LEGENDA RAJAWALI API

LEGENDA RAJAWALI API
300. Jaya Sempurna 33. Merpati dan Wiwin mata-mata dari perguruan pedang setan.


__ADS_3

Dua orang perempuan berusia sekitar 25 tahun dan yang satunya lagi berusia sekitar 30 tahun menunggangi kuda berjalan pelan menuju penginapan Kembang Tanjung dari pakaiannya keduanya seperti pelancong yang sedang ingin melihat indahnya ibukota kerajaan Tarumanegara.


Mereka berdua turun dari kudanya dan menyerahkan kudanya kepada dua pelayan yang akan merawat dua kuda tersebut. Kedua perempuan itu masuk ke ruang makan setelah mendapatkan tempat duduk mereka memanggil pelayan untuk memesan makanan terlihat dari gerakan badan yang loyo mereka berdua sangat kelaparan mungkin keduanya melakukan perjalanan yang sangat jauh.


Pelayan datang membawa pesanan dan menata di atas meja dari keduanya yang bernama Merpati bertanya pada pelayan yang paling muda.


"Nyai apa benar paduka raja Shun Land sudah kembali aku sangat ingin melihatnya jauh-jauh dari pedukuhan ke sini ingin melihat paduka raja yang katanya sangat tampan dan baik hati".


Temannya menyahuti dengan candaan. "Adik ku ini sangat memaksaku untuk pergi ke ibukota kerajaan demi hanya ingin melihat paduka raja Shun Land, padahal jika bertatap muka paduka raja tidak akan meliriknya, pastinya melirik ku yang lebih sexy hihihihihi".


Kedua pelayan ikut tertawa lalu berkata "Memang paduka telah kembali ke istana tetapi beliau tidak pernah keluar dari istana, kembalinya kali ini membawa istri baru sangat cantik dan masih muda, andai dia memilih ku, aku tidak keberatan walaupun jadi yang ke 35 hihihihihi berharap kan boleh yaaaa goyangan ku juga adduhaaaai.....". Pelayanan yang paling muda dan mempunyai badan gemuk mengakhiri perkataan sambil menggoyangkan pinggulnya.


Merpati bertanya sambil bergaya seperti putri kerajaan. "Cantik mana istri barunya paduka raja dengan ku" Merpati mendongakkan wajahnya tangannya membelai lehernya sendiri sambil mendesah.


"Aaaaaaah.....!!!". Temannya menyenggol sambil berkata. "Sudah banyak yang lihat tuh, gaya kaya angsa bertelur saja di banggakan".


Mereka berempat cekikikan kedua pelayan itu pergi sedangkan Merpati dan kedua temannya yang Wiwin menyantap makanan.


Merpati dan Wiwin adalah murid perguruan pedang setan mereka berdua di tugaskan untuk mencari kebenaran berita bahwa Raja Shun Land sudah kembali.


"Kakak win kita sudah mendapatkan informasi begitu mudah tidak mungkin pelayan itu berbohong apa kita langsung pulang ?". Merpati bertanya pada kakak seperguruannya.


"Tidak Merpati kita harus melihat langsung atau setidaknya kita mendapatkan informasi dari para pejabat istana atau pekerja istana". Wiwin menjawab dengan tegas.

__ADS_1


"Aku setuju kakak win, kita pun di beri uang yang cukup banyak kita bermalam disini siapa tahu kita mendapatkan laki-laki yang gagah, tampan dan bisa membuat kita menjerit-jerit kecil". Merpati mengiyakan.


"Dasar otak ngeres" Wiwin menjawab singkat.


"Tapi kakak juga suka kan aku tahu pada waktu menyerang perguruan Macan putih kakak menyandra salah satu murid laki-laki yang muda dan cukup tampan". Merpati menimpali tidak mau kalah.


"Eeeh kau mengawasi ku dari mana kau tahu masalah itu". Wiwin menatap wajah Merpati dengan roman wajah memerah sedikit malu.


"Tiga hari kemudian aku juga memakai pemuda itu katanya asiiik goyangan ku Daria pada sama kakak Win... Jangan marah cuma bercandaaaaa hihihihihi". Merpati sengaja menggoda kakak seperguruannya.


Keduanya berjalan ke tempat pembayaran setelah membayar merekapun memesan satu kamar kelas menengah untuk tiga hari kedepan.


Mereka berdua naik ke lantai dua di antar pelayan yang tadi melayani mereka. "Nona pelayan setelah bertugas mau kah kau tidur menemani kami berdua". Wiwin menawarkan pelayanan wanita muda yang sedikit gemuk untuk menemani tidur mereka.


