
Shun land memilih jalan darat dia menelusuri jalan yang biasa para pedagang lalui.
Di sore itu Shun land dan Boma berhenti di sebuah Pedukuhan dekat sebuah sungai.
Setelah masuk tidak jauh dari batas pedukuhan sebuah kedai makan cukup besar, para tamu kedai itu sebagian besar dari para pedagang dan para pengelana, kebanyakan dari mereka menuju ibukota Sundapura kerajaan Tarumanagara yang baru berdiri mereka ingin melihat langsung kemegahan kota tersebut yang sudah menjadi buah bibir masyarakat.
Shun land masuk dan memilih meja yang paling ujung, di sana ada 12 meja tersusun rapi di samping kedai makan sebuah rumah cukup besar di peruntukan bagi mereka yang ingin menginap bila kemalaman di jalan.
Di deretan meja yang ke enam empat orang memperhatikan Shun land dan boma dengan teliti salah satu di antara mereka berkata pada yang lainnya dengan pelan.
"Kakang sepertinya nasib baik memihak pada kita kau lihat pemuda itu dan gagang pedangnya, itu jelas pedang Naga Bergola yang kita cari". Braja Denta bicara pada yang paling tua Braja Musti.
Mereka adalah empat lima bersaudara panca Braja, hanya Braja. Wisesa yang tidak nampak.
"Wikalpa kau hubungi Wisesa dan kirim utusan pada guru bahwa pemuda itu yang sanggup menaklukkan Pedang buatan Leluhur kita ada di sini". Baraja Musti memerintahkan adik seperguruannya.
"Apa rencana kita kakang". Braja Denta bertanya.
"Kita akan mendekatinya berpura-pura menjadi pengelana yang tidak mempunyai tujuan, kita harus mengukur kemampuannya jangan sampai kita bertindak ceroboh".
Braja Musti merencanakan ingin mendekati Shun Land ingin mengukur kekuatan lawan.
Braja musti berdiri dan melangkah ke arah Shun land dan Boma.
"Bolehkah kami bergabung dengan Ki sanak". Braja musti berkata sambil membungkukkan badan tanda hormat.
Shun land menatap tajam tapi tidak lama kemudian menjawab. "Silahkan paman".
Braja musti duduk berhadapan dengan Shun land dan Boma.
"Perkenalkan nama saya Braja musti saya seorang pengembara dari negeri Sula ingin mencari pengalaman di negeri Dwiva ini, bolehkah saya tahu siapa Ki sanak ini dan hendak kemana tujuan kisanak, tapi bila kisanak keberatan tidak usah menjawab".
__ADS_1
Braja musti bertanya sopan tapi intinya dia menyelidiki Shun land mata Braja musti sesekali melirik ke gagang pedang Naga Bergola di punggung Shun land.
Shun land melihat gerak gerik Braja musti yang sangat hati-hati dalam bicara dan tingkah lagu secara naluriah meresakan bahwa orang yang di hadapannya mempunyai niat yang jahat yang tersembunyi.
Lantas Shun land berkata dengan suara yang tenang.
"Nama saya Satria Nusa kencana, saya mempunyai tugas oleh guru saya untuk mengantar Pedang yang ada di punggung saya ke seseorang di daratan luas Swarnabumi, saya sendiri tidak mengetahui apa nama pedang ini dan kelebihan pedang ini, saya pernah mencoba menggunakannya tapi pedang ini sama saja dengan pedang biasa, paman mungkin mengetahui tentang pusaka pedang ini karena paman lebih berpengalaman dari saya". Shun land berkata seolah-olah dia benar-benar masih awam masalah pusaka.
Brajamusti sedikit kaget mendengar penuturan Shun land hatinya berkata, "Ternyata pemuda ini masih polos dia belum mengerti bahwa betapa berharganya pedang Naga Bergola yang di bawanya.
"Nak Satria Nusa kencana paman tidak bisa memberikan keterangan andai paman tidak memegang pedang tersebut tetapi dari bentuk gagang pedangnya itu sepertinya pusaka bintang, andai nak mas Satria bolehkan paman ingin memegang sebentar hanya sekedar ingin membantu nak mas Satria memberikan keterangan tentang pustaka tersebut".
