LEGENDA RAJAWALI API

LEGENDA RAJAWALI API
405. Sang Garuda 07


__ADS_3

Shun Land dalam perjalanan ke istana Rijang Renah Selawi menyusuri pantai Utara daratan luas Swarna Bumi, hingga terlihat oleh Shun Land sebuah pedukuhan banyak rumah yang berdiri tidak seperti pedukuhan yang lainnya.


Shun Land memerintahkan Sang Garuda untuk meneruskan ke istana Rijang Renah Selawi mengantarkan Boma dirinya sendiri ingin melihat pedukuhan itu. Tapi sayang perintah untuk terbang di sisi pedukuhan terlambat para penduduk sudah melihat sang legenda Rajawali Api hingga mereka meneriakkan.


"Sang prabu Jaya Sempurna bersama sang Garuda".


Shun Land meloncat ke bawah di sisi sebelah timur pedukuhan agar tidak ada yang melihat tetapi tetap saja ada 2 orang yang sedang berburu melihatnya. Begitu Shun Land menjejakkan kakinya 2 orang tersebut langsung berlari menghampiri di hadapannya.


Dua orang tersebut langsung berlutut dan memberi salam hormat, "Salam hormat dan sembah bakti kepada sang Prabu Jaya Sempurna, hendak kemanakah sang prabu hingga turun di sini...?"


Salah satu dari keduanya mengakhiri kalimat Salamnya dengan bertanya, Shun Land pun menjawab pertanyaan rakyatnya dengan sopan santun.


"Paman bangunlah, saya ingin melihat pedukuhan yang ada di depan, paman warga pedukuhan itu". Shun Land balik bertanya.


"Iya saya dan ini ponakan saya sedang berburu tetapi keberuntungan belum berpihak pada kami, kami hanya mendapatkan tiga ekor ayam hutan, mari paduka saya antar biar jalanya tidak terlalu sukar". Pemburu itu mengajak untuk jalan bersama.


Shun Land berjalan mengikuti pemburu itu tidak berapa jauh Mereka sudah memasuki gerbang pedukuhan yang terbuat dari batu yang di susun kanan kiri.


Shun Land memperhatikan keduanya dengan teliti, walaupun mereka mencoba menyembunyikan Tenga dalamnya agar terlihat seperti penduduk biasa tetapi mereka tidak bisa luput dari pandangan Shun Land tetapi Shun pura-pura tidak tahua saja.


"Paduka raja saya antar paduka ke rumah kepala pedukuhan ini". Pemburu itu melangkah lebih cepat mendahului Shun Land.

__ADS_1


Di tengah pedukuhan itu ada pendopo cukup besar tetapi pendopo ini berbeda dari lainnya karena pendopo ini di sisi Kakan dan kirinya ada rumah yang menghimpit, lurus ke belakang, pendopo menyambung dengan rumah paling besar di pedukuhan itu.


Sesampainya di pendopo tersebut pemburu itu berkata dengan keras. "kepala pedukuhan ada tamu dari daratan luas Sunda Dwiva prabu Jaya Sempurna segeralah keluar untuk menyambutnya".


"Sang prabu Jaya Saya pamit dulu sebentar lagi kepala pedukuhan akan menemui sang prabu, saya Meu memberikan hasil buruan ke istri saya sayang kalau sudah bau". Pemburu itu berpamitan.


Pitu terbuka dari rumah paling besar keluar sosok laki-laki tinggi besar berjalan dengan tenang, bersamaan dengan itu dari pintu rumah kanan kiri pendopo itu keluar penduduk pedukuhan, dari kiri 10 orang dari Kanan sepuluh orang. Bila di lihat secara ilmiah keprajuritan posisi ini adalah posisi penyergapan.


"Paduka silahkan duduk maaf tidak bisa memberi sambutan yang layak pada paduka Raja, perkenalkan nama saya Aria Wilwatikta Kepala pedukuhan tanpa nama" laki-laki tinggi besar itu adalah kepala pedukuhan.


Shun Land duduk di pendopo panggung berhadapan dengan Ki Aria Wilwatikta, tidak lama pemburu itu datang bersama hampir seluruh masyarakat pedukuhan itu.


Shun merasa di tengah-tengah sebuah pasukan kelas tinggi, mereka semua memiliki tenaga dalam rata-rata 60ribu lingkaran. Tiba-tiba ada seorang pemuda yang usia sekitar 27 tahun berkata dengan tegas dan menyerang dengan auranya.


