LEGENDA RAJAWALI API

LEGENDA RAJAWALI API
382. Jaya S 115. Memberi hadiah kepada pemenang.


__ADS_3

Terlihat sebuah ruangan yang lebar dan besar dua kali lipat dari ruangan pertama dan kedua, Ratu Galuh Sindula mengajak semua untuk masuk berbeda dengan ruang pertama dan Kedua ruangan ini di terangi olah batu batu permata yang memantulkan cahaya, batu permata itu tersusun indah di langit-langit Ruangan itu.


Mereka berempat sangat takjub dengan ruangan yang mewah itu kecuali Nyai Gora Sindula yang sudah tidak tertarik dengan hal-hal kemewahan.


Akhirnya mereka berempat duduk di pinggir ranjang, "Ruangan yang ada di dalam istana ada 5 dengan ruangan ini kakak bisa memilih satu ruangan, maaf bukannya saya ingin ruangan yang paling besar tetapi ruangan ini hanya bisa di buka oleh saya dan kakang Jaya". Ratu Galuh Sindula berkata.


Nyai Gora Sindula keluar dari ruangan pribadi raja dan ratu, permaisuri May Lien menjawab ucapan Nyai Ratu Galuh Sindula. "Nyai Ratu masalah ruangan bukan masalah penting yang lebih penting adalah Nyai Ratu belajar dengan sungguh-sungguh adat istiadat istana karena kita ini adalah simbol wanita istana yang harus menjadi contoh bagi rakyat banyak".


"Saya meminta tolong Kakak permaisuri Sari tetap menjadi pemimpin kerajaan dan kakak permaisuri Sari yang duduk di singgasana saya tidak mengerti sama sekali setelah saya mengerti nanti saya juga membantu. Namun tidak memakai mahkota karena tidak boleh oleh peraturan leluhur kakak tetap memakai mahkota ibunda Ratu Shi". Ratu Galuh Sindula berkata dengan polosnya.


"Tidak Nyai Ratu Galuh Nyai tetap duduk singgasana masalah pemerintahan nanti saya dan adik permaisuri Dewi dan adik permaisuri May yang membantu kakang Prabu Jaya Sempurna, dan nanti juga ada putri Dian Prameswari dwibuana yang mengaturnya kita hanya butuh mengambil keputusan penting mewakili kakang Prabu Jaya Sempurna, mari kita keluar bergabung dengan yang lain tidak enak dengan putri Sanja dan putri Dyah Prameswari dwibuana".


Permaisuri Sari Tungga Dewi berdiri setelah bicara di ikuti permaisuri May Lien, tetapi permaisuri Dewi Sumayi dan Ratu Galuh Sindula tetap duduk. "Kakak Sari aku ingin tidur saja bersama Nyai Ratu di sini saya merasa capek sekali".


Permaisuri Sari Tungga Dewi dan permaisuri May Lien berjalan keluar menemui putri Sanja dan putri Dyah Prameswari Dwibuana.


Shun Land bersama pangeran Sanjaya dan Pramuja serta Lamsijam berkeliling ke samping istana Galuh Purba, Shun Land yang tadinya ingin menemui Naga Bumi Sabui ingin bertanya siapa yang membangun istana ini, akhirnya mengurungkannya karena ada pangeran Sanjaya triloka dan yang lainnya.


Di samping kana kiri istana Galuh Purba ada lima rumah besar berbaris menghadap ke istana di belakang ada taman yang sangat luas dengan pendopo di setiap sudutnya.

__ADS_1


Di samping kiri-kanan halaman depan istana yang luas ada taman dengan kolam ikan di tengahnya, beberapa tempat duduk dari batu besar yang rata di sisi kolam, pangeran Sanjaya triloka membandingkan istana kebangsawanan Wajak tidak ada apa-apanya dengan istana ini.


"Paduka Jaya Sempurna sebenarnya siapa yang membangun istana ini saya melihat dan meneliti batu bahan bangunan istana ini bukan berasal dari sini". Pangeran Sanjaya triloka memberanikan diri untuk bertanya saking penasarannya.


"Sejujurnya saya sendiri tidak tahu, saya hanya menjalankan wasiat dari pangeran Cakrawala leluhur pangeran di dalam ruangan rahasia bawah tanah, pangeran ada sesuatu yang ingin saya beri pada pangeran sebagai ganti pedang pangeran yang hancur ketika bertarung dengan Pataya". Shun Land mengeluarkan dua buah senjata gelang-gelang yang di dapat dari Asvaghosa lalu memberikannya pada pangeran Sanjaya triloka.


