LEGENDA RAJAWALI API

LEGENDA RAJAWALI API
370. Jaya Sempurna 103. membangun benteng pertahanan di setiap pelabuhan


__ADS_3

"Paduka saya ingin melaporkan tentang keamanan lautan laut Sunda Dwiva, tapi mohon maaf paduka bila laporan ini kurang mengenakan hati paduka". Laksamana Sarpa berkata dengan hati-hati sekali karena ini menyangkut hal yang sensitif.


"Silahkan paman Sarpa jangan ragu-ragu, kita sedang membangun sebuah peradaban untuk anak cucu kita, kita tidak boleh membawa emosi dan masalah pribadi, kita harus ingat bahwa kita duduk di sini demi kehidupan lebih baik untuk seluruh negri agar suatu ketika kita bisa di kenang hingga ribuan tahun mendatang oleh keturunan kita". Shun Land menjawab dengan sungguh-sungguh ucapan ini pun sebagai nasehat kepada seluruh yang ada di sana.


"Begini paduka untuk keamanan lautan Sunda Dwiva dari semenanjung Malaka sampai perairan selatan Makasar dan laut Polres sudah di klaim bagian dari wilayah kerajaan Kutai Martadipura oleh pangeran Shan land atau pangeran Jaya lelana sejak setahun yang lalu hingga mengakibatkan jalur perdagangan kita menurun drastis, perdagangan kita hanya mengandalkan Selat Krakatau(selat Sunda) saya pernah meninjau langsung dengan dua puluh armada perang tetapi di hadang oleh armada perang Kerajaan Kutai Martadipura hingga 50 kapal perang yang tidak kalah besar dan maju dalam persenjataan,....


,..... Saya bisa saja membawa lebih besar pasukan tetapi saya takut memicu perang sedangkan raja Kutai Martadipura adalah saudara tua paduka, saya pun setelah sampai di pelabuhan Swarna Bumi berdiskusi dengan putri Serindang bulan dan akhirnya memutuskan untuk menyelidiki ini,..


,... Saya mengirim Telik sandi armada Naga Biru yang terbaik sepuluh orang, dari telik sandi ini, saya mendapat informasi bahwa di istana Martadipura raja Shan land tidak berada sana, tapuk pemerintahan di pegang pangeran Khal Shugal kakak sepupu paduka, telik sandi mencoba melacak keberadaan Raja Shan land tetapi tetap tidak menemukan sedikitpun informasi,.....


,.... Saya pun mendengar analisa para Telik sandi mereka menyimpulkan bahwa Raja Shan land memerintah dari jarak jauh dan sebagi pelaksana pangeran Khal Shugal, mereka menyebut Raja Shan land sebagai raja bayangan, itulah yang ingin saya katakan" panglima Laut atau Laksamana Sarpa mengakhiri laporannya.


"Biarkan saja paman Sarpa mungkin Kakang Jaya lelana ingin merasakan mejadi raja seutuhnya tidak mau di bawah naungan kerajaan kita, paman jangan memulai perang, tetapi kita akan siap berperang bila mereka menyerang kita, walaupun dia kakak saya tetapi bila menyangkut kehormatan kerajaan, kita akan melawan sampai titik darah penghabisan".

__ADS_1


"Paman Sarpa beri utusan pada putri Serindang bulan untuk mengecek setiap kapal perang bekas milik Mara Deva, Cek juga di istana naga hitam di lembah hitam gunung kerinci bekas istana Mara Deva, karena saya menemukan puluhan peti koin emas di pelabuhan Cilamaya di kapal perang bekas Mara Deva,....


,... Saya rasa masih banyak harta yang di sembunyikan di kapal kapal mereka, Mara Deva ribuan tahun menguasai negri ini, periksa juga kapal perang mereka yang tidak terpakai di setiap pelabuhan, paman Bajul pakel kirimkan telik sandi ke kerjaan Kutai Martadipura untuk menemui 3 Dewi kematian dan perintahkan mereka untuk menemui ku di perguruan Kanoman sumur Pitu, kemungkinan besar Dewi Lerna mengetahui secara detail perkembangan di sana,.....


,.... Putri Dian Prameswari Dwibuana saya ingin membangun benteng-benteng pertahanan di setiap pelabuhan pesisir Utara, 1. Di Pelabuhan Cilamaya 2. Di pelabuhan Asemarang 3. Pelabuhan Berantas 4. Pelabuhan ujung kulon dan ke 5 di pelabuhan Cisadane. Dari ke5 pelabuhan besar ini pintu masuk pasukan musuh, untuk penempatan pimpinan saya akan percayakan pada pangeran Sanjaya triloka,.....