Shun Land semakin penasaran siapa sebenarnya penduduk pedukuhan ini, Shun Land menangkap dari wajah-wajah mereka ada keteganga dan ada juga rasa ketakutan, Shun Land lalu menjawab pertanyaan dari pemuda itu.


"Tenang saja kalian jangan merasa takut saya akan menangkap kalian, karena saya benar-benar tidak tahu siapa kalian, tetapi perlu kalian tahu sebesar apapun kesalah kalian saya tidak akan mengkap kalian bila dari kalian ada niat untuk memperbaiki dan merubah jalan hidup kalian menjadi yang lebih baik, dan sekarang paman Aria Wilwatikta tolong jelaskan siapa sebenarnya kalian, dan apa nama pedukuhan ini".


Shun berkata-kata hanya menerka-nerka saya, kepala pedukuhan mengerutkan keningnya mendengar apa yang di katakan Shun Land. Lalu berkata.


"Ceritakan lah paman jangan ada yang di sembunyikan jangan khawatir saya tidak bermaksud tidak baik, andaiksn paman dan seluruh penduduk di sini pernah berbuat salah anggaplah itu masa lalu yang kelam, andaikan saya ingin menangkap kalian semua sudah aku lakukan dari tadi walau pun Jumlah kalian banyak bagi ku sangatlah mudah". Setelah bicara Shun Land mengeluarkan aura apinya.

__ADS_1


Seketika suasana di sana menjadi panas udara jadi hampa tanpa oksigen seluruh yang di area itu susah untuk bernapas andai kan ada Shun Land lebih lama sedikit lagi niscaya mereka akan jatuh pingsan.


Aria Wilwatikta berkata dengan keras. "Cukup paduka saya akan menceritakan semuanya".


Dengan nafas tersengal-sengal kepala pedukuhan Aria Wilwatikta melambaikan tangan.


Shun Land segera menarik kembali kekuatan api abadinya suasana berangsur-angsur kembali seperti sedia kala. Kejadian ini memupus rasa kesombongan di hati mereka yang mengandalkan kuantitas atau jumlah yang banyak kenyataannya jangankan untuk bertarung menahan aura pun mereka tidak mampu.


Mereka segera berlutut dan menghaturkan sembah bakti pada Shun Land tidak terkecuali kepala pedukuhan yang aslinya adalah komando mereka. Setelah suasana kembali tenang kepala pedukuhan Aria Wilwatikta memulai bicara.


"Sebelumnya saya meminta maaf karena kesombongan kami sangat tidak sopan pada paduka, tetapi apa yang di ucapkan paduka benar-benar bukan suatu trik atau pun kebohongan, Saya kepala pedukuhan merasa malu karena meragukan niat baik paduka". Kepala pedukuhan Berhenti bicara untuk menata bahasa yang di kira tepat.


"Paduka raja dulu kami adalah pasukan rahasia Junjungan Mara deva yang melaksanakan segala tugas rahasia termasuk memata-matai istana Sundapura, hingga Junjungan Mara Deva menyerang istana paduka raja pada 2aktu paduka tidak berada di istana mengakibatkan istana Sundapura hancur".


Lagi-lagi kepala pedukuhan membuang nafas dengan berat untuk menghilangka rasa tertekan menjelaskan perbuatan tidak baik mereka pada orang yang bersangkutan Langsung.


Kepala pedukuhan melanjutkan bicaranya.


"Perlu paduka raja ketahui setelah setelah penyerangan ke istana Sundapura yang hasilnya sudah di ketahui Junjungan Mara Deva dapat di kalahkan oleh paduka raja, kami kembali ke persembunyian ini, dan sebagian lagi ada yang kembali ke sanak keluarga mereka. Sedangkan yang tinggal di sini adalah kami yang sudah merasa betah dan ingin memulai hidup baru di sini,.....


,......arena tempat ini adalah tempat yang kami tinggali sejak jaman kami kecil pada waktu perekrutan, di sini juga kami mendapat pelatihan yang sangat kejam banyak kenangan yang sangat tidak bisa kami lupakan di tempat ini,....

__ADS_1


,......Sekarang terserah paduka kami mau di apakan kami merasa bersalah telah memilih pilihan yang tidak bisa kami tolak karena kami pada waktu itu tidak di beri pilihan lain, tetapi sejak kebebasan kami dari Mara Deva kami semua telah sepakat ingin merubah menjadi baik dan hidup normal kaya orang lain". Kepala pedukuhan Aria Wilwatikta mengakhiri ceritanya.


_______*****_______


__ADS_2