak begitu banyak yang mengetahui.
"Pak Kasjan tolong ambilkan tempat air yang sedikit besar yang sekiranya ada lima gelas, dan isi dengan air minum biasa. Saya ingin mencoba usulan adik Caim.
Pak Kasjan memangil pelayan untuk menyiapkan apa yang di pesan pangeran Shun land.
Tidak lama pelayan itu datang membawa sebuah kendi yang agak besar yang cukup untuk minum 5 atau 6 orang.
"Pak Kasjan tolong diminumkan kepada yang terkena wabah penyakit ini satu gelas kecil dulu, bila tidak ada reaksi tambah satu gelas lagi lihat reaksinya". Pangeran Shun land memberikan keterangan.
"Nak Satria Nusa kencana lebih baik nak Satria ikut saja bersama saya memberikan dan meminumkan langsung kepada yang sakit". Pak Kasjan mempunyai pendapat lain.
"Baiklah mari kita berangkat, kita mulai dari yang terdekat, tapi tolong Rahasiakan ini dulu, berikan alasan bahwa saya dari kota kerajaan hanya untuk memeriksa". Pangeran Shun land menyetujuinya.
"Aku ikut siapa tahu Kakak Satria ini butuh sesuatu aku bisa menyimpannya" Yanti ikutan berdiri, pak Kasjan membiarkannya kalau di larang tambah ruwet urusannya.
Mereka berempat menuju rumah sebelah kanan dari rumah pak Kasjan. Sesampainya di sana pak Kasjan sebagai kepala pedukuhan segera menjelaskan kepada keluarga tersebut apa yang manjadi maksud mereka berkunjung ke sana.
Pangeran Shun land dan pak Kasjan masuk ke kamar yang terkena wabah, terlihat seorang wanita sekitar usia lima puluh tahun di jaga oleh seorang anak laki-laki sebaya dengan Caim, dan seorang perempuan muda sebaya dengan pelayanan Dasem di kedai bunga mawar merah.
Sedangkan Yanti dan Sarkim menanti di ruang tengah bersama suami si ibu yang sakit.
__ADS_1
Wanita itu tergeletak matanya sudah sayu semangat untuk sembuhnya memudar badannya menggigil tapi suhu tubuhnya sangat tinggi.
"Ibu saya kesini ingin mencoba menolong ibu semoga tuhan yang maha kuasa mengabulkan sesuai apa yang kita inginkan".
Pangeran Shun bicara pelan, melihat sang ibu yang sakit seumuran ibu angkatnya, pangeran Shun land seakan ada yang nyereset perih di dalam dadanya.
Segelas air di sodorkan untuk di minumkan pada si ibu, tangan kiri pangeran Shun land membantu menaikan kepala si ibu, dan tangan kanannya memegang gelas menyodorkan ke mulut sang ibu.
Seteguk dua teguk air itu di minum sampai habis, tapi tidak ada reaksi apa untuk sekian lama pangeran Shun Land dan pak Kasjan hendak meninggalkan kamar tersebut.
Tapi si ibu itu bergidik sampai seluruh tubuhnya bergetar tak lama kemudian rahangnya menutup seperti menahan dingin di tubuhnya tak lama kemudian keluar keringat kekuningan walau tak secepat Yanti.
Sekitar setengah waktu menanak nasi, tubuh wanita itu mengatupkan rahangnya menahan sesuatu seluruh tubuhnya sedikit kaku, keringat kekuningan keluarga dari seluruh pori-porinya.
Keringat itu bau busuk seperti yang di alami Yanti, pangeran Shun land tidak beranjak dari duduknya ingin memastikan kesembuhan rakyatnya yang menjadi tanggung jawabnya.
Setelah kering kekuning keluar semua, Mata wanita sakit itu melirik ke pangeran Shun land dan pak Kasjan kepala pedukuhan Tanjung lantas bicara.
"Terima kasih pendekar karena kau telah menolong ku tapi tidak ada yang bisa kami berikan kepada pendekar hanya ucapan terima kasih". Wanita itu matanya berkaca-kaca menahan haru di hatinya.
Di mana harapan telah sirna akan kesembuhan, bahkan ketakutan menghantui wanita tersebut, dia merasa kematian hanya tinggal menghitung hari, kini sebuah keajaiban datang nyawanya bisa tertolong.
"Sudah ibu jangan pikirkan masalah itu, yang penting ibu sembuh, sudah menjadi kewajiban sebagai manusia untuk saling tolong menolong".
Pangeran Shun land menjawab sesuai apa yang ada, setelah itu dia dan pak Kasjan kelur dari kamar, di ikuti wanita yang sakit tadi untuk mandi tidak tahan bau busuk yang menyengat dari tubuhnya.
Sang suami melihat istri tercinta yang telah menemaninya puluhan tahun dalam suka dan duka sehat kembali langsung menyongsong dan memeluknya, tapi sayang pelukannya membuat dia hampir muntah, dia pun segera menemani sang istri untuk mandi.
Semua menahan tawa kelakuan bapak-bapak yang seperti anak-anak saking senangnya.
...****************...
__ADS_1