
"Satu.... Dua.... Tiga....." Bersamaan kata tiga Tubuh Shun Land bagai menghilang membatat anak buah kelompok Alap-alap tanpa berkedip, tubuh Shun Land berhenti di depan pimpinan kelompok Alap-alap. Tiga detik kemudian tubuh atas pimpinan jatuh ke bawah terpotong menjadi dua dari bahu kiri sampai ke pinggang kanan. Dua detik kemudian tubuh bagian bawah nya Terjengkang.
10 anak buah kelompok Alap-alap pun bernasib sama mereka semua tumbang menjadi dua bagian, satu hal yang tidak di mengerti semuanya tidak ada yang keluar darah.
Mereka semuanya mematung melihat seorang pendekar yang membunuh puluhan orang dengan sadis dengan wajah datar seperti tidak terjadi apa-apa, Marta yang yang sering melihat pertarungan sampai mati mimik mereka tidak seperti Shun Land membunuh puluhan orang seperti membunuh kecoa.
Shun Land melempar pedang yang di gunakan terlihat pedang penuh dengan retakan seperti menahan beban yang berat. Benar saja baru beberapa saat pedang itu berada di tanah, kemudian hancur menjadi beberapa bagian.
"Paman Marta tolong kuburkan agar tidak menjadi wabah penyakit mayat-mayat ini, jangan sampai hidupnya menjadi penyakit masyarakat mati juga jadi wabah penyakit".
Setelah bicara Shun Land melangkah ke kudanya.
"Paman Warsiman kita teruskan perjalan biar paman Marta yang mengurus mayat-mayat ini, paman Marta kita berjumpa di pedukuhan Kaliungu".
Mendapatkan perintah dari Shun Land juragan Warsiman memerintahkan kusir untuk berjalan, kereta perlahan berjalan di ikuti empat kereta yang lainnya.
Marta dan sembilan anaknya kebagian menjadi tukang gali kubur lagi. "Kang Marta sekarang saya benar-benar yakin tuna Jaya Sempurna itu bukan pendekar biasa, walaupun di siang hari tetap saja saya tidak bisa mengikuti gerakannya, tapi kita yang jadi sasaran dua kali menjadi tukang gali kubur". Salah satu anak buahnya bicara bersungut-sungut.
Yang di dekatnya merasa tidak setuju dengan ucapan temannya itu menimpalinya dengan nada tinggi. "Tanpa bantuan tuan pendekar Jaya Sempurna kita semuanya yang kubur, mau kau ku kubur sekarang bukannya bersyukur kita selamat kau malah berkata seolah menjadi korban".
Yang pertama bicara mau menyangkal tapi sebelum mulutnya keluar suara satu batu kecil mengenai kepalanya. "Aduuuh....!!!". Pengawal itu melihat menengok ingin melihat siapa yang melempar, tetapi langsung menunduk tidak berani berkata apa-apa.
__ADS_1
"Cepat bekerja jangan banyak bicara". Ternyata Marta yang melerai mereka.
Mereka pun bekerja dengan cepat hingga sebelum gelap sudah selesai, mayat-mayat itu di kubur menjadi satu kuburan di pinggir jalan. Mereka pun segera memacu kudanya dengan cepat ingin segera menyusul majikan mereka yang membayar mereka.
Marta dan sembilan anaknya kebagian menjadi tukang gali kubur lagi. "Kang Marta sekarang saya benar-benar yakin tuna Jaya Sempurna itu bukan pendekar biasa, walaupun di siang hari tetap saja saya tidak bisa mengikuti gerakannya, tapi kita yang jadi sasaran dua kali menjadi tukang gali kubur". Salah satu anak buahnya bicara bersungut-sungut.
Yang di dekatnya merasa tidak setuju dengan ucapan temannya itu menimpalinya dengan nada tinggi. "Tanpa bantuan tuan pendekar Jaya Sempurna kita semuanya yang kubur, mau kau ku kubur sekarang bukannya bersyukur kita selamat kau malah berkata seolah menjadi korban".
Yang pertama bicara mau menyangkal tapi sebelum mulutnya keluar suara satu batu kecil mengenai kepalanya. "Aduuuh....!!!". Pengawal itu menengok ingin melihat siapa yang melempar, tetapi langsung menunduk tidak berani berkata apa-apa.
"Cepat bekerja jangan banyak bicara". Marta bicara keras, Ternyata Marta yang melempar batu tersebut untuk melerai mereka.
Mereka pun bekerja dengan cepat hingga sebelum gelap sudah selesai, mayat-mayat itu di kubur menjadi satu kuburan di pinggir jalan. Mereka pun segera memacu kudanya dengan cepat ingin segera menyusul majikan mereka yang memberi mereka kepingan-keping koin emas.
