
"Apa permaisuri Sari tidak apa-apa". Shun Land bertanya sambil berjongkok di depan permaisuri Sari Tungga Dewi. "Saya cuma terlalu menguras tenaga dalam kakang, tadi itu apa kakang seperti senjata pusaka".
"Benar permaisuri Sari tadi itu pusaka Tombak sakti yang berasal dari negeri Tirai Bambu negerinya permaisuri May Lien". Shun Land membantu permaisuri Sari Tungga Dewi berdiri, mereka berdua berjalan menuju Nyai Ratu Galuh Sindula dan permaisuri May Lien juga permaisuri Dewi Sumayi yang berjalan menuju lorong keluar.
Semuanya mengikuti Shun Land dari belakang hingga sampai ke pintu gerbang istana Galuh Purba. Sebelum masuk ke istana Shun Land berkata pada Putri Dian Prameswari Dwibuana. "Putri Dian besok perintahkan seluruh keluarga istana dan pejabat tinggi kerajaan untuk berkumpul di istana ada yang ingin saya sampaikan".
"Baik sang Prabu". Putri Dian Prameswari Dwibuana menjawab singkat, semua berpamitan menuju kediaman masing-masing. Shun Land di iring ke empat permaisurinya masuk ke dalam istana.
Matahari sudah masuk ke peristirahatannya di ganti malam penuh kegelapan yang angkuh. Malam itu ke empat permaisurinya di panggil ke ruangan pribadi Raja.
Ke empat permaisuri duduk berbaris di hadapan Shun Land tidak ada yang berani bicara. Shun Land memandang ke empat permaisurinya dari permaisuri Sari Tungga Dewi, permaisuri Dewi Sumayi, permaisuri May Lien dan Nyai Ratu Galuh Sindula.
"Minggu depan kakang akang berangkat ke daratan luas Sula untuk menelusuri peta warisan Sanghyang Tunggal yang kemungkinan tidak di ketahui seberapa lama kakang akan kembali, untuk itu kakang meminta kepada kalian semua untuk mengawal pembangunan pengungsian di ruang bawah tanah dengan serius, firasat batin kakang mengatakan bahwa kakang Kaya Lelana sudah menguasai Ajian Rawarontek dengan sempurna, dan menurut Telik sandi armada lautnya yang mereka beri nama Armada Tombak Perak sudah menyamai armada Naga Biru". Shun Land berhenti bicara sambil matanya menerawang ke langit-langit ruang pribadinya.
"Kakang ada masalah di pelabuhan Berantas yang di picu oleh kelompok setempat yang tidak mau menerima di pimpin oleh bangsawan Osing saya dan pangeran Sanjaya triloka mendapatkan informasi ini tadi pagi, saya rasa kakang harus mengunjunginya untuk melihat dan mengatasi masalah ini". Permaisuri Sari Tungga Dewi memberikan laporan.
"Besok setelah berkumpul bersama kakang dan pangeran Makkamaru akan kesana sekaligus kakang ingin mengunjungi Pulau garam, menurut informasi pangeran Labas Paban Bangsawan Banjar, keluarga besar bangsawan Andi mengungsi ke pulau garam, kakang ingin mencari kebenarannya". Shun Land menjelaskan.
(Muara sungai Brantas dahulu bernama pelabuhan hujung Galuh, di era Majapahit di pindah ke pelabuhan yang bernama Pelabuhan Canggu sekarang tinggal kenangan pelabuhan terbesar di era 1200 Masehi, bekas pelabuhan itu sekarang menjadi nama desa pelabuhan).
Hari berganti malam berlalu sudah 10 hari Shun Land berada di ibukota Medangdili istana Galuh Purba yang rencananya satu Minggu menjadi 10 hari karena kedatangan pendekar Tiga Dewi Kematian Dewi Lerna dan kedua Adik angkatnya.
Pagi itu Shun Land berpakaian seorang pendekar dengan pedang Naga Bergola di punggungnya, di iring ke empat istri dan seluruh pejabat tinggi kerajaan menuju halaman depan.
Di sana sudah ada pangeran Sanjaya triloka dan pangeran Makkamaru yang akan ikut ke pelabuhan hujung Galuh sungai Brantas. Shun Land yang rencananya akan berangkat berdua akhirnya berangkat bertiga karena desakan putri Dian Prameswari Dwibuana dan suaminya pangeran Makkamaru ingin mengetahui kebenaran Nasib Ayah dan ibunya yang menurut pangeran Labas Paban mengungsi ke pulau Garam atau Madura.
__ADS_1
Shun Land meloncat ke punggung sang Legenda Rajawali Api di ikuti pangeran Sanjaya triloka dan pangeran Makkamaru. "Garuda Kita berangkat menuju pelabuhan Hujung Galuh, awas jangan ngelantur lagi bila tak tahu bertanya".
Shun Land berkata pada sang legenda Rajawali Api sambil sedikit menyindir. "Mulutmu itu melebihi istri mu dasar raja mata jereng hahahaha.....". Sang Legenda Rajawali Api menjawab menggunakan sebutan Boma pada Shun Land.
"Sang Prabu kita akan kemana dulu ke kepelabuhan hujung Galuh apa ke kebangsawanan Osing". Pangeran Sanjaya triloka bertanya.
"Kita akan ke Kebangsawanan Osing di Banyuwangi aku ingin bertemu dengan ketua perguruannya Lembu Marunda, dan dua kakak laki-lakinya Pendekat Bulan merah Nyai Sri Tanjung, kita tidak akan tahu akar permasalahannya mengapa Pemimpin Pelabuhan Hujung Galuh Wisnu Wardana tidak mau di pimpin oleh ketua kebangsaan Osing Ki Lembu Marunda". Shun Land menjawab.
