
Niraya Sura tidak ingin kehilangan kedua anak buah yang paling setia yang sudah lama mengikutinya dalam masa sulit atau masa senang.
Di istana kerajaan, berita tentang pembunuhan, para jagoan pasar yang sering berbuat onar dan memberatkan para pedagang dengan jatah uang keamanan.
Membuat para petinggi merasa malu karena tidak Bisa memberi keamanan kepada masyarakat yang membutuhkan.
Akhirnya tindakan yang seharusnya di lakukan oleh pihak kerajaan, malah di lakukan oleh pihak luar, yang tidak di ketahui identitasnya.
Sang Ratu SHI khal memanggil, panglima Tian agan dan yu asri haring, juga memanggil tetua Mantikai yang menangani keamanan dan mengetuai telik sandi kerajaan.
Di sana juga hadir putri Sari Tungga Dewi sebagai wakil putra mahkota, ada juga pangeran Kitri yang di angkat sebagai ketua administrasi kerajaan, hadir pula pangeran Dehen selaku pendamping putri Sari Tungga Dewi.
"Tetua Mantikai, coba ceritakan apa yang tetua ketahui dengan peristiwa terbunuhnya para jagoan pasar oleh pihak yang tidak di ketahui, dan mereka tidak meninggalkan jejak"
Ratu SHI khal memulai pembicaraan dengan bertanya kepada tetua Mantikai.
"Paduka Ratu dan maha Patih, juga Putri Sari Tungga Dewi, peristiwa tersebut terjadi kemarin malam.
Menurut para prajurit yang terjun langsung ke lapangan, di laporkan bahwa semua pembunuhan itu, di awali kejadian siang harinya, bahwa ada seorang pengemis yang menolong seorang ibu penjual alat-alat dapur, yang di mintai uang keamanan oleh jagoan pasar.....
Pengemis itu menolong ibu-ibu pedagang itu, terjadilah perkelahian, salah satu jagoan pasar, mati dengan kepala terpenggal....
Dan esok harinya, para pedagang melaporkan, pada pihak keamanan, bahwa di pasar banyak mayat bersimbah darah, dan setelah di selidiki bahwa, mereka semua jagoan pasar yang sering berbuat onar dan meminta jatah uang keamanan kepada para pedagang...
Tapi sampai sekarang belum di ketahui siapa yang membunuh para jagoan pasar itu....
Cuma ada laporan dari telik sandi bahwa, pengawal Tuan muda Maasiak putra dari juragan pasar tuan Upiak arai, terbunuh pada malam itu juga"
Tetua Mantikai memberi jawaban sesuai dengan yang di laporkan bawahannya.
"Menurut saya, selama putra mahkota pangeran Shun Land belum kembali, sebaiknya kita tidak boleh menggambil tindakan lebih jauh" putri Sari Tungga Dewi memberi pendapat
"Baiklah masalah ini kita, akan melihat perkembangannya, panglima perintahkan semua jajaran keprajuritan jangan ada yang terlibat langsung, kita awasi saja dari kejauhan, rapat di cukupkan sampai disini"
Sang ratu memberikan perintah.
"Baik paduka Ratu" panglima perang Tian agan menjawab dengan tegas.
--------------------------
__ADS_1
Di sebuah ruangan bawah tanah, yang di atasnya sebuah bangunan asrama keprajuritan istana.
Di sana seorang pendekar di ikat di sebuah kursi dengan muka babak belur, dan tubuh di penuhi oleh bekas cambukan.
Di sana ada pendekar syair kematian, sedang mengintrogasi pendekar Badrowi.
"Aji, Wisnu ada perkembangan jawaban dari antek-antek Maasiak, apa dia tau keberadaan pendekar tiga tapak serangkai"
Wisnu Pratama menjawab tanpa Ragu
"Ketua menurut saya dan kakang aji, Badrowi tidak mengetahui, keberadaan tiga pendekar tapak serangkai, saya yakin itu"
Seorang prajurit berpakaian seperti petani menghadap ketua pasukan khusus senyap.
"Ketua di pintu depan, kepala divisi telik sandi tuan Gustam dan kepala divisi keamanan tuan Setyo Adi, ingin menghadap"
"Segera suruh masuk, dan kau beri tahu kawan-kawan mu, yang malas berlatih tidak akan mendapat misi dan akan di kembalikan keprajuritan luar"
Ketua pasukan khusus senyap Antaka, sekaligus memberi peringatan kepada para prajurit yang baru di rekrut.
