LEGENDA RAJAWALI API

LEGENDA RAJAWALI API
271. Jaya Sempurna 4. pertarungan di Cikawung.


__ADS_3

Shun Land berdiri di halaman. "ku rasa golok sungguhan ternyata golok untuk mengiris terasi jadi lamban hahaha".


Shun Land mengejek sambil menjulurkan lidah pada Kasjo. Terang saja Kasjo semakin terbakar api amarah di lecehkan pemuda kemarin sore.


Bi Marni, kepala pedukuhan dan penduduk Cikawung menarik nafas lega ternya pemuda yang terlihat biasa-biasa saja seorang pendekar tanggung, hati mereka merasa bersalah meragukan kemampuan olah Kanuragan Shun Land.


Pak Harja kepala pedukuhan Cikawung semakin menggebu-gebu menginginkan Shun Land menjadi pendamping hidup Asmini anaknya, dengan demikian pamor dirinya semakin terang dan pedukuhan Cikawung akan tentram dari gangguan orang jahat mempunyai jawara pilih tanding.


Kasjo melompat kehadapan Shun Land di ikuti ke3 anak buahnya hanya beberapa depa jaraknya.


Kasjo mulai tidak sembrono menyerang, dia mulai sadar bahwa pemuda di hadapannya bukan pemuda yang bisa di sepelekan terbukti dengan mudah menghindari serangannya yang berkecepatan tinggi.


"Katakan siapa sebenarnya dirimu dari perguruan mana kau belajar sebelum kita bartarung setidaknya bila kau kehilangan nyawa aku mengabarkan pada guru mu". Kasjo berkata penasaran.


"Kau ini banyak bertanya mau bertarung apa mau diskusi tanya jawab baiklah kita sambil duduk saja bila mau diskusi". Shun Land menjawab sambil duduk di halaman yang berumput.


Tanpa aba-aba kedua bawahan Kasjo menyerang dari arah sisi kiri dan kanan mereka tidak tahan ketua mereka di rendahkan Shun Land.


Dua buah golok menyerang dengan kecepatan tinggi mengarah ke leher dan kaki Shun Land yang sedang duduk bersila.


"Mati kau Bangs**". Mereka berdua berkata dengan keras,


Shun Land dengan kecepatan tinggi sukar di ikuti mata biasa menancapkan pedang Naga Bergola di tempat duduknya lalu berpindah duduk agak menjauh kejadian ini sangat cepat seolah Shun Land tidak berpindah duduk.


Dalam batin Shun Land berkata "Naga Bergola jangan kau bunuh cukup buat mereka terpental saja tidak bisa menyerang lagi".


Kedua golok membacok pedang Naga Bergola yang satu mengenai gagang dan yang satu lagi mengenai punggung pedang kedua golok itu patah dan pemiliknya terpental beberapa depa seperti di banting sesuatu yang kuat.


"Aduuuh......!!! Badan keduanya terjatuh ketanah tanpa bisa bangun lagi lalu merintih kesakitan badan mereka terasa remuk bagai di hantam bogem besar.


"Hahahaha dasar bodoh bertarung sama pedang yang tidak pemegangnya, orang mau diskusi sama ketua mu malah menyerang, tapi diskusi dengar orang bodoh percuma anak buahnya bodoh apa lagi ketunya". Shun Land memperolok keduanya, lalu bangun dari duduknya.


Kasjo merasa kaget akan kejadian ini hatinya menebak pedang yang berada di hadapannya bukan pedang biasa. Hanya sebuah pusaka kelas tinggi yang bisa melakukan kejadian tersebut.


Mata Kasjo berbinar melihat pedang Naga Bergola "Andai aku membunuhnya tentunya pedang pusaka itu menjadi milik ku".

__ADS_1


Melihat pusaka bagus keserakahan Kasjo menggeliat ini sifat dasar manusia jarang yang mampu mengatasi sifat keserakahan melihat sesuatu hal yang menguntungkan sampai lupa batas kekuatan dirinya.


"Dari mata mu kau menginginkan pedang ku tapi sayang pedang ini aku ambil kembali". Shun Land berkata lalu menyarangkan kembali pedang Naga Bergola di punggungnya.


Kasjo tidak menghiraukan ucapan Shun Land dia memperagakan pembuka jurus golok mautnya bersiap menyerang dengan segenap kekuatan dirinya.


Mata golok Ciomas seolah bersinar setelah di aliri tenaga dalam pemiliknya tanpa ragu-ragu Kasjo menerjang dengan sabetan menyilang golok Ciomas, kecepatan serangan ini berkali lipat serangan pertama.


Tubuh Kasjo seakan melayang menyerang Shun Land, sedangkan Shun Land tetap saja seperti semula tidak bergerak sedikitpun.


Tepat dua jari lagi golok Ciomas menyentuh kulit Shun Land waktu seakan berhenti, Shun Land menangkap golok tersebut bagai menangkap golok tersebut dengan mudah.


Dengan sedikit mengeluarkan kekuatan apinya golok itu menyengat panas pemiliknya, spontan saja Kasjo melepaskan pegangannya seraya meloncat mundur.


