
Asvaghosa meremas kertas tersebut hingga hancur, dua orang pelayan datang membawa pesanan setelah selesai menaruh makanan Asvaghosa berkata pada salah satu pelayan itu.
"Bila kau tidak ada pesanan lain temani saya makan kau pun boleh memesan makanan sesuka hati mu dan aku akan memberikan tips koin emas".
Pelayan itu memandang temannya mendapat tawaran dari Asvaghosa.
"Kau boleh menemani tuan baik hati ini asal aku dapat bagian, sana temani tuan ini".
Pelayan yang di pandang menjawab dengan senyuman yang ceria pelayan itu duduk di sebelah Asvaghosa lalu mengambilkan nasi untuk Asvaghosa. Dia pun mengambil nasi untuk dirinya.
Asvaghosa tidak banyak bicara dia langsung makan dengan lahap sedangkan pelayan itu makan seadanya saja dia mementingkan melayani Asvaghosa.
"Kau sudah lama kerja di sini" Asvaghosa memulai pembicaraan dengan pertanyaan.
"Sudah lama juga tuan sekitar 4 sampai 5 tahun yang lalu". Pelayan itu menjawab apa adanya.
"Aku ini pedagang baru ingin menemui juragan Tarman apa kau mengenal orang itu". Asvaghosa melanjutkan pertanyaan tanpa menoleh ke arah pelayanan itu.
"Ooh juragan Tarman yang istrinya nyai ipah hampir semua orang di sekitar sini mengenalnya tuan... dia juragan kapal, saking banyaknya ada dua kapal besar yang tidak terurus di biarkan begitu saja, dia juga orang yang sangat baik banyak berderma pada orang yang seperti saya, kalau tuan ingin menemuinya tinggal menunggu di sini saja ada tiga anak buahnya pelanggan di sini sebentar lagi juga datang karena sudah waktunya makan sore".
Pelayan itu bercerita panjang lebar tentang juragan Tarman, dalam hati Asvaghosa berkata. "Tidak menyangka akan semudah ini aku tidak capek-capek mencari di kota pelabuhan yang besar ini".
Lalu Asvaghosa merogok kantong bajunya di berikannya satu kantong uang koin emas kepada pelayan itu.
"Terima ini untuk membayar tagihan pesanan, lebihnya ambil untuk mu dan beri beberapa koin untuk temanmu tadi".
Pelayan itu terperangah melihat satu kantong uang emang yang jumlahnya tidak sedikit di perkirakan Lebih dari 50 koin emas sedangkan harga pesanan makanan hanya sekitar 2 atau 3 koin emas.
"Tuan ini terlalu banyak". Pelayan itu berkata sambil mendorong tangan Asvaghosa yang mengulurkan satu kantong koin emas.
"Terima saja anggap saja ini hari keberuntungan mu, dan sebagai perkenalan kita jika nanti aku mampir kesini tak punya uang aku akan meminta pada mu jadi tidak malu". Asvaghosa sambil bicara tangan kirinya meraih tangan pelayan itu dan tangan kanannya menggenggam kan kantong koin emas itu.
Pelayan itu akhirnya menerimanya dengan jantung yang berdebar-debar karena baru kali ini memegang uang sebanyak itu.
Tidak lama tiga orang laki-laki berpakaian seperti kuli panggul datang Asvaghosa melirik tiga orang tersebut lalu hatinya berkata.
"Sepertinya mereka mantan anak buah Niraya Sura kebetulan sekali ini".
__ADS_1
"Nona layani mereka berikan makana dan minuman terbaik milik kedai ini biar aku yang membayar". Asvaghosa berkata pada pelayan itu.
"Tepat tuan mereka adalah anak buah tuan Tarman", pelayan itu berkata sambil berdiri menghampiri ketiga laki-laki yang baru datang di meja sebelah.
"Tuan tuan hari ini kalian semua makan gratis pesan apa saya yang tuan tuan inginkan ada yang mentraktir kalian hari ini".
Pelayan itu berkata setelah berdiri di depan ketiga tamu itu.
"Yang benar nona Darini". Salah satu dari mereka berkata seakan tidak percaya.
"Benar tuan tuh orang yang mentraktir kalian". Pelayan yang di panggil Darini berkata sambil menunjuk Asvaghosa.
Ketiga laki-laki itu menoleh ke arah Asvaghosa mereka termenung mengingat-ingat seperti pernah melihat orang tersebut.
