
Sebagai penolong putra mahkota kerajaan, sudah sewajarnya pihak kerajaan mengundang dan meminta untuk menginap di istana, sebagai rasa terima kasih, sebagai Ibu dan bapak, dan berterima kasih atas Nama Ratu dan seluruh kerajaan.
Sebelum Boma datang Putri Dewi sumayi mendahului menemui Shun Land, yang sedang duduk menunggu Boma,
"Aku ikut kakak Shun"
Shun Land hanya mengangguk, tak lama kemudian putri Sari Tungga Dewi datang,
Setelah memberi hormat putri Sari Tungga Dewi adik dari Pangeran Khal Shugal, bersimpuh di kaki Shun Land
"Adik Shun maaf kan kakak ku yang berniat mencelakai mu, hukum seberat-beratnya tapi aku mohon jangan hukum mati, aku hanya punya saudara satu-satunya, apa pun aku lakukan demi nyawa kakak ku" putri Sari tungga dewi, menghiba untuk kakaknya
Putri Dewi sumayi hanya melirik tak acuh, seakan tak perduli dan tak percaya akan ucapan putri Sari Tungga dewi,
Pangeran Shun Land, membangunkan putri Sari Tungga dewi dan mendudukkannya di sampingnya, lalu bicara
"Kakak sari, aku pribadi tidak menaruh dendam, ataupun sakit hati, karna alasan kakang Khal Shugal adalah wajar, dia juga berhak atas tahta kerajaan ini, karena kita sama-sama keturunan dari kakek yang sama, tapi sangat di sayangkan cara kakang Khal Shugal sangat arogan" Shun Land terdiam sejenak
"Masalah hukuman, itu bukan wewenang aku, karna itu di putuskan di sidang pengadilan dan bunda Ratu yang mengambil keputusan, tapi aku berjanji akan membela kakang Khal Shugal, semampu ku''
Mendengar ini putri Sari Tungga dewi, merasa agak tenang.
Boma berjalan dengan santai bagai seorang yang tidak mempunyai keperluan
"Hari ini berkah Tuhan sedang berada di atas ku, dua orang putri cantik dan pangeran pilih tanding, menunggu satria gagah perkasa" Boma berbicara sambil berlaga seperti Satria.
Tidak di diketahuinya di balik lorong ketua pengawal istana Djata sedang ke sana, guna menemui pangeran Shun Land, untuk mengunjungi tabib Lau Lien dan putrinya.
" Hey mengapa pada diam ada yang salah dengan diri ku, apa masih kurang gagah" Boma sekali lagi bergaya seolah bagai pangli perang.
Di belakangnya ketua pengawal istana Djata geleng-geleng kepala, mengapa anaknya mawinei bisa jatuh cinta pada pemuda ini,
(apa karena ilmu pelet hiiiihiiihiiii)
Putri Dewi sumayi menunjuk ke belakang sambil berkedip-kedip, menanggapi ini Boma salah pengertian
"Putri Dewi sumayi jangan berkedip-kedip begitu, jangan coba-coba menarik perhatian aku, aku sangat setia pada Mawinei pujaan hatiku" Boma bertambah ngelantur.
"Eheeem" ketua pengawal istana Djata berdehem agak keras.
__ADS_1
Boma menoleh, warna wajah Boma bagai di siram air rebusan, melihat wajah calon mertuanya.
"Eeh ada calon ayah mertua, silahkan bila mau menemui pangeran" Boma berbahasa-basi menutupi rasa malunya, sambil celingukan seolah mencari sesuatu
Melihat tingkah Boma pangeran Shun Land, putri Sari Tungga Dewi dan putri Dewi sumayi, mereka menahan tawa, hampir-hampir meledak.
"Pangeran kereta sudah siap untuk menjemput Babah tabib dan putrinya" ketua pengawal Djata memberi laporan.
"Adik putri Sari apakah akan ikut" pangeran Shun Land menawarkan
Putri Dewi sumayi mendengar pangeran Shun Land mengajak putri Sari Tungga Dewi terlihat sangat kesal walau berusaha di sembunyikan.
"Baiklah, bila adik Shun, adik Dewi sumayi, tidak keberatan" putri Sari Tungga dewi tanpa ragu menerima ajakan Shun land.
Dengan berat hati putri Dewi sumayi menganggukkan kepala.
Mereka pun pergi ke depan gapura istana di sana satu kereta kerajaan cukup besar di tarik oleh empat ekor kuda.
