
Pagi menjelang para wanita sibuk menyiapkan makan pagi dan para laki-laki membereskan tenda dan lain-lainnya.
Tiba-tiba suasana memanas ketika Lasmini memanggil pangeran Sanjaya triloka dan Shun Land.
"Kalian berdua duduk disini" Lasmini menunjuk lurus ke depan di sampingnya ada putri Sanja Sanja yang mukanya merah padam. Shun Land dan pangeran Sanjaya triloka saling pandang.
Delay di sisi kereta tertawa. "Kena yeee kalian batunya hajaaaar teruuuus". Delay berkata sambil berjalan di depan Shun Land dan pangeran Sanjaya triloka.
"Katakan semalam kalian di mana, putri berkata menurut pangeran Sanjaya kalian mengejar ular besar sementara suami ku berkata hanya duduk di atas pohon mengawasi ke adaan". Lasmini berkata berapi-api.
Shun Land mengedipkan matanya pada pangeran Sanjaya triloka memberi isyarat. Shun Land lalu menjawab dengan santai.
"Paman Delay tolong kesini biar ada saksi dan hakim yang adil".
Delay mendesah tak berdaya di panggil tuannya dalam hati Delay berdoa, "Tuhan selamat kan aku jangan sampai jadi kambing hitam". Dengan langkah malas Delay mendekat dan berdiri di antara Shun Land dan Lasmini.
"Kami berdua mengawasi dari atas pohon terus ada ular besar kesini apakah harus berdiam di atas pohon apa mengusir dan mengejarnya agar tak kembali, paman Delay tolong jawab dengan jujur". Shun Land berkata dengan tenang.
Delay menjawab spontan. "Mengusir dan mengejarnya bila perlu membunuhnya".
"Acara sidang di tutup perkara selesai". Pangeran Sanjaya triloka bicara dengan tegas dan wajah datar. Lasmini dan putri Sanja saling pandang keduanya kesal mereka berdua kalah argumentasi.
"Sidang di tunda sementara untuk mencari bukti yang lebih kongkrit, kami hakimnya enak saja perkara di tutup". Putri Sanja yang biasa berdebat langsung mengukuhkan dirinya sebagai pengambil keputusan.
__ADS_1
"Di tolak penuntut tidak bisa merangkap sebagai hakim, hakim telah di tetapkan orang yang netral tidak berpihak dan adil, paman Delay telah di tunjuk sebagai hakim segera putuskan". Pangeran Sanjaya triloka mengajukan argumentasi hukum membungkam putri Sanja dan Lasmini.
Delay melirik ke Lasmini, putri Sanja dan kemudian memandang Shun Land dan pangeran Sanjaya triloka. Akhirnya berkata.
"Sidang di tunda 2 hari bila dalam dua hari penuntut tidak memberikan bukti atau saksi yang memberatkan terdakwa perkara di tutup, sidang bubar di teruskan acara makan hakim kelaparan". Delay langsung duduk di depan makanan yang sudah berderet di susun nyai Karmia dan Kasmia.
Anak buah Pataya tertawa terbahak-bahak ada hakim kelaparan, Pramuja ikut duduk di dekat Delay terus berkata sambil mengambil lauk. "Hati-hati duduk dekat dengan tersangka berbahaya pokoknya ngeri dan seram".
Ternyata ucapan Pramuja di turuti Pataya dan anak buahnya, Anggada dan ketiga adik seperguruannya duduk di himpitan menjaga jarak dengan Shun Land dan pangeran Sanjaya triloka.
Mereka mulai makan tidak ada yang berani bicara terlihat kedua kubu saling pandang curiga, Lasmini dan putri Sanja menyuguhkan makan pada suami mereka dengan kaku dan wajah mengintimidasi.
Makan hampir selesai pangeran Sanjaya triloka berkata. "Nasib terdakwa makan saja tidak jadi daging, padahal belum terbukti bersalah, ini hakim yang plin plan hakim kena sogok kacau kacau".
Setelah itu muncul wibisana, Maruta, Uriba dan Atikaya, selain Shun Land dan pangeran Sanjaya triloka semuanya terperangah dan ketakutan.
"Ini ularnya yang kita kejar, terima kasih paman telah membunuh ular yang hampir saja membahayakan istri dan anggota rombongan". Shun Land langsung membuat alibi yang akurat, padahal ular itu sengaja Wibisana bunuh untuk makan siang mereka.
"Paman Wibisana kami tidak memakan ular, sebaiknya untuk makan pagi paman saja" Shun Land memberitahukan.
