
Shu Land masuk ke kamar untuk membersihkan diri.
Pajar pun menyingsing mata hari memperlihatkan wajahnya dengan segala wibawanya yang menghangatkan seluruh wajah bumi. Pagi itu aula besar istana kebangsawanan Wajak terlihat berbeda dari hari hari yang lalu. Dulu istana sepi kini menjadi ramai penuh canda dan tawa.
Leluhur Ki Birawa dan Ratu Prameswari Dwibuana beserta anak menantu berjalan menuju ke aula tamu kehormatan istana kebangsawanan Wajak untuk makan pagi bersama.
Di aula seluruh pengikut Shun Land sudah duduk berbaris rapi hanya Shun Land dan Dewi Lasmini yang belum keluar. Di dalam kamar Shun Land sudah bersiap keluar tetapi langkahnya terhenti ketika pintu terbuka dari luar.
"Maaf kan Lasmini kakang karena menyuruh bibi Kasmia untuk mengantarkan minuman, sebab saya lagi tanggung memasak daging bersama nyai Dewi Sukma dan nyai Dewi Darmawati, sayang bila hasil berburu kemarin tidak di masak". Dewi Lasmini langsung meminta maaf tidak bisa melayani sang suami. (Jaman sekarang Jangankan meminta maaf, suami datang tidak cemberut juga sudah beruntung hihihihihi).
"Sudah tidak apa-apa yu kita keluar dari suaranya Leluhur Ki Birawa dan Ibu Ratu Prameswari Dwibuana sudah datang". Shun Land mengajak Dewi Lasmini keluar.
Benar saja Shun Land membuka pintu sudah terlihat Leluhur Ki Birawa sudah duduk bersama ratu Prameswari Dwibuana dan anak menantu.
Shun Land dan Dewi Lasmini duduk berdampingan, mereka semua duduk membentuk lingkaran besar di tengah-tengah berbaris makan, Nyai Karmia, nyai Kasmia dan Dewi Darmawati juga Dewi Sukma di tengah mengisi piring yang terbuat dari tembikar di alasi daun pisang.
Sampai lah Dewi Sukma menyodorkan piring pada leluhur Ki Birawa sambil berkata, "maafkan saya Ki Birawa di masa lalu sudah kurang ajar pada bangsawan Wajak, maafkan saya paduka ratu dahulu saya tidak mengenal tatak rama dan sopan santun". Dewi Sukma setengah bersujud di hadapan Ratu Prameswari dwibuana.
"Lupakan putri malu kita semua mempunyai kisah gelap di masa lalu yang penting kita sekarang menjalani hari tua kita dengan hal-hal yang bermanfaat bagi orang di sekeliling kita, tapi sekarang kau masih mau sama tua bangka ini ambil saja sudah semakin loyo".
__ADS_1
Ratu Prameswari Dwibuana menjawab dengan wajah yang berseri tidak terlihat dendam atau pun benci terhadap Dewi Sukma yang dahulu pernah mencoba untuk merayu leluhur Ki Birawa dan berakhir dengan pertempuran sengit, malah di akhir kalimat membuat candaan.
Semua menatap Leluhur Ki Birawa tidak terkecuali pangeran Sanjaya triloka dan Pramuja keduanya berdehem bersahutan.
Semuanya ingin tertawa melihat wajah leluhur Ki Birawa yang sedikit pucat mendapatkan tatapan Ratu Prameswari Dwibuana yang sangat tajam mengintimidasi suaminya.
Setelah makan selesai Shun Land memulai pembicaraan untuk menghilangkan rasa canggung antara Dewi Sukma dan Dewi Darmawati terhadap keluarga istana kebangsawanan Wajak.
"Terima kasih pada paduka ratu dan leluhur Ki Birawa mau berkumpul bersama kami, ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan pada kalian semua, hal pertama adalah perguruan pedang setan sudah musnah dan Dewi Andita si pedang setan pun sudah tewas,.....
,........ Hal yang kedua saya sedang membangun perguruan di tempat bekas perguruan pedang setan berdiri, hal ketiga Saya ingin Dewi Sukma dan Dewi Darmawati mengelola dan menjadi guru di sana menggantikan Dewi Andita".
"Sama-sama kakang Jatniko, dan perlu kalian Ketahui bahwa Dewi Darmawati ini guru dari Dewi Andita si pedang setan,.....