Pangeran Sanjaya triloka menerimanya lalu bertanya bagai mana cara menggunakan karena gelang-gelang tersebut sangat kecil.


Shun Land mengulurkan tangannya meminta satu gelang, pangeran Sanjaya triloka memberikan satu gelang tersebut, ketika gelang berada di tangan Shun Land gelang tersebut membesar dengan sendirinya.


"Menghubungkan senjata ini dengan cara mengalikan tenaga dalam dan berkonsentrasi menghubungkan pikiran kita pada gelang tersebut". Shun Land memberikan keterangan sambil mengembalikan gelang tersebut.


"Terima kasih Paduka Raja". Pangeran Sanjaya berterima kasih, Shun Land pun mengeluarkan tongkat mutiara hitam bekas milik Ki Kala Durga dan memberikannya pada Lamsijam.


"Paman sepertinya senjata ini cocok dengan paman yang memiliki ilmu dari Kala Durga, senjata ini aku dapatkan ketika aku mengalahkan Kala Durga, dan senja yang kakang pangeran Sanjaya triloka pegang adalah warisan waktu aku membunuh Asvaghosa".


Lamsijam langsung menerimanya karena dirinya tidak memiliki satu pun senjata pusaka, dirinya benar-benar mengandalkan tenaga dalam dan tangan kosong karena jurus-jurusnya memang tangan kosong.


Shun Land mengeluarkan golok Pancaroba milik panglima Antaka dan memberikannya pada Pramuja, "Ini adalah golok pusaka paman Antaka Kakak seperguruan ku, aku sepertinya kurang mengerti kecocokan senjata apa pada kalian berdua tetapi bila di antara kakang pangeran Sanjaya triloka dan Pramuja tidak sesuai kalian bisa menularnya".

__ADS_1


Pangeran Sanjaya triloka melihat golok pancaroba merasa lebih cocok karena sebelumnya menggunakan pedang maka tidak akan begitu sulit bila di ganti dengan sebuah Pusaka golok pancaroba.


"Adik Pramuja sepertinya kita harus menukar senjata kita kakang merasa lebih cocok bila menggunakan sebuah golok panjang karena dulu kakang menggunakan sebuah pedang, dan adik yang biasanya mengunakan tenaga dalam akan lebih mudah menggunakan pusaka ini yang lebih tinggi tingkatannya, senjata gelang-gelang ini adalah pusaka tingkat bintang kelas satu, sedangkan golok itu pusaka langit tingkat tinggi tapi kakang lebih leluasa menggunakannya". Pangeran Sanjaya triloka mengajak untuk menukar pusaka dirinya merasa tidak keberatan walau pun tingkat senjata gelang-gelang lebih tinggi.


Pramuja membenarkan ucapan pangeran Sanjaya triloka dan langsung memberikan pusaka golok pancaroba dan menerima pusaka gelang-gelang dan memakainya di kedua lengannya.


Merdeka pun kembali ke dalam istana di sana banyak para murid laki-laki yang tergeletak tidur karena kecapaian.


Shun Land berkumpul bersama dengan mereka di dalam istana duduk di lantai istana. Ini suatu pengecualian di setiap istana terdapat banyak kursi yang tersusun rapi untuk para pejabat tinggi kerajaan tetapi di istana Galuh Purba tidak ada satupun jadi semuanya duduk bersama di lantai batu hitam yang sangat halus sampai bisa untuk bercermin.


Shun Land dalam kesempatan itu ingin di luar istana kerajaan di bangun rumah untuk para pejabat tinggi kerajaan dan sebuah rumah mewah untuk tamu kehormatan kerajaan.


Putri Sanja yang di tunjuk sebagai pejabat keuangan mencatat semuanya. Shun land pun berkata pada Dewi Sukma dan Jatniko yang saat ini sebagai pemimpin perguruan Kanoman sumur Pitu untuk memberitahukan bahwa hadiah yang di janjikan semuanya akan mendapatkannya.


Besok pagi seluruh murid-murid untuk kembali ke perguruan Kanoman sumur Pitu untuk mengemas seluruh barang bawaan Shun Land dan yang lainnya untuk di bawa ke istana.


Shun Land juga berpesan pada Dewi Sukma bila ada kedua kusir membawa kedua kereta untuk segera memberitahu bahwa mereka harus terus melanjutkan perjalan bersama para murid perguruan yang mengantar berbagai barang bawaannya.


******************

__ADS_1


__ADS_2