LEGENDA RAJAWALI API

LEGENDA RAJAWALI API
381. Jaya.S 114.


__ADS_3

Shun Land dan yang lainnya sampai di depan Kursi singgasana Keprabon. Nyai Gora Sindula berdiri paling depan dan berlutut di ikuti Shun Land yang berdampingan dengan Dewi Pakuan di belakang 3 permaisuri dan yang lainnya berbaris rapi bagai ada yang mengatur.


Nyai Gora Sindula menangkupkan kedua telapak tangannya di letakkan di depan wajahnya sambil menunggu di ikuti Shun Land dan yang lainya. Keluar dari mulut Nyai Sindula.


"Sampurasun Hyang Rumuhun..."


"Sampurasun Hyang Karuhun....."


"Sampurasun Hyang Dumampara....."


Setelah itu mengucapkan tiga kalimat itu Nyai Gora Sindula berdiri mendekati kedua singgasana yang di sana ada pakaian dan mahkota bertitian berlian.


Nyai Gora Sindula memindahkan pakaian dan mahkota di atas singgasana di letakkan di atas meja kecil di depan kursi di sebelah kursi singgasana. Lalu nyai Gora Sindula menunjuk Dewi Pakuan untuk kedepan dan berkata.


"Putri ku Dewi Pakuan pakaian lah baju kebesaran ini". Dewi Pakuan menerima baju kebesaran itu dan berjalan ke belakang kursi singgasana di sana ada ruangan kecil tertutup dengan kain sutera putih.


Nyai Gora Sindula pun memanggil Shun Land, "Aden Jaya Sempurna majulah dan pakai pakaian ini". Shun Land langsung berdiri menghampiri nyai Gora Sindula dan menerima pakaian tersebut lalu berjalan ke belakang singgasana.


Semua diam ruangan jadi hening hanya nafas Lodaya terdengar yang berbaring di samping kedua kursi singgasana.


Shun Land dan Dewi Pakuan berjalan beriringan dan berdiri menghadap nyai Gora Sindula di depan kursi singgasana.


"Duduklah kalian berdua di singgasana Keprabon Ratu dan Raja Galuh Sindula". Nyai Gora Sindula memerintah. Shun Land dan Dewi Pakuan duduk dengan hati-hati di kursi singgasana.


Nyai Gora Sindula mengambil mahkota Ratu Galuh Sindula dan duduk bersimpuh di hadapan mereka berdua sambil memegang mahkota Ratu Galuh Sindula dan mengangkatnya setinggi kepala lalu keluar ucapan kalimat sakral penobatan Ratu Galuh Sindula.


"TITIS TULIS NU MUSTARI,.....


"NINGGANG MANGSA NU CINARITA,...

__ADS_1


"BERKAHING HYANG DUMAMPARA,....


"KA HYANG WENANG, KA HYANG TUNGGAL, KA HYANG TRILOKA MUGIA NGAJAGA NGARIKSA SUNDA GALUH PURBA,....


"KAULA NING ABDI SAJATI NGAWUJUDKEN UCAP KECAP HYANG RUMUHUN GADEGKEN, NGAGUNGKEN HYANG KARUHUN ASAL SAGALA CINARITA,... "NGAGUNGKEN IBU RAMA ANU JADI WIWITAN GELAR KA ALAM DUNYA...


"MAKA NGAJADI,....


"JAYA NEPI KA SAMPURNA,..


"JAYA NEPI KA SAMPURNA,....


"JAYA NEPI KA SAMPURNA,..... ".


Setelah selesai ucapan nyai Gora Sindula tiba-tiba ada semilir angin membawa wangi bunga tujuh rupa menyeruak ke segala arah memenuhi ruangan istana Galuh Purba.


"Kula ngawakilan Hyang Rumuhun, Hyang Karuhun ngadegken Ratu Agung Sunda Galuh Purba nu ngagelar Ratu Galuh Sindula". Setelah itu memakaikan mahkota Ratu Galuh Sindula di kepala Dewi Pakuan


Nyai Gora Sindula mengambil mahkota yang Raja dan mendekati kursi singgasana Shun Land lalu mengucapkan kalimat yang hampir sama.


"Kula ngawakilan Hyang Rumuhun, Hyang Karuhun ngadegken Raja Agung Sunda Galuh Purba di saksian ku Bumi, ku angin, ku sene jeng ku cai maka sah gelar Raja Agung Sunda Galuh Purba Prabu Jaya Sempurna".


Setelah bicara keras Nyai Gora Sindula memakaikan mahkota Galuh Sindula di kepala Shun Land, bersaman mahkota itu menempel di kepala Shun Land terdengar ledakan keras dari puncak gunung Gora tiga kali sampai istana Galuh Purba bergetar.