"Baiklah". Wibisana singkat setelah itu mereka berempat mengulitinya dan memanggang ular tersebut Delay di suruh Shun Land untuk memberikan garam.
"Dengarkan semalam waktu mengejar ular kami berdua berjumpa dengan mereka, kami pun berkenalan dan meminta mereka untuk menunjukan jalan yang cepat menuju lembah begawan Solo Sangiran". Shun Land menjelaskan hingga mereka pun tidak merasa takut lagi.
__ADS_1
Setelah siap semua Wibisana dan ketiga rekannya jalan di depan menjadi penunjuk jalan ternyata selain jalan yang biasa manusia lalu Manusia purba raksasa telah membuat jalan yang lebar dan rata menuju lembah begawan Solo Sangiran yang dulunya adalah tempat tinggal mereka.
Di dalam perguruan Tapak Geni Di teluk Bone dataran luas Sula di sana Ki Braja Geni sedang kedatangan pangeran Shan Land dari istana Martadipura kerajaan Kutai.
"Paman Braja Geni usahakan kapal-kapal tempur cepat selai pembuatannya setelah saya menguasai sepenuhnya ilmu dari guru Mara Deva dan guru Pancasiksa kita akan secara terang-terangan secara mutlak melawan kerajaan Tarumanegara, karena saya yakin dengan pusaka Tombak Trisula dan ilmu Saipi di gabung dengan ajian Rawarontek saya bisa mengalahkan Adik Shun Land bila tidak mau tunduk pada ku saudara tuanya, di mana pun Saudara muda harus tunduk pada saudara tua". Pangeran Shan land bicara sudah percis seperti Mara Deva dirinya tidak menyadari bahwa pusaka Tombak Trisula bisa di tangannya mengorbankan ayah dan ibunya.
"Baik pasukan raja, kapal yang sudah jadi sekitar 70an buah dan sekarang yang sedang di garap kemungkinan tahun depan produksi sekitar 200 buah kapal kami berusaha agar jangka waktu 3 tahun ke depan kita bisa menyamai armada laut Naga biru milik kerajaan Tarumanegara, dan untuk pasukan darat kami telah merekrut di setiap pelosok negeri mencari yang benar-benar berbakat kami gembleng menjadi petarung sejati yang membela setia kepada paduka Raja, hanya itu yang bisa saya sampaikan". Ki Braja Geni mengakhiri laporannya.
"Paman saya masuk dulu ingin menemui guru Mara Deva dan guru Pancasiksa". Pangeran Shan land berlalu tanpa menunggu jawaban. Braja Geni sepeninggal pangeran Shan land memanggil muridnya Panca Braja.
Mereka berenam berangkat ke sebuah wilayah di sekitar istana Bangsawan Towana atau di sebut juga 'Tau taa wana'. Tempatnya di hutan Morowali. Di dalam gua yang jauh dari orang ke enamnya duduk melingkar, Ki Braja Geni berkata pada kelima muridnya.
"Aku tidak akan bosan mengingatkan kalian semua, agar kalian jangan terlena kemewahan tujuan kita sebenarnya adalah ingin menjadi perguruan nomer satu yang terbaik di seluruh daratan Sunda land ingat itu, yang kedua ingat baik-baik jikalau perang terjadi kemenangan akan berpihak pada pangeran Shun Land,....
,......Dengan alasan satu pangeran Shun Land mendapatkan Bingbingan langsung dari pemilik ilmu Saipi yang kedua pangeran Shun Land mempunyai dukungan dari semesta alam, jadi bila waktunya perang tiba kalian harus menyingkir saja jangan menampakkan muka paham". Braja Geni memberikan wejangan di iyakan oleh ke lima muridnya.
Ki Braja Geni lalu menerus bicaranya. "Aku telah membuka gulungan dari leluhur kita yang menyambung ke Sang raja agung Jatiraga raja Sunda Land pertama,......
,......Aku mendapatkan sebuah gulungan bahwa guru dari Sanghyang Triloka membuat amanat di dalam dua buah kitab tapi gulungan itu tidak menyebutkan di mana Sanghyang Tunggal menyimpannya, kalian harus mencari, yang jelas kedua kitab itu di simpan dalam gua, satu di daratan luas Nusa kencana dan yang satuannya lagi di gua daratan luas Sula". Ki Braja Geni mengakhiri bicaranya.
Kelima muridnya menganggukkan kepala tanda mengerti setelah itu mereka keluar dan kembali ke perguruan.
-----------------------
__ADS_1