
Malam semakin larut mereka membubarkan diri tetapi Shun Land tidak ikut masuk ke dalam kamar peristirahatannya dengan alasan ingin menemui keluarga pak Sardi pengurus makam leluhurnya.
Shun Land membuka gulungan surat yang tadi tertunda di temani Boma yang tiduran di samping Shun Land. Shun Land membaca surat itu secara perlahan tanpa mengeluarkan suara.
"Harsa purnama ke tahun tiga dari pertarungan Ayah Mara Deva dengan pemilik tubuh 4 lintang ke5 Pancer". Bunyi tulisan paling atas lalu di teruskan ke baris di bawahnya.
"Tertuju pada pemilik tubuh 4 lintang ke5 pancer. Kau adalah salah satu keturunan dari garis ibu adalah keturunan ayah Mara Deva dengan Dewi Iswari tunggal Pertiwi putri Leluhur Ki Bagus Atma yang mempunyai dua anak Aku Harsa dan Dewi Mirnawati adik ku,......
,....Namun Dewi Mirnawati adik ku tidak beruntung sejak lahir tidak di karuniai tubuh seorang pendekar hingga ayah Mara Deva menyuruh ku untuk membunuhnya di tengah hutan tetapi aku mengambil resiko untuk menyelamatkannya menghanyutkan di sungai dengan dua buah pohon yang di ikat,...
,.... Kebaikan mengiringi Dewi Mirnawati adik ku panglima kumbang menyelamatkan dan mengasuhnya hingga di nikahi Khalma Jaya dan mempunyai putri satu putri bernama Shi khal dari asal Kalimat Cikal yang terusan kata Bakal yang memiliki makna Asal mula,... dan benar saja dari Rahimnya lahir diri mu yang mempunyai tubuh istimewa papat lintang ke5 pancer,....
,.... bila kau membaca surat ini maka cepatlah datang ke puncak gunung kerinci aku bersama dengan ketiga Adik ku menunggu mu, aku menulis silsilah agar engkau tidak melupakan asal usul mu".
 Itulah bunyi surat dari Harsa cuci dari leluhur Ki Bagus Atma. (Lihat Chapter 227).
Shun Land menarik napas dalam-dalam dan mengeluarkannya dirinya menerka-nerka apa yang ingin di sampaikan Harsa padanya setelah tahu dirinya adalah musuh besar ayahnya Mara Deva.
"Kak Boma aku akan menemui empat anak dari Mara Deva, dan tolong simpan surat penting ini". Shun Land memberikan surat dari Harsa, Boma menerima dan langsung duduk dari tidurannya karena penasaran Boma ikut membaca surat tersebut.
__ADS_1
Setelah selesai membaca Boma memandang Shun Land yang sudah berdiri dan ikut berdiri dan memandang wajah Shun Land dengan rasa tak percaya musuh selama ini yang selalu ingin membunuhnya adalah leluhurnya Shun Land sendiri.
"Adik Jaya apakah benar yang tertulis di dalam surat ini". Boma bertanya ingin meyakinkan kebenaran surat ini. Shun Land menjawab tanpa menoleh ke wajah Boma.
"Benar kak, tetapi sesungguhnya yang mengobarkan permusuhan adalah gurunya Bernama Pancasiksa saudara seperguruan Raja Agung Sundaland Jatiraga, kak aku pergi dulu". Shun Land lalu melesat ke udara dan meluncur ke puncak gunung kerinci gunung tertinggi di daratan luas Swarna Bumi.
Boma masuk ke dalam istana Naga hitam dua pelayan yang masih mengenali tersenyum sambil mengedipkan matanya pada Boma, Boma mengerti kedipan keduanya yang ingin bernostalgia seperti pertama berkun pertama kali ke istana Naga hitam kerajaan Gendis ini.
Boma berjalan ke arah bekas kamar pribadi Mara Deva yang kosong tidak ada yang berani memakainya, Dua pelayan itu mengikuti sambil menggelayut ke tangan Boma setelah di dalam Boma masuk ke pintu kamar mandi dia ingin mandi air hangat di temani kedua pelayan itu.
Setelah mandi Boma langsung tengkurap di tempat tidur kedua pelayan cantik dan mengerti maksud Boma mereka mengambil minyak dan naik di kiri kanan Boma yang tengkurap, keduanya memulai mengurut Boma tangan Boma yang terampil tidak mau diam bergerak sana sini membuat kedua pelayan itu cekikikan.
