
"Dengarkan baik-baik aku tidak akan mengulangi yang kedua kalinya. Dalam diri manusia ada 2 bentuk berpasangan. Ada jiwa ada raga, ada yang terlihat ada yang tidak terlihat, ada Roh ada tubuh. Ada yang nyata terlihat ada yang yang tidak nyata tapi kita bisa merasa ada yang menyebut ini dengan nama batin, ada kanan dan ada kiri semuanya berpasangan, ingat ini yang paling penting ada dua kekuatan pada diri manusia 1.kekuatan tubuh 2.kekuatan batin atau hati,....
,.......Kekuatan tubuh atau jasad di dapat dari berlatih tubuh sedangkan kekuatan batin di dapat dari latihan berbuat kesucian jiwa. Kekuatan tubuh akan ku isi langsung dari kekuatan ku sedangkan kekuatan batin kau harus melatihnya sendiri dengan cara memenuhi atau melaksanakan syarat yang akan aku sebutkan.
Kau harus belajar sabar ketika amarah menguasai mu.
Kau harus rendah hati ketika rasa sombong menguasai mu.
Kau harus berbuat ikhlas ketika rasa ingin di puji atau ria.
Bila kau melaksanakan ketiga hal ini batin mu akan kuat karena jiwa mu menjadi suci. Apa kau sanggup....?". Roh air mustika panca warna menjelaskan di akhiri dengan pertanyaan.
Lasmini mendengarkan dengan seksama tanpa bimbingan dia menjawab "Aku siap melaksanakan latihan jiwa ini, andai aku gagal aku akan terus mencobanya berulang kali walaupun harus ribuan kali".
__ADS_1
"Bagus bersiaplah aku akan memberi sedikit kekuatan ku mungkin akan terasa sedikit sakit bertahanlah ini hanya beberapa saat saja". Roh air panca warna menghilang dari pandangan Lasmini berubah menjadi sebuah mustika memancarkan sinar biru menerangi seluruh sumur Kahuripan jiwa.
Dari mustika panca warna keluar seperti asap di balut sinar biru mendekati tubuh Lasmini, ketika sampai di kening Lasmini gumpalan seperti asap di bungkus sinar biru itu menyebar ke seluruh tubuh dan perlahan masuk melalui setiap pori-pori Lasmini.
Lasmini merasakan di seluruh kulit tubuhnya dingin yang menusuk, rasa dingin itu lalu merambat ke daging dan tulangnya sampai ke sumsumnya, di setiap Senti tubuhnya terasa di tusuk jarum jarum kecil dingin luar biasa sakit.
Lasmini mengeratkan rahangnya menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Untung proses itu tidak berlangsung lama hanya beberapa saat.
Lasmini membuka matanya ketika sudah tidak merasakan sakit, mustika panca warna menghilang dari pandangan mata Lasmini. Lasmini merasa engap ingin bernafas tetapi bukan udara yang masuk ke hidungnya tetapi air yang masuk, langsung Saja dia berenang ke permukaan sumur untuk mengambil nafas dan keluar dari dalam sumur.
Matahari mulai tenggelam lembayung merah menghiasi langit di sebelah barat Shun Land duduk kedua tangannya menahan lutut menghadap ke barat menatap lembayung merah cahaya matahari menjadi kemerahan.
Pemikiran Shun Land melayang ke masa lalu di tempat ini dirinya berlatih jurus Tapak harimau kumbang di tempat ini juga dirinya memahami makna kedua mustika, mustika api merah delima dan mustika air panca warna.
Hanya berselang beberapa tahun kehidupan nya berubah banyak orang yang di sayangi telah pergi, Shun Land sangat kehilangan sosok panglima Antaka yang menemaninya membangun kekuatan kerajaan dari daratan luas Nusa kencana(Kalimantan) sampai membangun kekuatan di daratan luas Sunda Dwiva sampai ke daratan luas Swarna bumi.
Bersama kakak seperguruannya panglima Antaka dirinya membangun sebuah peradaban dan membuat perubahan besar di di dataran luas Sunda Ageng yang mencakup 3 dataran luas dataran luas Nusa kencana, dataran luas Sunda Dwiva dan dataran luas Swarna bumi.
