
Shun land di kawal sang Canggah Leluhur Ki Bagus Atma menuju puncak gunung Krakatau yang konon menurut para pakar gunung yang sangat besar dan tinggi, tidak seperti terlihat sekarang.
------------------------
(Krakatau atau dengan nama internasional Krakatoa (atau Rakata) adalah kepulauan vulkanik yang masih aktif dan berada di Kecamatan Rajabasa, Kabupaten Lampung Selatan, tepatnya di perairan Selat Sunda, antara Pulau Jawa dan Sumatra.[2] Nama ini juga disematkan pada satu puncak gunung berapi di sana (Gunung Krakatau). Gunung Krakatau pernah meletus hebat tahun 535 M yang menyebabkan terbentuknya Selat Sunda, hilangnya peradaban orang Pasemah Lampung dan Salakanegara Banten selama sekitar 20-30 tahun. Ledakan Gunung Krakatau menyebabkan tsunami, langit gelap, dan cuaca dingin.[3] Pada tahun 1680, pernah terjadi letusan juga.[3] Peristiwa itu pun masih berlanjut terulang kembali yang menyebabkan Krakatau sirna lagi karena letusan kataklismik pada tanggal 26-27 Agustus 1883. Pada tahun 2019, kawasan yang sekarang merupakan cagar alam ini memiliki empat pulau kecil: Pulau Rakata, Pulau Anak Krakatau, Pulau Sertung, dan Pulau Panjang (Rakata Kecil). Berdasarkan kajian geologi, semua pulau ini berasal dari sistem gunung berapi tunggal Krakatau yang pernah ada di masa lalu).
----------------------------------------
Di dalam perjalanan Shun land dan leluhur agung Ki Bagus Atma di hadang beberapa hewan setengah siluman seperti Badak bercula satu, banteng edan, serigala, dan yang paling merepotkan Monyet berkerah putih di sebut monyet berkerah putih karena seluruh bulunya hitam tetapi di bagian leher bawah ada bulu putih yang melingkar seperti kerah.
Pertama Shun land dan leluhur agung Ki Bagus Atma mengahadapi Badak bercula satu Badak ini sangat besar kulit kebal terhadap segala senjata kelas bumi, akan tetapi badak yang sangat besar ini lari terbirit-birit ketika Shun land mencabut Pedang Naga Bergola.
Mereka sebenarnya mudah bila ingin mengalahkan Badak bercula satu ini akan tetapi Shun land dan leluhur agung Ki Bagus Atma tidak ingin membunuhnya mereka tidak ingin ekosistem hutan tersebut rusak.
Shun land duduk di bawah pohon mahoni besar setelah menakuti Badak bercula satu dengan pedang Naga Bergola.
Leluhur agung Ki Bagus Atma menghampiri dan bertanya penasaran, "Bagai mana cucu eyang tahu bahwa badak bercula satu takut pada Pedang Naga Bergola".
"Itu insting saja eyang". Jawab Shun land singkat, sebenarnya bukan kerena insting tapi karena Badak bercula satu bisa melihat Roh Naga Bergola Bergola yang keluar bila Pedang Naga Bergola di cabut dari warangkanya.
Shun land tidak menceritakan ini, takut nantinya banyak pertanyaan dari leluhur agung Ki Bagus Atma yang sukar untuk di jawab.
Leluhur agung Ki Bagus Atma manggut-manggut tanda mengerti walau pun di hati yang paling dalam merasa janggal dengan jawaban Shun land.
Mereka berdua melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki karena rute yang di tempuh semakin terjal dan mendaki.
Belum juga jauh dari tempat duduk istirahat tadi dari arah samping dua banteng dengan tanduk yang panjang menyerang seperti hewan gila(edan).
__ADS_1
Shun land dan leluhur agung Ki Bagus Atma melenting keatas hingga luput tandukan dari Banteng edan.
Mata banteng Edan merah menyala setalah tandukannya menghantam angin keduanya berbalik sambil mendoker-doker tanah dengan kaki belakangnya bersiap untuk mengamuk pada Shun land dan Leluhur agung Ki Bagus Atma.
"Eyang untuk yang satu ini kita harus membunuhnya karena banteng edan bermata merah sangat berbahaya bagi keselamatan penduduk bila dia di biarkan hidup bagai mana menurut eyang ?".
Shun land meminta pendapat pada Leluhur Agung Ki Bagus Atma. "Itu benar cucu ku kita harus memusnahkan siluman banteng bermata merah dia sudah membabi buta terlihat dari matanya dan suaranya yang tidak lagi seperti hewan biasanya".
Leluhur agung Ki Bagus Atma menyetujui untuk memusnahkan siluman banteng Edan bermata merah.
Shun land mencabut Pedang Naga Bergola dia pun ingin mencoba ilmu pedang Tarian pedang Rajawali Api jurus pertama tingkat ke tiga.
