
Dewi bulan merah dan Ayu Sondari tidur di rumah utama yang ada beberapa kamar kosong.
Keesokan harinya Shun land dan rombongan telah bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan Ki Sobarna memberikan bekal yang cukup untuk di perjalanan.
Boma mengunakan kuda Ki Sobarna Dewi bulan merah memimpin perjalan yang lebih mengenal jalan menuju perguruan gelap ngampar.
Baru saja mereka keluar dari pintu gerbang perguruan Pagar ruyung yang tinggal rumah besar dan rumah-rumah kecil tempat para murid tinggal.
Sebuah kereta yang di tarik empat kuda datang dari arah berlawanan dua pengawal berwajah seram menunggangi kuda hitam berjalan di depan.
Shun land dan rombongan minggir untuk tidak menghalangi jalan, kereta melaju sedikit pelan di belakang kereta empat pengawal mengikuti.
Kereta terus melaju dengan kencang di dalam kereta ada empat orang duduk dengan wajah ada ketegangan terlihat dari mimik wajah yang kusut.
"Berapa lama lagi kita sampai ke pelabuhan Cilamaya". Salah satu dari keempat di dalam kereta bertanya.
"Tuan Niraya Sura sore nanti kita sampai, tapi kalau kecepatan kereta seperti ini tidak sampai sore akan sampai". Juragan Upiak arai menjelaskan.
"Kita akan melihat dulu andai yang menguasai pelabuhan Cilamaya itu tidak begitu banyak kita akan menyerang balik dan mengambil alih pelabuhan andaikan yang mengambil alih itu mempunyai pasukan yang banyak dan banyak yang mempunyai ilmu Kanuragan tinggi kita langsung kembali ke guha pawon". Niraya Sura berkata dengan nada yang kesal. Lalu melanjutkan perkataannya.
"Ini terjadi semuanya karena Kama Deva, dia tidak setuju wilayah jalur perdagangan dan kekuasaan di tempatkan pasukan yang kuat dengan alasan di daratan luas Dwipa ini sudah tidak banyak perguruan yang berdiri".
Niraya Sura sangat menyesalkan keputusan tuannya Mara Deva yang selalu menuruti pendapat kama Deva ini sungguh menyulitkan dirinya yang selalu di rugikan dalam misinya.
Sebenarnya Niraya Sura hanya mengemban tugas untuk menyelidiki dan mengawasi setiap langkah manusia dalam ramalan yang mempunyai tubuh empat lintang kelima pancer.
Mara Deva sangat ingin memiliki pedang naga bergola ciptaan kakek gurunya atau guru dari raja agung Jatiraga raja kerajaan Sunda besar.
__ADS_1
Mara Deva sudah sangat yakin dirinya saat ini sudah tidak mempunyai tandingan dalam ilmu olah kanuragan, dia merasa mengalahkan manusia yang mempunyai tubuh empat lintang kelima pancer sudah sangat mudah hingga dia ingin menggunakannya untuk menuntun ke tempat pedang naga bergola yang di sembunyikan oleh kakek gurunya yang pilih kasih terhadap Pancasiksa.
Mara Deva tidak mengetahui bahwa manusia terpilih ini perkembangannya sangat pesat, hingga fokusnya bukan membunuh tapi mengawasi bila manusia terpilih itu telah memiliki pedang naga bergola dia akan merebutnya dengan mudah.
Yang di maksud manusia terpilih ini adalah Shun Land, Mara Deva sudah ratusan tahun bahkan ribuan tahun mencari tempat di sembunyikan pedang naga bergola tapi dia tidak menemukannya jangankan menemukanya mendapatkan petunjuk sedikitpun dia tidak mendapatkannya.
Kekuasaan Mara Deva Deva untuk saat ini sangat luas dia hampir keseluruhan daratan luas Swarnabumi di kuasainya dia tidak merasa penting bila harus menguasai daratan luas Dwipa yang ukurannya tidak sampai seperempat Dataran luas Swarnabumi.
Mara Deva hanya menempatkan sebagian besar di tepian perairan Krakatau atau selat Sunda.
Shun land tidak mengetahui bahwa orang yang di carinya selama berpapasan di jalan.
