
"kedatangannya membawa perintah yang susah saya tolak di memiliki kekuatan tinggi, dia memerintahkan saya untuk menyebarkan berita pada golongan hitam untuk suatu tugas hingga para pembunuh bayaran kelas menengah berdatangan dari pelosok negeri dan ada beberapa pembunuh bayaran kelas tinggi yang datang, untuk siapa-siapa pembunuh bayarannya saya tidak mengetahuinya karena setiap ada yang datang saya tidak di perbolehkan untuk ikut dalam pembicaraan,.....
,.....yang mengetahui siapa-siapa yang mengambil target untuk setiap pembunuh bayaran adalah anak buah lamanya mengetahui karena penerimaan para pembunuh bayaran dan pembagian target juga dia, setelah dua bulan orang tersebut juga pergi dan tak pernah kembali lagi hanya itu yang aku ketahui".
Juragan Tarman memberikan jawaban yang sangat diplomatic di mencuci tangan di air yang kotor, juragan Tarman sengaja menjerumuskan Juragan Bangor alis Bandi murid dari perguruan gelap ngampar Ki Saron.
Shun Land yang sudah berpengalaman dengan orang seperti ini mendengarkan dengan santai karena trik pembicaraan seperti ini sudah biasa dirinya mendengarkan, juragan Tarman tidak mengetahui bahwa Shun Land sudah mengetahui arah pembicaraannya, Shun Land sudah banyak belajar dari Upiak Aray bapak angkat Maasiak anak dari Niraya Sura yang telah tewas di pedang Shun Land.
"Juragan Tarman sudahlah jangan berbelit-belit saya sudah mengetahui arah pembicaraan juragan saya sudah biasa mendengar pembicaraan seperti Upiak Aray, bicaralah terus terang atau gini saja tunjukan tempat atau alamat pendekar Topeng hitam dan pendekar tanpa wujud setelah itu aku melepaskan mu dari sekapan ini". Shun Land bicara tidak bertele-tele.
Juragan Tarman yang notabene mantan anak buah Upik Aray merasa di hantam mentalnya karena pelintiran ucapannya di ketahui pendekar yang ada di hadapannya.
"Maaf tuan pendekar kali ini saya akan berkata dengan sebenarnya maaf lidah yang sudah tua kadang banyak kesalahan, jujur nama yang mempunyai dua kapal ini tuan Asvaghosa dan kelima pendekar pembunuh bayaran kelas tinggi adalah pendekar tiga raja kematian yang di pimpin ki Kala Durga dan kedua kekasihnya Dewi Sukma atau pendekar putri Malu dan pendekar Jarum seribu Dewi angin-angin, dan duanya pendekar kembar Karta-karto yang keduanya mempunyai julukan pendekar topeng hitam dan pendekar tanpa wujud. Andai tempat mereka saya tidak tahu sampai nyawa saya hilang pun saya tidak bisa menjawabnya.
Akhirnya juragan Tarman berkata yang sebenarnya setelah mengetahui bahwa pendekar yang di depannya ini sangat tinggi ilmu olah Kanuragannya dan wawasan di atasnya. Pemikiran juragan Tarman percuma banyak bicara hanya akan menambah penderitaan dirinya.
Shun Land sangat lega karena telah mengetahui dalangnya, bagaimana pun tetap saja biang keroknya adalah kelompok Mara Deva Shun Land hanya salah menebak yang dikira Kama Deva ternyata Asvaghosa.
Shun Land menunjukkan topeng hitam milik Karto. "Apakah topeng hitam memakai topeng seperti ini".
"Benar tuan pendekar dia tak pernah lepas dari topeng seperti itu, hanya masalah tempat tinggalnya saya tidak tahu tetapi tuan bisa bertanya langsung pada Juragan Bangor karena pada waktu itu dia yang mempertemukan dengan tuan Asvaghosa". Juragan Tarman membenarkannya.
"Baik aku mempercayaimu tapi aku akan memberi tanda pada tubuh mu bila kau membeberkan pertemuan ini jantung mu akan pecah berantakan seketika". Setelah bicara Shun Land mengeluarkan api abadi dari telunjuk kanannya dan menempelkannya ke dagi juragan Tarman, api abadi ini seperti mempunyai Roh tersendiri.
__ADS_1
Juragan Tarman diam saja tak berdaya terasa ada yang hangat di dahinya lalu berjalan ke ke otaknya tidak berhenti sampai di situ terus turun sampai ke jantungnya dan rasa hangat itu menghilang.
Shun Land langsung meloncat ke luar dari geladak bawah tanpa menengok ke belakang Shun Land langsung menyebrangi sungai purba Cilamaya yang lebarnya lebih dari 200 Depa hanya dalam sekejap.
Shun Land langsung masuk ke kedai yang kemarin malam bertemu dengan nyai Dasima dan berpura-pura bertanya keberadaan pelayan Nyai Dasimah kepada perempuan yang di panggil nyonya besar.
