
Mara Deva mengawali bicara dengan berapi-api.
"Kama Deva laporkan semua yang kau tahu sepak terjang Niraya Sura dia sudah ku perintahkan langsung mengapa dia tidak memberikan laporan". Junjungan Mara Deva bicara penuh amarah.
"Saya tidak mengetahui junjungan agung tapi yang jelas dia telah melalaikan tugas demi kekayaan dan kekuasaannya di daratan luas Dwipa". Kama Deva menjawab dengan sedikit di lebihkan.
"Mampus kau Niraya Sura" Kama Deva berkata dalam hati.
"Kama Deva kau sekarang mengantikan tugas Niraya Sura selidiki Bocah pemilik tubuh empat lintang kelima pancer itu, aku yakin dia akan menuntun ke pusaka binatang pedang naga bergola, biarkan dia membangun kekuatan agar dia tidak merasa di awasi, kau juga perkuat barisan pasukan kita di darat kau mengerti". Junjungan Mara Deva memberi perintah.
"Dengan jiwa dan raga akan saya laksanakan junjungan agung". Kama Deva menjawab.
"Hahahaha Niraya Sura sudah waktunya kau mati". Hati kama Deva bersorak taktiknya berhasil dia tidak menyampaikan undangan untuk melapor langsung.
"Asvaghosa bagaimana armada laut mu, kau yang paling tinggi ilmu Kanuragannya laporkan perkembangan kemajuannya, ini sangat penting hanya dengan armada yang kuat kita bisa menjaga kekuasaan kita". Junjungan Mara Deva bertanya pada tangan kanan pertama.
Asvaghosa tidak langsung menjawab dia sangat tenang tidak terburu-buru.
"Junjungan Mara Deva yang agung kekuatan armada laut Naga hitam sekarang ini tidak ada tandingannya di lautan Sunda, hanya bulan kemarin ada armada laut ujung daratan barat Swarnabumi yang mencoba menyerang dan ingin menguasai selat Malaka sudah saya hancurkan".
Asvaghosa menjawab dengan tegas tidak ada keraguan.
"Bagus Asvaghosa kau memang paling bagus menjalankan tugas, dan jangan sampai armada kita lemah hingga pasokan emas dari kepulauan Sunda kecil terhambat atau pun berhenti".
Junjungan Mara Deva memuji Asvaghosa.
Dalam hal ini junjungan Mara Deva sudah menguasai sepenuhnya daratan luas Swarnabumi jalur perdagangan selat Malaka dan selat Krakatau (Sunda).
Hanya satu ketakutan Junjungan Mara Deva terhadap keturunan Raja agung Jatiraga yang kapan saja bisa menyerang dirinya.
Dia sangat mengingat pesan gurunya yang bisa mengalahkan dia hanya dari keturunan dirinya dan keturunan Raja agung Jatiraga.
__ADS_1
Karna ajian Rawarontek yang di ciptakan Pancasiksa pada dasarnya adalah mengambil dari ajian saipi banyu(air) prinsip air yang menyatu lagi walau bertahun di pisahkan tetap akan bersatu bila di satukan.
Yang menguasai Ajian Rawarontek akan hidup kembali bila salah satu bagian tubuh menyentuh tanah, air hakikatnya tidak bisa lepas dari tanah, tanah itu sendiri di selimuti air.
Dari prinsip ini Pancasiksa menciptakan ajian Rawarontek yang di turunkan kepada junjungan Mara Deva tujuan asli Pancasiksa adalah membalas dendam kepada raja agung Jatiraga saudara seperguruannya.
"Aku ingin setelah aku memiliki pedang naga bergola kita akan menyisir semua kepulauan Sunda besar ini dan menguasai secara penuh, kalian semuanya akan menikmatinya kekuasan dan kekayaan yang berlimpah".
Junjungan Mara Deva tertawa sampai terdengar keluar istana.
Setelah pembicaraan penting selesai di akhiri dengan pesta besar para wanita berpakaian minim keluar di iringi musik kala itu, tubuh indah meliuk-liuk menggoda para kaum Adam.
Selain yang menari ada juga yang membawa kendi kendi minuman mereka minum bersama pesta minuman dan *** bebas berlangsung sampai pagi.
------------------------*****------------------------
Di ujung kulon daratan luas Dwipa sebuah perguruan di serang dua puluh orang berpakaian serba hitam dengan ilmu Kanuragan tinggi.