"Eyang sebaiknya menyingkir biar cucu mu ini yang mengahadapi, sekaligus melatih jurus Pedang tarian Rajawali Api ke tahap yang lebih tinggi".
Leluhur Ki Bagus Atma mendengar ucapan Shun Land tidak banyak bicara dia langsung meloncat ke dahan pohon yang tinggi.
Tubuh Shun land di penuhi dengan kilatan-kilatan Api merah Pedang Naga Bergola di tangannya berubah warna merah membara dari warna hitam kelam.
Terdengar di Batin Shun Land suara Roh Naga Bergola. "Tuan tidak kah berlebihan bila mengeluarkan kekuatan sebegitu besar". Suara Roh Naga Bergola sedikit hawatir.
"Laksanakan apa yang menjadi perintah ku Naga Bergola jangan seperti burung emprit yang rewel aku ingin menguji seberapa kuat tubuhku yang menyandang gelar tubuh empat lintang kelima pancer, keluar kan kekuatan mu dua kali lipat lagi". Shun land memerintah Roh Naga Bergola dengan tegas.
Roh Naga Bergola tidak mempunyai pilihan untuk menolak karena dia di sumpah untuk melayani dan menuruti segala perintah sang pemilik Pedang, ketika Naga Bergola sehabis bertarung dengan Naga bumi Sabui diana dia kalah dengan tubuh hancur yang tersisa hanya tulang, Naga bumi Sabui memiliki kekuatan Air lawan dari kekuatan apinya.
Roh Naga Bergola Melayang-layang tanpa tempat karena tidak di terima oleh Kahyangan, Naga bergola meminta pada Leluhur agung Sang Hyang Triloka untuk mengizinkan tinggal di pedang Naga Bergola.
Leluhur agung Sang hyang Triloka mengijinkan dengan janji dan sumpah untuk taat dan patuh pada pemegang Pedang Naga Bergola di kemudian hari, ini juga sebagai penebusan dosa Naga Bergola atas dosa-dosanya yang menentang kehendak sang maha Pencipta.
__ADS_1
Kobaran api di bilah Pedang Naga Bergola mengembang dua kali lipat dengan sendirinya kukuatan api itu menjalar ketubuh Shun land.
Shun land menjerit sangat keras tubuhnya melayang ke atas dia merasakan seluruh tubuhnya bagai di robek oleh ribuan pisau yang menyala.
Di tengah jeritannya Shun land mengatur nafasnya dia mengkonsentrasikan kekuatan mustika air panca warna untuk mengendalikan kekuatan api abadi dan kekuatan pedang Naga Bergola yang menyatu dalam tubuhnya.
Dia mengumpankan dirinya bagai tungku semakin panas datang membakar dia semakin tinggi mengontrol mustika air panca warna untuk menyesuaikan suhu di tubuhnya.
Perlahan tapi pasti Shun land dapat mengendalikan dua kekuatan besar berelemen Api di dalam tubuhnya.
Roh Naga Bergola, Roh mustika api merah delima saling pandang mereka merasa takjub akan kekuatan tubuh manusia yang mereka lihat lemah tetapi mempunyai kekuatan yang luar biasa.
Roh mustika air panca warna tertawa bangga dengan tubuh tuannya yang mampu mengunakan kekuatan Airnya yang begitu besar tidak ada efek benturan kekuatan dengan kekuatan api Roh mustika api merah delima atau pun kekuatan Api Naga Bergola.
"Aku menang lagi Naga Bergola dulu kau melawan ku tetapi kau tetap kalah, waktu itu aku bersemayam di tubuh saudara mu Naga Bumi Sabui dan kau pun di bantu oleh kekasih ku mustika api merah delima, tapi kau tetap kalah, tidak ada ilmu tertinggi kecuali dia pemilik hati yang sangat sabar seperti tuanku tuan mu sekarang ini, dia sepertinya sedikit lagi mencapai kekuatan ilmu saipi bumi". Roh mustika air panca warna terawa kegirangan.
Shun land mencoba menggerakan Pedang Naga Bergola sesuai dengan gerakan jurus pertama Tarian Rajawali Api tahap ketiga.
Dua banteng edan bermata merah terdiam melihat mangsanya berubah menjadi manusia yang di penuhi api.
Dua banteng edan bermata merah menyadari mereka harus menyerang mangsanya, tetapi mereka sangat terlambat seberkas sinar merah kehitaman menyambar leher mereka sangat cepat hingga terputus tanpa setetes darah pun keluar.
Seluruh permukaan bekas sabetan Pedang Naga Bergola langsung gosong hingga darah tidak keluar, tidak sampai di situ kilatan-kilatan Pedang Naga Bergola mencacah seluruh tubuh dua Banten Edan bermata merah tanpa darah yang tertumpah.
Seluruh tubuh banteng endan bermata merah hancur jadi seonggok arang terbang tertiup angin.
--------------------*****------------------
__ADS_1