
Seorang wajah tersenyum menghampiri Shun Land dan duduk di batu dengan santai dekat Shun Land yang sedang memperhatikan sekeliling begitu menoleh ke sampingnya Shun Land terperanjat melihat sosok yang sangat mirip dengannya.
"Salam Leluhur andaikan boleh tahu siapakah leluhur ini hingga menemui saya dalam meditasi ini". Shun Land berkata dengan hormat sambil menangkupkan kedua tangannya di depan wajah dan membungkuk hormat pada orang yang di depannya.
"Duduklah Cucuku di sini, aku ingin bercerita sedikit". Setelah bicara orang yang mirip Shun Land menepuk batu di sebelah dia duduk. Shun Land langsung menghampiri dan duduk di sampingnya.
Mereka berdua duduk berdekatan dengan mata masing-masing melihat ke sungai dengan air yang mengalir sangat jernih beberapa saat kemudian laki-laki yang mirip Shun Land berkata.
"Aku adalah pangeran Cakrawala bertemunya dirimu dengan ku menandakan bahwa benda yang di titipkan kepadaku dari leluhur ku telah sampai kepada mu, dan satu lagi yang ingin aku sampaikan kepadamu, setelah kau keluar dari sini datang lah ke gunung Gora dan bangunlah Kerajaan di sana dan beri nama kerajaan itu dengan nama Galuh Sindula,.......
,.... Di sanah sudah ada yang menunggumu Ratu Galuh Purba Sindula, dari kerajaan ini perang besar mu di mulai dan dari sana pula kamu akan mendapatkan kekuatan yang besar, dari sana pula awal peradaban baru di mulai". Pangeran Cakrawala berhenti bicara.
Shun Land pun menjawab dengan suatu pertanyaan. "Leluhur bagai mana Dengan Laku ritual Topongrame ku dan kerajaan Tarumanegara yang aku tinggalkan".
Sebelum menjawab pertanyaan Shun Land pangeran Cakrawala tersenyum hangat melihat kebingungan di mata keturunannya yang terpilih oleh sang maha Pencipta menjadi seorang yang agung melebihi dirinya.
"Laku Ritual Topongrame mu teruskan dan gabungkan kerajaan Tarumanegara dengan kerajaan Galuh Sindula dan nama kerajaan Tarumanagara hilangkan menjadi kerajaan Galuh Sindula seutuhnya,.....
__ADS_1
,....Ingat asal muasal permusuhan ini berawal dari sini perebutan Cinta Putri Galuh Sindula putri pertama Sanghyang Triloka dengan Dewi Saraswati yang diperebutkan kedua muridnya Raja agung Jatiraga dan Pancasiksa dan akhirnya putri Galuh Sindula memilih raja agung Sunda Land Jatiraga membuahkan dendam kesumat Pancasiksa pada Raja Agung Jatiraga berkepanjangan sampai sekarang,......
,...... Di gunung Gora ini Sanghyang Triloka dan Dewi Saraswati membangun keluarga dan mempunyai sampai mempunyai dua anak putri Galuh Sindula dan Dwibuana,....
,...... Nama Galuh Sindula di ambil dari nama kakeknya ayah dari Dewi Saraswati Sanghyang Galuh Purba, sedangkan Nama Dwibuana di ambil dari nama Sanghyang Triloka karena perempuan di beri nama Dwibuana, Dua nama tetapi mempunyai arti yang sama tiga alam, itulah cerita yang ingin ku sampaikan pada mu cucu ku". Pangeran Cakrawala mengakhiri ceritanya.
Shun Land sekarang menjadi mengerti rasa permusuhan Pancasiksa terhadap keturunan Raja Agung Sunda Land Jatiraga bukan hanya memperebutkan pusaka Pedang Naga Bergola tetapi lebih dalam lagi memperebutkan Cinta Putri Galuh Sindula, pantas saja Pancasiksa tidak mempunyai istri karena terlalu besar cintanya kepada putri Galuh Sindula. Tapi sayang cinta Pancasiksa bertepuk sebelah tangan.
Di saat Shun Land memahami inti cerita pangeran Cakrawala tanpa di sadari kesadarannya telah kembali ke tubuhnya sepenuhnya. Shun Land membuka matanya lalu berdiri dan pergi keluar dari ruangan itu menemui leluhur Ki Birawa.
