LEGENDA RAJAWALI API

LEGENDA RAJAWALI API
103. Pertarungan tapak Geni


__ADS_3

"Tapak Geni keluar, kau harus mempertanggung jawabkan semua kejahatan dan kekejian mu selama ini".


Terdengar suara menggema yang di lambari tenaga dalam


Dua pendekar yang satu tegap yang satunya lagi gemuk, berdiri di halaman padepokan tapak maut.


Di dalam padepokan tapak maut, "Saat yang kita tunggu-tunggu telah datang, Brewok, Sarja kau keluar kau, kau, kau, dan kau Gandul, keluar hadapi Raja Kutai itu", Ki tapak sakti memerintahkan anak buahnya mengahadapi pangeran Shun Land.


strategi Ki tapak sakti ingin menguras tenaga dalam musuhnya dulu setelah itu dia dan murid utamanya baru keluar.


Brewok dan ke empat temannya keluar tanpa di perintah dua kali.


"Ini rupanya raja muda yang terkenal itu, oooh ternyata badut sok bangsawan bersamamu, di istana mu, kau di agungkan di sini kau hanya tikus kecil yang berkoar". Brewok bicara sambil tertawa.


"Mana yang bernama tapak Geni suruh dia menghadapi ku, hutang nyawa di balas nyawa",


pendekar itu membalas ucapan Brewok.


"Kau tak pantas berhadapan dengan dia, mari kita cincang dua tikus istana ini". Brewok mencabut golok panjangnya dari warangkanya.


Brewok menyerang tanpa Ragu-ragu. menyabetkan ke pangeran Sanjaya triloka yang di sangka pangeran Shun Land.


Pedang Braja hitam tingkat bumi keluar dari warangkanya, pamornya menebar kehitaman.


Sabetan golok Brewok di halau pedang Braja hitam, kedua senjata berbenturan menimbulkan percikan percikan api.


Boma mengahadapi Sarja, kapak pemberian panglima Shu khal, beraksi membendung serangan serangan Sarja dan dua lainnya.


Pertarungan dua pendekar melawan enam pendekar murid-murid padepokan tapak maut, berlangsung dengan sengit.


Brewok terdorong mundur akibat salah satu serangan jurus pedang singa lodra, retakan kecil di golok Brewok mulai nampak, menunjukkan kelas senjata mereka berbeda.


"mengapa kau hanya melongo serang bersama-sama tikus istana itu". Brewok kesal dengan dua temannya yang bertarung mencari aman saja.


entah karena takut atau karena ingin membela, kedua teman Brewok menyerang bersamaan.


Tapi sayang kedua murid tapak sakti ini bukan lawan pangeran Sanjaya. Hanya dengan dua gerakan cepat, keduanya terluka di bagian tubuh yang fital.


keduanya mundur sambil menutup bagian lukanya dengan tangan menghambat pendarahan.


"Tapak Geni keluar kau jangan bersembunyi di balik ketiak bawahannya". pangeran Sanjaya triloka berteriak keras.


Boma masih berkutat dengan ketiga musuhnya, badan besarnya sangat lincah, dengan ilmu saipi angin dan jurus jurus dari panglima Shu khal, menyerang dan menghindar.

__ADS_1


"Aku harus melumpuhkan yang gerakannya lebih cepat". Boma berpikir.


Serangan kapak yang di aliri tenaga dalam sepenuhnya, menyerang Sarja dengan cepat, Sarja tidak sempat untuk menghindar, dia menangkis kapak Boma dengan pedangnya dengan seluruh kekuatan tenaga dalamnya.


Dua senjata beradu, menimbulkan percikan percikan api.


Senjata Sarja terlempar jauh, Boma tidak menyia-nyiakan kesempatan, segera memburu dengan sabetan menyilang dengan kapaknya.


Seinci lagi kapak menyentuh tubuh Sarja, tiba-tiba tubuh Boma terlempar kebelakang, dadanya menghitam terkena jurus tapak Geni.


"mundur kalian, mereka bukan tandingan kalian". Jantra alias pendekar tapak Geni memerintahkan adik seperguruan mundur.


Brewok yang terdesak melompat mendekati pendekar tapak geni.


"untung kakang Jantra datang tepat waktu", Brewok berkata, dengan nafas tak beraturan.


"kau bisanya hanya berkoar tidak malu akan brewok mu, obati kedua teman mu, biar aku yang hadapi raja Kutai ini", Sarja mendengus kesal.