Tak begitu lama, Gustaman dan Setyo Adi, datang dengan pakaian, pedagang dan pengemis.
Setyo Adi melaporkan perintah dari pangeran Shun Land.
Ketua pasukan khusus senyap tertegun, mendengar laporan Setyo Adi, yang mengatakan tiga Dewi kematian berada di pihak pangeran Shun Land.
Dia tau benar pemilik ilmu gendam merenggut Sukma ini sangat sulit di taklukkan.
Pernah di suatu kesempatan dia bentrok, waktu di daratan luas Dwipa, dia sendiri hampir terperdaya oleh ilmu gendam merenggut Sukma milik Dewi lerna, tapi untung saja, ilmu syair kematian sempat di gunakan, dia bisa terlepas dari ilmu gendam merenggut Sukma tersebut.
Dan sekarang pengeran Shun land bisa menaklukkan tiga Dewi kematian dengan mudah, ketua sungguh bangga dan salut akan kekuatan Pangeran Shun land.
Pantas saja gurunya sangat percaya pada manusia bertubuh empat lintang ke5 pancer ini.
"Bagai mana hasil penyelidikan mu Gustaman, segera laporkan" Antaka memberi perintah kepada Ketua telik sandi Gusman.
"Tetua saya yang di tugaskan untuk mengawasi kediaman juragan pasar tuan Upiak arai.....
Melihat dua pendekar berilmu tinggi, satu tinggi besar dan satunya lagi agak pendek dan gemuk, keluar dari gerbang belakang rumah itu.
__ADS_1
Saya juga melihat tiga Dewi kematian keluar menggunakan kereta mewah menuju kedai hiburan di belang pasar.
Dan satu lagi ketua, pelayan pencarian berita di kedai bunga mawar merah, sudah tidak ada, menurut telik sandi yang saya tempatkan di sana dia di tarik ke kedai bunga melati di belakang pasar" Gustaman memberi laporan terperinci.
"Bagai mana kegiatan di kediaman Menteng dan tetua Mantir apa ada perkembangan"
Ketua Antaka bertanya lebih lanjut.
"Untuk sementara ini tidak ada kegiatan tetua, jangan khawatir saya telah menempatkan beberapa telik sandi di sana, dan dua wanita menyamar jadi pelayan di dalam kediaman mereka" Gustaman memberikan keterangan dengan jelas dan terperinci.
"Kalian semua dengarkan, Gustaman, Setyo Adi, Wisnu Pratama, dan jati Pratama, kalian adalah inti dari pasukan senyap....
Apa bila di antara kalian bertemu dua pendekar yang di sebutkan....
Semua harus menghindar secepat mungkin, jangan bentrok langsung, dia buka tandingan kalian, dia adalah murka dewa dan asur Pati, tangan kanan Niraya Sura...
Kalian ingat baik baik"
Antaka pendekar syair kematian, memberi petunjuk kepada, ke empat kepala divisi pasukan khusus senyap.
"Gustaman hentikan pengawasan di kediaman tetua Menteng dan tetua Mantir...
Fokuskan, pengawasan ke kediaman juragan pasar tuan Upiak arai, dan kerahkan semua telik sandi si setiap sudut kota, untuk mencari keberadaan tiga pendekar tapak serangkai...
Dan hubungi tetua Mantikai, untuk mengunakan telik sandi resmi kerajaan untuk mencari keberadaan Tiga pendekar tapak serangkai, sampai ke luar kota dan luar kerajaan, katakan ini perintah putra mahkota pangeran Shun Land...
Setyo Adi kau bertugas hubungi panglima Tian agan dan yu asri haring untuk menemui ku di asrama keprajuritan....
Dan kau jati dan Wisnu, istirahatkan pasukan yang ikut bertugas di malam tadi, dan awasi para anggota baru, periksa dengan teliti, terutama tentang kesetiaan terhadap pangeran Shun Land dan kerajaan ini"
Ketua pasukan khusus senyap Antang memberikan perintah lanjutan.
Mereka berempat pun meninggalkan ruangan rahasia bawah tanah, tinggalkan Antaka dan sandera pendekar Badrowi.
"Ada dua pilihan yang kau punya satu kau bergabung dengan kami dan melakukan sumpah darah....
Kedua ku hancurkan ilmu olah Kanuragan mu, dan ku lepaskan kau keluar, biar semua musuh lama mu, membunuh mu Dangan sadis, silahkan pilih, aku memberimu waktu berpikir sampai besok"
Antaka tak menunggu jawaban langsung berlalu.
__ADS_1
...****************...