Tetapi ketika ada yang mau berkata menyebut namanya Asvaghosa menempelkan telunjuknya ke bibirnya.
Laki-laki yang sudah mangap menutup mulutnya dengan cepat hingga tidak keluar sepatah kata pun.
Pelayan Darini masuk kelam tidak lama bersama temannya yang tadi membawa pesanan tiga laki-laki tersebut.
Asvaghosa berkata dengan suara sedikit keras.
"Samin hari ini adalah hari keberuntungan kita dia tangan kanan junjungan Mara Deva, kita bisa mengikutinya kesusahan kita akan berakhir kita bisa bersenang-senang lagi dengan para wanita di kedai-kedai minum".
Salah satu dari ketiga laki-laki itu berbisik pada temannya.
Mereka bertiga Bandi, Samin dan adalah mantan murid Ki Saron perguruan gelap ngampar di gua Pawon.
Setelah makan ketiganya segera beranjak dari tempat duduknya Bandi menghampiri Asvaghosa lalu bicara pelan tanpa menoleh.
"Tuan ikuti saya". Bandi yang sudah tahu tujuan Asvaghosa dari pelayan Darini mengajak Asvaghosa untuk mengikutinya.
Tanpa banyak berkata Asvaghosa mengikuti Bandi dan kedua temannya.
Bandi berjalan ke arah Utara hingga akhirnya sampai pada sebuah rumah yang cukup besar di depan rumah tersebut ada pelataran cukup luas hingga ke jalan pinggir sungai Cilamaya.
Beberapa kapal besar berjejer di tambatan kapal lurus di depan rumah tersebut.
__ADS_1
Bandi langsung masuk kedalam rumah yang pintunya tidak tertutup, pendopo rumah tersebut di penuhi para nelayan yang sedang merajut jaring ikan yang bolong-bolong.
Di ruangan depan paling ujung ada sebuah meja di balik meja duduk seorang laki-laki tengah baya berkulit hitam pengawakan gempal dengan dahi yang lebar.
"Ada apa Bandi kau menghadap ku emang kau sudah selesai dengan tugasmu mengantar ikan ke para pelanggan".
Laki-laki itu bertanya pada Bandi sambil mengerutkan dahi.
"Tuan Tarman di luar ada tamu istimewa ingin menemui tuan Tarman". Bandi menjawab dengan santai.
"Siapa namanya Bandi". Juragan Tarman bertanya.
Bandi mendekatkan mulutnya ke kuping jurang Tarman lalu berbisik menyebutkan sebuah Nama.
Wajah juragan Tarman langsung pucat mendengar nama tersebut dia langsung berdiri sambil berkata.
"Bandi bawa tamu tersebut kedalam ruangan ku cepat". Setelah bicara tanpa menoleh ke Bandi juragan Tarman melangkah menuju ruang pribadinya.
Bandi mengajak Asvaghosa masuk keruang pribadi juragan Tarman melalui pintu samping sedangkan kudanya di tuntun Tarkim di bawa ke belakang rumah untuk di urus dan di beri makan.
Asvaghosa masuk ke ruangan pribadi juragan Tarman, begitu Asvaghosa melangkah kedalam ruangan Juragan Tarman langsung berlutut di depan Asvaghosa sambil menangkupkan kedua tangannya di depan wajahnya Lalu berkata.
"Salam pada tuan Asvaghosa maaf tidak bisa menyambut dengan baik".
"Bangun Tarman ada yang ingin aku bicarakan, ini penting sekali bawa aku keruang rahasia mu, Bandi ikuti aku".
Juragan Tarman menuju sudut ruangan pribadinya lalu menginjak batu yang sedikit menonjol keluar.
Tiba-tiba batu di bawah dekat kaki juragan Tarman bergerak kesamping terlihat sebuah tangga terbuat dari batu.
"Tuan ikuti saya" setelah berkata juragan Tarman menuruni tangga di ikuti Asvaghosa dan Bandi.
Sesampainya di ujung tangga terlihat ruangan besar lengkap dengan perabotan mewah semuanya lengkap dari tempat tidur sampai kamar mandi di sana juga ada sebuah pintu kecil di salah satu sudut ruangan.
Meja besar berbentuk Opal di kelilingi beberapa kursi terpampang di tengah ruangan.
_____*****_____
__ADS_1