Di dalam kereta selain Niraya Sura dan juragan Upiak arai ada juga Maasiak dan Ki Saron guru besar perguruan gelap ngampar.
Niraya Sura mendapatkan laporan bahwa pelabuhan Cilamaya telah di serang dan di kuasai oleh armada laut kekuatan dari luar daratan luas Dwipa.
Ini sebuah pertanyaan bagi dirinya karena selama ini tidak ada armada laut yang lain selain armada junjungannya Mara Deva yang berpusat di selat Malaka.
Mara Deva sudah mengantisipasi daratan luas Dwipa dengan membunuh dan menghancurkan setiap perguruan yang ada.
Dalam hal ini Mara Deva mengutus Kama Deva bukan Niraya Sura, Kama Deva meminta bantuan perguruan Tapak Maut yang spesialis pembunuh bayaran yang di ketuai oleh Ki tapak sakti, untuk memusnahkan perguruan-perguruan yang ada di dataran luas Dwipa.
Setelah itu Niraya Sura di tugaskan untuk mencari jejak Bocah pemilik tubuh empat lintang kelima pancer tetapi tidak di ketemukan.
Niraya Sura sambil mencari dia juga membangun kekuatan sendiri dengan merekrut Nyai Siren Tiga Dewi kematian, Niraya Sura mengunakan keahlian berdagang tuan Upiak arai untuk menguasai perdagangan di dataran luas Dwipa.
Setelah di sisir tidak di temukan dari timur sampai kebarat di Daratan luas Dwipa Niraya Sura di utus ke daratan luas Kalimantan.
__ADS_1
Dia berkamoplase dengan bangsawan MA, berakhir kegagalan karena badai Angin put** beliung yang sangat besar.
Badai put*** beliung ini menyelimuti seluruh daratan luas Sunda ageng. Dari daratan luas Kalimantan, daratan luas Swarnabumi, daratan luas Dwipa dan daratan luas Sula.
Setelah gagal menguasai daratan kecil Kalimantan (pulau di selat Makassar) Niraya Sura kembali ke daratan luas Dwipa.
Setelah beredar berita di dataran kecil Kalimantan berdiri kerajaan, Niraya Sura mengutus juragan Upiak arai untuk menguasai perdagangan di sana.
Kereta Niraya Sura melaju dengan cepat Sampailah di penyebrangan sungai Citarum, Rakit yang separuh sudah terisi dengan penumpang di paksa untuk turun agar kereta dan enam pengawalnya bisa langsung menyebrang.
Sampai di pertigaan perkampungan Cikampek matahari mulai meninggi.
"Tuan kuda kuda kita memerlukan istirahat apa tidak sebaiknya kita istirahat dulu di perkampungan Cikampek ini kuda kita bisa cedera bila di paksakan" kusir kereta betkata.
Niraya Sura dengan terpaksa berhenti tapi dia tetap di dalam kereta.
Setelah memberi minum kuda kuda mereka rombongan Niraya Sura kembali melanjutkan perjalanan kuda di pacu dengan cepat.
Dua kali waktu menanak nasi dari arah perlawanan terlihat empat orang berkuda dengan kencang setelah nampak cukup jelas empat orang berkuda melambatkan kudanya.
Kereta pun akhirnya berhenti. "Apa ini kereta tuan Niraya Sura" salah satu dari mereka berempat bertanya pada pengawal.
Ki Saron yang mengenal suara muridnya langsung keluar. "Bandi ceritakan apa yang sebenarnya terjadi".
"Ki Saron bawa anak buah mu masuk ke kereta kita bicara di dalam kereta, kusir pinggirkan kereta kudanya". Niraya Sura memberi perintah.
Kereta di pinggirkan oleh kusir Ki Saron dan Bandi masuk ke dalam kereta. "Minumlah dulu setelah kau tenang kau bicara". Juragan Upiak arai memberi air pada Bandi.
__ADS_1
Bandi dan ketiga rekannya setelah selesai menyebarkan undangan turnamen pendekar muda persilatan dia di tugaskan untuk membantu keamanan di pelabuhan Cilamaya.
...****************...