"Duuuaaaaarrr......!!!


"Duuuaaaaarrr......!!!


"Duuuaaaaarrr......!!!.

__ADS_1


Setelah itu suasana hening semuanya saling pandang dengan yang terdekat. Nyai Gora Sindula seakan tidak terpengaruh oleh suara ledakan itu lalu mundur tiga langkah dan berlutut sambil mengucapkan puji-pujian.


"Puji ka Gusti nu maha suci puja ka nu maha kawasa, salam ka hatur ka Baduga Maharaja Jaya Sempurna". Seraya berkata nyai Gora Sindula menangkupkan kedua telapak tangannya di depan wajah di ikuti yang lainnya.


Setelah itu nyai Gora Sindula menuntun permaisuri Sari Tungga Dewi menuju kursi di sebelah singgasana raja Jaya Sempurna, setelah itu melakukan hal yang sama pada Permaisuri Dewi Sumayi dan di dudukan di kursi sebelah permaisuri Sari Tungga Dewi.


Setelah itu menuntun permaisuri May Lien dan di dudukan di kursi sebelah singgasana Ratu Galuh Sindula.


Setelah penobatan Shun Land berdiri dan menaruh mahkotanya di meja kecil depan kursi Permaisuri May Lien. Lalu berjalan keluar di ikuti Lodaya. Shun Land bicara pada Lodaya melalui Batiniahnya.


"Sahabat katakan padaku siapa yang membangun istana yang megah ini". Lodaya langsung menjawab. "Saya tidak mengetahuinya paduka, yang saya tahu dan ingat adalah hanya tugas saya dari sang Rumuhun, sejak ratusan tahun yang lalu saya menyebrangi lautan Sunda Dwiva dan sampai di daratan luas Nusa kencana,...


,.... Saya menunggu paduka sejak jaman Leluhur Ki Bagus Atma dan akhirnya paduka lahir hingga bisa kembali lagi, petaka pemberontakan keluarga Ma, dan petaka badai angin put*** beliung yang di sebabkan oleh Tongkat sakti Ruyi Jingu Bang adalah salah satu jalan dari sang maha Pencipta untuk menghantarkan paduka sampai di sini".'


Permaisuri Sari Tungga Dewi dan permaisuri Dewi Sumayi beranjak dari duduknya dan berjalan ke samping istana di sana ada dua pintu, permaisuri Sari Tungga Dewi membuka pintu sebelah kanannya terlihat sebuah ruangan sangat luas berbagai perabot yang terbuat dari emas dan perak menghiasi ruangan tersebut. Di sudut ruangan sebuah ranjang besar dan mewah.


Di setiap sudut sebuah lampu berhias sebagai penerang, di tengah-tengah juga ada lampu besar menggantung. Permaisuri Sari Tungga Dewi tidak lanjut masuk tetapi menarik tangan Permaisuri Dewi Sumayi berjalan ke luar lalu menutup pintu tersebut.


Keduanya berjalan menuju pintu satunya lagi, pintu di dorong oleh Permaisuri Dewi Sumayi, begitu terbuka terlihat jelas ruangan itu sama persis seperti yang pertama.


Permaisuri Sari Tungga Dewi tidak masuk ke ruangan itu tetapi merasa penasaran dengan isi istana Galuh purba ini. Dengan langkah cepat permaisuri Sari Tungga Dewi di ikuti permaisuri Dewi Sumayi berjalan ke belakang singgasana di sana ada pintu yang bertirai kain sutra putih.


Permaisuri Sari Tungga Dewi menyingkap tirai tersebut terlihat sebuah pintu mewah berdaun pintu dua seperti pintu depan istana hanya yang ini lebih kecil. Hati permaisuri Sari Tungga Dewi dan permaisuri Dewi Sumayi tambah penasaran apa yang ada di dalam ruangan itu.


Dengan pelan keduanya mendorong kedua daun pintu itu tetapi kali ini pintu itu sangat keras tidak bisa terbuka. Mereka berdua sedang berusaha untuk membuka pintu tersebut tidak menyadari di belakang mereka ada Ratu Galuh Sindula, permaisuri May Lien dan Nyai Gora Sindula.


"Kakak Sari ini ruangan paduka raja dan aku jadi siapapun tidak bisa membukanya kecuali tangan ku dan tangan kakang Jaya". Ratu Galuh Sindula menghampiri dan mendorong pintu itu dengan satu tangan dan suatu keanehan pintu tersebut terbuka dengan mudah.


******************

__ADS_1


__ADS_2