
Paduka sangat rendah hati, ada apakah gerangan paduka sampai ke datang sendiri kesini tidak mengutus prajurit istana". Dewi Lerna setelah duduk dan mempersilahkan pangeran Shun land mencicipi hidangan bertanya akan keperluan pangeran Shun land.
"Bibi aku ingin Bibi berkerja sama dengan panglima kakang Khal Shugal untuk menjaga keamanan diri, karena bibi di tunjuk paman Antaka untuk memimpin di sini, kedua saya ingin bertanya tentang, orang yang berna Mara Deva dan kama Deva apa bibi mendengar orang ini selama mengikuti Niraya Sura". Pangeran Shun land bertanya.
Dewi Lerna tidak langsung menjawab sepertinya dia mengingat-ingat kejadian sekitar 6 tahun yang lalu.
Tidak lama Dewi lerna bicara, "paduka
Setahu saya, Niraya Sura pernah menyebut nama Kama Deva dengan sebutan kakang, tapi untuk Nama Mara Deva saya belum pernah mendengarnya". Jawab Dewi lerna seadanya yang dia tahu.
"Apa paduka pernah bertemu dengan mereka berdua". Dewi Lerna melanjutkan bicaranya dengan suatu pertanyaan.
"Waktu aku di padepokan tapak maut, dan akan bertarung dengan Ki tapak sakti, Kama Deva menyelamatkannya. Aku dan paman Antaka tidak bisa mengejarnya, ilmu Kanuragannya sangat tinggi". Pangeran Shun Land menjawab.
Sebenarnya pangeran Shun land selalu memikirkan kejadian waktu bertemu Ki Kama Deva, pada waktu itu andaikan dia bermaksud untuk membunuhnya sungguh sangat mudah karena ilmu tenaga dalam yang di miliki Ki Kama Deva lebih tinggi darinya, tapi dia tidak dilakukannya.
Entah apa yang menjadi alasannya Ki Kama Deva tidak menyerang dirinya.
Ini membuat pangeran Shun land selalu memikirkannya tapi tidak menemukan jawabannya.
Hati dan niat pangeran Shun land sangat ingin segera berangkat ke daratan luas Dwipa, selain ingin mengambil mustika air panca warna, dia juga ingin segera menemui guru Antaka Ki Srengga,
Keperluannya ingin memperdalam ilmu saipinya selain itu dia juga ingin mempertanyakan keberadaan senjata bintang pedang naga bergola.
Pangeran Shun land mempunyai perhitungan bahwa dia tidak akan mampu melawan Mara Deva, walau di bantu oleh naga bumi Sabui dan sang Rajawali api.
Pangeran Shun land berharap bila dia memegang senjata pusaka pedang Naga bergola bisa mengimbangi Kekuatan Mara Deva Musuh bebuyutannya leluhur Raja agung.
Menurut keterangan sang Rajawali api, di kepingan ingatannya, bahwa dulu waktu menempa pedang tersebut sang empu sang Hyang triloka yang guru dari leluhur raja Agung, menyebutkan. Selain menciptakan ilmu saipi dia juga menciptakan ilmu pedang yaitu ilmu tarian Rajawali api.suatu ilmu pedang.
Kitab Tarian Rajawali di simpan dalam warangka pedang tersebut, karena pada dasarnya pedang naga bergola adalah pasangan ilmu pedang tersebut.
__ADS_1
Tetapi Sang hyang Triloka tidak menyebutkan di mana dia menyimpan pedang tersebut.
Pangeran Shun land berharap Ki Srengga mengetahui keberadaan pedang naga bergola.
Pangeran Shun land juga berharap semoga ingatan sang Rajawali api cepat pulih, dia berharap di ingatan sang Rajawali api ada keterangan tentang kitab Tarian Rajawali api.
Selain urusan tersebut pangeran Shun land juga ingin mencari sang kakak dan adiknya.
"Trima kasih bibi Dewi lerna paman Badrowi, saya pamit ingin mengunjungi pasar dan sekaligus melihat kedai bunga melati". Pangeran Shun land berpamitan.
Pangeran Shun land keluar di antar Dewi lerna dan Badrowi sampai pintu gapura markas Bhayangkara-1.
