
"Mana buktinya bahwa aku dalang dari semuanya teror di kampung ini, mana mungkin aku meneror Lampung sendiri". Kepala kampung Sotang membela diri.
"Aku tak perlu bukti untuk membekuk mu". Pangeran Shun Land menyerang dengan kecepatan tinggi yang sulit di ikuti mata biasa.
Kepala kampung Sotang, bukan orang sembarangan yang dapat di kalahkan dengan sekali serang.
Dengan sekali hentakan kakinya Sotang melenting ke atas, tapi sayang naas nasibnya, belum sampai turun tubuhnya, di atas satu tapak yang mengandung panas dan tenaga salam yang tinggi Menanti, dengan susah payah Sotang menahan dengan seluruh kekuatan tenaga dalamnya.
Dua tapak mengandung tenaga dalam yang tak seimbang berbentuk.
Andai pangeran Shun Land mengeluarkan tenaga dalam tujuh puluh persen saja tentu tubuh kurus tinggi itu akan remuk. Tapi pangeran Shun land butuh Sotang, untuk menemukan gadis-gadis dan anak-anak laki-laki, yang di culik.
Tubuh kurus tinggi Sontang meluncur cepat ke bawah dan jatuh ke atap pendopo depan rumahnya, tubuh Sotang terus meluncur sampai ketanah dengan keras.
Sontak mencoba untuk bangun sambil memegang dadanya yang terasa panas bagai di bakar, seteguk darah kental keluar dari mulutnya, sebelum berdiri tegak satu tendangan menghantam pelipisnya.
Hingga terpelanting dengan wajah mengenai tanah, bibirnya jontor hidungnya patah, dia pun tidak bisa bangun lagi.
Wajah kepala kampung Sotang tidak berbentuk lagi, tergelak tubuh kurus kering itu di lantai pendoponya sendiri.
Sebuah kaki menginjak dada Sotang, "cepat katakan di mana kau sembunyikan para gadis dan anak laki-laki yang kau culik".
Dengan dengan terbata-bata Sotang menjawab.
"Akan aku katakan jika kau tidak membunuh ku"
"Aku akan mempertimbangkan bila jawaban mu benar" pangeran Shun Land membalas permintaan Sotang, dan mengangkat kakinya dari dadanya sotang.
"Tuan gadis-gadis dan anak laki-laki itu ada di dalam ruang bawah tanah".
Pangeran Sanjaya triloka dan putri Dian Prameswari dwibuana datang, dengan cepat pangeran Sanjaya triloka mengikat Sotang.
__ADS_1
Tidak lama Boma dan pak Kalur datang mengiring kedua penculik bercadar dan suami pemilik warung tetangga pak Kalur, ternyata pemilik warung itu sebagai anak buah kepala kampung Sotang.
Pangeran Shun Land dan pangeran Sanjaya triloka, masuk kedalam rumah Kepala kampung, istri Sotang bersimpuh sambil mendekap anak perempuannya yang masih kecil.
"Tuan jangan bunuh diri ku dan anak ku, aku tak tau apa-apa atas tindakan suamiku" istri Sotang meminta ampunan Sabil menangis.
"Baik aku akan mengampuni mu, tapi tunjukkan di mana pintu masuk menuju ruang bawah tanah" Pangeran Shun land memberi tawaran.
"Tuan... pintu ruang bawah tanah, saya tak tahu, tapi kalau kamar rahasia saya tau" istri kepala kampung bicara dengan jujur.
"Cepat tunjukkan kepadaku"
Istri kepala kampung berjalan sambil menggendong anaknya, menuju ke ruangan tengah, ada satu dinding seperti rak, berisi berbagai senjata dan perkakas pertanian.
Istri Kepala kampung, menarik kayu kecil di samping rak senjata itu, lalu mendorong sisi rak senjata tersebut, ternyata rak senjata itu sebuah pintu.
Pangeran Shun Land dan pangeran Sanjaya triloka masuk, ruangan itu tidak terlalu besar, hanya panjang dua Depa dan lebar satu depa setengah, di ujung ruangan ada patung hitam seperti kera tapi bertanduk, di hadapan patung itu ada altar persembahan dan dupanya masih menyala.