Dalam perjalanan tidak ada kejadian yang berarti, tapi sikap Boma yang kaku, tak seperti biasanya, mungkin ini karena ada ketua pengawal istana Djata sebagai calon mertuanya.
Kereta berhenti di depan penginapan, di mana tabib Lau Lien dan putrinya menginap.
"Salam pangeran Shun Land, bantuan apa yang di perlukan pangeran dari kami" seorang gadis agak berumur memberi salam dan bertanya dengan sopan.
"Saya ingin menemui tabib Lau Lien beserta putrinya, tolong antar saya ke kamarnya" pangeran Shun Land menjawab dengan simpel
"Baik pangeran silahkan ikuti saya" gadis itu berjalan ke lantai dua.
Di lantai dua, ada dua belas kamar, lengkap dengan kamar mandinya.
"Pangeran di Kamar nomor lima tabib Lau lien dan putrinya menginap" gadis itu menunjuk pintu kamar nomor Lima.
"Terima kasih"
Pangeran Shun Land lantas mengetuk pintu kamar penginapan sambil mengucapkan salam.
"Salam Paman Tabib Lau Lien"
Tidak menunggu dua kali, pintu terbuka begitu terlihat pangeran Shun Land, gadis cantik berkulit putih menghambur ke arah pangeran Shun Land.
__ADS_1
"Kakak.. May lien minta maaf tidak bisa ikut ke istana kemarin, eeeh Lodaya kemana aku kangen main sama dia" tetapi ketika menengok keluar kamar, wajah may Lien memerah karena malu.
Di sana ada dua gadis bangsawan yang ikut, may Lien duga hanya Boma yang datang.
May lien mempersilahkan pangeran Shun Land dan mereka semua.
Di dalam kamar penginapan kelas satu ini, selain kamar mandi ada Ruang tamu lengkap kursi dan meja kecilnya.
May lien mengenalkan ayahnya kepada pangeran Shun Land dan rekan-rekannya.
Setelah berkenalan, Tabib Lau lien menanyakan apa maksud kedatangan, pangeran Shun Land.
''paman Tabib saya di utus langsung oleh bunda Ratu, untuk menjemput paman tabib dan adik may Lien, bunda Ratu ingin ada sesuatu hal yang ingin di bicarakan dengan paman dan adik may Lien" pangeran Shun Land bicara dengan singkat.
Dalam hal ini pangeran Shun Land, berbicara kepada Sang ibunda Ratu, agar menawarkan Tabib Lau lien menjadi Tabib istana,
Menurut penilaian pangeran Shun land di saat ini sangat sulit untuk menemukan keahlian seorang tabib yang sudah mumpuni.
Tujuan jangka panjangnya akan di dirikan sekolah ketabiban dan Tabib Lau lien sebagai ketua dan pengajarnya.
Dan sebagai imbalan kepada Tabib Lau lien sendiri mendapat kehidupan lebih baik dan masa depan mau Lien lebih terjamin.
memang pangeran Shun Land ini dalam usia masih muda tapi pola pikir dan wawasannya bagai laut yang tak berdasar.
Tabib Lau Lien pun tidak bisa menolak karena secara tata letak masih dalam wilayah kerajaan Kutai khal, sebagai warga memiliki kewajiban mematuhi perintah sang Ratu.
Tabib Lau Lien dan putrinya May lien, bersiap-siap untuk menghadap sang Ratu SHI khal di istana, sedangkan pangeran Shun Land Rombongan menunggu di depan penginapan.
ketika Tabib Lau lien mau ke administrasi untuk membayar, pihak penginapan menolak karena semua biaya telah di bayar oleh pihak kerajaan.
Di luar telah datang rombongan susulan untuk mengangkut segala barang milik Tabib Lau Lien.
tabib Lau Lien keluar, melihat ada dua kereta istana, memberanikan diri untuk bertanya, kepada pangeran Shun Land
''pangeran ini ada kereta satu lagi dan beberapa petugas kerajaan, ada kegiatan apa lagi"
''Paman Tabib Lau lien dan adik May lien, Gusti Ratu memutuskan untuk sementara waktu paman Tabib Lau lien dan May lien menginap di istana kerajaan, kereta yang menyusul itu untuk mengangkut, barang barang paman Lau Lien dan adik May lien'' pangeran Shun Land menjelaskan
Tabib Lau Lien tidak bisa berbuat apa-apa, apa lagi putrinya memberi isyarat agar tidak menolak.
__ADS_1