LEGENDA RAJAWALI API

LEGENDA RAJAWALI API
391. Jaya S 124. Kedatangan tiga pendekar kematian Dewi Lerna.


__ADS_3

Di bawah terang sinar rembulan yang masih nuansa purnama, Shun Land duduk bersama dengan orang-orang terdekat di halaman istana di sana juga ada Maruta dan sahabat-sahabatnya dari ras bangsa Raksasa.


Panglima Tarpa melaporkan bahwa pendekar kembar Karta dan Karto telah tewas di persembunyiannya. Setelah itu panglima Tarpa meminta izin untuk melihat bawahannya yang di pimpin sementara oleh pangeran Makkamaru.


Pangeran Sanjaya triloka dan putri Dian Prameswari Dwibuana membicarakan tentang rute jalan yang akan di buat bersama Maruta, karena Maruta dan rekan-rekannya yang akan membuka hutan belantara menjadi jalan menuju pelabuhan Asemarang yang akan menjadi pusat komando prajurit angkatan darat yang di pimpin olehnya.


Tapi dalam kesempatan itu mereka tidak bisa memutuskannya karena belum melihat medan secara langsung, pangeran Sanjaya triloka meminta pendapat Shun Land untuk prihal ini, Shun Land lalu berkata membuat jalan keluar.


"Pangeran Sanjaya dan paman Maruta besok naik Sang Garuda untuk melihat dari atas rute mana yang baik untuk jalan ke Pelabuhan Asemarang hingga dalam pembukaan hutan menjadi akurat".


Pangeran Sanjaya triloka dan yang lainnya menjadi lega karena tidak akan memakan waktu yang lama untuk menentukan rute jalan menuju pelabuhan Asemarang.


Panglima Bajul pakel datang menghadap ke Shun Land untuk menyampaikan berita dari salah satu Telik sandi dari pasukan khusus senyap.


"Sang Prabu ada berita dari telik sandi bahwa Dewi Lerna bersama leluhur Khal San beserta istri dan tetua Sri khal dan panglima Shu Khal telah berada di pelabuhan Cilamaya". Panglima Bajul pakel memberi laporan.


"Paman Bajul jemput mereka dengan pasukan khusus senyap yang berada di sana antar langsung ke seni". Shun Land memberikan perintah.


Dalam kesempatan itu pun Shun Land mengangkat Lamsijam dan Dewi Sukma serta Jatniko menjadi utusan di setiap perguruan mereka juga bertugas mengamati perkembangan seluruh perguruan, Dewi Sukma yang mempunyai pengalaman lebih lama di dunia persilatan menjadi ketua dari ketiganya.

__ADS_1


Sedangkan ketua perguruan di pegang oleh Dewi Darmawati yang sekarang menjadi istri panglima Bajul pakel, Shun Land menunjuk Dewi Darmawati, dengan alasan Dewi Darmawati yang bersuami tidak akan banyak bepergian.


Shun Land pun menugaskan Pataya dan ke empat anak buahnya untuk membuat kediaman Nyai Gora Sindula di puncak gunung Gora di bantu beberapa pasukan khusus senyap.


Malam semakin larut dari dapur istana yang di pimpin oleh nyai Karmia dan Kasmia keluar para murid perguruan Kanoman sumur Pitu membawa minuman hangat dan daging panggang sisa makan bersama tadi siang, daging kerbau dan banteng hutan yang masih banyak tersisa sebagai di buat dendeng dan sebagian lagi panggang untuk teman minuman hangat.


Ratu Galuh Sindula yang masih dalam hukuman menjadi pelayan keluar bersama yang lain membawa minuman dan daging bakar untuk Shun Land.


Hari berganti malam berlalu berita berdirinya istana Galuh purba dan berdirinya Kerajaan Galuh Sindula tersebar dengan cepat dari mulut ke mulut, sebulan telah berlalu jalan-jalan telah di bangun hutan lebat memulai berubah menjadi tatanan sebuah kota yang teratur dan indah.


Tiga Permaisuri kerajaan di bantu putri Dian Prameswari Dwibuana bekerja dengan keras menata pemerintah dan menata ibu kota Kerajaan, yang di beri nama Medangdili oleh Ratu Galuh Sindula.