Boma membalikkan tubuhnya menjadi terlentang, begitu melihat dua pelayan itu tenggorokannya langsung kering ingin menelan ludah, kedua pelayan itu sudah hilang pakaian yang menempel di tubuhnya yang tersisa hanya kain secuil di dada dan di antara kedua pahanya.
(Hadeeeeh Boma)
Sementara itu Shun Land sudah melayang di atas puncak gunung kerinci perlahan Shun land turun di lihatnya ada bangunan sederhana di sisi barat puncak gunung Kerinci.
Empat orang orang berdiri dan menatap Shun Land yang turun dari atas, Shun Land menginjakkan kakinya di depan ke empatnya berjarak 3 Deva cahaya rembulan menjelang purnama cukup terang untuk melihat ke empat orang tersebut.
__ADS_1
Dua orang laki-laki dan dua orang perempuan wajah mereka berempat sangat mirip dengan Shun Land. Shun Land langsung berlutut dan menghaturkan hormat.
"Salam hormat pada leluhur". Setelah itu Shun Land berdiri lagi, dari keempatnya satu orang laki-laki maju empat langkah lalau menjawab. "Terima kasih telah memenuhi undangan ku, tujuan kami berempat mengundang mu adalah hanya ingin bicara dari hati ke hati, silahkan paduka Raja pilihan Sang Pencipta masuk ke dalam jangan khawatir kami tidak ada maksud jahat pada paduka raja". Harsa mempersilahkan Shun Land masuk ke rumah yang terbuat dari kayu.
Harsa masuk duluan di ikuti ke 3 saudaranya dan Shun Land, di dalam rumah itu tidak ada apa-apa hanya ada dua ruangan, lantainya terbuat dari batu yang di susun beralaskan dedaunan yang sudah mengering Harsa duduk di ikuti ketiga saudaranya dan Shun Land yang menghadap ke arah Harsa.
Cahaya lampu Cempor cukup terang untuk menerangi dan mengenali wajah mereka semua.
"Perkenalkan saya Harsa kakak dari Dewi Mirnawati Leluhur paduka, dan ini Parva, ini Rati, Ini Tisna, Kami lahir hampir bersamaan dari ibu yang berbeda".
Harsa menunjuk ketiganya memperkenalkan ketiga saudaranya.
Mara Deva mempunyai anak semuanya 9 orang 3 perempuan dan 5 laki-laki. Pertama Asvaghosa, kedua Deva Putta Keduanya dari ibu yang sama adik dari Raja agung Sundaland Jatiraga, ketiga Rati, ke empat Priti ke lima Tisna ke enam Parva ke tujuh Harsa ke delapan Dewi Mirnawati dan yang ke sembilan Vibrama. Semuanya memiliki darah Mara Deva yang mempunyai ajian Rawarontek hingga memiliki usia yang panjang kecuali Dewi Mirnawati yang tidak memiliki gen Mara Deva tetapi memiliki gen dari ibunya Dewi Iswari tunggal Dewi.
Shun Land tidak bicara hanya mendengarkan perkataan Harsa, Harsa yang berhenti bicara akhirnya meneruskan bicaranya. "Dari anak-anak Ayah Mara Deva ada 2 golongan, yang pertama anak yang mendukung tindakan Ayah Mara Deva yang selalu mematuhi perintah Gurunya Pancasiksa, dan golongan ke dua adalah Kami berempat yang secara sembunyi-sembunyi sangat tidak senang dengan tindakan ayah Mara Deva yang selalu bertentangan dengan hati nurani kami,....
,..... Kekalahan ayah Mara Deva yang bertarung dengan paduka raja memberikan kesempatan bagi kami untuk bebas dari pengaruh dan cengkraman ayah kami yang sesat,.....
,..... Keperluan saya dan ketiga saudara saya adalah ingin menawarkan jasa bila terjadi perang besar kami akan berpihak pada paduka raja, tetapi kami mempunyai 2 permintaan pada paduka raja 1. Bunuh ayah kami dengan cepat hingga kami tidak melihat ayah kami yang lama dalam kesakitan walaupun kami tidak menyetujuinya atas tindakannya tetapi itu ayah kami, permintaan ke dua izinkan kami tinggal di istana Naga hitam tempat kami di besarkan, hanya itu paduka yang ingin saya bicarakan". Harsa mengucapkan kepentingannya. Tetapi sebelum Shun Land bicara Harsa bicara lagi.
__ADS_1
"Satu lagi paduka Raja penyerangan di kerajaan Nagur yang di pimpin bernama Banaspati itu adalah Kama Deva yang kemungkinan di perintahkan oleh Ayah Mara Deva".
--------*****-------