Setelah tidak ada yang melihat Pangeran Shun Land menggunakan ilmu saipi angin, berlari bagai banyak yang tak menyentuh tanah.
Hanya butuh beberapa waktu saja pangeran berdiri di depan gerbang kedai bunga melati, niatnya di urungkan, pemikirannya berubah pangeran Shun land merasa tidak pantas seorang raja masuk di kedai makan yang di dalamnya terdapat hiburan malam.
Akhirnya pangeran Shun land kembali ke istana, dia melihat sang istri tertidur di kursi menunggu dia kembali, dengan hati-hati pangeran Shun land membopong permaisuri May lien ke pembaringan tetapi saat dia menarik tangannya, tangan tersebut ada yang menahannya.
"Jangan pergi". Hanya itu yang keluar dari bibir mungil milik sang permaisuri May lien.
Akhirnya pangeran Shun land yang rencana akan mengunjungi markas Bhayangkara-1 esok pagi, akhirnya dia pergi malam tadi.
Dia tak enak hati harus tidur dengan salah satu dari istrinya ketika mereka berkumpul bersama.
Pangeran Shun land merebahkan tubuhnya, dan melakukan kewajiban seorang suami terhadap istri.
(Tidak usah di jelaskan para Sahabat NOVELTOON, sudah pada mengerti).
Enam hari telah berlalu, pagi itu pangeran Shun land berada di kediaman tetua Sri khal.
"Adik Dewi sumayi aku akan pergi, aku ingin bertemu dengan nyai Kunti Devanti, di padepokan Ot Danum kehidupan, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan dengan, menurut paman Antaka aku harus segera menemuinya". Pangeran Shun land berpamitan.
__ADS_1
Walau dengan berat hati permaisuri Dewi sumayi mengerti tugas seorang raja dan seorang pendekar persilatan sangat banyak.
Dengan pakaian seperti petani biasa pangeran berangkat menunggang Ampong kuda hitam tunggangannya. Setelah sampai pedukuhan terakhir sebelum masuk ke dalam hutan.
Namun Pedukuhan Tanjung tersebut sepi seperti tidak ada penghuninya.
Di tengah jalan pedukuhan pangeran Shun land menuntun kudanya, tidak berapa lama ada serombongan tua muda, laki-laki dan perempuan.
Wajah-wajah penduduk itu penuh dengan rasa kesedihan, pangeran Shun land bertanya kepada salah satu iring-iringan tersebut.
"Paman ada kejadian apa di pedukuhan Tanjung ini, dan habis dari mana kalian semua".
Pak Kasjan yang paling depan berjalan di iringi-iringan tersebut, mendapatkan pertanyaan itu menjawab.
"Kami sedang mengalami musibah penduduk pedukuhan Tanjung kami di serang penyakit demam tinggi, dan hanya butuh waktu tiga hari yang terkena wabah penyakit tersebut meninggal,.....
"Kami hari ini menguburkan dua warga pedukuhan ini yang meninggal, saya sebagai kepala pedukuhan sangat terpukul tidak bisa berbuat apa-apa". Kepala Pedukuhan menambahkan.
Pangeran Shun land mendengarkan keterangan dari kepala Pedukuhan pak Kasjan, termenung sejenak. Lalu bertanya
"Pak kepala pedukuhan, saya ini seorang pengembara bolehkah saya melihat orang yang terkena wabah tersebut, semoga saja saya bisa membantu".
"Silahkan Ki sanak tapi jangan salahkan kami bila Ki sanak tertular wabah tersebut". Jawab Kasjan kepala pedukuhan tersebut.
"Saya tidak akan menyalahkan siapa-siapa bila terjadi sesuatu". Pangeran Shun land menimpali.
Dalam hati pangeran Shun land ini adalah kewajiban seorang raja menolong rakyatnya dia akan merasa berdosa bila hanya berdiam diri.
"Ki sanak boleh ke rumah saya kebetulan putri sulung saya juga terkena wabah tersebut".
Pangeran Shun land mengikuti pak Kasjan kepala pedukuhan Tanjung tersebut.
__ADS_1
Dalam hati pangeran Shun land bertanya-tanya mengapa kepala pedukuhan tersebut tidak melaporkan kejadian ini ke kota kerajaan yang jaraknya tidak terlalu jauh.
...****************...