
Sebuah kapal melaju di sungai besar berantas pada waktu itu sungai Brantas mempunyai lebar hampir 200 depa malah di suatu daerah sampai mencapai 300 Depa, sungai purba ini menjadi nadi transportasi dan nadi perekonomian Sunda Dwiva bagian timur.
Sungai purba Brantas selain mempunyai muara di daerah Pasuruan sungai purba Brantas juga mempunyai muara di Labuan(sekarang menjadi kota besar Surabaya). Pertigaan ini sungai purba Brantas berada di daerah Majakarta yang di sana ada sebuah Pelabuhan besar di oleh Kepala wilayah Majakarta raja Wisnu Wardana(Raja Majapahit). Pelabuhan itu di beri Nama pelabuhan Canggu sebuah pelabuhan yang berada di dalam pedalaman.
Kapal yang di tumpangi Shun Land dan rombongan sampai di sebuah pertigaan Sungai purba Brantas yang amat besar bila berjejer dua puluh kapal tidak akan sampai dari satu sisi ke sisi lainnya. Kapal berbelok ke arah kanan bila di teruskan sampai di muara sungai purba Brantas yang berada di daerah Labuhan di seberang timurnya pulau Garam Madura.
Kapal memasuki pelabuhan Canggu semua kapal yang menghalangi memberikan jalan karena di depan kapal ada bendera berlogo kepala harimau menandakan kapal tersebut dari kerajaan yang berkuasa Galuh Sindula\Galuh Purba.
Kapten kapal memerintahkan untuk mengikat kapal di anjungan pelabuhan. Terdengar suara Kebo Ireng bicara. "Silahkan Sang prabu Jaya Sempurna". Kebo Ireng mempersilahkan Shun Land untuk berjalan di depan.
Di tepi dermaga seorang berperawakan tinggi besar berdiri wajah tampan berkulit kuning Langsat di belakangnya sekitar 20 pasukan berdiri rapi mengawalnya. Dia adalah Raja Wisnu Wardana, raja Majakarta pada saat itu.
Shun Land berjalan di depan di belangnya ada Pangeran Sanjaya triloka, pangeran Makkamaru, Lembu Marunda dan kedua anaknya Menak Pentor dan Bima Koncar. Setelah itu Kebo Ireng, Wicakra dan Jaran Abang mengikuti.
Shun Land menginjakkan dermaga pelabuhan Canggu berdiri di depan Raja Wisnu Wardana, Raja Wisnu Wardana dan para prajuritmya berlutut lalu mengucapkan salam sembah bakti.
__ADS_1
Warga di pelabuhan pada melongo melihat raja mereka berlutut di hadapan Shun Land tidak lama Sang Legenda Rajawali Api turun dan hinggap di dermaga dekat Shun Land. Melihat Sang Legenda Rajawali Api yang sudah beritanya sudah menyebar ke seluruh Negeri membuat para penduduk, para pedagang juga para pendatang langsung berlutut dengan serentak mereka mengucapkan salam sembah bakti pada Raja Agung Galuh Sindula.
Seluruh Negri sudah mengetahui raja besar mereka adalah seorang pendekar Legenda Rajawali Api yang sangat sakti mandraguna yang mampu membebaskan mereka dari belenggu Kekuasaan Mara Deva yang kejam. Shun Land lebih di kenal sebagai seorang pendekar sakti dari pada seorang raja di mata para penduduk seluruh negeri.
"Berdirilah kalian semua, Salam untuk kalian maafkan saya karena belum bisa memimpin kalian dengan baik". Shun Land menjawab salam dari rakyatnya.
Raja Wisnu Wardana berdiri lalu berkata. "Silahkan Sang prabu Jaya Sempurna". Setelah di persilahkan Shun Land dan Rombongan berjalan menuju kereta besar dan megah, Shun Land dan pangeran Sanjaya triloka serta pangeran Makkamaru masuk ke dalam kereta, Lembu Marunda yang tadinya memilih untuk berkuda tetapi oleh Raja Wisnu Wardana di persilahkan untuk menemani di dalam kereta bersamanya.
Dua kereta berangkat menuju istana Majakarta di dalam kereta Raja Wisnu Wardana berkata pada Lembu Marunda. "Maafkan Saya kakang Lembu Marunda, kita bersahabat sejak lama tetapi, sikap saya yang egois hampir saja memecah tali persahabatan kita, Andaikan saya tidak terbawa emosi ini tidak akan terjadi". Raja Wisnu Wardana meminta maaf dengan sungguh-sungguh.