"Maaf tuan tampan sejak pergi dengan tuan kemarin malam belum ada nongolnya mungkin terlalu cape melayani tuan tampan yang kelihatan perkasa". Yang di panggil nyonya besar menjawab sambil mengerlingkan matanya. Memang dari melihat tubuhnya nyonya besar ini agak besar tetapi bila melihat wajah dan kulitnya sangat menggiurkan mata lelaki.
"Kalau begitu tolong antar saya ke juragan Bangor ada urusan penting yang ingin saya sampaikan tentang pemesanan ikan untuk acara makan besar keluarga saya". Shun Land berbohong agar bisa cepat bertemu dengan juragan Bangor alias Bandi.
"Tuan memang ke tempat yang benar di sini tempatnya ikan laut segar, tuan ikuti tolong ikuti saya dia sedang bersenang-senang dengan pendatang baru sebelum melayani pelanggan Dia mendahuluinya". Sambil bicara nyonya besar kepercayaan juragan Bangor sambil cekikikan.
Shun Land hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya melihat nyonya besar yang bicara tanpa beban dan suaranya renyah.
Masuk di sebuah ruangan yang besar, di tengah-tengah ada tempat tidur yang lebar memuat untuk tidur empat orang, di sebelah kanan ada kursi panjang dan meja kecil, Juragan Bangor sedang memangku wanita yang setengah tidak pakai pakaian menyuapi buah anggur.
"Weleh ada Nyonya besar mesin kion emas ku datang membawa pejantan muda sepertinya mau bergabung dengan ku, tapi tidak masalah akan semakin seru hahahah".
Juragan Bangor berkata di akhiri tertawa terkekeh-kekeh.
Shun Land melihat Juragan Bangor yang sudah tidak asing lagi dan sudah memberi kesempatan untuk berubah tetapi Bandi tetap saja tidak merubah jalan hidupnya merasa geram.
"Nyonya besar cepat suruh orang-orang keluar tempat ini akan aku ratakan dengan tanah" bersamaan dengan berhentinya kalimat terakhir. Shun Land sudah berada di depan juragan Bangor mencengkeram lehernya dan membanting dengan keras ke tempat tidur.
__ADS_1
"Aduuuh.......!!! Terdengar suara juragan Bangor.
Tempat tidur itu berantakan juragan Bangor yang memiliki tenaga dalam 30ribu lingkaran bagaikan tikus di hadapan harimau bertemu dengan Shun Land.
Tidak berhenti sampai di situ Shun Land melangkah dan langsung meraih kaki juragan Bangor dan mengangkatnya, sekarang juragan Bangor posisinya terjungkir kepala di atas.
Wanita yang bersamanya berlari keluar begitu juga nyonya besar sudah mendahului dan berteriak agar semuanya keluar. Tetapi ada dua pria yang masuk ke ruangan pribadi juragan Bangor niatnya menolongnya, mereka berdua adalah sahabat Juragan Bangor Tarkik dan Tarkim.
Tarkik dan Tarkim masuk dan akan menyerang Shun Land yang menenteng juragan Bangor tetapi kalah cepat dengan pedang Naga Bergola yang di lemparkan dengan warangkanya kearah mereka berdua tak ayal lagi keduanya meringkuk di dekat pintu sambil merintih kesakitan.
Di jidat mereka berdua benjol sebesar telur ayam sedangkan pedang Naga Bergola kembali ke punggung Shun Land.
"Aku akan melepaskan mu tetapi dengan sarat kau sebutkan di mana keberadaan si topeng hitam dan pendekar tanpa wujud jika jawaban mu salah atau berbohong aku akan menyiksamu sampai kau ingin cepat mati karena menahan rasa sakit yang teramat sangat". Shun Land tanpa basa basi lagi.
"Baik pendekar dua bulan yang lalu mereka kesini tapi hanya dua hari lalu pergi katanya akan Meningkat tenaga dalam di persembunyiannya yang bertempat di lembah Dieng hanya itu yang kutahu". Juragan Bangor alias Bandi berkata jujur dan darah dari mulutnya tidak berhenti keluar.
"Aku akan melepaskan mu sesuai ucapan ku tetapi aku tidak berkata aku tidak akan melenyapkan mu dari muda bumi ini, kau memang percis guru mu Ki Saron berhenti berbuat ke binasaan bila ajal menjemput".
Shun Land melempar Bandi ke arah tiga temannya setelah itu Shun Land mengeluarkan sepertiga kekuatan apinya. Meledakan seluruh bangunan itu seketika.
Ledakan besar terjadi tiga tubuh Bandi dan kedua temannya hangus jadi debu di lewati kekuatan api yang keluar dari tubuh Shun Land. Begitu juga dengan bangunan itu dalam sekejap menjadi rata dengan tanah berwarna hitam.
********************
__ADS_1