"Paman Antaka, leluhur Ki Srengga, kakak Narpat Maja aku sudah membulatkan tekad akan membuat keadilan pada mereka yang telah membuat kalian pergi dari kehidupan ku selama lamanya". Hati Shun Land bergumam.
Lamunan Shun Land buyar ketika melihat gadis cantik keluar dari sumur melangkah mendekatinya, seluruh tubuh gadis itu di bungkus air kulit putih kuning Langsat tertimpa sinar mentari senja seakan bersinar kemerahan.
Rambut terurai panjang sampai ke pinggul dari ujung rambut sampai ujung kaki tidak ada cacat sedikitpun Shun Land walaupun sudah sering melihat istrinya tanpa busana tetapi di saat senja indah melihat hal seperti ini menjadi hasrat kelelakian bangkit menggelora.
Lasmini sengaja berjalan melenggang-lenggokkan badannya sambil tersenyum menggoda suaminya begitu dekat dia meraih pakaian yang berada di samping tempat duduk Shun Land.
Shun Land mencoba meraih pinggang Lasmini tetapi Lasmini mengelak dan berlari menjauh sambil menjulurkan lidahnya.
"Tunggu nanti malam aku akan memberikan kejutan buat kakang sabar yaaaa". Setelah berkata Lasmini sedikit menungging kan pinggulnya sambil menggoyang kiri-kanan.
__ADS_1
Shun Land hanya menahan membuang nafas yang terasa berat, Lasmini setelah berpakaian mendekati Shun Land dan duduk di pangkuannya penuh manja.
Mereka berdua menikmati keindahan senja tanpa ada yang bicara matahari beberapa saat lagi sempurna menghilang Lasmini yang duduk di pangkuan Shun Land menengok ke belakang mendekatkan wajahnya lalu mencium pipi Shun Land dengan lembut.
"Nanti kalau di istana kakang jangan genit pada semua perempuan yang ada di sana apalagi pada sang Ratu kalau genit aku akan menghukum kakang dengan hukuman yang tidak akan lupa seumur hidup". Lasmini berkata dengan gaya judesnya.
"Percayalah pada kakang, paling para permaisuri itu yang genit sama kakang mereka tidak akan kuat melihat wajah suami mu yang ganteng ini". Shun Land menimpali sambil berdiri sambil bergaya keduanya tertawa bersama.
"Hari sudah mulai gelap bangunlah kita pulang ke penginapan". Shun Land berkata dengan menjulurkan tangan.
"Gendooooong....!!!". Lasmini menjawab sambil menatap sayu.
Shun Land menggelengkan kepala lantas berjongkok membelakangi Lasmini.
"Kurang rendah.... Kakang kaya tidak ikhlas menggendong Lasmini yang cantik ini". Lasmini merajuk.
"Hadeeeeh.......". Shun Land hanya menggeram sambil merendahkan lagi pinggulnya.
"Terima kasih" Lasmini langsung nemplok di punggung Shun Land, tanpa berkata lagi Shun Land langsung melesat menuju kota Sundapura.
Sampai di perbatasan Shun Land menurunkan Lasmini mereka berdua berjalan kaki menuju tukang sampan penyebrangan.
Pagi-pagi sekali pangeran Sanjaya triloka dan putri Dian Prameswari dwibuana sudah berada di depan penginapan Kembang Tanjung dengan membawa beberapa kotak koin emas untuk di serahkan ke Shun Land sebagai imbalan menjadi raja palsu Shun Land.
Nyai Iseng bersama dua pelayan membawakan minuman jahe hangat dan beberapa makan untuk sarapan, kedua pelayan masuk lagi setelah meletakkan minuman dan makan.
"Silahkan di minum pangeran dan den putri, bagai mana kabar di istana sekarang saya dan ayahnya may belum sempat ingin ke istana mengunjungi permaisuri dan yang lainnya". Nyai Iseng membuka pembicaraan dengan pertanyaan basa-basi.
Tujuan sebenarnya nyai Iseng ingin mengetahui tentang pendekar Jaya Sempurna di panggil ke istana Sundapura.
__ADS_1
------------------&&&&-----------------