Di sepasang kursi batu leluhur Ki Birawa menunggu melihat Shun Land keluar langsung berdiri dan hendak melangkah keluar tetapi langkahnya terhenti oleh suara Shun Land yang berkata.
"Silahkan tuan Jaya Sempurna saya mendengarkan". Leluhur Ki Birawa mempersilahkan Shun Land bicara. Shun Land pun mengutarakan maksudnya.
"Leluhur saya akan membangun istana di wilayah gunung Gora dan mendirikan suatu kerajaan, saya mohon Leluhur membantu saya ini tujuan saya yang pertama yang kedua saya meminta pendapat, sekarang ini perguruan pedang setan telah saya musnahkan dan saya membangun lagi perguruan itu dengan nama perguruan Kanoman sumur Pitu,......
,....... Pertimbangan ini berdasarkan banyak mantan murid pedang setan yang tidak mempunyai sanak saudara yang bingung kemana mereka kembali, semua mantan murid perguruan pedang setan adalah perempuan dan saya berniat mantan murid perguruan Macan putih yang di pimpin kakang Jatniko dan Kakang Samanta akan saya gabungkan di perguruan baru yang saya bangun bekas perguruan pedang setan, bagai mana pendapat leluhur Ki Birawa niat saya ini sudah tepat". Shun Land mengakhiri bicaranya.
__ADS_1
Leluhur Ki Birawa tidak langsung menjawab karena berpikir mencari inti pertanyaan Shun Land setelah sekian lama akhirnya leluhur Ki Birawa menjawab.
"Dengan senang hati saya akan membantu tuan Jaya dengan seluruh kekuatan dan kemampuan Kebangsaan Wajak mendirikan kerajaan ini,....
,...... Saya mengerti maksud tuan Jaya, tuan Jaya ragu karena menggabungkan dua mantan murid perguruan yang berbeda jenis kelaminnya takut akan menimbulkan hal-hal yang buruk, kekhawatiran tuan Jaya beralasan tetapi untuk mencegah itu menurut saya tuan Jaya harus membangun dua bangunan yang terpisah dan membuat peraturan membolehkan di antara mereka untuk menikah itu sudah cukup untuk mencegah hal-hal yang tidak kita inginkan terjadi". Leluhur Ki Birawa menjelaskan pendapatnya.
Shun Land mendengar pendapat Leluhur Ki Birawa menjadi lega karena ganjalan untuk mengirim dan menempatkan Jatniko dan Santaka untuk membantu Dewi Darmawati dan Dewi Sukma mengelola perguruan Kanoman sumur Pitu yang sedang di bangunnya.
"Terima kasih Leluhur telah mengatasi ganjalan hati saya di persoalan ini, leluhur sepertinya hari mulai menjelang pagi sebaiknya kita keluar, saya juga ingin berbicara dengan Dewi Sukma dan Dewi Darmawati atau Dewi angin-angin mungkin Leluhur mengenal mereka". Shun Land mengajak untuk keluar dari ruangan pribadi Leluhur Ki Birawa.
"Baik tuan Jaya nanti kita akan bertemu lagi di makan pagi bersama, dan saya pun ingin melihat Dewi Sukma dan Dewi Darmawati terlibat suatu pertarungan tapi di lerai oleh Kala Durga". Leluhur Ki Birawa beranjak dari duduknya di ikuti oleh Shun Land.
Shun Land menuju ke arah pendopo yang di sana kamar berada dan leluhur Ki Birawa masuk ke kediaman keluarganya di samping ruangan pribadinya.
Sesampainya di pendopo para tamu istana kebangsawanan Wajak Shun Land duduk di depan kamarnya, tidak lama nyai Karmia datang membawakan segelas air hangat di campur gula aren dan beberapa potong ubi rebus yang masih mengepul asap.
"Silahkan tuan nona Dewi Lasmini sudah terbangun dan sedang ikut membantu mempersiapkan makan pagi". Nyai Karmia mempersilahkan.
__ADS_1
"Terima kasih bibi". Shun Land menjawab singkat. Nyai Karmia kembali ke dapur istana untuk meneruskan pekerjaannya dengan yang lainnya.
*************