LEGENDA RAJAWALI API

LEGENDA RAJAWALI API
112. Kendi manik astagina.


__ADS_3

Pertama saat kehilangan kakak dan adiknya kedua waktu pelayan istana ibu kameng, ibu angkatnya terbunuh oleh pendekar tapak Geni, dan ketiga beberapa saat yang lalu dalam meditasi.


"Saya akan ceritakan lain waktu, ingin membersikan dulu badanku, terasa lengket dan bau keringat". Pangeran Shun land berdiri ngeloyor ke pintu kamar mandi.


Ketiga permaisuri suri menyiapkan pakaian sang Suami tercinta mereka, ada juga yang menyiapkan air hangat yang di campur nira.


Setelah mandi dan berpakaian mereka berempat duduk di ruangan kecil yang di sana ada kursi panjang dua buah di tengahnya ada meja yang terbuat dari kayu besi di hias sedemikian rupa.


"Apa kalian tidak mengantuk, besok kita akan adakan sidang pengadilan pendekar tapak Geni, sebaiknya kalian semua beristirahat".


Pangeran Shun land menatap ketiga istrinya satu persatu yang tertunduk malu.


"Besok aku akan ke danau biru di dalam hutan, setelah sidang dan menghukum pendekar tapak Geni, apa kalian akan ikut ?". Pangeran Shun land menyambung bicaranya.


"Ikuuut...... Mereka serempak.


Permaisuri Sari Tungga dewi, mendahului ngeloyor pergi ke tempat tidur, lalu rebahan permaisuri Dewi sumayi mengikutinya tidak lama keduanya tertidur pulas.


Tinggallah pangeran Shun land dan istri ketiganya permaisuri May lien yang berasal dari negri tirai bambu.


"Kakak Shun apa sebenarnya yang terjadi ketika kakak dalam mediasi". Permaisuri May lien memberanikan diri bertanya demi menghilangkan rasa penasarannya.


"Maaf adik May aku tidak bisa menjelaskannya, bukan aku tidak ingin memberi tahu mu, tapi aku benar-benar susah untuk menguraikannya jadi kata-kata, yang aku alami dalam meditasi".


Pangeran Shun land memberi jawaban apa adanya, sepertinya pangeran ingin bercerita tapi sulit untuk menceritakannya.


"Tidurlah dulu kakak belum mengantuk". Pangeran Shun land menyuruh permaisuri May lien segera tidur.


Permaisuri May lien bangkit dari samping pangeran Shun land dan melangkah ke tempat tidur raja yang besar, dia merebahkan badannya di samping permaisuri Sari Tungga Dewi.


Mereka bertiga seperti adik kakak tidur berbaris dari paling kanan permaisuri Dewi sumayi lalu permaisuri Sari Tungga Dewi di tengah dan di sisi kiri permaisuri May lien.


Sebenarnya pangeran Shun land menyuruh permaisuri May lien tidur dulu karena dia penasaran dengan kendi kecil pemberian guru kecilnya di dimensi iblis hati,

__ADS_1


Kendi itu ikut terbawa ke alam nyata. Pangeran Shun land mengeluarkan kendi itu lalu membuka tutup kendi tersebut, aroma wangi bagai kasturi semerbak keluar menghampiri Indra penciuman pangeran Shun land.


Pangeran Shun land menempelkan kendi itu di bibirnya, di hatinya ada keraguan apa masih ada air di dalamnya.


Tapi keraguannya hilang tiga tegukan masuk ke tenggorokannya, kembali kesejukan meresap ke seluruh tubuh sampai ke sumsum.


Pangeran Shun land merenungkan kejadian ini semua dengan kesadaran penuh, kejadian-kejadian di luar nalar terjadi di kehidupannya.


Setelah mengetahui penyakit hatinya, pangeran Shun land selalu menggemakan sang maha pencipta di hatinya.


Kendi manik astagina di ikatkan di ikat pinggangnya, walau pun belum mengerti kegunaan pusaka ini yang jelas dia bisa memulihkan kondisi tubuhnya seketika dan dia tidak merasa lapar dan haus.


Esoknya istana kerajaan telah ramai oleh para pejabat tinggi, terutama Tetua bagian hukum yang di kepalai Sesepuh Badewa Tjilik Riwut dan seluruh anggotanya.


Para petinggi lainnya pun semuanya hadir karena sidang ini menyangkut ibu angkat Raja muda Shun land.


Sang ratu SHI khal dan maha Patih Jhasun, yang sekarang ini jadi sesepuh kerajaan telah hadir, panglima Shu khal, tetua agung khal San beserta istri, telah duduk di kursi yang biasa digunakannya.


Keamanan di pimpin langsung oleh panglima perang muda pangeran Khal Shugal. Mengantikan panglima Tian agan dan yu asri haring yang di pindah daerah ke perwakilan Pedukuhan Santui yang sekarang jadi kota provinsi kerajaan Kutai khal.


