
"Ceritakan apa yang kalian dapatkan dari pengintaian kalian" tetua Niraya Sura menanyakan kepada murka dewa dan asur Pati, sambil menenggak guci yang dia pegang.
Murka dewa mulai bercerita tentang kejadian di mana dia menguping pembicaraan, pangeran Shun Land dan Antaka pendekar syair kematian, Tian agan dan yu asri haring.
"Ternyata si baji**** itu belum mati, ku pastikan bila bertemu lagi akan ku buat dia, menghadap malaikat maut, murka dewa, Asur Pati kau harus hati-hati jangan sampai kau berhadapan dengannya, dia bukan tandingan mu"
Tetua Niraya Sura memperingatkan murka dewa dan asur Pati.
Istana Sunda ageng terlihat sangat ramai oleh kehadiran seluruh pejabat kerajaan, yang lama atau pun pejabat yang baru.
Di mana banyak pihak kerajaan, banyak mengangkat pejabat baru di berbagai bidang yang sangat penting.
Di antaranya pejabat tinggi di bidang pertanian, bidang bangunan, dan bidang hubungan antar daratan.
Pejabat baru itu dari bangsawan Dayak maanyan, bangsawan Dayak Bakumpai dan bangsawan Dayak Baraki.
Pelebaran pejabat kerajaan, di maksudkan agar kemajuan Kerajaan untuk kemakmuran dan ketentraman seluruh negeri segera tercapai dengan cepat.
Sang Ratu SHI khal dan perdana menteri Jhasun telah hadir begitu juga panglima Shu khal dan tetua Sri khal, yang besok akan mengadakan peresmian perkawinan mereka di istana kerajaan.
Putra mahkota kerajaan pangeran Shun Land, memasuki istana, beserta Rombongan ada Tian agan dan yu asri haring sebagai keamanan, ada putri Dewi sumayi yang tidak mau jauh.
Boma dan sang ibu angkat yang tidak boleh jauh dari pangeran, atas perintah pangeran Shun Land pribadi.
Semua telah hadir. Pengatur acara pangeran Kitri yang piawai dalam hal-hal acara formal dan protokol kerajaan, bersiap untuk memulai jalannya sidang
"Kepada seluruh peserta sidang istimewa kerajaan, untuk memberi hormat kepada paduka Ratu SHI khal dan perdana menteri Jhasun. Juga seluruh peserta sidang istimewa kerajaan memberi hormat kepada putra mahkota kerajaan pangeran Shun Land, yang mana akan memimpin jalannya sidang menggantikan tuan perdana menteri Jhasun"
Pangeran Kitri memberi arahan seluruh peserta memberi hormat.
"Dan selanjutnya di harap kepala pengawal istana Djata, untuk menghadirkan pangeran Khal Shugal, sebagai pihak yang mencoba tindak kekerasan terhadap, calon putra mahkota pada saat itu"
__ADS_1
Kepala pengawal istana Djata pun pergi, dan tak begitu lama datang membawa pangeran Khal Shugal, dengan tangan dan kaki di rantai.
Pangeran Khal Shugal pun menepati tempat yang sudah di sediakan, di ruangan istana.
"Untuk yang pertama waktu di berikan kepada Tetua Mantikei, sebagai tetua di bagian keprajuritan, untuk memberikan pendapat hukum apa yang adil, untuk pangeran Khal Shugal"
Pangeran Kitri memberikan waktu kepada Tetua Mantikei.
"Yang terhormat paduka Ratu dan tuan maha Patih Jhasun, putra mahkota pangeran Shun Land, menurut saya sesuai dengan peraturan keprajuritan, pangeran Khal Shugal harus di hukum, mati, atau di buang keluar dari kerajaan, dan tidak di bolehkan lagi mengunjungi, atau tinggal di kerajaan ini"
Tetua memberikan pendapat.
"Apa alasan tetua Mantikai, pangeran Khal Shugal harus di hukum mati atau buang, sedangkan pada waktu kejadian, saya belum di angkat sebagai putra mahkota, apa pendapat paman Mantikai, apabila saya yang di posisi pangeran Khal Shugal, pangeran Khal Shugal pada waktu itu kedudukan nya sama dengan saya, memiliki hak yang sama, karena sama-sama cucu dari sesepuh agung Khalma jaya"
Pangeran Shun Land, memberi pertanyaan kepada Tetua Mantikei, yang sangat sulit di jawab oleh tetua Mantikai.