Pangeran Shun Land meneliti tidak ada pintu ke ruang bawah tanah, dia menggeser dipan menduga ada di bawah dipan tersebut, tapi tetap saja tidak di temukan pintu ke ruangan bawah tanah.
Pangeran Sanjaya triloka melangkah menuju patung hitam, dengan sekuat tenaga menghantam dengan pedang Braja hitam. Patung tersebut hancur menjadi kecil kecil.
Dia pun menendang batu altar dengan keras, karena kesal, batu itu bergeser beberapa jengkal, terdengar suara lirih wanita meminta di bebaskan samar-samar. Dengan gembira pangeran Sanjaya triloka memanggil pangeran Shun Land.
"Satria Nusa kencana, pintunya di sini", pangeran Shun Land langsung meloncat ke samping pangeran Sanjaya triloka.
Tanpa pikir panjang pangeran Shun Land menendang dengan tenaga dalamnya, batu altar hitam hancur berkeping-keping.
Pangeran Shun Land langsung loncat di ikuti pangeran Sanjaya triloka.
Terpampang di pandang mata pangeran Shun Land, suatu pemandangan yang memilukan membuat darah mendidih.
__ADS_1
Di ruangan itu ada meja setinggi paha orang dewasa, di atasnya seorang gadis kurus kering, kulitnya pucat, di samping meja gadis lainnya jongkok matanya sudah cekungan, kulitnya sangat pucat, menggigil dan merintih kesakitan suaranya sangat lirih pelan sekali, luka badannya mungkin bisa cepat pulih, tapi luka jiwanya mungkin akan terbawa puluhan tahun, atau mungkin seumur hidup.
Di samping kanan meja tersebut. Tiga anak laki-laki tidak berpakaian, wajahnya penuh ketakutan dan menahan sakit. Mereka bertiga duduk di pojok ruangan.
"Pangeran Sanjaya tolong pak Kalur dan para penduduk membantu mengevakuasi para Sandra ini", pangeran Shun Land meminta pangeran Sanjaya memangil para penduduk.
Belum melangkah pangeran Sanjaya, seorang gadis dengan kulit sawo matang, berlari menuju pangeran Shun Land, tanpa berkata gadis itu memeluk pangeran Shun Land, seraya berkata
"Tuan tolong bebaskan saya, saya takut sekali" Isah sambil menangis ketakutan.
"Tenang lah pelaku utama penculik ini telah tertangkap dan di ikat, kau masih bisakan menolong temanmu untuk memapahnya"
"Tuan lebih baik dari raja muda Shun land yang tidak bisa menolong kami" Isah berkata dengan nada marah.
Pangeran Sanjaya triloka menahan nafas mendengar ucapan Isah, pangeran Shun Land hanya menarik nafas dalam-dalam, dia memaklumi karena tidak tau yang di depannya, raja yang di upatnya.
"Tuan ada satu yang gadis yang meninggal di sana". Isah sambil menunjuk kearah sisi lain ruangan itu.
Pangeran Shun Land dan Isah menuju mayat tersebut, tubuh seorang gadis kurus kering tergeletak tak bernyawa bagai bangkai hewan, membujur kaku di lantai, hanya bagian kewanitaan dan buah dada yang tertutup kain kecil bekas sobekan baju.
"Sotang kau akan membayar setimpal dengan perbuatan-perbuatan mu", pangeran Shun land mengeraskan gerahamnya.
Di dekat kaki mayat gadis itu, ada meja kecil dan kursinya, Pangeran melirik meja tersebut, ada empat lembar kulit binatang di meja tersebut.
Pangeran Shun Land meraih kulit binatang itu, "ilmu pengabdi setan". Kitab iblis itu, di bakarnya.
Tidak lama pangeran Sanjaya triloka dan beberapa penduduk datang membantu menolong para gadis dan bocah laki-laki, korban hasrat seksual yang menyimpang kepala kampung itu.
Malam itu suasana perkampungan santui ramai, kentungan di bunyikan, teriakan penduduk kampung bersahutan, meneriaki penculik telah tertangkap.
Rumah kepala kampung Sotang sangat ramai, terlihat lima orang pesakitan di ikat menjadi satu di sebuah tiang.
__ADS_1
Seorang papak paruh baya, yang anaknya meninggal dengan, marahnya menghardik dan memukuli Sotang sekuat tenaga, sampai dia capek sendiri.