
"Kapan kami harus melumpuhkan orang-orang Niraya Sura pangeran". Sarpa bertanya lebih detil.
"Malam ini kita bergerak, bila siang saya khawatir banyak masyarakat pelabuhan yang ketakutan". Pangeran Shun land berkata penuh keyakinan.
Dewi Kamalia memberikan lokasi orang-orang Niraya Sura kepada panglima Armada laut Naga biru.
Boma keluar dengan Tarpa dia menuju hutan belakang pelabuhan setelah masuk lebih dalam sang Rajawali Api sedang merencanakan badannya.
Tarpa yang baru kali ini melihat burung yang sangat besar sang Rajawali Api dia berjalan di belakang Boma yang sudah lama kenal.
"Aku di tugaskan oleng tuan mu untuk mengantarkan pesan ke daratan luas Kalimantan, kau di suruh mengantar ku sampai ke sana". Boma berkata seperti pada manusia.
Sang Rajawali Api hanya mengangguk Boma segera loncat ke punggung sang Rajawali Api, Tarpa hanya melongo bingung apa yang harus dia lakukan.
"Cepat lah paman Tarpa naik".Boma memberikan perintah, Tarpa walau masih ragu-ragu akhirnya dia pun naik ke punggung sang Rajawali Api.
Dengan hentakan keras sang Rajawali Api terbang dengan cepat menuju Utara.
Bulan sabit telah muncul sinarnya tidak begitu terang tapi bulan malam itu akan menjadi saksi sejarah awal permulaan adanya kerajaan di bumi Dwipa.
Panglima mengatur posisi pasukannya, pertama dia menyergap bangunan utama di pelabuhan itu, Ki Bajul pakel ikut mengawasi dia berjaga ada pendekar yang berilmu tinggi seperti Niraya Sura.
Empat penjaga rumah pusat kontrol keamanan dengan mudah di lumpuhkan, dengan berbekal keterangan dari penjaga itu Sarpa menyusuri bangunan yang terang oleh penerangan lampu cempor kala itu.
Tiba-tiba ada belati meluncur cepat ke arah Panglima Sarpa dan Ki Bajul pakel, serangan belati itu dengan mudah di tangkap, dan di lemparkan kembali ke arah datangnya.
Dua jeritan pasukan keamanan pelabuhan terdengar, tapi sebelum mereka melihat korban dari pisau yang di lemparkan kembali. Dua sosok menyerang dari arah samping, satu sabetan pedang yang satu lagi dengan senjata tongkat kayu penjalin.
Serangan pedang di halau panglima Sarpa dengan tenang, benturan senjata menimbulkan percikan Api.
__ADS_1
Kuntring dan konzo menyerang berbarengan
Mendapatkan serangan dari mantan bajak laut yang tanpa ragu-ragu, pendekar di kelas menengah bawah ini tidak bisa bergutik, serangan konzo dapat di bendung tapi serangan Kuntring lolos dengan mudah.
Perut pendekar itu menganga mengeluarkan darah dan ususnya, roboh tak bernyawa seketika.
Sedangkan Ki Bajul pakel yang menghadapi bersenjata tongkat penjalin dengan dua gerakan dapat melumpuhkan dengan mudah.
Panglima Sarpa menendang sebuah pintu, terlihat satu lelaki tegap dan dua perempuan berkemas membereskan uang dan benda berharga lainnya, dia hendak melarikan diri membawa semua kekayaannya.
"Bila kau menyerah dengan baik dan menjawab pertanyaan ku dengan benar nyawa mu mungkin dapat di selamatkan". Panglima Sarpa berkata dengan tegas.
Perempuan setengah baya menarik tangan lelaki itu, mungkin dia adalah istri dari kepala pelabuhan.
Melihat tidak mempunyai peluang menang kepala pelabuhan menuruti istrinya berlutut walau sangat enggan dia melakukannya, karena sebagai pendekar itu sangat menyakitkan melebihi kematian.
Para pegawai pelabuhan dan para pelayan di kumpulkan di ruangan utama, mereka di jaga oleh lima prajurit. Yang lainnya keluar mengikuti panglima Sarpa ke samping kanan menuju penginapan yang berlantai dua.
Malam itu anggota Armada laut Naga biru mantan bajak laut Karimun, dapat melumpuhkan dan menguasai dengan mudah tidak ada perlawanan yang berarti.
Keesokan harinya pelabuhan Tarumanagara bagai tidak ada kejadian besar yang nantinya akan menjadi tonggak sejarah baru di kawasan itu dan sekitarnya.