,..... Hanya saja sudah lama terputus hubungan dan menjalani hidup masing-masing karena berbeda haluan, dan dalam kesempatan ini setelah saya tukar pendapat dengan leluhur Ki Birawa.
Saya memohon kepada kakang Jatniko dan Santaka untuk membantu membina perguruan yang baru saya bentuk yang saya beri nama perguruan Kanoman sumur Pitu, dan untuk Semua mantan murid perguruan Macan putih saya harap mengikuti kakang Jatniko karena dari sekian murid kakang Jatniko adalah murid tertua jadi secara otomatis menjadi ketua dan guru kalian semua, apakah ada yang keberatan".
Semuanya serempak berkata tidak. Shun Land pun membicarakan peraturan perguruan bersamaan-sama akhirnya mencapai kesepakatan, Santaka yang mempunyai keahlian baca tulis yang bagus menulis peraturan-peraturan itu di atas kulit rusa.
__ADS_1
"Sekarang kita telah selesai membahas semua tentang perguruan Kanoman sumur pitu, hari ini juga kita akan berangkat menuju gunung ceremai, dan bila ada yang mempertanyakan siapa guru dan pimpinan perguruan katakan dengan jelas pendekar Jaya Sempurna, untuk perjalanan kalian sebaiknya mengambil jalur alas Roban, sekaligus kalian mengecek apakah sudah aman atau tidak jalur alas Roban itu". Shun Land menutup pertemuan itu.
Leluhur Ki Birawa memperhatikan dengan seksama bagai mana Shun Land mengatur jalannya pembicaraan dirinya mengakui bahwa Shun Land sangat memenuhi menjadi pemimpin besar.
Jatniko dan Santaka di panggil untuk membawa uang kekurangan biaya yang harus di bayarkan kepada kepala pedukuhan ceremai timur yang menjadi ketua pembangunan, selain itu Shun pun membawakan keping koin emas untuk biaya hidup selama tiga bulan untuk seluruh keperluan perguruan.
Setelah Jatniko, dan Dewi Sukma beserta yang lainnya berangkat Shun Land menanyakan masalah Darma bakti sesama apakah sudah selesai atau belum Lasmini dan pangeran Sanjaya triloka menerangkan bahwa masih ada beberapa pedukuhan yang belum di kunjungi.
"Tuan Jaya kami berempat tetap akan ikut perjalanan berikutnya ayah leluhur juga ibu Ratu Prameswari dwibuana telah merestui perjalan kami". Pangeran Sanjaya triloka berkata sambil menunjukan semangat.
"Kami sangat senang kedua anak dan menantu kami bersama tuan Jaya semoga di perjalanannya bersama tuan Jaya, semakin mengasah ilmu olah Kanuragan dan ilmu olah rasa dan perasaannya hingga bisa membuka mata batinnya, sehebat apapun ilmu Kanuragan seseorang tidak akan berarti bila tidak bisa membuka mata batinnya karena mata batin ini yang mengantarkan seseorang bisa sampai pada sisi tertinggi diri manusia yaitu hati nurani yang tersambung pada zat Sang Maha Pencipta.". Leluhur Ki Birawa berkata penuh dengan hikmah yang mendalam. Mempertegas betapa pentingnya seorang pendekar mengeluarkan potensi diri yang paling agung pada diri setiap manusia.
"Leluhur sangat benar dan bijaksana ucapkan sesepuh memegang mudah di katakan tetapi sangat sulit untuk di pahami dan di praktekkan terima kasih atas wejangan secara tidak langsung pada saya". Shun Land menimpali dengan rasa rendah hati.
Kemudian Shun Land melanjutkan bicaranya.
"Pangeran Sanjaya dan kakak Pramuja dan Semua yang menjadi anggota rombongan juragan dagang utusan keadilan Dewi Lasmini saya akan berangkat menyusul paman Lamsijam dan kakang Aji Wisesa di perguruan Langit, apabila besok saya tidak kembali,......
,.......besok kalian harus melanjutkan perjalan menuju ketimut tujuan utama adalah Pegunungan Dieng, kapal kita sudah berangkat menuju ke dermaga Perguruan Osing, andaikan saya tidak bisa cepat menyusul kalian saya akan selalu memberikan kabar setiap hari dengan merpati di mana posisi saya, untuk saat ini saya rasa tidak ada yang berani lagi kepada rombongan juragan dagang utusan keadilan Dewi Lasmini". Shun Land menerangkan langkah selanjutnya.
__ADS_1
*******************