"Sruwet, sepat tangkap si gembrot itu dan ikat dia, kita akan minta pihak istana untuk menebusnya, biar aku yang mengirim raja muda ini, ke ibu angkatnya untuk menyusu".


Pangeran Sanjaya triloka maju dua langkah sambil memasang kuda-kuda, pedangnya di sarungkan.


Jurus cakar singa lodra di siapkan untuk menghadapi pendekar tapak Geni.


"Akulah pendekar tapak Geni, orang yang kau cari, balaskan dendam mu bila mampu". Jantra menepuk dada.


Sekelebat bayangan menyerang Jantra pendekar tapak Geni, saking cepatnya Jantra tidak bisa berbuat apa-apa.


Tubuh Jantra pendekar tapak geni, mematung mendapatkan serangan totokan pangeran Shun Land.


"Akulah anak dari ibu yang kau bunuh, sungguh memalukan, bisanya hanya membunuh seorang perempuan, mana nama besar perguruan tapak maut, pembunuh bayaran paling di takuti". Pangeran Shun Land berdiri di depan Jantra.


Keringat dingin keluar dari tubuh Jantra pendekar tapak Geni, merasa hidupnya akan berakhir. air kekuningan merembes keluar dari selangkangannya.


"Seorang pendekar kencing di celana bagaikan bayi, andai aku bukan seorang raja aku akan langsung membakar mu hidup-hidup, aku tidak ingin mencontohkan pada rakyat ku, membunuh tanpa pengadilan"


Pangeran Shun Land mengolok-olok Sarjan pendekar tapak Geni.


putri Dian Prameswari dwibuana melompat bersaman dengan pangeran Shun Land, menyelamatkan Boma yang terikat.


Pendekar kembar Sruet dan Sepat, tidak berdaya melawan putri Dian Prameswari dwibuana.


Boma dan putri Dian Prameswari dwibuana mendekati pangeran Shun Land dan pangeran Sanjaya triloka.

__ADS_1


Tiba-tiba puluhan pendekar berpakaian serba hitam mengelilingi pangeran Shun Land dan ke tiga sahabatnya.


Ki tapak sakti melompat bagaikan terbang kehadapan pangeran Shun Land.


"Kau masih ingusan ingin menghancurkan padepokan tapak maut yang sudah berdiri ratusan tahun, katakan pada guru mu agar keluar menghadapi ku, jangan bersembunyi di dalam goa". Ki tapak sakti bicara seolah-olah dia sudah menang.


"sekuat apa pun diri mu akan kehabisan melawan kami, menyerahlah dan tunduk kepadaku, nyawamu akan ku ampuni".


ki tapak sakti berkata percaya diri sembari membebaskan totokan pendekar tapak Geni.


"kau salah seharusnya kau yang harus berlutut meminta ampunan, agar anak buah mu tidak di bantai oleh pasukan ku, kau lupa bahwa aku adalah seorang raja yang akan menyatukan kepulauan Sunda besar ini". pangeran Shun Land tidak ada rasa takut sedikitpun.


Berakhirnya suara pangeran Shun Land, terdengar bait bait syair menggema penuh aura membunuh yang menakutkan lawan.


"Ku datang dengan kabar pahit


angin akan menyaksikan kepahitan.


"Kesesatan mu melebihi batas


tidak akan tenang bila tak di tumpas


"kau mengusik api yang berkembang


tubuhmu akan bertabur kembang.


Dengan berakhirnya bait syair, lima puluh pendekar meloncat dari atap-atap padepokan, mengurung tiga puluh pendekar yang mengurung pangeran Shun Land dan tiga lainnya.


"hahaha pendekar Syair kematian, ternyata kau menjadi kaki tangan raja muda ini, keluarlah aku tidak takut menghadapi kalian semua".


Ki tapak sakti sudah mengenal pendekar syair kematian, ketika di daratan luas Dwipa.


Antaka pendekar syair kematian melopat ke samping pangeran Shun Land.


"Paman Antaka hadapi pendekar tapak Geni tapi jangan di bunuh paman, biar aku yang menghadapi Ki tapak sakti ini". pangeran membagi tugas.


...****************...


like and support nya serta kritik dan saran di kolom komentar sangat membantu pertumbuhan tulisan ini.


terima kasih sahabat NOVELTOON yang telah memberikan Kontribusi penuh pada tulisan ini.


sehat selalu buat kalian aamiiin

__ADS_1


SALAM NUSANTARA


SALAM GARUDA PERKASA


__ADS_2