,...... di daratan luas Swarna Bumi saya akan meminta pangeran Agam dari Samosir untuk memimpin membuat benteng pertahanan dan pos-pos pertahanan di setiap pelabuhan timur Swarna Bumi". Shun Land mengakhiri bicaranya memberikan perintah garis besarnya kepada putri Dian Prameswari Dwibuana sebagai kepala pemerintahan kerajaan. (Kalau sekarang perdana menteri).


Putri Dian Prameswari dwibuana menjawab "Baik paduka, tapi saya usulkan di pelabuhan Cirebon juga, karena pelabuhan kecil ini mulai berkembang dan ramai, untuk benteng pelabuhan ujung kulon pangeran Nanjan. Di benteng pelabuhan Sundapura pangeran Dehen sekaligus memimpin strategi armada Naga Biru bersama paman Sarpa,....


,.... Untuk benteng di pelabuhan Brantas saya usulkan pangeran Bima Koncar dan pangeran Menak Pentor dari Bangsawan Osing. Tetapi untuk benteng pelabuhan Cirebon dan benteng pelabuhan Cisadane saya tidak mempunyai kandidat paduka". Putri Dian Prameswari Dwibuana mengajukan pendapatnya siapa yang memimpin benteng pertahanan di setiap pelabuhan.


"Untuk benteng pelabuhan Cirebon saya akan percayakan pada tiga Dewi kematian Dewi Lerna dan kedua adik seperguruan Tuti baniah dan Tuti ulwiah, mereka juga dekat dengan pusat perguruan Kanoman sumur Pitu mereka bertiga bisa berkomunikasi dengan Dewi Sukma nenek guru mereka bertiga, dan untuk benteng pelabuhan Cisadane di pimpin oleh Ki Aria Natanagara di bantu Ki Mahisa Taka dari perguruan Cimande dan Ciomas, kita telah selesai untuk saat ini mengatur langkah ini untuk hal lain kita bisa bicaramembiarkan lagi,....

__ADS_1


,... Saya akan berangkat sekarang bersama Ratu Galuh Sindula sebagai trah sah leluhur Sanghyang Triloka untuk peresmian berdirinya Kerajaan Galuh Sindula, dan ketiga permaisuri saya untuk yang lainnya saya serahkan pada putri Dian Prameswari Dwibuana dan pangeran Makkamaru untuk mengatur perpindahan pusat pemerintahan".


Mereka pun berpamitan satu persatu untuk melaksanakan rencana yang di bicarakan tadi, Panglima Bajul pakel dan panglima Tarpa segera berkemas di temani 5 pasukan khusus senyap untuk pergi ke gunung Dieng, mendatangi markas pembunuh bayaran pendekar kembar Karta dan Karto.


Laksamana Sarpa dan laksamanawati Komalahayati bergegas mempersiapkan keberangkatan ke Swarna bumi menemui putri Serindang bulan untuk menyampaikan perintah raja Shun Land.


Shun Land lalu bicara pada kedua permaisurinya, "Aku akan berangkat duluan bersama Dewi Pakuan dan permaisuri May Lien, setelah itu kalian berdua akan di jemput oleh sang Garuda".


"Iya kakang, kakang mengapa kita di hadapkan persoalan seperti ini dulu waktu kakang mengawali berjuang demi berdirinya kerajaan di daratan luas Nusa kencana dan daratan luas Sunda Dwiva kita baik-baik saja". Permaisuri Sari Tungga Dewi berkata matanya berkaca-kaca bagai manapun mau tak mau dia harus berhadapan dengan kakaknya sendiri pangeran Khal Shugal karena bersebrangan memihak.


"Itulah manusia kakak Sari walaupun kita di lahirkan dari rahim yang sama tetapi roh kita berbeda dari asal yang sama, pemikiran berbeda dan jalan hidup yang berbeda pula ini adalah ujian untuk kita sekaligus pelajaran untuk kita bahwa perjuangan untuk menempuh jalan kebaikan kadang harus melawan keluarga sendiri, bersabarlah itu jalan yang paling baik dan yakinlah jalan yang kita tempuh adalah jalan kebaikan dari Sang Maha Pencipta". Shun Land menjawab dengan sedikit nasihat pada kedua permaisurinya.


Terdengar suara ketukan dari luar ruangan, "Maaf paduka saya ingin menghadap, saya di utus permaisuri May Lien dan Ratu Galuh Sindula". Suara prajurit dari balik pintu.

__ADS_1


"Masuklah..... Shun Land menjawab dan meneruskan bicaranya setelah prajurit itu di hadapannya, "silahkan bicara paman penjaga".


****************


__ADS_2