"Tenang saja nona saya juga tidak akan tega membuat kau pergi dari kamar kami dengan tangan kosong". Wiwin meyakinkan pelayan itu yang kemudian menjawab dengan anggukan.


Di malam itu Boma berjalan ke dermaga niatnya ingin menenangkan diri, sesampainya di pinggir dermaga Boma duduk di kayu penambatan kapal matanya memandang ke tengah sungai purba Citarum, banyak kapal besar dan kecil lalu lalang ada juga perahu nelayan yang pulang dari melaut atau pun yang berangkat untuk mencari keberuntungan di samudra Dwiva.


Wajah Boma terlihat sangat marah itu bisa di lihat dari mimiknya yang memerah. Boma merasa sangat kesal dengan pendekar Jaya Sempurna yang telah melukai permaisuri May Lien tapi pihak kerajaan tidak ada yang bisa berbuat apa-apa karena ilmu olah Kanuragannya pendekar ini sangat tinggi.


"Andai adik Shun Land ada kau akan habis di cabik-cabik membuat wanita yang sangat di cintainya terluka dalam sampai parah, Adiik Shun Land di mana kau berada biar kakak mu ini yang mengantikan mu menderita jiga kau dalam kesusahan asal kan kau cepat kembali". Hati Boma berkata penuh kesedihan.


Saking dalamnya Boma dalam lamunan hingga tidak menyadari di sisi kiri dan kanannya ada yang duduk menemaninya. "Tuan seperti sedang bersedih bolehkah saya menemani tuan hanya sekedar berbincang-bincang, saya dari jauh belum banyak teman di ibukota Sundapura ini".

__ADS_1


Boma terperanjat mendengar ada suara wanita di sampingnya dengan spontan Boma menoleh matanya terbelalak melihat wanita cantik duduk dengan belahan pakaian bawah sampai ke tengah paha.


"Ooh silahkan dengan senang hati". Boma menjawab dengan terbata-bata. Mereka berdua tersenyum lucu melihat tingkah Boma yang terlihat grogi.


Mereka berdua adalah Wiwin dan Merpati yang sengaja keluar ingin melihat kota pelabuhan yang konon katanya sangat indah. Selain itu keduanya sedang mencari teman laki-laki yang bisa di ajak untuk bersenang-senang.


"Tuan sepertinya seorang pejabat penting kerajaan, tuan ini saya membawa minuman cukup untuk mengusir udara dingin kota pelabuhan dan semoga saja kami berdua bisa menghibur tuan untuk mengurangi kesedihan tuan". Wiwin yang lebih dewasa menyodorkan gelas kecil berisi minuman ke Boma.


Boma yang emosinya tidak stabil tidak banyak berpikir langsung menerima dan menenggak minuman itu dengan satu tenggakan. Boma bergidik sedikit setelah minuman itu lewat kerongkongannya.


Beberapa saat mereka bertiga tidak ada yang bicara Merpati menenggak satu gelas kecil di ikuti Wiwin, setelah itu menyodorkan gelas ke Boma.


"Terima kasih Nona-nona cantik nanti saya ganti minumannya, ini cukup". Sambil berkata Boma merogoh kantong dan menyodorkan satu kantong keping koin emas pada Wiwin yang memegang kendi kecil.


Merpati melirik dan menganggukkan kepala dengan pelan pada Wiwin memberikan isyarat untuk menerima kantong keping koin emas.


"Tuan ini sangat baik hati saya sangat senang berjumpa dengan tuan". Wiwin menerima kantong koin emas sambil merekatkan tubuhnya ke tubuh Boma.


"Tuan bagai mana kalau kita pindah berbincang-bincangnya di dalam kamar kami dan juga di sini tidak ada yang menjual minuman, di sana tuan bisa santai dan kita pun bisa saling lebih dekat tanpa takut di lihat orang". Merpati bicara sambil menempelkan bibirnya di kuping Boma.


Boma yang sudah terpengaruh minum segera berdiri dan berkata. "Kau selain cantik juga sangat cerdas baik kita pindah dan menambah minum tenang masalah uang tidak ada persoalan". Boma bergaya sambil menepuk-nepuk saku bajunya yang memang masih ada beberapa kantong koin emas.


Wiwin dan Merpati tersenyum kemenangan karena mereka berdua mendapat tiga keuntungan. Satu akan mengorek informasi dari Boma yang menurut dugaan mereka berdua adalah salah satu pejabat penting istana, kedua mereka akan mengerut uang Boma dan yang ketiga mereka berdua bisa bersenang-senang di malam itu.

__ADS_1


*****************


__ADS_2