"Dengarkan baik-baik ucapan ku, bila kita sudah berada bersama pendekar Jaya Sempurna, jangan banyak bicara dan turuti semua yang dia perintahkan kita berhutang nyawa sudah dua kali, jangan membuat dia tersinggung dengan ucapan dan tingkah laku kalian karena bila membuat dia tersinggung dengan satu tarikan nafas kita semua menjadi mayat".
Sementara itu juragan Warsiman telah berada di suatu penginapan terbaik di pedukuhan Kaliungu, walau pun pedukuhan ini di tengah hutan belantara alas Roban pedukuhan ini cukup besar mirip sebuah kota kecil mungkin karena pedukuhan ini ada dermaganya yang cukup besar, muara sungai Kaliungu cukup dalam dan besar untuk di masuki sebuah kapal, walaupun tidak sebesar muara sungai purba Cilamaya.
(Perlu di ketahui muara Cilamaya di ujung timur kab Karawang adalah salah satu pelabuhan terbesar di Jawa pada jaman dahulu kala menurut para sejarawan, dengan bukti-bukti di temukannya bangkai-bangkai kapal jaman dahulu, di antara kapal tersebut ada yang bermuatan keramik dari negri Tiongkok kuno kisaran awal-awal Masehi, ada tiga sungai purba yang sampai sekarang di Jawa 1. Begawan Solo, 2. Citarum 3, Cilamaya. Tiga sungai ini di perkirakan sudah ada sejak puluhan ribu tahun sebelum Masehi). Uups Waduuuh kepanjangan.
Shun Land dan Lasmini di beri kamar yang paling istimewa oleh juragan Warsiman, keempat pedagang sepakat untuk memberikan yang terbaik untuk Shun Land menurut mereka karena jasanya Shun Land mereka berempat masih hidup.
__ADS_1
Di samping penginapan ada kedai makan cukup besar yang bisa menampung beberapa puluh pengunjung, Shun Land memasuki kedai tersebut bersama Lasmini selain ingin mengisi perutnya keduanya ingin melihat-lihat pasar dan lelang di sana.
Seorang berpakaian pendekar datang dan duduk di dekat Shun Land tetapi saling menghadap punggung. Dia adalah Delay kepala perampok yang di taklukkan Shun Land.
Setelah makan Delay bicara pelan tanpa menengok. "Tuan setelah menyebrang sungai Kaliungu tiga kelompok binatang buas sudah menunggu, setelah itu izin saya mengikuti tuan, saya tidak mempunyai tujuan hidup ataupun sanak saudara".
"Baik belilah kuda yang terbaik, cari informasi tentang raja tengkorak dan Tapak besi". Setelah bicara Shun Land beranjak pergi dan menaruh satu kantong koin emas di depan Delay sambil berjalan. Lasmini yang mengetahui ini diam saja dirinya merasa tidak perlu ikut campur masalah suaminya.
Shun Land dan Lasmini berjalan keluar mereka jadi pusat perhatian terutama Lasmini yang mempunyai kecantikan di atas rata-rata, semua yang melihat berprasangka Lasmini adalah seorang putri bangsawan.
"Kakang kita kembali ke penginapan saja aku cape banget menurut Paman Warsiman kita akan menginap di sini sampai 3 tau 4 hari besok kita bisa jalan-jalan" Lasmini berjalan sambil menggelayut di tangan Shun Land.
"Itu terserah neng Lasmini, kakang juga ada pekerjaan ingin menghukum orang yang mengintip waktu kemarin malam". Shun Land menjawab dengan wajah datar.
"Siapa takut masa istri seorang pendekar sakti takut di hukum, tapi hukumannya jangan berat-berat yaaa". Lasmini berkata dengan wajah memelas.
Mereka berdua masuk ke kamar penginapan tidak ada yang tahu apa yang mereka kerjakan yang jelas mereka berdua bermandikan keringat seperti berlatih ilmu olah Kanuragan.
Pedukuhan Kaliungu ini adalah salah satu tujuan empat pedagang di pasar ini mereka menjajakan dagangannya, barang yang biasa-biasa saja di kota besar bisa di jual mahal di sini.
Alasannya sangat sederhana di pedukuhan Kaliungu ini sangat sulit di jangkau para pedagang karena medan perjalanan yang sangat sulit dan berbahaya sedangkan penghasilan para penduduk sekitar lumayan maju.
__ADS_1
Empat pedagang yang di pimpin juragan Warsiman adalah pedagang yang sangat berani pemikiran mereka bila beruntung akan mendapatkan hasil berpuluh kali lipat tapi bisa tidak beruntung mereka berharap asal nyawa tidak melayang bisa kembali berdagang.
********************