Di belakang Rumah paling besar sebuah batu bergerak ke samping keluarlah dua pemuda murid dia adalah Dirga dan Tanu yang selamat karena masuk ke persembunyian di bawah tanah.
Dirga melangkah ke dalam rumah yang hampir hancur untung saja para penyerang misterius tidak membakarnya, terlihat banyak mayat bergelimpangan di dalam rumah.
Dirga dan Tanu terus melangkah mengendap-endap takut masih ada penyerang misterius itu. Sesampainya di pendopo rumah Dirga dan Tanu menahan nafas perasaan marah, sedih bercampur aduk.
Terlihat puluhan murid di bantai tanpa rasa perikemanusiaan banyak kepala yang terpisah dari badannya ada juga kaki dan tangan terpisah dengan luka sabetan pedang di perut ususnya keluar kemana-mana.
Tidak terasa Dirga dan Tanu air matanya tidak terbendung kakinya lemas tidak bisa menopang tubuhnya hingga dia terduduk.
Darah di mana-mana yang paling tragis anak-anak yang berumur 12 tahun pun tidak luput dari pembunuhan sadis tak bermoral.
Kejadian ini berlangsung menjelang senja, Dirga yang sedikit dewasa berkata. "Danu kau ke belakang beritahu yang masih bersembunyi untuk keluar para penyerang telah pergi, biar aku yang membunyikan ke tongan tanda bahaya biar para penduduk datang untuk membantu mengurus mayat mayat ini".
__ADS_1
Tidak berapa lama setelah Kentungan di pukul oleh Dirga para penduduk pedukuhan Ciomas datang berbondong laki-laki dan perempuan, mereka histeris melihat puluhan mayat bergelimpangan di depan pendopo.
Serta Merta mereka mencari anak mereka yang sedang belajar ilmu Kanuragan, sambil histeris memenggil nama anak mereka masing-masing.
Pedukuhan Ciomas di kaki gunung karang menjadi heboh, tangisan kesedihan di mana dan teriakan histeris dari ibu yang melihat anaknya mati di bunuh secara sadis.
Kepala Pedukuhan memerintahkan semua anak buahnya dan seluruh penduduk untuk mengurus para korban pembunuhan.
Keesokan harinya dengan derai air mata kesedihan para keluarga yang di tinggalkan anak atau ponakan mereka sayangi, bersama-sama menguburkan korban.
Setelah selesai mereka berkumpul di pendopo perguruan, untuk membuat keputusan selanjutnya mereka tidak bisa membayangkan bagai mana murkanya guru besar perguruan Ciomas Ki Mahisa taka mendengar kabar hampir seluruh muridnya terbunuh oleh para pendekar misterius.
Tapi bagai mana pun akhirnya di putuskan bahwa Dirga dan Tanu untuk menyusul ke perguruan Gelap ngampar, untuk memberi tahukan kepada Guru besar mereka tentang kejadian pahit yang ada di perguruan Ciomas.
Dirga dan Tanu sambil menunggang kuda memulai perjalan menuju perguruan Gelap ngampar menyusul gurunya.
Di hari yang sama Ki Mahisa taka merasa ada yang Tek beres tetapi dia tidak menemukan apa yang tak beres itu.
Ki Mahisa taka akhirnya keluar dari kamarnya mengetuk pintu kamar Ki Wirantaka dari perguruan macan putih.
"Masuk tidak di kunci" suara dari dalam terdengar.
Ki Mahisa taka mendorong pintu dan masuk kedalam. "Apakah aku tidak mengganggu Ki Wirantaka".
"Tidak aku juga tadinya akan menemui mu membosankan sudah empat hari berada di kamar penginapan keluar hanya waktu makan, ada apa kau menemui ku". Ki Wirantaka menjawab di akhiri dengan pertanyaan.
"Tidak ada apa-apa cuma suasana hati ku tidak enak sejak kemarin, aku kesini hanya ingin ada teman ngobrol". Ki Mahisa taka menjawab apa adanya.
"Bagai mana kalau kita bicara di luar sambil minum teh dan kita panggil Dewi bulan merah kita bicara perkembangan dunia persilatan kedepannya". Ki Wirantaka mengemukakan usul.
"Baiklah kita keluar kau hubungi Dewi bulan merah dan aku yang memesan minuman dan makanan ke bawah". Ki Mahisa taka membagi tugas.
__ADS_1
...****************...