Perjalan tidak memakan waktu lama hanya sekitar 20 menit mereka sudah sampai di gerbang istana Majakarta, para prajurit segera membuka pintu gerbang Kebo Ireng dan Wicakra dan Jagal Pati yang berkuda di depan segera turun membantu mendorong pintu gerbang yang besar.
Kereta memasuki gerbang istana ikuti pandangan para penduduk yang melambaikan tangan di tepi jalan, di balas oleh Shun Land yang membuka tirai jendela kereta sambil tersenyum ramah. Inilah yang membuat Shun Land kurang menyenangi bila berkunjung secara terbuka.
Shun Land di Bingbing memasuki ruangan utama istana dan di persilahkan untuk menduduki singgasana tetapi Shun Land menolaknya dan menyuruh semua yang hadir duduk di bawah.
__ADS_1
Mereka semuanya mengikuti hingga semuanya tidak ada perbedaan seorang raja dan bawahan, "mohon maaf kepada sang prabu Jaya Sempurna kami tidak bisa menyambut dengan layak terima kasih telah menyempurnakan untuk berkunjung ke Wilayah Majakarta". Raja wilayah Majakarta membuka pembicaraan.
Shun Land menepuk paha pangeran Sanjaya triloka untuk bicara pangeran Sanjaya triloka mengagumkan Kepala lalu bicara. "Terima kasih sang prabu Jaya Sempurna telah menyuruh saya bicara mendahului, dan terima kasih pada Raja wilayah Majakarta kakang Wisnu Wardana, yang seharusnya meminta maaf adalah saya, karena kurangnya pengetahuan tentang wilayah timur Sunda Dwiva jadi tidak memasukan pelabuhan Canggu untuk di membangun benteng pertahanan dan pengungsian ruang bawah tanah padahal pelabuhan ini sangat trategis, tetapi setelah mengetahui semuanya ini hanya salah paham saja, terima kasih pula pada kepala Bangsawan Osing tuan Lembu Marunda hingga tidak terjadi perang saudara atas kebodohan saya".
Pangeran Sanjaya triloka berkata apa adanya, seorang prajurit datang tergopoh-gopoh setelah dekat memberikan sebuah surat yang di kirim melalui merpati. Raja wilayah Majakarta Wisnu Wardana menerimanya lalu membukanya tetapi menutup kembali karena di sampul atas atas ada lambang kepala burung rajawali. Ini lambang kerajaan yang dahulu yang tidak di rubah untuk seluruh pasukan darat dan pasukan laut.
"Maaf Sang prabu Jaya ini surat untuk sang prabu silahkan". Raja wilayah Majakarta Wisnu Wardana menyodorkan gulungan surat tersebut. Segera menerima dan langsung membukanya. Isi surat tersebut berbunyi,.....
"Paduka,... Armada Tombak Perak telah kembali atas bantuan Naga Bumi Sabui yang menakuti dengan menghadang mereka, dan sekarang terusan selat Batam yang menjadi kunci masuk ke wilayah perairan selat Malaka di jaga oleh Laksamanawati Komalahayati dengan 47 armada" di bawah tertera Harsa, laksamana Durjana dan laksamanawati Komalahayati.
Setelah membaca Shun Land bicara. "Kita telah menyelesaikan salah paham ini, surat ini dari leluhur Harsa dan laksamana Durjana serta laksamanawati Komalahayati di perairan semenanjung Malaka, mereka mengatakan telah menggagalkan serangan armada laut Tombak Perak milik pangeran Jaya Lelana atau pangeran Shan land kakak ku sendiri, dengan ini pula saya mengajak untuk berjuang bersama mempertahankan negri Sundaland ini agar tidak di kuasai Mara Deva yang mengunakan tangan pangeran Shan land, dan seluruh angkatan Laut beri simbol ukiran Naga Biru agar mudah di kenali,...". Tetapi Shun Land tidak melanjutkan kare ada satu prajurit penjaga gerbang mau melapor.
"Maaf paduka raja Wisnu Wardana, di luar gerbang ada dua orang yang ingin menemui Sang prabu Jaya Sempurna mereka mengaku bernama kapten Barja dan @akilnya Nyai Mirah dengan kapal bernama Dewi Lasmini". Prajurit penjaga melapor.
_______*****______
__ADS_1