"Dengar baik-baik kita ke Banyu wangi". Shun Land juga berkata pada sang Legenda Rajawali Api. "Dasar Raja mata jereng tadi ngomong ke pelabuhan Hujung Galuh sekarang banyu wangi plin-plan di pikir-pikir pengikut mu lebih pintar dari mu". Sang Garuda menggerutu.
Hanya membutuhkan waktu satu setengah waktu menanak nasi sang Legenda Rajawali Api sudah berada di atas pegunungan Arjuna tak lama berselang sang Legenda Rajawali Api menukik turun dan hinggap di halaman sebuah bangunan mirip istana tetapi kiri kanannya banyak bangunan lain berdiri.
Ki Lembu Marunda ketua kebangsawanan Osing sekaligus ketua perguruannya cepat keluar ke halaman setelah menerima laporan para murid bahwa di halaman ada tiga orang datang mengendarai Burung besar.
Tidak berselang lama Boma Koncar dan adiknya Menak Pentor datang ikut menyambut Shun Land. Ki Lembu Marunda berkata memberi sambutan.
"Maaf tuan Lembu Marunda yang sang prabu jaya Sempurna ini....... pangeran Makkamaru menunggu dengan jempolnya ke Shun Land lalu melanjutkan bicaranya, "kalau saya adalah pangeran Makkamaru Adik ipar pangeran Sanjaya triloka"
Wajah Ki Lembu Marunda memerah lalu meminta maaf. "Maaf Sang prabu kita tidak pernah bertemu saya hanya mendengar dari anak saya Sri Tanjung dan menantu saya pangeran Dehen tentang Sang prabu Jaya Sempurna".
"Tidak apa-apa paman bukan hal besar maaf mengganggu peristirahatan paman, ini kakak dari Nyai Sri Tanjung saudara Boma Koncar dan Menak Pentor". Shun Land langsung menimpali menghilangkan rasa malu Ki Lembu Marunda sambil menunjuk kedua kakak Pendekar Bulan merah Sri Tanjung.
"Iya paduka saya Bima Koncar kakak tertua Sri Tanjung dan ini adik pertama saya Menak Pentor" kakak Sri Tanjung Boma Koncar me jawab sedangkan sang adik Menak Pentor hanya membungkukkan badannya tanda menghormat.
Shun Land berjalan berdampingan dengan Ki Lembu Marunda di depan di iring pangeran Sanjaya triloka, pangeran Makkamaru dan Kedua kakak Pendekar Bulan merah Bima Koncar dan Menak Pentor.
__ADS_1
_______*****_______
#Sedikit catatan mengulang pelajaran sejarah waktu SMP,
Cerita tentang Aji Saka. Di sana di ceritakan Aji saka adalah pembawa peradaban, ini cerita Hoax, menurut catatan di China Dinasti Liang. di Sunda besar sudah ada kerajaan 78.SM. catatan Ming Shi 65.SM sudah ada kerajaan, dan catatan Valmiki Ramayana dari India 500.SM Nusantara sudah ada kerajaan berdiri sendiri.
Banyak beredar tulisan keturunan Aji saka menjadi raja-raja besar ini juga tidak ada data primernya.
Jelas dalam data keturunan Ratu Galuh Sindula, mendirikan Tarumanegara dan dua Dinasti atau Wangsa. 1.Dinasti Sanjaya 2.Dinasti Syailendra. Yang menurunkan raja-raja besar seterusnya. Di mana pun prasasti tidak ada nama Aji Saka. Cerita Aji saka di bangun olah para Brahma yang beredar sekitar abad 10.Masehi.
Satu catatan penting kerajaan terbesar di Jawa Adah kerajaan Galuh dari barat sampai timur pulau Jawa, sedangkan kerajaan Majapahit sampai runtuhnya Tidak bisa menguasai Kerajaan Galuh Pakuan. Wilayahnya hanya sampai ke Jawa Tengah sebagian. Sampai ke timur.
Tulisan tentang Majapahit menguasai seluruh wilayah Nusantara hanya berasumsi dari istri raja pertama R.Wijaya bernama Ratu Gayatri putri pertama raja terakhir Singasari yang di bunuh Jaya katwang. Ratu Gayatri dan bekel Gajahmada Memimpin jalannya politik pemerintahan Yang mempunyai ambisi menyatukan Nusantara dari ambisi dan tekad ini Alhamdulillah 17 Agustus 1945 terbentuk Republik Indonesia yang kita banggakan.
Ambisi ini terlihat jelas ketika perang Bubat dengan kerajaan Galuh Pakuan Pajajaran yang di menangkan Majapahit sampai putri Dian Pitaloka terbunuh dan seluruh pasukannya tetapi sampai runtuhnya Pakuan Pajajaran tidak di kuasai Majapahit, dengan pakta di daerah Jawa Barat tidak ditemukan candi tidak seperti di Jawa Tengah dan Jawa timur.
Hanya ada satu candi di Jawa Barat di daerah Karawang yang menurut uji karbon candi tertua di Nusantara di bangun sekian abad ke 2 Masehi.
Candi itu di beri nama Candi jiwa dan di sana juga ada pemandian tertua yang di buat di Nusantara, di LRA di berinama Sumur Kahuripan jiwa Di Batu Jaya.
Ada yang berasumsi bahwa percandian ini di bangun masa kerajaan Tarumanegara.
kebanyakan niih bicara di luar cerita sekali lagi maaf.....
Salam Nusantara
__ADS_1
Salam Garuda perkasa....