Mendapat pertanyaan balik dari pangeran Shun Land, tetua Mantikai tidak bisa menjawab.
'saya menuruti dan mengikuti keputusan putra mahkota, yang mempunyai pertimbangan yang lebih adil" tetua Mantikai akhirnya menyerahkan keputusan kepala putra mahkota, yang dia mengakui pengetahuan pangeran Shun Land, lebih tinggi dan akan berbuat adil seadil-adilnya.
"Baik lah kalau begitu, kalian semua akan mendukung keputusan ku, aku akan memutuskan...
Aku sebagai putra mahkota dan sebagai perwakilan paduka Ratu SHI khal dan maha Patih Jhasun, memutuskan kepada pangeran Khal Shugal, yang telah melakukan tindakan mau mencelakai, calon putra mahkota kerajaan, memberikan hukuman,
Pangeran Khal Shugal, harus mempelajari ilmu ot Danum kehidupan, sampai memahami arti kehidupan untuk apa kehidupan ini, dan harus bagai mana menghadapi kehidupan ini, sebagai bentuk dari penyesalan telah lalai, hingga perbuatannya menuruti napsu keserakahan dan hawa nafsunya.....
Yang kedua hukuman mempelajari ilmu olah Kanuragan yang telah saya berikan di atas pengawasan tetua Mantikai dan calon panglima perang kerajaan pengawal Tian agan dan yu asri haring....
Yang ketiga harus mengucapkan sumpah darah kebumi Pertiwi, dan janji setia kepada kerajaan dan Ratu atau Raja, atau yang di tunjuk memimpin kerajaan ini....
__ADS_1
Keputusan ini berdasarkan
Perbuatan tersebut di lakukan pada saat, sama-sama mempunyai hak menjadi putra mahkota.
Hukum itu boleh lebih berat atau sampai hukuman mati, bila yang di celakai menuntut hukum yang setimpal, tetapi saya sebagai orang yang di celakai memilih untuk memaafkan. Karena pada waktu itu kami sama-sama memiliki hak dan kewajiban yang sama.
Siapa pun silahkan bicara yang merasa, keberatan keputusan ini, dan keputusan ini tidak adil"
Putra mahkota kerajaan pangeran Shun Land, mengakhiri bicara dengan mempersilahkan bagi yang keberatan, akan keputusannya.
Semua tertegun akan keputusan pangeran Shun Land, dan argumentasi yang di ajukan, semua di atas pemikiran mereka, tetapi mereka sangat mengagumi keputusan itu dan alasan yang mendasari putusan itu sangat masuk akal, dan menggambarkan kebijaksanaan yang tinggi.
Sang Ratu SHI khal dan perdana menteri Jhasun, sangat kaget dan terkagum-kagum, di luar dugaan keduanya, bahwa putranya memiliki jiwa pemimpin yang melibihi mereka.
Bisa memutuskan keputusan sangat sulit, dan menyakinkan para peserta sidang, bahwa keputusannya berdasarkan keadilan dan
kemaslahatan bersama.
Putri Sari Tungga Dewi, sangat gembira dan Rasa ketertarikan pada pangeran Shun Land, semakin tinggi, terlihat di mata putri Sari Tungga Dewi, pangeran Shun Land seorang yang sempurna di segala segi.
Berbeda dengan putri May lien yang sudah tau, kecerdasan dan kemampuan mengambil keputusan yang sulit-sulit, melihat kejadian ini, hati putri May lien semakin mantap saja untuk mengabdikan, seluruh jiwa dan raganya untuk pangeran Shun Land, dia berharap dalam hati yang paling dalam, agar perasaannya tidak bertepuk sebelah tangan.
(Sakit broooo cinta terbalas hiiii)
Di antara mereka yang menyetujui ada dua orang yang mengangkat tangannya, meminta kepada pengatur acara untuk di berikan waktu bicara.
...****************...
jangan lupa like, kritik sarananya di kom komentar. 🙏🙏🙏🙏
__ADS_1
SALAM NUSANTARA
SALAM GARUDA PERKASA