Di halaman istana para masyarakat datang ingin menyaksikan hukum apa yang akan di jatuhkan kepada pendekar tapak Geni yang telah merenggut nyawa seorang ibu angkat seorang Raja mereka.


"Kepada seluruh hadirin yang berada di dalam istana ataupun yang di halaman istana untuk segera berdiri dan menghaturkan sembah bakti kepada paduka Raja muda Shun land". Pangeran Balawa memberikan pengumuman.


Pangeran Shun Land beserta tiga permaisurinya datang dari pintu belakang istana.


Semua berdiri, "salam hormat dan semoga yang maha agung selalu memberkahi paduka raja beserta permaisuri".


Serentak para hadirin mengucapkan salam, suaranya menggema keseluruhan isi istana, di halaman istana pun mengucapkan kata yang sama sampai bergemuruh ke angkasa.


Di atap istana sang legenda Rajawali api bertengger dengan gagah memperhatikan semua yang di bawah siap mengantispasi bahaya yang mendadak.


Sang raja muda Shun land dan para permaisuri berlutut di hadapan sang Ratu SHI khal dan maha Patih Jhasun.

__ADS_1


"Salam hormat dan sembah bakti kepada ibunda dan ayahanda". Mereka berempat menghormat.


Pangeran Shun land duduk di singgasana dengan gagah di apit permaisuri Sari Tungga Dewi di kanan dan permaisuri Dewi sumayi di kiri, sedangkan permaisuri May lien duduk di samping sang ratu SHI khal.


"Kepada paduka Raja sidang segera di mulai". Pangeran Balawa meminta izin paduka raja muda Shun land, pangeran Shun land mengangkat tangan tanda mempersilahkan.


"Kepada kepala pengawal istana Djata untuk segera menghadirkan tahanan pendekar tapak Geni ke persidangan". Perintah pangeran Balawa sebagai kepala persidangan.


Kepala pengawal istana Djata membawa pendekar tapak Geni yang di rantai kaki dan tangannya, ilmu Kanuragan pendekar tapak Geni telah di musnahkan oleh pangeran Shun land, dia tidak bisa lagi menghimpun tenaga dalam.


Ini adalah adalah suatu penyiksaan melebihi kematian, bagi seorang


pendekar persilatan.


Sidang pun di mulai dari penuntut sampai keputusan di bacakan oleh ketua bagian hukum sesepuh Badewa Tjilik Riwut.


"Keputusan untuk bagi pendekar tapak Geni, adalah hukuman pancung dan kepalanya di pajang di tempat umum sebagai contoh bagi pembangkang kerajaan dan pembunuh keluarga istana dan lainnya, demikian keputusan menurut hukum yang berlaku yang telah di sepakati bersama, tetapi keputusan akhir kami serahkan kepada paduka Raja". Kepala hukum sesepuh Badewa Tjilik Riwut membacakan hasil putusan.


"Demikianlah keputusan sidang pengadilan, pendekar tapak Geni kau telah mendengarnya, bicaralah bila kau merasa keberatan atau pembelaan". Pangeran Shun land tidak langsung memutuskan tetapi memberikan kesempatan bicara kepada pendekar tapak Geni.


"Paduka saya akui saya telah membunuh ibunda paduka, tapi saya hanya kepanjangan tangan dari tuan Maasiak, hanya itu yang saya sampaikan mohon maaf kan saya paduka". Pendekar tapak Geni bicara dengan jujur.


Mendengar ini pangeran Shun Land hatinya sedikit terenyuh dan tak tega menghukum mati, setelah mengetahui dan menyadari penyakit hatinya, hati pengeran Shun land sangat lembut dan penuh welas asih, tidak ada rasa dendam sedikit pun, dia telah sadar sampai kesadaran tingkat tinggi, bahwa sesuatu yang terjadi atas kehendak yang maha Pencipta.


Suara di luar istana bergemuruh, "hukum mati, hukum mati, hukum mati". Kata itu bersahut-sahutan.


"Tenanglah semua rakyat ku". Pangeran menenangkan rakyat sambil suaranya di lambari tenaga dalam, hingga suara itu menggema sampai keluar terdengar jelas.


Mendengar suara raja mereka, semuanya diam dengan tenang.


"Baiklah aku putuskan, pendekar tapak Geni di hukum pancung dengan dasar hukuman, telah membunuh ibu kameng dan pembunuhan yang lainya, tetapi pendekar tapak Geni mendapatkan kehormatan di makamkan sebagai mayat manusia lainnya.


Sebagai ganti bahwa dia hanya seorang suruhan, apakah itu adil ???". Pangeran Shun land mengakhiri sambil bertanya.

__ADS_1


"Adil...... Semua berteriak serentak.


...****************...


__ADS_2