Mara Deva memberi semangat dan memotivasi Pangeran Jaya Lelana bahwa dirinya tidak sendiri, dan di perkuat lagi dengan adanya Kama Deva dan Deva Putta yang sekarang ini kekuatannya telah mencapai 100ribu lingkaran tenaga dalam.


Mereka berdua mengatur dan melatih pasukan-pasukan khusus yang terbagi menjadi dua bagian kelas inti dan kelas atas. Saat ini kelas inti terdiri dari 100 pendekar yang telah mencapai 60ribu lingkaran tenaga dalam sedangkan kelas tinggi telah mencapai 80ribu lingkaran tenaga dalam.


Dalam keputusan ini Pancasiksa melihat dari pengalaman penyerangan Mara Deva ke ibukota kerajaan Tarumanegara kota Sundapura yang berakhir dengan kegagalan dan hancurnya dinasti Mata Deva berkeping-keping.


Menurut pemikiran Pancasiksa kegagalan ini karena dirinya dan Mara Deva tidak mempunyai pasukan yang terdiri dari para pendekar yang berkemampuan tinggi.

__ADS_1


Braja Geni sendiri dan muridnya panca braja memilih sikap pasif, mereka hanya menerima tugas tugas ringan dan tugas di luar ke prajurit seperti pengadaan kapal perang pengadaan senjata dan peralatan lainnya. Sikap ini di ambil Braja Geni bukan karena tidak beralasan.


Braja Geni masih meragukan Pangeran Jaya Lelana bisa mengalahkan Prabu Jaya Sempurna, Braja Geni yang mempunyai garis keilmuan yang menyambung langsung ke Raja Agung Sundaland Jatiraga mempunyai catatan Ramalan tentang keistimewaan dan kekuatan tubuh empat lintang ke5 pancer, yang di sana tertulis Wanita yang mempunyai tubuh Cakra Ganda purnama, satu Cakra alami satu Cakra kewanitaan yang Bersinar seperti purnama.


Di suatu kesempatan Shun Lang memanggil para istrinya di dalam ruangan pribadinya. Ketiga permaisuri yang berbeda ruangan segera hadir mereka duduk di kursi yang terbuat dari batu yang di ukir indah.


”Ini adalah berita yang sangat penting untuk masa depan kita, dan berita ini berita duka, kakang sendiri merasa sangat menyesal, tapi ini harus kalian ketahui kakang tidak ingin lama-lama menyimpan rahasia pribadi kakang pada kalian, setelah kalian mendengarkan berita ini kakang siap apapun keputusan kalian terhadap kakang". Shun Land berhenti sejenak terasa sangat berat menceritakan bahwa dirinya tidak mungkin mempunyai keturunan.


Ke 4 istrinya terdiam tidak ada yang berani bicara hanya menerka-nerka di dalam hatinya, Shun Land pun melanjutkan bicaranya.


"Kakang ini di beri keistimewaan tubuh yang bisa menyatu dengan 4 unsur pokok di alam semesta ini, dan kakang pun mendapatkan warisan dari Raja Agung Sundaland Jatiraga berupa kekuatan api abadi hingga seluruh tubuh kakang bisa di selimuti oleh kekuatan api yang sangat besar tetapi, di alam semesta ini tidak ada yang gratis ada kelebihan ada kekurangan, keistimewaan itu harus di bayar oleh kakang dengan......... Shun Land berhenti bicara mengambil nafas dalam-dalam mengutamakan keberaniannya dirinya sangat tidak mau mengecewakan para istrinya.


Permaisuri Sari Tungga Dewi yang melihat Shun Land ragu-ragu segera bicara. "Kakang katakan lah jangan ragu-ragu apapun yang akan kakang sampaikan dan apapun berita tidak enak mengenai diri kakang itu tidak akan merubah cinta saya terhadap kakang saya akan terus mendampingi kakang sampai akhir hidup saya". Ucapan permaisuri Sari Tungga Dewi di timpali oleh permaisuri May Lien yang sudah membaca bahwa berita ini sangat pahit bagi mereka berempat.


"Bicaralah kakang jangan ragu kami sudah siap sepahit apapun yang akan kakang sampaikan percayalah kami tidak akan merubah sedikitpun sikap kami kepada kakang". Ucapan permaisuri May Lien keluar menyakinkan Shun Land.


Dewi Sumayi dan Ratu Galuh Sindula mengiyakan dengan sepenuh hati.


******************

__ADS_1


 


__ADS_2