Braja musti berkata dengan seadanya, tapi di dalam hatinya berharap pemuda yang di depannya percaya.
Shun land mendengar ucapan Braja musti segera berusaha melepaskan Pedang Naga Bergola dari punggungnya lalu hendak menyodorkan pada Braja musti.
Braja musti hatinya bersorak gembira dia merasa muslihatnya berhasil.
Ketika Shun land hendak mengulurkan pedang Naga Bergola tiba-tiba Boma berkata tanpa melihat ke Shun land.
Shun land berpura-pura kaget lantas segera menaruh Pedang Naga Bergola di punggungnya kembali sambil berkata.
"Maaf paman Braja musti saya jadi ingat pesan dari guru, saya bukan tidak percaya pada paman tetapi saya tidak boleh melangar perintah guru". Shun Land berkata penuh penyesalan.
Dalam hati Shun land berkata. "Kau ini sangat mudah di jebak, sekarang aku mengerti tujuan mu adalah pedang Naga Bergola, mungkin kau kelompok yang kemarin menyerang ku di depan gua gunung Padang".
Braja musti melirik ke Boma hatinya sangat marah karena ucapan Boma rencananya yang sedik lagi berhasil menjadi gagal.
"Andaikan tidak menimbulkan kecurigaan kau akan ku bunuh". Gumam hati Braja musti sambil menatap tajam ke arah Boma yang berlaga cuek saja.
Shun land memperhatikan dengan jeli menambah kuatnya dugaan bahwa yang di depannya bukan pendekar sembarangan dia mengetahui pedang Naga Bergola berarti dia mempunyai latar belakang yang kuat.
__ADS_1
Braja musti berdiri bersamaan braja Denta yang telah kembali bersama Baraja Wisesa.
"Maaf Nak Satri saya harus menemui adik seperguruan yang telah datang, pesana makanan nak mas Satria juga sudah datang saya takut mengganggu waktu makan nak mas".
Braja musti beranjak dari duduknya lalu melangkah ke meja asalnya.
Pesanan makanan datang Shun land dan Boma makan dengan lahap karena seharian perut mereka belum kemasukan sesuap nasi pun.
"Kita akan melanjutkan perjalanan malam hari dengan sang Rajawali Api". Bisik Shun Land pada Boma.
Boma hanya mengangguk tanda setuju.
Sebelum makan selesai dari arah pintu lima orang masuk dengan pongahnya, mereka langsung menuju ke meja Shun land dan Boma berada.
Yang paling tinggi besar badannya langsung menaikan kaki kanannya di kursi sambil berkata demgan kasar.
"Cepat selesaikan makan terakhir mu sebelum nyawa mu pergi ke alam baka, atau kau menyerahkan Pedang yang ada di punggung mu, dan kau boleh pergi".
Shun land dan Boma tetap makan dengan tenang mereka tidak terpengaruh oleh gertakan pemimpin mereka berlima.
Sontak saja membuat pemimpin mereka yang bernama Colet sangat marah, dia mencabut pedangnya lalu menodongkan ke leher Shun land.
Mendapati lehernya di todong oleh pedang Shun land dengan tenang mencuci tangan karena selesai makan.
Shun land menoleh kearah Colet dengan santai sedangkan tangan kanannya mensentil ujung pedang Colet.
"Kraaaaaak....." Bunyi logam yang pecah menjadi beberapa bagian.
Colet dan ke empat anak buahnya terdiam kaku melihat pusaka kelas bumi hancur dengan sekali sentil dengan satu ujung jari pemuda tampan itu.
Shun land dan Boma beranjak pergi ke kasir untuk membayar makan mereka, mata Shun land menyusuri kedai tersebut mencari Braja musti tetapi dia sudah tidak ada di tempat.
__ADS_1
Sementara kelima pendekar yang mengancam Shun land saling pandang mereka ragu untuk mengejar Shun land dan Boma setelah mengetahui kekuatan Shun land.
------------------*****-----------------