Shun Land mengejar dengan kecepatan dua kali lipat serangan Kasjo sambil menghantamkan gagang golok Ciomas ke punggung Kasjo.


Kasjo tidak bisa berbuat apa-apa kecepatan serangan Shun Land di luar kemampuannya Untuk menghindar tak ayal lagi punggungnya bagai di hantam benda keras sebesar badan manusia.


Kasjo terjatuh ke tanah tengkurap wajahnya mencium tanah dengan keras darah mengalir dari mulutnya, Kasjo mengerang tanpa bisa bangun lagi.


"Aku tahu kau dari perguruan Ciomas murid dari Ki Mahisa Taka, kau telah mengunakan ilmu golok Ciomas untuk tidak benar aku akan menghancurkan ilmu Kanuragan mu".


Shun Land tanpa ragu-ragu menyentuh punggung Kasjo mengalirkan Api abadi menghancurkan seluruh titik Meridian Kasjo hingga kedepannya Kasjo tidak bisa menghimpun tenaga dalam secara otomatis Kasjo tidak bisa menggunakan ilmu Kanuragan lagi.


"Ampun pendekar bunuh saja aku dari pada kau siksa begini".


Kasjo menjerit histeris menahan sakit hancurnya titik Meridian di seluruh tubuhnya dia berguling-guling bagai hewan yang di sembelih.


Bawahan Kasjo yang tidak ikut menyerang Shun Land langsung bersujud meminta pengampunan, sedangkan kedua bawahan yang tergeletak melihat kejadian ketuanya tidak berdaya melawan Shun Land ingin lari tapi sayang mereka mereka seperti remuk redam.


Shun Land mengabaikannya malah memanggil pak Harja kepala pedukuhan dan para penduduk yang melihat dari balik pepohonan.


"Paman dan para penduduk keluarlah sekarang sudah aman".


Seorang gadis kurus berkulit putih, walaupun badanya kurus tetapi tidak mengurangi kecantikannya berlari menuju Shun Land.

__ADS_1


Lasmini saking gembiranya penolongnya bisa mengalahkan Kasjo dan bawahannya tanpa ragu-ragu dan malu memeluk Shun Land dengan erat. Usia Lasmini memang masih muda sekitar 17 tahun.


Sepasang mata melihat kejadian ini merasa tidak senang, dia adalah Asmini anak kepala pedukuhan yang ikut menyaksikan pertarungan bersama ibunya.


Kepala pedukuhan dan penduduk keluar dari persembunyiannya menghampiri Shun Land tidak lama Asmini bersama ibunya dan para perempuan lainya berjalan mendekati warung bi Marni.


"Neng Lasmini lepaskan pelukanmu malu di lihat orang sekampung". Shun Land berkata sambil mendorong tubuh Lasmini yang lengket kaya perangko dengan pelan.


Wajah Lasmini memerah rasa malu menjalar sambil menunduk menahan malu lalu berkata.


"Maaf saya terlalu senang akang selamat, terima kasih telah menyelamatkan ibu ku dari begundal Kasjo dan anak buahnya".


Wajah Lasmini berubah menjadi merah padam tanpa menoleh berjalan ke arah Kasjo yang tergeletak tak berdaya, setelah dekat tanpa ragu-ragu Lasmini menendang badan Kasjo sekuat tenaga berkali-kali hingga cape sendiri.


"Rasakan ini hadiah telah meleceh ibuku".


Setelah cape Lasmini mengambil kayu yang ada di samping warung sebesar pergelangan tangan anak-anak dia berjalan menuju salah satu anak buah Kasjo yang tergeletak.


Dengan amarah yang meluap Lasmini menghajar anak buah Kasjo sekuat tenaga dengan kayu yang di bawanya.


"Ini hadiah buat kau yang ingin bermalam dengan ibuku rasakan oleh jidat mu".


Seluruh penduduk menyaksikan ini seakan tidak percaya gadis manis yang lemah lembut mempunyai kekejaman seperti ini.


"Nak Jaya harus di apakan Kasjo dan anak buahnya ini". Pak Harja kepala pedukuhan bertanya.


"Itu terserah paman saja semuanya saya serahkan pada paman". Shun Land menjawab singkat.


Pak Harja mengumpulkan ketiga anak buah Kasjo, sedangkan Kasjo di biarkan tergeletak di halaman. Setelah di tanya dan di ambil sumpah Akhirnya ketiganya di ampuni dengan sarat harus ikut menjaga keamanan pedukuhan Cikawung.


Shun Land berjalan menghampiri Kasjo yang tergeletak tidak berdaya setelah sampai Shun Land mengeluarkan topeng hitam dan menunjukkan ke Kasjo. Topeng hitam satu-satunya petunjuk pembunuh sang guru.


"Lihat baik-baik topeng ini dan jawab pertanyaan ku dengan jujur mungkin aku akan melepaskan mu". Shun Land berkata dengan nada tegas.


------------&&&&-----------

__ADS_1


__ADS_2