Para mantan pengikut Niraya Sura yang bersedia melakukan ikrar janji dan sumpah darah di terima dengan senang hati, ada juga yang kembali ke sanak keluarganya.
Pangeran Makkamaru dan putri Dian Prameswari dwibuana mengatur ulang semua posisi mereka sesuai dengan keahliannya. Dia pun mengumpulkan ahli-ahli bangunan untuk membangun sebuah istana di sebelah barat muara kali Citarum.
Dua kapal besar datang menyandar di dermaga Tarumanagara kapal itu bagian dari armada laut Naga biru.
Pada hari itu juga seluruh penduduk pelabuhan dan sekitarnya di kumpulkan di suatu lapangan luas.
__ADS_1
Pangeran Shun land berdiri dengan gagah di hadapan seluruh rakyat pelabuhan dan sekitarnya, pangeran Shun land memulai bicara memberikan pidato.
"Salam hormat kepada kalian semua, kalian di kumpulkan di sini akan menjadi saksi sebuah perubahan besar pada negeri ini, saya adalah Raja kerajaan Kutai khal di daratan luas Kalimantan, ingin mengajak pada kalian untuk membangun dan menata kehidupan di sini dengan menjadi lebih baik, dalam satu naungan hukum yang berkeadilan dan beradab, apakah kalian setuju wilayah kalian menjadi suatu kerajaan yang besar berkeadilan dan beradab".
"Setujuuuu". Rakyat di sana sangat antusias menyambut era baru menuju suatu peradaban yang besar dan berkedaulatan.
(Dalam catatan sejarah Nusantara pengelana dari India datang ke wilayah ini, pada saat itu wilayah perairan ini sangat tidak aman oleh dan pengelana dari India memberantas para perompak di wilayah itu, penghulu di daerah itu mengawinkan anaknya dan memberi wilayah itu pada pengelana itu. Dan dari sanalah awal kerajaan Salakanagara berdiri bercorak Hindu. berdasarkan Naskah Wangsakerta Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara, dijelaskan bahwa Salakanagara merupakan kerajaan yang paling awal yang ada di Nusantara. Banyak ahli dan juga sejarawan yang mengakui hal itu, seperti misalnya Husein Djajadiningrat, Tb. H Achmad, Hasan Mu’arif, dan juga Halwany Michrob dalam penelitian yang mereka lakukan.
Setelah itu baru berdiri kerajaan Tarumanagara, setelah kerajaan Kutai Martadipura. Author tidak membuat kerajaan Salakanagara sebagai latar karena posisi kerajaan ini masih dalam penelitian, tapi menggunakan kerajaan Tarumanagara sebagai latar, karena posisinya jelas dan ada peninggalan prasastinya. Aduuuh kepanjangan nih) lanjut ke cerita,
Pangeran Shun land setelah mengatur segalanya, dan menyerahkan kepemimpinan kepada putri Dian Prameswari dwibuana dan pangeran Makkamaru untuk pembangunan istana kerajaan sebagai pusat pemerintahan.
Dewi Kamalia di beri wewenang untuk mengurus rumah-rumah makan dan penginapan bekas kekuasaan Niraya Sura.
Pangeran Shun land pun mengalihkan tugas panglima Sarpa menjadi panglima kerajaan Tarumanegara sedangkan posisi panglima armada laut Naga biru di berikan pada adik kembarnya panglima Sarpa yaitu Tarpa.
Panglima perang Sarpa pun merekrut anak-anak muda menjadi para prajurit, dia sendiri melatih para pemuda menjadi prajurit-prajurit handal, dengan latihan seperti bajak laut yang keras, dia ingin para prajuritnya mempunyai mental yang handal.
Seminggu kemudian Boma kembali dengan Tarpa, Tarpa yang langsung di beri tahu bahwa dia menjadi panglima Armada laut Naga biru sangat senang dan bersemangat, ilmu Kanuragan Tarpa memang tidak terpaut jauh dari kakaknya kembarannya Sarpa.
Pangeran Shun land pun mengumpulkan semuanya di ruangan utama rumah pelabuhan yang menjadi pusat komando sementara.
Pangeran Shun land bicara bahwa dia dan Boma akan meneruskan perjalan menuju wilayah ujung kulon ke padepokan ujung kulon menemui Ki Srengga yang secara tidak langsung dia adalah guru pertamanya pangeran Shun land selain guru batinnya.
...****************...
SALAM NUSANTARA
SALAM GARUDA PERKASA
__ADS_1